Sebatas Pacar Sewaan

Sebatas Pacar Sewaan
Temani Aku


__ADS_3

Deg..


Apa yang akan terjadi malam ini? Kenapa tiba-tiba jantung ku terus berdetak cepat.


-Shanum-


🍁🍁🍁


"Tumben sekali Keen, aku kan bisa mengirimnya tanpa kau harus ke sini." ucap Gerry dengan mata yang sibuk menatap banyak pakaian yang berada di hadapannya.


Gerry mendadak begitu sibuk dengan kehadiran Keenan. Keenan tiba-tiba saja hadir dan memintanya untuk memilih beberapa pakaian untuk Shanum.


"Aku sudah pilihkan yang menurutku sesuai. Kau bisa memilih ulang, sesuai selera mu juga." ucap Gerry lagi sambil menyerahkan pakaian-pakaian pilihannya kepada Keenan.


"Ini sudah sesuai dengan ukurannya?" tanya Keenan memastikan.


"Tentu.." jawab Gerry penuh keyakinan.


"Oke, aku mau itu, itu dan itu." tunjuk Keenan pada beberapa pakaian yang menjadi pilihannya.


"Seleramu bagus belakangan ini Keen." Gerry memuji dengan senyum yang terukir di wajahnya.


"Kapan seleraku tidak bagus?" tanya Keenan tampak bingung dan berpikir.


"Saat kau memutuskan untuk berpacaran dengan Yuna." ucap Gerry dan kembali sibuk merapikan pakaian yang telah dipilih Keenan tadi.


"Itu hal yang berbeda, tapi aku memang bodoh saat itu."


"Waw.. jadi kalian sudah resmi bersama sekarang?"


"Siapa maksudmu?"


"Kau dan Sha.. tak mungkin Yuna. Kau tau aku tak suka dengan Yuna sejak dulu. Lebih-lebih setelah dia meninggalkan kamu waktu itu. Jadi kau sudah berpacaran dengan Shanum sekarang?"


"Ya.."


"Waw, berita besar ini. Tak sabar rasanya ingin melihat wajah Yuna yang kesal." ucap Gerry dan tertawa bahagia.


"Yuna sudah kembali Gerry."


"Sungguh, untuk apa dia kembali?"


"Dia bilang, dia merindukan ku makanya dia kembali."


"Lalu kau percaya dengan kata-katanya?"


"Kalau aku belum mengenal Shanum, mungkin aku masih mempercayainya."


"Shanum membawa berkah untukmu."


"Ya.. kau benar." ucap Keenan dan tersenyum tipis.


"Jika kau bersama dengan Shanum, aku akan mendukungmu. Tapi jika kau kembali bersama Yuna, aku pasti akan membencimu."


"Ya..ya.. aku tau itu."


"Okeh.. ini semua pakaian untuk Shanum. Kirimkan salam ku untuknya." pinta Gerry dan kemudian menyerahkan satu kantung berisi pakaian.


"Terima kasih."


"Ajaklah Shanum ke sini lagi, aku rindu berbincang dengannya."


"Memangnya apa yang kalian pernah bicarakan?"

__ADS_1


"Tentu mengenai hubunganmu dengan Yuna."


Keenan terdiam, dia mencoba mengingat kembali terakhir kali dirinya mengajak Shanum ke sini.


"Kenapa kalian membicarakan ku dan Yuna?"


"Karena kau bodoh telah berpacaran dengan Yuna." tuduh Gerry namun Keenan tak menolak tuduhannya itu.


"Ya.. aku memang bodoh saat itu."


"Kau tau, saat ku mengatakan Yuna begitu sombong dan angkuh. Shanum malah membelanya."


"Membelanya." ulang Keenan.


"Ya.. Shanum bilang aku perlu mengenal lebih dalam, sebelum aku menilainya. Aku sama sekali tak ada niat untuk mengenalnya lebih dalam." ucap Gerry kesal tapi membuat Keen tertawa.


"Sudahlah, lupakan Yuna. Jangan juga kau terlalu membencinya. Nanti kau berjodoh dengannya."


"Keen, doa macam apa itu yang kau ucapkan untukku. Aku tak akan memilih Yuna, lebih baik aku memilih Shanum."


"Hei, Shanum itu milikku, tak ku izinkan siapapun memilikinya." kali ini Gerry yang tertawa mendengar ucapan Keenan.


"Jaga dia baik-baik, jangan sampai kau melukainya. Jika hal itu sampai terjadi, kau harus siap Shanum jadi milikku."


"Itu pasti ku lakukan." ucap Keenan dan kemudian memutuskan untuk meninggalkan Gerry dan menuju rumah Oma kembali.


.


.


.


.


Sebuah pintu kembali terketuk. Shanum kembali menatap pintu kamar lagi. Ia kembali bangkit dari duduknya dan melangkah menuju sumber ketukan itu berasal.


Tak mungkin Oma kembali mengetuknya. Mungkin kali ini Keenan yang mengetuk. Entah itu sebuah tebakan atau sebuah harapan Sha atas kehadiran Keenan.


Dan ternyata Oma katakan dan apa yang Shan pikirkan benar adanya. Keenan yang tengah berada di hadapan Shanum saat ini. Dengan sebuah kantong menggelantung di pergelangan tangannya.


"Sha." panggil Keenan dan kemudian melangkah lebih ke dalam masuk ke dalam kamar.


"Cobalah, ku harap kau suka." pinta Keenan dan menyerahkan kantung ditangannya itu pada Shanum.


"Banyak sekali Keen." ucap Sha begitu terkejut saat menatap isi kantung itu.


Shanum tak habis pikir, kenapa Keenan membelikan banyak pakaian untuknya. Dirinya hanya menginap semalam, itu yang Shanum tahu, tapi kenapa seolah Shanum akan menginap berhari-hari.


"Ini tidak banyak Sha, nanti kau cobalah. Aku tinggal dulu nanti aku kembali lagi." ucap Keenan dan kemudian meninggalkan Shaum sendiri lagi.


Setelah kepergian Keenan, Shanum kembali menatap beberapa pakaian yang telah Keenan belikan untuknya. Ia mulai memilih salah satu dan kemudian mengenakannya.


.


.


.


.


Menatap langit-langit kamar saat itu, Shanum terdiam dalam waktu yang lama. Setelah kembali dari makan malam bersama Oma dan Keenan tadi. Shanum memutuskan untuk kembali ke kamar.


Begitu banyak yang sudah terjadi seharian ini. Kedatangan Yuna yang membuatnya begitu terkejut sekali. Bagaimana nantinya ia akan menjalani hari-hari ke depannya bersama Keenan jika Yuna sudah kembali.

__ADS_1


Walau Keenan sudah berkata akan tetap memilih Sha. Tapi Sha masih merasa khawatir. Pasalnya ia berhubungan dengan Keenan, disaat Yuna masih berstatus pacarnya.


Sebuah pesan masuk tiba-tiba, menghentikan lamunan Sha malam itu. Shanum membaca pengirim pesan itu. Keenan yang tengah mengirimkan pesannya untuknya.


"Kau sudah tidur Sha?" tanya Keenan.


"Belum. Kenapa?" ketik Sha cepat.


Keenan tak membalasnya lagi, membuat Sha berpikir kembali.


"Apa mungkin Keenan langsung tertidur saat mengetik tadi." pikir Sha.


"Ah.. tidak mungkin seperti itu." koreksi Sha cepat.


Disaat dirinya masih berpikir dengan pesan Keenan untuknya, kembali terdengar ketukan pintu dan bersamaan dengan bunyi pesan untuknya.


"Bukakan pintunya." pinta Keen dalam pesan yang dikirimnya.


Shanum terkejut, ia pun bangkit dari duduknya meninggalkan handphonenya berbaring di kasurnya.


Shanum melangkah menuju pintu, membukanya, dan masih tak percaya dengan kedatangan Keenan malam itu.


"Kenapa kau di sini Ken?" tanya Sha dan Keenan melangkah masuk ke dalam kamar.


"Aku tak bisa tidur." ucap Keen dan kemudian duduk di sisi kasur kamar Shanum.


Setelah menutup pintu, Shanum pun ikut melangkah lebih ke dalam kamarnya. Melangkah menuju Keenan dan ikut duduk tepat di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Sha.


"Entahlah, mungkin aku merindukanmu Sha." ucap Keenan lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur.


"Sejak kapan kau pandai berkata seperti itu?" tanya Sha dan tampak tersipu mendengarnya.


"Mungkin sejak aku mengenalmu." ucap Keenan dan kembali membuat Shanum malu mendengarnya.


"Kembalilah ke kamar Keen, ini sudah malam. Tak enak dengan Oma."


"Tidak mau, aku ingin tetap di sini."


"Tapi, nanti Oma." ucap Shanum terhenti saat Keenan menarik tangan Sha dan akhirnya ikut berbaring bersama.


"Oma tak akan tahu, jika kau tak bilang Sha."


Deg.. mendadak jantung Shanum berdetak tak karuan. Pikirannya terbang entah kemana membawa imajinasinya itu terbang.


"Tidak..tidak.." tolak Sha dan mencoba untuk bangun.


Keenan kembali menghalangi Shanum untuk pergi. Ia raih tubuh Shanum untuk tetap bersamanya.


"Temani aku sebentar saja Sha.." bisik Keenan dan kini telah berhasil memeluk tubuh Shanum.


"Temani, maksudmu." tanya Sha kemudian.


.


.


.


.


🙈🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2