
Apa yang terjadi? Kenapa yang kulihat begitu menyakitkan?
-Shanum-
🍁🍁🍁
"Keen." panggil Sha lagi.
Kali ini mencoba mengangkat sedikit wajahnya dan menatap Keenan yang masih saja memeluknya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Keenan tiba-tiba, setelah dirinya merasa tenang karena telah berhasil melihat Shanum.
"Apa?, oh maksudmu di toilet?" tanya Sha dan Keenan perlahan melepaskan pelukannya.
"Ya.. Kenapa kamu lama sekali? Aku hampir berpikir buruk tentangmu." ucap Keenan dan menatap Shanum begitu dalam.
"Maaf, tadi aku bertemu dengan Rena sebelum ku ke toilet. Aku lupa memberi tahukan mu."
"Ya sudah tak apa, yang penting kau baik-baik saja saat ini." ucap Keenan dan mengusap perlahan rambut Sha.
Sha tersenyum dan ia berpikir saat itu. Apa yang membuat dirinya begitu khawatir pada hubungannya. Keenan jelas sangat peduli padanya.
"Kau mengkhawatirkan ku?"
"Ya.. aku sangat mengkhawatirkan mu." ucap Keenan jujur dan kali ini Shanum yang berinisiatif untuk memeluk Keenan.
Keenan tersenyum saat itu, dan membiarkan Shanum memeluknya untuk beberapa saat sebelum akhirnya mereka kembali ke ruang kerja bersama.
.
.
.
.
Shanum tersenyum, hari ini ia sudah tampak lebih baik dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Bunyi dering handphone terdengar, membuatnya makin melebarkan senyumnya.
"Ya.. Keen."
"Kau sudah siap?"
"Ya.." jawab Sha cepat.
"Sebentar lagi aku sampai, tunggulah." pinta Keen dan kemudian menghentikan pembicaraan mereka.
Sha melangkah menuju cermin dengan segera, ia menatap dirinya sendiri. Memastikan penampilannya sebelum benar-benar menemui Keenan.
Setelah merasa yakin dapat memberikan penampilan yang baik nanti untuk Keenan. Sha pun segera melangkah perlahan menuruni anak tangga.
"Kau sudah mau pergi?"
"Ya mah." jawab Sha dan terdengar bunyi bel kemudian.
__ADS_1
"Sepertinya menantu mamah sudah datang." Sha tersenyum mendengarnya.
Perlahan Sha melangkah menuju pintu depan rumahnya. Membuka pintu dan menatap seseorang yang tengah berdiri dan ikut menatap dirinya. Keenan telah hadir dan memberikan senyum terbaiknya untuk Sha.
"Kita berangkat sekarang." ucapnya dan kemudian berpamitan untuk pergi mengajak Sha.
Sha mengangguk dan mereka melangkah bersama menuju mobil dan menaikinya.
"Sebelum ke tempatnya Gerry. Kita mampir dulu ke suatu tempat." ucap Keen sambil mengemudikan mobilnya.
"Kemana?"
"Tebak saja."
"Ayolah Keen, mana bisa aku menebaknya."
"Coba dulu." pinta Keen dan berharap Sha mencobanya.
"Ehm.. toko buah, toko roti, toko kue.." ucap Sha dan Keenan ikut berucap.
"Kenapa di pikiranmu penuh dengan makanan."
"Aku hanya mencoba menebak."
"Aku sedang memesan sesuatu untuk kau pakai nanti."
"Pakaian." tebak Sha dan Keen menggeleng.
"Lalu apa?"
"Ish Keen, tadi kau menyuruh untuk menebak, dan sekarang kau bilang rahasia." ucap Sha dan tampak kesal walau sebenarnya dia tak benar-benar kesal.
Tak menghabiskan waktu lama, Sha maupun Keenan akhirnya pun tiba.
"Kita sudah sampai." ucap Keenan dan melepaskan sabuk pengaman miliknya.
"Toko perhiasan." ucap Sha saat membaca nama dari sebuah bangunan di mana Keenan memarkirkan mobilnya.
"Ya.."
"Mau apa kita ke sini?" tanya Sha yang masih tak mengerti.
"Aku mau ambil hadiah untuk Oma."
Sha terdiam dan berpikir, tadi Keenan berkata memesan sesuatu untuknya. Tapi sekarang Keenan berkata mengambil hadiah untuk Oma.
Di tengah sibuknya Sha berpikir, handphonenya berdering, Rena tiba-tiba menghubunginya.
"Kau masuk dulu saja ke dalam, aku akan menyusul nanti." pinta Sha dan Keenan mengangguk.
"Jangan lama-lama, aku menunggu mu.." ucap Keenan tiba-tiba langsung mengecup kening Sha dan berhasil membuat Sha terdiam karena terkejut.
Setelah itu Keenan segera meninggalkan mobil dan meninggalkan Sha. Sha tersipu sendiri, bahkan ia menyentuh keningnya dan mengingat aksi Keenan tadi dan hampir melupakan deringan handphonenya.
Sedangkan Keenan kini tengah masuk ke dalam toko, awalnya ia begitu cepat melangkah. Namun saat dirinya berhasil membuka pintu toko yang ada di hadapannya dan berhasil masuk sedikit ke dalam. Ia terdiam dan memperlambat langkahnya.
__ADS_1
Seseorang yang ada dihadapannya telah berhasil membuatnya terdiam. Yuna.. Keenan bertemu dengan Yuna. Yuna pun terkejut saat itu. Di saat dirinya tak sedang mencarinya, Keenan tiba-tiba ada di hadapannya.
"Keenan." panggil Yuna dan dengan cepat menghampiri Keenan.
Keenan tetap pada tujuan awalnya, ia melangkah menghindari kedatangan Yuna yang makin mendekat ke arahnya. Namun Yuna terus menghalanginya untuk menghindari dirinya. Ia raih pergelangan tangan Keenan berkali-kali, dan Keenan berkali-kali melepaskannya.
"Lepaskan." pinta Keenan.
"Keen, tolong dengarkan penjelasanku dulu." bujuk Yuna memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Diantara kita sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan."
"Ku mohon Keen, setidaknya beri aku waktu untuk bicara, aku pernah ada di hatimu Keen."
Keenan terdiam, mencintai Yuna adalah kesalahan terbesarnya. Yuna pernah menjadi bagian terpenting di hatinya, Yuna pernah membuatnya bahagia, ya pernah..
"Aku hanya punya waktu lima menit, katakan apa yang ingin kau katakan sekarang." ucap Keen sambil menatap jarum jam di pergelangan tangannya dan terbentuk senyum di wajah Yuna.
"Bagaimana kalau kita duduk di sana." ajak Yuna.
"Kau katakan sekarang, atau tidak perlu berkata apapun."
"Oke, maaf. Beri aku kesempatan untuk meminta maaf padamu Keen. Aku akui aku memang salah, aku khilaf.. Keen. Sulit bagiku untuk hidup sendiri di luar sana, tanpamu tanpa yang lain."
"dan itu menjadi alasanmu untuk mengkhianati ku." lanjut Keen.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya kesepian, aku tak sungguh-sungguh ingin bersamanya. Aku hanya menginginkan kamu Keen." ucap Yuna dan kali ini ia meneteskan air matanya.
"Aku sudah terlanjur kecewa. Maaf.." ucap Keen dan bermaksud untuk pergi meninggalkan Yuna, namun Yuna menghalanginya kembali.
"Keen.. bukankah kamu sama saja dengan diriku." ucap Yuna dan membuat Keenan mengerutkan keningnya tanda berpikir.
"Kau merasa kesepian, makanya kau mencari wanita lain menggantikan posisiku. Tapi sekarang aku sudah kembali , kau sudah bisa meninggalkannya." protes Yuna.
"Aku tak sama dengan dirimu. Aku tak akan pernah meninggalkannya."
"Lalu bagaimana dengan aku Keen? ku mohon Keen, kita sudah lama bersama. Sudah banyak yang kulakukan untuk mu. Sudah banyak yang kita lalui bersama. Tak bisakah kau mengingatnya."
"Waktumu sudah habis." ucap Keenan dan kembali menatap jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu.
"Tunggu Keenan, tolong kembali padaku, aku janji aku tak akan pergi meninggalkanmu lagi, aku janji akan di sini menemanimu." ucap Yuna dan masih terus memohon. Menarik pergelangan tangan Keenan lagi dan lagi, menghalanginya untuk pergi.
Lalu terdengar suara pintu terbuka, Keenan dan Yuna bersamaan menatap seseorang yang akan masuk ke dalam. Seorang wanita dan tampak terkejut menatap kebersamaan Keenan dan Yuna.
"Shanum.." panggil Keenan.
.
.
.
.
Nahloh..🙈
__ADS_1