
Aku sudah jatuh cinta padanya, begitupun dengan dirinya.
-Shanum-
πππ
Yuna menatap dengan senyum terukir di wajahnya, sebuah gedung yang kini sudah ada di hadapannya tampak tak banyak berubah. Gedung tempat di mana Keenan menghabiskan waktunya untuk bekerja.
"Sudah lama sekali aku tak ke sini." ucap Yuna sore itu.
Jemari Yuna mulai sibuk dengan handphone miliknya, ia tengah menghubungi Keenan. Namun ia tak berhasil menghubunginya. Senyumnya memudar, raut kekesalan muncul dengan cepat.
Yuna pun memutuskan untuk masuk ke dalam gedung, menemui seseorang yang dapat membantu dirinya untuk bertemu dengan Keenan. Seorang resepsionis yang ia temui dan hendak bertanya padanya.
"Pak Keenannya sedang meeting di luar dan tidak kembali lagi ke kantor."
"Oh.."
Kekecewaan kembali hadir menyelimuti hati Yuna. Keenan sepertinya benar-benar sibuk. Pantas saja ia tak dapat dihubungi.
"Maaf, ini dengan ibu siapa? nanti akan saya sampaikan ke Pak Keenan."
"Tidak perlu, saya ke rumahnya saja."
"Baik."
Yuna tatap kembali layar handphone miliknya. Keenan masih tak mengangkat teleponnya apalagi untuk membalas pesannya.
Sungkan rasanya ia bertanya pada Radit, ia sadar betul Radit tak menyukai dirinya.
"Radit orang yang paling tau di mana Keenan." bisik Yuna kemudian.
Dengan ragu namun ia memutuskan untuk tetap menghubungi Radit.
"Radit." Panggil Yuna setelah terhubung dengan Radit.
"Yuna." ucapnya dan begitu terkejut mendengarnya.
"Apa kabar?"
"Tak usah basa basi, ada apa kamu menghubungiku?" tanya Radit ketus.
"Aku sudah di Jakarta dan sekarang berada di kantor Keenan."
Radit terdiam, ia kembali terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa Yuna kembali setelah sekian kali Keenan memintanya untuk kembali namun selalu ditolaknya.
"Lalu." ucap Radit dan tampak angkuh.
"Keenan tak ada di kantor."
"Dia sibuk, sebaiknya kau tak menemuinya."
"Kenapa kamu berkata seperti itu."
"Kau tahu jelas, kenapa aku bisa berkata seperti itu. Sudahlah.. aku sibuk.. jangan pernah mencoba menghubungi ku lagi." ucap Radit dan memutuskan pembicaraan itu segera.
Sekali lagi Yuna merasa kesal, ia cengkram handphonenya dengan kuat, rasanya ia ingin berteriak sekeras mungkin saat itu.
"Menyebalkan, awas saja nanti ku adukan ke Keenan." gerutunya sendiri.
Kembali Yuna berfikir, bagimana caranya ia dapat bertemu Keenan. Nama Aulia tiba-tiba hadir dalam pikirannya.
__ADS_1
"Ah.. Aulia, Aulia pasti bisa membantuku." ucapnya dan kemudian ia mencoba menghubungi Aulia dengan cepat.
Namun lagi dan lagi, ia harus menghadapi kekecewaan. Aulia pun tak dapat dihubunginya. Dengan rasa kesal yang begitu menumpuk, Yuna pun pergi meninggalkan gedung itu, meninggalkan kantor Keenan akhirnya.
Sedangkan Radit, tiba-tiba merasa cemas setelah mendengar kedatangan Yuna. Dia khawatir kedatangan Yuna akan membuat keadaan menjadi buruk.
Ia pun memutuskan untuk menghubungi Keenan, dan hasilnya sama seperti Yuna katakan. Keenan tak dapat dihubungi.
"Aku harus bisa menghubungi Keenan, sebelum Yuna berhasil menghubunginya." ucapnya sendiri.
Berpikir untuk waktu yang lama, bagaimana caranya untuk bisa menghubungi Keenan.
.
.
.
.
Matahari tampak turun perlahan sore itu, terlihat indah dan begitu tenang. Shanum tengah tertidur di samping Keenan, di kursi mobil dan terlihat begitu menikmati mimpinya .
Sering kali ia tatap Shanum dalam diam, hanya senyum yang selalu saja terukir di wajahnya.
Rasanya Keenan begitu bersyukur telah dipertemukan dengan Shanum. Tiba-tiba terdengar handphone yang berbunyi, suara itu bukan berasal dari handphone miliknya.
Keenan pun mencarinya, mencari handphone yang pastinya adalah milik Shanum.
"Berisik sekali." keluhnya.
Keenan pun berhasil menemukannya, ia angkat telephone itu, dan tertulis nama Radit di sana.
"Itu gara-gara kau mematikan handphonemu Keen." ucap Radit kesal.
Keenan terdiam, dia mengakui bahwa dirinya memang mematikan handphonenya.
"Kemana saja kalian?"
"Aku tak harus memberitahukannya."
"Oke.. oke.. tapi kau harus tahu, Yuna kembali.. dia sudah ada di Jakarta saat ini, dia datang ke kantor tadi."
"Lalu.."
Radit melongo mendengarnya, ada apa dengan Keenan, ia sama sekali tidak terkejut seperti dirinya yang terkejut.
"Kau sudah tahu?" tanya Radit perlahan.
"Ya.." jawab Keen santai.
"Jangan-jangan ini alasannya kau mematikan telephone mu." tebak Radit dan Keenan menghembuskan napasnya kemudian.
"Jadi apa rencanamu?" tanya Radit.
"Biarkan saja dia datang, aku akan mengatakan apa yang seharusnya ku katakan padanya nanti."
"Ya sudah aku tenang sekarang."
"Kau mencemaskan ku?"
"Tidakkkk.. aku mencemaskan Shanum.. tidak sama sekali mencemaskan mu." tolak Radit kemudian dan disusul dengan tawa Keenan terdengar.
__ADS_1
"Terima kasih."
"Untuk apa berterima kasih, aku tak melakukan apapun."
"Terima kasih sudah mendukungku." ucap Keenan perlahan.
"Sudah.. sudah.. aku tak suka mendengarmu berkata seperti itu." Keenan kembali tertawa akhirnya.
"Shanum gadis baik, jaga dia." pinta Radit akhirnya sebelum pembicaraan mereka terhenti.
"Ya." ucap Keenan kemudian dan kembali menatap Shanum yang masih tertidur lelap di sampingnya.
"Kenapa aku bisa jatuh cinta padamu Sha.." gumamnya dan ikut memejamkan matanya perlahan.
Matahari telah tertutup sempurna, hari sudah berganti dengan malam. Shanum akhirnya terbangun, menatap sekeliling dan tampak terkejut. Ia tatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian.
"Kenapa aku bisa tertidur begitu lama." ucap Sha dan pandangannya beralih ke Keenan sekarang.
Pria yang telah menyatakan cintanya, kini berada di sampingnya. Memang ini seperti mimpi, akhirnya pernyataan itu keluar juga dari mulut Keenan.
Dalam diam, Shanum pun tersenyum memandang Keenan.
"Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya?" ucap Sha dalam hati.
Kembali menatap sekeliling, kembali mengingat yang sudah berlalu. Mengingat pertama kali ia bertemu dengan Keenan.
Tertawa sendiri akhirnya, perut buncit dan kepala botak. Sha jadi teringat dengan percakapan dirinya dengan Rena waktu itu. Menggambarkan sosok Bos dan ternyata Keenan tak seperti yang digambarkan oleh Sha. Bertolak belakang sekali, berbeda sekali. Keenan begitu tampan dan tak terlihat kekurangannya sedikit pun.
Keenan pun terbangun akhirnya, tak lama setelah Shanum terbangun.
"Sha.." panggil Keenan dan Sha pun menatap Keenan setelah mendengar panggilannya.
"Aku juga menyukaimu Keen." ucap Sha tiba-tiba dan berhasil membuat Keenan terkejut namun bahagia.
Sha maupun Keenan tersenyum bersama, wajah Sha tampak memerah mungkin karena rasa malu hadir setelah mengungkapkan isi hatinya juga pada Keenan.
Dalam sekejap, mereka melupakan Yuna..
Sedangkan Yuna kini sudah berada di rumah Keenan, lagi dan lagi ia harus merasa kecewa.
"Tuan Keenan belum kembali."
"Bibi tau Keenan pergi ke mana?"
"Maaf, tuan enggak bilang."
"Ahh.. baiklah, terima kasih Bi."
Yuna masih terus mencari Keenan, dan masih tak berhasil menemui Keenan. Walaupun dirinya sudah sampai dirumah Keenan, Keenan pun masih belum kembali.
"Dimana Keenan, ini sudah malam?" gerutunya dan begitu kesal.
.
.
.
.
Semangatπͺπͺπͺ
__ADS_1