Sebatas Pacar Sewaan

Sebatas Pacar Sewaan
Mungkinkah Dia


__ADS_3

Aku memang menyukainya, dan diapun menyukaiku.


Sungguhkah sepenuhnya dia sudah menjadi milikku?


-Shanum-


🍁🍁🍁


Sha dan Keenan kini telah sampai di rumah Oma. Setelah keluar dari mobil, Keenan langsung berlari perlahan menuju Sha dan mengandeng tangannya.


Muka Sha mendadak memerah, ia begitu terkejut dengan sikap Keenan barusan. Bahkan ia tak berani menatap Keenan yang sudah berada di sampingnya.


"Yuk.." ajak Keen dan mereka melangkah bersama.


Terlihat sosok Oma dari kejauhan, ia tersenyum menatap kehadiran Keenan dan Shanum. Merangkul jemari Shanum dan mengajaknya untuk masuk lebih ke dalam.


"Ayo duduk.." pinta Oma.


Oma tersenyum menatap keduanya, rasanya ia masih tak percaya bahwa kebersamaan mereka adalah sebuah sandiwara.


"Enggak apa- apakan, Oma nyuruh kalian bolos kerja?"


"Enggak apa-apa Oma." Jawab Sha sambil melirik ke arah Keenan.


Sha berani berkata seperti itu, karena memang Keenan yang memintanya untuk ikut pergi. Kapan lagi bolos disetujui oleh bos, itulah yang ada dibenak Shanum.


"Gimana kabarmu Sha, Keenan enggak jahatkan sama kamu."


"Kabar Sha baik Oma, Keenan juga baik sama Sha." ucap Shanum dan Keenan tersenyum mendengarnya.


"Syukurlah.., bagaimana kalau kita berangkat sekarang?"


"Kita akan pergi?" tanya Sha memastikan.


"Oma perlu beli sesuatu untuk pesta nanti dan Oma perlu pendapat kalian."


"Oh.. oke.." jawab Sha dan kemudian Oma pamit meninggalkan Sha dan Keen, untuk bersiap pergi bersama.


"Kau tau kita akan pergi kemana Keen?"


"Entahlah, Oma tak bilang." jawab Keenan dan sosok Oma sudah tak terlihat lagi dari kejauhan.


Oma sudah berada di kamarnya saat ini. Tiba-tiba handphonenya bergetar, sebuah pesan masuk untuknya.


Oma terdiam, memandang sebuah foto yang baru saja ia terima lewat ponselnya.


"Sha dan Keen." ucapnya pelan.


Menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi dengan mereka?" tanyanya sendiri lalu Oma tersenyum.


Oma tersenyum menatap kebersamaan Sha dan Keenan di pantai. Mereka terlihat bahagia, dengan tangan yang saling berpaut satu sama lain, dengan tawa yang terukir di wajah keduanya.


"Oma menyayangi kalian." ucap Oma dan kemudian bersiap untuk pergi bersama Keen dan Sha.


Tak menghabiskan waktu lama. Oma akhirnya kembali bersama Keenan dan Sha. Mereka melangkah bersama menuju mobil dan hendak pergi kemudian.


.


.


.


.

__ADS_1


Siang itu begitu ramai, seluruh kursi hampir terisi penuh oleh pengunjung di salah satu resto ternama di Jakarta.


Sibuk menatap buku menu, dan menentukan makanan dan minum yang akan menemani makan siang Sha, Keenan dan Oma siang itu.


"Terima kasih untuk hari ini ya." ucap Oma sambil menatap bergantian ke arah Keenan dan Shanum.


"Sama-sama Oma."


"Maaf Oma sudah merepotkan kalian."


"Enggak Oma, Sha malah seneng bisa bantu Oma." ucap Shanum dan Oma tersenyum mendengarnya.


"Oma tidak bisa berlama-lama menemani kalian."


"Oma mau pergi?" Tanya Keen.


"Ya, masih ada yang perlu Oma bereskan."


"Mau Keenan temani?"


"Enggak perlu Keen, kamu temani Shanum saja, nanti Pak Heru sebentar lagi datang menjemput Oma ke sini."


"Bener enggak apa-apa Oma."


"Kalian kan tadi sudah menemani Oma."


Setelah menyelesaikan makan siang, Oma pun pamit untuk pergi. Meninggalkan Keenan dan Shanum berdua.


"Pak, nanti kita mampir ke Supermarket sebentar." Pinta Oma pada Pak Heru yang merupakan Asisten pribadinya.


Tak sampai setengah jam, Oma telah sampai. Memang letaknya tak jauh dari resto dimana Oma makan bersama Shanum dan Keenan.


Mengambil keranjang kecil dan kemudian berkeliling. Sambil menatap produk-produk yang terpampang rapi di rak besar yang menghiasi supermarket ini berada.


"BRUK.."


"Duh.. hati-hati dong." pintanya dan begitu kesal.


Oma terdiam, menatap wanita yang ada di hadapannya saat ini. Seseorang yang begitu familiar baginya. Lalu Oma tersenyum membalas ucapan wanita itu.


Wanita itupun tercengang menatap wanita tua yang ada di hadapannya, bukannya marah tapi ia malah tersenyum menatap dirinya.


"Aneh.." gumamnya dan beranjak pergi meninggalkan Oma.


Sambil menatap kepergian wanita itu, Oma pun berpikir panjang.


"Mungkinkah dia.." tebaknya namun terhenti.


Kembali menyibukkan diri, mencari sesuatu yang akan dibeli.


.


.


.


.


"Aku sudah sampai, kau di mana?" tanya Aulia pada Yuna.


"Sebentar lagi aku ke sana, aku sedang membayar belanjaanku dulu. Tunggu sebentar." pinta Yuna dengan wajah kesal karena tak kunjung sampai dirinya di meja kasir.


"Ya sudah, aku tunggu." ucap Aulia mengakhiri pembicaraannya.


Aulia menarik napas panjang kemudian, dirinya mulai berpikir kembali. Apa yang mesti ia katakan nanti pada Yuna jika Yuna bertanya soal Keenan.

__ADS_1


Tiba-tiba Aulia terkejut, seseorang menepuk pundaknya dan memanggil namanya.


"Bu Aulia."


"Shanum." ucapnya.


"Ibu sedang makan di sini juga."


"Oh.. ya.. baru saja sampai, kamu sendirian Sha?" tanya Aulia, rasanya ia perlu bertanya tentang hal ini.


Aulia mendadak begitu cemas, pasalnya saat ini dirinya akan bertemu dengan Yuna di sini. Lalu tanpa direncanakan ia pun bertemu dengan Shanum.


"Oh.. saya dengan Pak Keenan ke sini."


"Keenan.." ulangnya dan menjadi makin cemas.


"Iya Pak Keenan, kami duduk di sana." tunjuk Shanum.


"Mau gabung?" ajak Sha akhirnya.


"Tidak..tidak.. terima kasih." tolak Aulia cepat.


Akan menjadi semakin rumit jika Aulia memilih bergabung dengan Keenan dan Shanum.


"Ya sudah kalau begitu. Sha balik ke sana dulu."


"Ya.. Sha.."


Kembali menarik napas panjang, kali ini begitu panjang dan menghembuskannya dengan cepat.


"Apa yang harus ku lakukan? Yuna sebentar lagi akan tiba, kalau mereka bertemu, apa yang akan terjadi." tanya Aulia sendiri dengan kecemasan yang menumpuk.


Sedangkan Shanum merasa ada sesuatu hal yang berbeda dengan Aulia.


"Apa aku telah buat salah ya..?" pikirnya sambil menarik kursi kembali dan duduk kemudian.


"Kenapa Sha?" tanya Keenan dan berhasil menghentikan lamunan Shanum.


"Tadi aku ketemu Bu Aulia di sana, ku ajak kesini dia menolak." tunjuk Sha sambil menjelaskan.


"Lalu apa yang kau bingungkan?"


"Aku merasa dia menghindari kita."


"Mungkin dia paham."


"Paham." ulang Sha


"Dia paham tak mau menggangu kita."


"Memangnya dia tau hubungan kita? bukankah hanya Radit?"


"Aku hanya menduga-duga."


"Ah.. ku kira."


"Memangnya kamu tidak mau, semua orang tau hubungan kita?" tanya Keenan dan berhasil membuat Shanum terdiam.


.


.


.


.

__ADS_1


Kira-kira ketemu ga ya👀


__ADS_2