
Kenapa aku harus mengingat Yuna lagi, padahal dia adalah orang yang sama sekali tak ingin ku temui.
Ku harap dia benar-benar menyerah pada Keenan.
-Shanum-
🍁🍁🍁
Sha tampak mengatur napasnya.., jantungnya masih terus berdetak begitu cepat, seakan berlomba. Wajahnya begitu memerah. Ia tak berani menatap Keenan yang masih saja terus menatap dirinya.
Keenan pun merasakan hal yang sama, dirinya menjadi begitu tak sabar jika Shanum sudah memancingnya.
"Sabar Keen, dua hari lagi." Bisiknya dalam hati dengan mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdetak kencang dan hasratnya yang berseru menuntut lebih.
"Tunggu, dua hari lagi aku baru akan bertunangan, belum menikahinya." gerutu Keenan dalam hati menyadari kebodohannya sendiri.
Dua hari lagi adalah yang kini tengah dibicarakan Oma dengan mamahnya Sha. Sekembalinya dari tempat Gerry, Oma beranjak pergi ke rumah Shanum untuk menemui mamahnya Shanum.
Keenan mengetahui hal ini, tapi Shanum tidak.
"Silakan masuk Oma.."
Oma tersenyum menerima sambutan hangat dari mamahnya Shanum. Mereka duduk bersama kemudian.
"Seperti yang Oma sudah bicarakan di telepon kemarin, Oma ingin tahu keputusanmu." ucap Oma.
"Saya sebagai mamahnya Sha begitu bersyukur Oma, dapat menantu sebaik Keenan. Shanum juga tampak bahagia sekali bersama Keenan."
"Ya.., mereka sangat cocok dan saling mencintai
"Jadi kamu menyetujui jika mereka akan bertunangan nanti?"
"Ya.. Oma."
Oma dan Mamahnya Shanum kemudian disibukkan dengan persiapan pertunangan mereka yang dua hari lagi akan berlangsung.
Pesta pertunangan yang Shanum tak ketahui. Pesta yang sengaja Keenan siapkan tanpa sepengetahuan Shanum.
Ditengah kesibukan yang terjadi antara Oma dan Mamahnya Sha. Keenan pun juga begitu sibuk mengatur hasratnya.
"Hukuman macam apa itu tadi.." protes Sha dengan wajah memerah bak kepiting rebus. Namun Keenan hanya tersenyum memandang Shanum.
"Ah.. Keen, cukup kau melihatku seperti itu terus." protes Shanum lagi karena jantungnya masih saja berdetak tak menentu.
"Aku mencintaimu.."
"Aku tau.."
"Aku ingin menikahi mu.."
"Ya.. kau memang harus menikahi ku, karena kau sudah mencium ku." ucap Sha dan membuat Keenan tersenyum lagi.
__ADS_1
"Aku janji, akan akan menikahi mu." ucap Keenan perlahan dan meraih jemari Shanum menggenggamnya.
Naya tampak sibuk dengan handphonenya. Setelah menghubungi Shanum, ia mencoba menghubungi Andre. Kejujuran Shanum mengenai hubungan dirinya dengan Andre, membuat Naya merasa bahagia. Tapi ia tak mengerti kenapa Andre mesti membohonginya.
"Angkatlah.." bisik Naya.
"Ya.." ucap Andre dari balik telephone.
"Kau dimana?" bisa kita bertemu?"
"Untuk apa?"
"Aku sudah tahu kau dan Shanum tidak berpacaran." ucap Naya dan membuat Andre terdiam. "Katakan kau dimana sekarang?"
"Kau tak usah mencariku lagi Nay?"
"Kenapa? Kau membenciku?"
"Tidak.. bukan seperti itu."
"Lalu apa..? Kenapa kau menghindari ku, kau tidak mencintaiku lagi?"
Andre terdiam lagi, rasanya ia ingin berteriak kata "tidak", dirinya masih sangat mencintai Naya.
"Kenapa kau diam saja? kalau kau masih terus diam, aku akan benar-benar membencimu." ucap Naya dan mengakhiri pembicaraan.
Naya menghembuskan napasnya perlahan, menenangkan hatinya. Ia kecewa.. ya sangat kecewa. Ia menahan air matanya untuk tidak terjatuh, namun akhirnya terjatuh.
Sama halnya dengan Andre.. ia begitu membenci dirinya sendiri. Kenapa ia menjadi begitu pengecut. Kenapa ia tak bisa mempertahankan cintanya.
"Aku tak layak untukmu." gumam Andre dengan air mata ikut menetes akhirnya.
Hari berlalu dengan cepat, hari ini seperti biasa Shanum pergi ke kantor dengan Keenan yang selalu datang menjemputnya. Semua berjalan seperti biasanya.
Semenjak insiden dirinya bertemu dengan Yuna terkahir kali, Yuna tak muncul lagi di kantor. Menghubungi Keenan pun tidak. Itu yang Shanum tau.
"Sha.." panggil Keenan berulang karena Sha tampak asik melamun.
"Siapa yang sedang kau pikirkan?" tanya Keenan kemudian dengan berbisik di telinga Shanum. Membuat Shanum terkejut sekali.
"Keen, sejak kapan kau di situ?"
"Hobi sekali kau melamun."
"Hanya kebetulan itu.." sanggah Sha dan membuat Keenan tersenyum.
"Siapa yang barusan kau pikirkan."
"Kau pasti tak akan mau tau."
"Kenapa aku tak mau tau."
__ADS_1
"Karena aku memikirkan mantanmu." ucap Sha dan bangkit dari duduknya hendak pergi meninggalkan meja kerjanya.
"Untuk apa kau memikirkan dia?" tanya Keenan menahan kepergian Shanum.
Rasanya tak baik bagi Shanum memikirkan Yuna lagi, wanita yang membuat Shanum mengucap kata putus beberapa hari yang lalu.
"Entahlah Keen, hanya terlintas saja di pikiranku." ucap Sha dan hendak melanjutkan langkahnya, namun Keenan kembali menghalanginya untuk pergi.
"Kau mau kemana?"
"Aku hanya ingin ke pantry.."
"Aku ikut.."
"Yang benar saja Keen, kau tunggulah di sini. Aku hanya sebentar."
"Aku ikut atau aku akan menghukum mu lagi."
"Menghukum ku.." ulang Sha dan teringat dengan kejadian kemarin saat Keenan menciumnya.
"Keen.. kau menyebalkan.." ucap Sha dengan wajah yang menekuk dan berlalu pergi. Sedangkan Keenan tampak bahagia telah menggoda Shanum.
Sejujurnya Keenan jadi ikut berpikir tentang Yuna setalah mendengar ucapan Shanum tadi. Mungkin Yuna memang telah benar-benar menyerah pada dirinya. Keenan berharap seperti itu.
Di tempat lain, Shanum tampak terus menggerutu.
"Kenapa dia senang sekali menghukum ku." protesnya sendiri saat dirinya telah sampai di pantry dengan tangan yang sibuk membuat teh.
"Siapa yang senang menghukum mu?" tanya seseorang yang tak lain adalah Rena sahabatnya yang juga hadir di sana.
"Rena.. sejak kapan kau di situ?"
"Sejak kau menggerutu, by the way siapa yang ingin menghukum mu?"
"Keenan, ia senang sekali menghukum ku."
"Hukuman seperti apa maksudmu Sha..?" tanya Rena yang jadi ikut penasaran. "Keenan tak melakukan kekerasan kan padamu." selidik Rena yang jadi mulai khawatir.
"Tidak.. bukan hukuman seperti itu.."
"Lalu.."
"Itu.. Keenan, itu..."
"Sha kau buat aku penasaran."
"Kau cepatlah cari pacar, kau akan tahu hukuman yang ku maksud nanti." ucap Sha dan melangkah begitu cepat meninggalkan Rena dengan kebingungan yang menumpuk.
"Hah.. pacar.. apa hubungannya?" tanya Rena sendiri yang masih begitu bingung.
Sedangkan Shanum terus melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya kembali
__ADS_1
untung ga keceplosan ya Sha🤭