
Kenapa begitu menyakitkan saat hari ini tiba.
-Shanum-
πππ
"Yuna..Yuna.." panggil Aulia dan dengan cepat meraih tubuh Yuna yang akan terjatuh tiba-tiba.
Ya.. Yuna terjatuh setelah mendengar apa yang dikatakan Radit padanya. Seketika kepalanya menjadi pusing. Apa yang selama ini dikhawatirkannya menjadi kenyataan.
"Dit, tolong aku.." pinta Aulia namun Radit masih merasa enggan untuk membantu.
"Dit, kasihan Yuna. Tolong bantu aku mengangkatnya." Aulia memohon kembali.
Melihat tatapan Aulia, dan rasa cemas yang menyelimutinya, membuat Radit akhirnya mengalah.
"Oke.. aku bantu, tapi ini demi kamu, bukan demi dirinya." ucap Radit menjelaskan dan terlihat senyum kecil di wajah Aulia saat itu.
Dengan bantuan Radit, Yuna berhasil dipindahkan dari posisinya saat ini. Dibawa ke ruangan Aulia kembali.
"Terimakasih Dit."
"Kau tak perlu berterima kasih, kau urus saja dia."
"Ya.. dan maaf Dit, aku telah mengacaukan segalanya." ucap Aulia dan disambut dengan senyum Radit untuknya.
.
.
.
.
Keenan sudah berada di dalam mobilnya, ia mengendarainya dengan tatapan yang sibuk memperhatikan sekitarnya.
Otaknya terus berputar, berpikir, kemana dia harus mencari Shanum.
Ditempat lain di sebuah taksi dimana Shanum berada di dalamnya. Shanum diam dengan air mata yang terus turun membasahi pipinya. Ia teringat kembali akan kebersamaanya dengan Keenan.
Rasanya ini begitu menyakitkan, ternyata secepat ini Ia harus melupakannya.
"Keenan milik Yuna, dan akan kembali pada Yuna. Lalu.. aku ini siapa? aku hanya seorang pengganti.., kenapa begitu menyakitkan saat hari ini tiba." bisik Shanum sendiri.
Terdengar isak tangis Shanum kemudian. Shanum menangis lagi dan lagi.
"Aku tak bisa seperti ini terus." ucap Shanum akhirnya dan menghapus cepat air matanya kembali.
Setelah memberitahukan sopir taksi kemana arah tujuannya, Shanum pun kembali terdiam. Ia mencoba menenangkan hatinya. Menahan tangisnya.
.
.
.
.
Yuna tersadar, matanya menatap sekitar dan langsung bangkit dari tidurnya. Napasnya terdengar begitu cepat, ia masih sangat terkejut. Awalnya ia ingin membuat kejutan pada Keenan, tapi justru dia yang terkejut.
"Yuna, kau sudah sadar." ucap Aulia dan berjalan mendekat ke arah Yuna dengan membawa segelas air mineral untuk sahabatnya itu.
"Minumlah." pinta Aulia kemudian.
__ADS_1
Setelah berhasil meminum beberapa tegukan, Yuna pun kembali bersuara. Hatinya begitu kacau saat itu. Bisa-bisanya Keenan berpaling darinya.
"Siapa wanita itu?" tanya Yuna langsung ke intinya.
"Pasti wanita itukan yang menggoda Keenan duluan." ucapnya kembali.
"Katakan seperti apa wanita itu, bisa-bisanya dia merebut pacarku."
"Bukan salah wanita itu."
"Kenapa kau membelanya Aulia, jelas dia merebut Keenan dariku, pantas jika wanita itu yang dipersalahkan." ucap Yuna kesal.
"Aku penasaran secantik apa dia, sampai bisa menggoda Keenan." ucap Yuna lagi dan kemudian menurunkan kedua kakinya ke lantai.
Yuna hendak bangkit dari duduknya, ia ingin sekali bertemu dengan wanita itu. Ingin sekali memakinya.
"Kau mau kemana?"
"Mencari wanita itu."
"Sabar dulu, kau istirahatlah dulu, sikapmu yang seperti ini akan membuat Keenan makin menjauhi mu."
"Aku harus bersabar seperti apa lagi, jika aku tak bertindak sekarang, Keenan akan semakin jauh."
"Yuna, dengarkan aku, situasinya sungguh tidak baik saat ini."
"Tapi.."
"Ku mohon." pinta Aulia sambil meraih pergelangan tangan Yuna menghalanginya untuk pergi.
Yuna mengalah akhirnya, ia kembali duduk dan kemudian menghela napasnya, menenangkan hatinya kembali.
"Kau mengenalnya?" tanya Yuna kemudian dan berhasil membuat Aulia terdiam. Ia merasa tak mampu untuk menjelaskan.
"Ya aku mengenalnya, ia juga bekerja bersama kami di sini." jawab Aulia dan membuat Yuna menatap tak percaya.
"Maafkan aku."
"Siapa nama wanita itu, dimana aku bisa menemuinya. Ingin sekali aku memberinya pelajaran."
"Keenan akan membencimu, jika kau melakukan itu."
"Lalu aku harus bagaimana? membiarkannya saja. Tidak, aku tidak mau diam saja. Aku yakin Keenan melakukan ini padaku karena terhasut oleh wanita itu. Aku harus menyadarkan Keenan. Wanita itu pasti hanya menginginkan kekayaan Keenan saja, aku tak ingin hal itu terjadi." ucap Yuna tak henti-hentinya menyalahkan wanita itu.
"Ah.. Shanum, Shanum kan namanya. Tadi Radit sempat menyebut nama itu."
Aulia kembali diam, apa yang mesti ia katakan saat ini.
"Kau diam saja, berarti memang benar nama wanita itu adalah Shanum."
.
.
.
.
Handphone milik Keenan berdering, terlihat nama Oma di layar handphonenya. Keenan pun mengangkatnya, dengan tatapan yang masih sibuk mencari sosok Shanum.
"Ya.. Oma."
"Dimana kamu?"
__ADS_1
"Keen, lagi dijalan Oma."
"Kenapa kamu biarkan Sha datang sendiri ke sini?"
"Maksud Oma?" tanya Keenan dan mendadak ia hentikan laju mobilnya.
"Kalian bertengkar?" tanya Oma kembali.
"Shanum ada di sana Oma?"
"Ya.."
"Oma, tolong tahan Shanum, jangan izinkan Sha pergi kemana-mana. Keen ada di dekat rumah Oma, sebentar lagi sampai " pinta Keenan dan kemudian melanjutkan perjalanannya dengan cepat.
Oma terdiam, menatap handphonenya yang tiba-tiba saja Keenan langsung menutupnya.
"Sepertinya memang telah terjadi sesuatu dengan mereka." bisik Oma.
Bagaimana Oma tidak berpikir seperti itu. Shanum tiba-tiba saja datang tanpa kehadiran Keenan. Wajahnya terlihat teduh, terlihat sisa - sisa air mata yang masih menghiasi wajahnya itu.
Ditempat lain, setelah Oma menyambut kedatangannya lalu mempersilakan Shanum duduk. Shanum kembali terdiam. Tatapannya lurus, namun pikirannya terbang bersama dengan ingatannya akan sosok Yuna yang tengah bersama Keenan.
Air mata kembali menetes di pipi Sha.
"Shanum.." panggil Oma dan berhasil mengejutkan Sha. Sha pun dengan cepat mengubah ekspresinya, ia tersenyum mencoba menutupi kesedihannya.
"Oma.." panggil Shanum.
"Maaf ya, sudah buat kamu menunggu." ucap Oma lalu duduk tepat di samping Shanum.
"Kenapa Keenan tak ikut? Keenan pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya ya." protes Oma kemudian.
"Tidak.. tidak seperti itu Oma. Kedatangan Shanum ke sini tanpa sepengetahuan Keenan."
"Kenapa?" tanya Oma. Rasanya Oma begitu penasaran dengan apa yang telah terjadi diantara mereka.
Terlihat wajah Sha yang begitu murung saat itu, ingin sekali Oma memeluknya. Entah apa yang telah terjadi diantara mereka.
"Sebenarnya, Sha kesini mau minta maaf sama Oma."
"Kenapa harus minta maaf Sha?"
"Sha telah menyakiti hati Oma, Sha telah membohongi Oma."
"Kenapa berkata seperti itu."
"Maafkan Sha ya Oma."
Sebelum sampai Oma menjawab apa yang diminta Shanum padanya, terdengar suara mobil berhenti.
Keenan tengah berlari dan hendak masuk ke dalam. Tepat di depan pintu masuk, ia menatap Shanum yang tengah duduk dengan Oma di sampingannya.
Perasaan lega pun akhirnya tiba di benak Keenan. Keenan sangat takut sekali jika hal buruk terjadi pada Shanum.
Namun setelah berhasil melihat Shanum sekarang, Keenan pun akhirnya tersenyum.
"Shanum.." panggilnya dan melangkah mendekat menghampiri Sha.
.
.
.
__ADS_1
.
lanjuttttππ»ββοΈππ»ββοΈππ»ββοΈ