
Aku merasa terpuruk sekali. Tuduhannya membuatku kehilangan arah tujuanku.
-Shanum-
🍁🍁🍁
"Pagi Oma.." sapa Keen.
"Ayo duduk, kita makan bersama." pinta Oma pada Sha dan Keen yang datang bersama.
Sha maupun Keenan menarik kursi dan kemudian duduk. Memulai aktifitas makan pagi mereka.
"Bagaimana tidur mu Sha, nyenyak?"
"Ia Oma, nyenyak." jawab Sha dan Keenan tersenyum mendengarnya.
Shanum menatap Keenan yang masih tersenyum saat itu, pasti ia mengingat kejadian semalam. Keenan tertidur di sampingnya. Mereka tertidur bersama.
Mungkin saja tidur Sha yang nyenyak karena kehadiran Keenan, kalaupun tak nyenyak tak mungkin Sha mengatakan yang sesungguhnya pada Oma.
"Baguslah, sering-seringlah menginap di sini Sha."
"Iya, Oma." jawab Sha mengangguk dan Oma tersenyum mendengarnya.
"Yasudah kalian habiskan dulu sarapan kalian. Setelah ini kalian bisa pergi ke kantor." pinta Oma kemudian.
Sha maupun Keen mengangguk menyetujui. Menikmati sarapan pagi mereka bersama. Setelah menghabiskannya Keen dan Sha pun berpamitan meninggalkan Oma.
Sha menghela napasnya ketika dirinya sudah sampai di mobil, tubuhnya bersandar dengan malas, dan kedua matanya terpejam.
Keen yang melihatnya pun bertanya.
"Kenapa Sha?"
"Keen, kapan kita mengatakan yang sebenarnya pada Oma, aku takut makin membuat Oma kecewa." ucap Sha tiba-tiba.
"Sebenarnya kita memang sudah berpacaran. Kita tidak membohongi Oma saat ini."
"Aku tau Keen, tapi semua dimulai dari kebohongan, dan saat ini Yuna juga sudah kembali. Aku tak mau kesalahpahaman terjadi ke depannya."
"Ya, kau benar." ucap Keen dan ikut bersandar pada kursi mobil yang ia duduki.
"Keen, mungkin sebaiknya kau bicara dengan Yuna juga." ucap Sha dan Keenan langsung menatap Sha.
"Bagaimana pun Yuna tak tahu, kalau pengkhianatan nya sudah diketahui oleh mu."
"Ya." jawab Keenan tersenyum, menggenggam jemari Sha menenangkan nya.
__ADS_1
Shanum sudah mengeluarkan ketakutannya, kegusaran hatinya pada Keenan. Hatinya mulai sedikit merasa tenang. Setelah merasa cukup, mereka pun memutuskan untuk segera menuju kantor.
Seperti biasa, jalan selalu terasa ramai di pagi hari. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan Keenan dan Shanum pun tiba.
Keenan keluar dari mobil, disusul Shanum kemudian. Mereka melangkah bersama, menuju lift hendak ke ruang kerja. Tersenyum satu sama lain, terus melangkah tanpa memperhatikan sekitar.
Sampai akhirnya, Shanum menghentikan langkahnya. Seseorang tiba-tiba saja meraih tangannya dan menghempaskan begitu cepat.
"Au.." teriak Sha dengan menatap seorang wanita yang kini telah berdiri diantara Sha dan Keen. Seorang wanita yang tengah memakinya.
Yuna hadir tanpa Sha dan Keenan sadari. Yuna tiba-tiba datang membuat keributan. Wajahnya tampak begitu kesal menatap Keenan dan Shanum.
"Dasar ******.., beraninya kau merebut Keenan dari ku. Pasti kau hanya menginginkan harta Keenan saja kan." tuduh Yuna yang terus memaki Shanum di depan banyak orang.
"Yuna, apa yang kau lakukan? Shanum tidak seperti yang kau katakan." bela Keenan dan kemudian melangkah menghampiri Shanum. Mencoba menghentikan keributan yang tiba - tiba saja terjadi.
"Maksudmu apa Keen? Kenapa kamu membelanya? Aku ini pacarmu yang sesungguhnya, bukan dia." ucap Yuna dengan menunjuk wajah Sha.
"Kau tak ada hak berbicara seperti itu." tunjuk Keenan pada wajah Yuna.
"Keen, dengarkan aku. Aku memang salah pergi meninggalkan kamu selama ini. Tapi aku ini masih tetap pacarmu." ucap Yuna lagi dan kemudian merangkul pergelangan tangan Keenan.
Keenan dengan cepat melepas rangkulan tangan Yuna itu. Ia bahkan mencoba menjauh dari Yuna. Banyak sekali orang yang ikut menyimak apa yang tengah terjadi. Semua mulai bertanya-tanya dan menduga-duga.
"Kau sudah bukan pacarku lagi." ucap Keenan dan membuat Yuna membulatkan ke dua matanya.
"Cukup kau menghinanya, seharusnya kau bercermin pada dirimu sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Urus pria mu di luar sana. Semenjak kau mulai mengkhianati ku, mulai saat itu kita putus." ucap Keenan berbisik dan kemudian meraih jemari Sha dan mengajaknya untuk pergi menjauh dari Yuna.
Yuna terdiam, dirinya masih tak percaya dengan apa yang telah didengarnya tadi. Bagaimana Keenan bisa tahu? Sejak kapan?. Begitu banyak pertanyaan muncul di pikiran Yuna.
Ia kesal.. ia merasa bodoh dalam seketika. Namun ia mencoba tersadar kembali, lagi dan lagi mengejar Keenan.
"Keenan, tunggu. Dengarkan aku, aku bisa menjelaskan semuanya." pinta Yuna memohon.
Tak berapa lama kemudian, beberapa orang menghampiri Yuna. Menahannya untuk pergi mendekat ke arah Keenan lagi. Menghentikan keributan dan membubarkan keadaan.
Yuna berteriak, ia masih tak terima dengan penghinaan yang ia terima saat ini.
"Dasar wanita ******." teriak Yuna berkali-kali sampai akhirnya suara itu tak lagi terdengar oleh Shanum saat pintu lift tertutup.
.
.
__ADS_1
.
.
"Selamat pagi.. " Sapa Radit pada beberapa orang yang ia temui saat hendak masuk ke dalam gedung tempat ya bekerja.
Tiba-tiba Radit mendengar keributan dari dalam. Ia mulai mencari tahu keadaan. Setelah menyadari sesuatu hal buruk terjadi pada sahabatnya dan Shanum. Ia pun langsung meminta beberapa security untuk bisa segera menghampiri mereka dan mengusir Yuna.
"Lepaskan aku.." teriak Yuna berkali-kali hingga dirinya sudah tiba di luar gedung.
"Bos kalian itu pacar saya, kalian tidak bisa seenaknya mengusir saya seperti ini." ucap Yuna lagi dan lagi.
Radit tertawa mendengar ucapan Yuna, membuat Yuna menatap Radit akhirnya. Yuna tak tahu jika Radit sedang menyaksikan dirinya tersiksa sejak tadi.
"Kau masih saja bermimpi. Keenan sudah melupakanmu."
"Tidak.. dia masih mencintaiku. Wanita itu hanya pengganti, Keenan tak sungguh-sungguh mencintainya." protes Yuna.
"Terserah kau saja, terus saja bermimpi, ku harap kau tak menjadi gila saat kau terbangun." ucap Radit mengejek dan kemudian pergi meninggalkan Yuna.
Yuna kesal, ia berteriak dan kemudian ia melangkah pergi dengan cepat.
Ditempat lain, Shanum tampak termenung mengingat kembali makian Yuna pada dirinya.
"Sha kau baik-baik saja?"
"Aku.. aku.." jawab Sha terbata dan tak berani menatap Keenan.
Keenan menarik ke dua pundak Sha, dan kemudian wajah Sha. Terlihat genangan air ke dua matanya. wajahnya begitu sedih saat itu.
Keenan memeluk Sha segera, mengusap punggung Sha berkali-kali.
"Maafkan aku Sha, maafkan aku." ucap Keenan berulang.
Namun tiba-tiba Shanum mengatakan sesuatu yang membuat Keenan menatap tak percaya.
"Keen, apakah sebaiknya kita putus?" tanya Sha tiba-tiba dan membuat Keenan terdiam terkejut dalam seketika.
.
.
.
.
🤧🤧🤧
__ADS_1