
Tak melihat keberadaan mu untuk beberapa waktu, membuatku begitu mencemaskan mu.
-Keenan-
🍁🍁🍁
Yuna tampak berjalan bolak balik malam itu, bibirnya gemetar, ia menggigitnya kemudian. Rasa panik dan cemas begitu menyelimutinya.
"Bagaimana, kau mengetahui sesuatu honey..?" tanya Yuna yang saat ini sedang berbicara dengan Endru ditelepon.
"Mereka akan segera bertunangan."
"Apa tunangan!" teriak Yuna tak percaya. "Kau tidak sedang bercandakan honey? wanita itu hanya pengganti diriku. Dia tak berhak bersama Keenan. Aku mengenal Keenan sudah cukup lama dibandingkan dengan dirinya." protes Yuna tiada henti.
"Lalu kau mau apa? kau bilang kau membencinya."
"Aku memang membencinya, dan aku tak ingin mereka bersama. Aku tak ingin mereka bahagia." ucap Yuna terisak.
"Tenanglah.. kau masih punya aku, aku menyayangimu."
"Aku tahu, tapi aku ingin membalas mereka. Mereka telah menyakitiku."
"Tunjukan saja surat perjanjian itu, saat pesta pertunangan mereka nanti."
Yuna terdiam sesaat, ia hampir melupakan surat perjanjian itu. Sebuah rahasia besar yang mungkin akan membuat mereka berpisah.
"Kapan mereka akan bertunangan?"
"Besok.."
"Ok.." jawab Yuna dan masih terlihat keraguan di wajahnya.
Rasanya ia masih tak mengerti dengan semua yang terjadi. Keenan begitu cepat melupakannya dan langsung menetapkan hatinya pada wanita lain yang belum lama ia kenal.
Apa yang menjadi kelebihan wanita itu dibandingkan dirinya. Yuna merasa secara fisik dirinya jauh lebih sempurna dibanding wanita itu.
"Aku harus bisa merusak acara mereka besok." ucap Yuna terdengar berbisik.
Dengan membongkar siapa wanita itu sebenarnya, mungkin akan membuat semua orang yang hadir membenci wanita itu.
"Cihh.. hanya sebatas pacar sewaan saja, bermimpi terlalu tinggi ingin menjadi istri Keenan." gerutunya.
"Aku akan membalasnya, lihat saja nanti." bisik Yuna kemudian dan rencana jahat mulai tersusun begitu cepat.
.
.
.
.
Bibir Shanum sudah merah mempesona, ke dua pipinya juga sudah berwarna. Matanya tampak bulat dan begitu cantik.
Namun ia tampak bingung sekali, tiba-tiba saja Gerry datang ke rumahnya dan membantunya berhias.
"Ini tidak terlalu berlebihan, Gerry?" tanya Sha dengan menatap Gerry yang masih sibuk memoles wajah Sha.
__ADS_1
"Tidak.. ini sudah sesuai dengan tema acara hari ini."
"Aku seperti yang punya acara saja, padahal Oma yang berulang tahun hari ini."
"Kau memang yang punya acara hari ini."
"Maksudmu..!"
"Oh.. maksudku.. kau kan sudah akan menikah dengan Keenan, pasti sudah dianggap keluarga oleh Oma. Sebagai keluarga sangat wajar jika kau berpenampilan seperti ini." koreksi Gerry dengan cepat.
"Ya.. mungkin." jawab Sha dan masih tampak ragu. "Kau akan datang juga nanti?" tanya Shanum kemudian.
"Tentu aku datang. Aku tak mau ketinggalan momen bahagia ini." ucap Gerry dan kemudian kesibukannya beralih ke rambut Sha. "Sabar ya, sebentar lagi kau akan terlihat makin cantik." ucap Gerry dan tersenyum menatap Shanum.
Sejam kemudian, Shanum sudah terlihat berbeda. Begitu cantik bahkan dirinya sendiri hampir tak mengira bahwa dirinya yang dilihat di depan cermin saat ini.
"Kau cantik sekali Sha.."
"Thank you sangat Gerry."
"Kau memang sudah terlahir cantik."
"Memangnya kau pernah melihatku saat bayi." ucap Sha dan tertawa sendiri.
"Kau ini, itu hanya perumpamaan." ucap Gerry dan ikut tertawa akhirnya. "Ya sudah, sekarang kita bersiap ke tempat Oma." ucap Gerry lagi dan kembali sibuk merapikan barang bawaannya.
"Keenan tak ke sini?" tanya Sha.
"Tidak, kau menjadi tanggung jawabku sekarang, sampai kau tiba di tempat Oma."
"Dia sedang sibuk di tempat Oma."
"Aku dilupakan.." keluh Sha.
"Ayolah Sha.. nantikan juga akan bertemu dengan Keenan. Memangnya kau tak mau bersama ku?"
"Bukan seperti itu Gerry.., aku hanya..."
"Merindukannya." tebak Gerry memotong ucapan Sha. "Kalau sudah jatuh cinta memang bermiliar rasanya yah.." ucap Gerry dan membuat Shanum tersenyum.
"Aku hanya bercanda Gerry, sebagai cucu yang baik Keenan memang seharusnya menemani Oma saat ini." ucap Shanum dan keduanya saling tersenyum akhirnya.
Setelah merapikan semuanya, Shanum dan Gerry pun akhirnya memutuskan untuk segera pergi menuju tempat Oma.
Melangkah bersama menuju mobil yang sudah terparkir di halaman depan rumah Shanum.
Di tempat lain, Keenan tampak begitu gugup. Ia melangkah bolak balik menanti kedatangan Shanum.
"Kenapa lama sekali mereka." keluh Keenan dan makin menjadi gugup.
Handphonenya berdering kemudian, ia menatap layar handphonenya dan membaca nama Gerry di sana.
"Kalian dimana? Kenapa lama sekali?" tanya Keenan.
"Sory Keen, sepertinya aku dan Shanum akan datang terlambat."
"Maksudmu.."
__ADS_1
"Entah kenapa ban mobilku bocor."
"Kirimkan lokasi mu sekarang." ucap Keenan mengakhir pembicaraan.
Seseorang menepuk bahunya kemudian, membuat Keenan terkejut karena terlalu fokus memikirkan Shanum saat ini.
"Ada apa?" tanya orang itu yang tak lain adalah Radit.
"Aku harus menjemput Shanum."
"Ada apa dengan Shanum, bukannya dia pergi bersama Gerry?"
"Ada masalah dengan mobilnya Gerry." ucap Keenan dan hendak melangkah pergi menjemput Shanum.
"Kau harus tetap di sini, aku saja yang menjemputnya." pinta Radit kemudian, mencoba meyakinkan Keenan saat itu.
"Tapi.."
"Kau harus tetap di sini, temani Oma. Ku pastikan Shanum akan datang tepat waktu." ucap Radit meyakini kembali dan Keenan pun akhirnya menyetujui permintaannya.
Menatap kepergian Radit kemudian, walau hatinya masih begitu cemas.
.
.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, tamu pun sudah mulai berdatangan satu persatu. Memenuhi ruangan pesta dalam seketika.
Jarum jam yang terus berputar, membuat Keenan terus merasakan kecemasan. Shanum masih belum muncul juga di hadapannya saat ini.
"Shanum belum datang?" tanya Oma berbisik.
"Belum Oma."
"Kita mulai saja pestanya, tak enak dengan tamu yang sudah datang." ucap Oma dan Keenan mengangguk menyetujui.
Pesta akhirnya pun dimulai, sambutan dan doa terucap silih berganti. Tepuk tangan dan tawa terdengar kemudian. Semua tampak bahagia, terkecuali Keenan. Ia masih begitu cemas menanti kehadiran Shanum yang masih belum kunjung hadir diantara mereka.
Sampai akhirnya seseorang datang, membuat sedikit rasa tenang hadir di hati Keenan. Tanpa permisi Keenan melangkah begitu cepat menghampiri orang itu. Radit yang datang saat itu, tapi kenapa hanya seorang diri.
"Kau sudah datang, dimana Shanum?" tanya Keenan tergesa dan menatap wajah Radit yang masih terlihat mencoba mengatur napasnya.
.
.
.
.
Shanum lagi diumpetin🤭
Mohon maaf lahir batin ya semua🤗🙏
__ADS_1