
Kau yang memulainya duluan, jangan salahkan aku.
-Keenan-
πππ
"Bye Sha, nanti aku hubungi kamu ya.." pamit Naya saat dirinya tengah berada di dalam taksi menuju rumah.
"Kau tak mau bareng kami saja."
"Enggaklah Sha, aku takut ada macan yang siap mengaum di sebelah mu." ledek Naya sambil menahan tawanya dan kemudian meminta supir taksi untuk segera menjalankan mobilnya.
Ia tak mau urusannya menjadi panjang dengan Keenan, apalagi setelah Naya menyamakan Keenan dengan sebutan macan. Bisa-bisa Keenan langsung membujuk orang tuanya untuk menikahkan dirinya dengan Elvan sekarang juga.
Sepanjang jalan Naya masih cekikikan jika mengingat wajah Keenan yang cemberut berlapis-lapis.
Sedangkan Sha jadi terdiam mendengar ucapan Naya yang kini telah pergi menjauh bersama taksi. Ia tahu siapa yang dimaksud Naya. Wajah Keenan mendadak menakutkan sejak insiden dirinya menyebut Elvan tampan.
"Keen, kenapa kau masih diam saja." ucap Sha dengan menggenggam jemari Keenan dan menatap wajahnya. "Aku minta maaf ya.." bujuk Sha kembali.
"Kita pulang saja sekarang." pinta Keenan dan ia menarik tangan Sha untuk bisa mengikuti langkahnya.
Sha menurut, ia terus menatap punggung Keenan yang berada di hadapannya.
"Gimana caranya membuat Keenan tak marah lagi.." bisik Sha sendiri dan menghela nafas kemudian.
Sampai di dalam mobil pun Keenan masih tetap diam, dengan tatapan yang fokus menghadap jalan, tanpa sedetik pun melirik ke arah Shanum.
Hingga akhirnya ia bersuara, tapi bukan bermaksud untuk berbicara dengan Shanum. Melainkan ia bermaksud untuk mampir ke minimarket yang saat ini mobilnya sudah terparkir di depan minimarket tersebut.
"Kau tunggulah di sini, aku hanya sebentar di dalam." pinta Keenan dan Sha mengangguk cepat.
Setelah Keenan benar-benar keluar dari dalam mobil, handphone Sha berdering. Tertulis nama Naya di sana.
"Ada Keenan di sampingmu?"
"Tidak.."
"Apa Keenan masih marah?"
"Ya.. wajahnya masih begitu menakutkan. Bahkan ia tak mengajakku ke luar walau sebentar."
Naya kembali tertawa, kembali teringat dengan wajah Keenan yang begitu lucu baginya. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Keenan yang penuh dengan rasa cemburu.
"Kau bujuklah Sha, bagaimanapun juga kau memiliki andil besar membuat Keenan marah."
__ADS_1
"Aku sudah meminta maaf padanya."
"Tak cukup Sha, kau harus melakukan sesuatu juga."
"Melakukan sesuatu.." ulang Sha.
"Lakukan sesuatu yang bisa membuat dirinya bahagia." ucap Naya dan membuat Sha berpikir keras.
"Ingat.. lakukan sesuatu yang konkret yang bisa membuat seorang Keenan bahagia." pesan Naya sebelum dirinya mengakhiri pembicaraan mereka.
Sha terdiam, ia mulai berpikir panjang saat itu. Mengingat kembali pesan Naya, bahkan pesan itu selalu berputar dengan sendirinya dalam pikiran Sha saat itu.
"Apa aku harus menggodanya.." ucap Sha tampak ragu.
Tiba-tiba saja ia berfikir hal konkret yang dapat membuat Keenan bahagia adalah menggodanya.
"Bagaimana aku harus menggodanya?" Sha kembali berfikir.
Dengan bermodal kuota internet dan handphone yang dimilikinya. Ia buka Google dan melakukan pencarian dengan kata bantu cara menggoda pacar.
Kedua mata Sha menatap terkejut setelah membacanya, bahkan jantung berdetak begitu cepat saat itu. Pikirannya berkeliling entah kemana.
Beberapa detik kemudian, pintu mobil terbuka dan Keenan tengah masuk dan duduk kemudian. Shanum terkejut dan menatap Keenan tanpa berkedip sedetik pun.
"Kenapa?" tanya Keenan, karena merasa aneh dengan sikap Sha yang tiba-tiba saja menatap dirinya terus.
Pikiran Sha kembali teringat dengan artikel yang baru saja ia baca. Poin nomor satu mengatakan bahwa dia harus membisikan sesuatu yang bisa membuat Keenan tergoda.
"Keen.." panggil Sha terlihat ragu tapi tetap harus dicoba.
"Ya.." jawab Keenan dan masih begitu santai menyikapi.
"Kau tampan sekali." ucap Sha tiba-tiba dan membuat Keenan langsung menatap Shanum tak mengerti.
Sedangkan Shanum langsung memalingkan wajahnya tak berani menatap Keenan saat itu.
"Bodoh, kenapa aku malah memujinya bukan menggodanya? Kenapa juga aku berteriak bukan berbisik.." Protes Sha pada dirinya sendiri dalam hati.
"Aku tahu itu." jawab Keenan begitu mudah padahal saat itu Keenan tengah berusaha menahan tawanya.
Keenan mengemudikan mobilnya kembali, melanjutkan perjalanan mereka. Sedangkan Sha masih tampak pusing memikirkan bagaimana caranya membuat Keenan tergoda.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Keenan. Keenan mencoba membuka sabuk pengaman dan hendak ke luar dari mobil. Pergelangan tangannya tiba-tiba saja di raih oleh Shanum. Menghalanginya untuk pergi. Sha masih belum berhasil menggoda Keenan. Keenan tak boleh pergi secepat itu.
"Kenapa?"
__ADS_1
Sha tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya ke arah Keenan, menatap wajah Keenan dengan sangat dekat, memperhatikan setiap inci ketampanan yang dimiliki Keenan.
Jari-jarinya mendadak sibuk memainkan kerah baju Keenan bahkan melangkah menyusuri leher Keenan dan mengusapnya begitu lembut.
Deg.. jantung Keenan mendadak ingin melompat, tiba-tiba terasa getaran yang membuatnya ingin merasakan lebih dari ini.
Jari-jari Sha kini tengah menuju wajah Keenan, menyentuh dagunya dan mengusap lembut bibir Keenan dengan jarinya yang tiba-tiba saja menjadi sangat nakal.
Dengan cepat Sha mengecup bibir Keenan, membuat Keenan menjadi diam membisu menatap perbuatan Shanum yang berbeda dari biasanya.
"Maafkan aku.." pinta Sha dan masih terus menatap wajah Keenan bahkan Sha tersenyum.
Shanum merasa ia telah berhasil menggoda Keenan, buktinya Keenan tak berkutik sedikit pun.
"Tidak.." jawab Keenan dan berhasil membuat Sha merubah ekspresinya dengan cepat.
Shanum tak menyangka bahwa Keenan akan berkata demikian.
"Kenapa tidak?"
"Karena kau tidak sungguh-sungguh meminta maaf padaku."
"Aku sungguh meminta maaf padamu Keen."
"Terima hukuman mu dulu, aku baru akan memaafkan."
Tanpa aba-aba, Keenan langsung menarik tengkuk leher Sha begitu cepat, menyentuhnya dengan lembut dan kemudian menciumnya inci demi inci.
Ke dua mata Sha membulat tiba-tiba, ******* halus terdengar akhirnya.
"Keen.." panggil Sha dan Keenan hanya tersenyum saat itu. Keenan kemudian berbisik di salah satu telinga Sha membuat Sha makin tak mengerti dengan rasa yang timbul begitu menuntut.
"Ini hukumanmu." ucapnya.
"Cukup Keen.."
"Tidak, ini belum cukup.." ucap Keenan dan langsung menyentuh bibir Sha perlahan, kian mendalam dan semakin menuntut.
.
.
.
.
__ADS_1
Awas ada yang ngintipπ