Sebatas Pacar Sewaan

Sebatas Pacar Sewaan
Belum Saatnya


__ADS_3

Aku ingin sekali memberitahukan semua orang mengenai hubungan ku dengan Keenan, tapi.. kenapa aku tidak percaya diri.


-Shanum-


🍁🍁🍁


Shanum terdiam tak menjawab apa yang ditanyakan Keenan mengenai hubungan mereka.


"Kau tidak menghabiskan makananmu Sha?" tanya Keenan mengalihkan pembicaraan akhirnya.


"Oh.. cukup Keen, aku tak sanggup menghabiskannya."


"Ya sudah, kalau begitu kita bisa pergi dari sini sekarang."


"Ya.." Jawab Sha singkat.


Sha maupun Keenan pun bangkit dari duduknya. Sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkan resto tersebut, mereka melangkah menuju Aulia.


Di saat yang bersamaan Aulia sedang menghubungi Yuna.


"Yuna, kau sudah selesai kah?"


"Belum aku masih mengantre, kenapa?


Aulia terdiam untuk beberapa saat, dirinya masih berpikir bagaimana caranya agar Yuna tidak datang kemari atau mungkin memperlambat kedatangannya.


"Bolehkah aku minta tolong padamu?" Tanya Aulia pada Yuna.


"Minta tolong apa?"


"Bisakah kau membelikan aku buah."


"Buah.." ulang Yuna dan tampak berpikir dengan permintaan Aulia padanya.


"Ya.. benar buah, buah Apel. Aku ingin sekali buah apel." ucap Aulia cepat.


"Hemm.. oke, ada lagi?" tanya Yuna kemudian.


Yuna tak menolak permintaan Aulia, karena saat ini ia sangat membutuhkan Aulia, dia satu-satunya orang yang dapat membantu dirinya untuk bisa menemui Keenan.


"Tidak, itu saja.. pastikan apelnya manis. Kau mau beli yang lain lagi juga tak apa. Aku pasti tunggu." ucap Aulia menjelaskan.


Setelah Yuna menyetujui permintaannya, Shanum dan Keenan sudah berada di hadapannya.


"Kalian sejak kapan di sini?"


"Baru saja." jawab Keenan.


"Oh.." ucap Aulia singkat dan tampak lega.


"Kamu masih lama di sini? tanya Keenan kemudian.


"Ya.. begitu. Baru saja sampai."


"Sedang menunggu teman?" Tanya Keenan lagi.


"Ya.." jawab Aulia gugup.


"Ya sudah kami pamit duluan."


"Oke." ucap Aulia lagi dan kini tampak lebih terlihat tenang.


Aulia bernapas lega akhirnya, sosok Keenan dan Shanum akhirnya telah pergi dari resto ini. Dengan cepat ia raih handphone miliknya dan kembali menghubungi Yuna.


"Yuna, aku tak jadi beli Apel."


"Hah.., kau ini kenapa sih, aku sudah memilihkan apelnya, sudah ditimbang juga, dan sekarang mau ke meja kasir kembali. Lalu kau bilang tidak jadi." ucap Yuna kesal.


"Kau tahu, aku harus mengantre ulang karena harus membeli apel yang kau pesan. Aku tak peduli kau menginginkan apelnya atau tidak. Saat ini aku sudah membelinya, Oke.." ucap Yuna lagi dan lagi.

__ADS_1


Yuna begitu kesal, Aulia tiba-tiba saja memintanya untuk membeli buah, dan tiba-tiba saja ingin membatalkannya.


"Upss.. Sorry." jawab Aulia akhirnya. Ia tak menyangka kalau Yuna akan bereaksi seperti itu.


Menghentikan pembicaraan itu, duduk termenung sambil menunggu kedatangan Yuna.


"Ada apa dengan hari ini?" bisik Aulia akhirnya, dengan menghembuskan napasnya perlahan.


.


.


.


.


"Huftt.."


Aulia menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya, ia pejamkan matanya perlahan untuk waktu yang lama. Terdengar bunyi ketukan pintu membuat dirinya harus bangun dari lelahnya.


"Ya.. masuk." ucap Aulia.


Pintu terbuka, terlihat sosok Radit sedang tersenyum menatap dirinya. Radit pun menutup pintu itu dan melangkah menuju Aulia. Kemudian duduk tepat di hadapan meja kerja Aulia.


"Kau kenapa?" tanya Radit yang merasa Aulia tampak berbeda saat ini.


"Ahh.. aku pusing." ucapnya lagi dan kembali menjatuhkan dirinya pada sandaran kursi.


"Kerjaan..?"


"No.. ini soal Keenan, Shanum dan Yuna.."


"Kau bertemu dengan Yuna.."


"Yup.. anda benar."


"Dia meminta tolong padamu?"


"Kau akan membantunya?"


"Mungkin." jawab Aulia ragu.


"Aku akan membenci mu jika kau membantunya."


"Hei.. menurutku Keenan juga salah." ucap Aulia dan membuat Radit menyipitkan matanya.


"Maksudmu?"


"Dia jelas masih ada hubungan dengan Yuna, tapi dia dekat dengan Shanum."


"Salahkan Yuna, kenapa dia pergi. Keenan juga perlu bahagia."


"Seharusnya dia bicara tegas pada Yuna, putuskan kalau memang sudah tidak mau bersama."


"Kau seperti tidak mengenal Yuna, mana mau Yuna meninggalkan Keenan, dia pasti menolak jika hal itu benar-benar terjadi karena Keenan punya segalanya." protes Radit.


"Kau tidak bisa menilai Yuna seperti itu."


"Tapi memang seperti itu kenyataannya."


"Tidak.." tolak Aulia cepat.


"Ya.." jawab Radit tak mau kalah.


"Tidak.." ucap Aulia lagi.


"Ya.."


"Ahhh... sudahlah.. kenapa kita jadi bertengkar gara-gara urusan mereka?" ucap Aulia dan menarik napasnya perlahan.

__ADS_1


"Kau yang memulai." ucap Radit dan membuat Aulia terdiam, Radit pun ikut terdiam akhirnya.


"Kau tahu, Yuna kemarin juga menghubungiku. Dia bilang dirinya ada dikantor kemarin. Dia tak dapat menghubungi Keenan dan meminta tolong padaku."


"Lalu.."


"Kau pasti tau jawabannya."


"Ya..ya.., kau pasti tak membantunya." Radit pun tersenyum mendengarnya.


"Kau habis berbelanja?" Tanya Radit kemudian, saat matanya menatap sekantong apel di atas meja.


"Tidak bisa dibilang seperti itu."


"Maksudmu?"


"Lebih tepatnya adalah hasil kerja kerasku, menghalangi Yuna dan Keenan bertemu."


"Aku tak mengerti, apa hubungannya dengan apel itu?"


"Siang tadi aku janjian untuk bertemu dengan Yuna. Ternyata Keenan dan Shanum berada di tempat yang sama." Radit terkejut lalu ia tertawa.


"Enggak lucu Dit." protes Aulia.


"Sorry, sorry.. tapi aku membayangkan wajahmu yang panik saat itu."


"Hah.. kau ini, jadi menurutmu apa yang harus ku lakukan ke depannya. Aku tak suka hal ini terjadi lagi."


"Kau cukup pura-pura tidak tahu mengenai hubungan Shanum dan Keen di depan Yuna. Aku yakin Keenan punya rencana sendiri mengenai ini."


"Hemm.. sebaiknya Keenan cepat bertindak. Aku tak tahu bagaimana perasaan Shanum nanti jika bertemu dengan Yuna."


"Ya.."


"Keputusannya sekarang menurutku tetaplah salah, ia menjalin hubungan disaat dia masih menjali hubungan dengan yang lain."


"Siapa tahu Yuna juga sudah menjalani hubungan dengan pria lain di luar sana."


"Kau mulai menuduhnya lagi."


"Logika saja, Yuna cantik dan hidup sendiri di luar sana. Aku yakin pasti ada pria yang dekat dengan dirinya, makanya ia begitu betah tak mau kembali.


"Terserah kamu sajalah Dit, tapi yang kita tahu saat ini, Keenan berselingkuh."


"Ku percaya dengan Keenan."


"Yasudah aku lelah membahas ini terus, kau mau apel. Aku ambilkan untuk mu ya." ucap Aulia dan kemudian bangkit dari duduknya. Sedangkan Radit mengangguk menyetujuinya.


.


.


.


.


Oma menatap jauh, pemandangan di luar kamarnya. Angin tampak bertiup begitu kencang, membuat dedaunan menari ke kiri dan ke kanan.


Oma terdiam untuk waktu yang lama, pikirnya terngiang dengan ucapan detektif yang disewanya untuk menyelidiki Keenan cucunya .


Awalnya Oma melakukan ini untuk mengetahui kekasih Keenan yang selama ini disembunyikannya. Keenan selalu saja menolak jika Oma ingin bertemu dengannya. Ternyata ada rahasia besar di balik ini semua.


"Yuna.." bisik Oma.


Wanita yang ditemuinya siang tadi adalah Yuna, kekasih Keenan yang pergi. Lalu sekarang ia kembali.


Namun Oma masih tak bisa mengerti, kenapa sekarang Keenan bersama Shanum dan mengatakan bahwa Shanum adalah kekasihnya. Padahal jelas mereka baru saja meresmikan hubungan mereka.


"Kenapa mereka membohongi Oma?" tanya Oma sendiri dalam hati.

__ADS_1


Muncul pertanyaan-pertanyaan lain dalam hati Oma. Kenapa Yuna bisa kembali, lalu bagaimana dengan Shanum, Apakah Shanum tau tentang Yuna? dan Oma masih tak dapat menemukan jawabannya.


"Yuna begitu cantik, dan Shanum wanita yang baik." ucap Oma lagi.


__ADS_2