Sebatas Pacar Sewaan

Sebatas Pacar Sewaan
Menyesal


__ADS_3

Aku harap, aku tak menyesali apa yang sudah ku putuskan dulu.


-Shanum-


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Shanum menatap lurus wajah Oma, ia begitu terkejut sekali mendengarnya. Oma sudah mengetahui Yuna, lalu kenapa masih mengizinkan dirinya untuk tetap bertunangan dengan cucunya.


Sha teringat, waktu pertama kali mengetahui Yuna kembali. Ia pernah ingin berkata jujur pada Oma. Ingin mengatakan yang sebenarnya, namun hal itu terjadi. Hingga akhirnya membuat diri Sha menyesal saat ini.


"Dengarkan Oma.." pinta Oma kembali dan kemudian bangkit dari duduknya.


Oma melangkah mendekat ke arah Yuna, ia menatapnya dan tersenyum kemudian.


"Kita pernah bertemu sebelumnya, kau ingat..?" tanya Oma dengan wajah Yuna yang terlihat berpikir.


Beberapa detik kemudian Yuna terkejut sekali. Ia mengingat Oma, wanita tua yang pernah ia temui dan ia menabraknya.


"Ah.. Oma, saat itu..." ucap Yuna dan tak berhasil melanjutkan ucapannya. Ia mendadak menjadi gugup.


"Tak apa, Oma tak mempermasalahkannya." ucap Oma lagi dan kemudian melangkah mendekat menuju Keenan.


"Kenapa membohongi Oma mu, Keen?" tanya Oma kemudian. Terlihat kekecewaan pada raut wajahnya.


"Maafkan Keen, Oma." pinta Keenan yang memang kalimat itu yang harus Keenan ucapkan saat ini.


Oma meraih jemari Keen dan menggenggamnya untuk beberapa saat. Kemudian berjalan mendekat ke arah meja dimana Oma meletakan berkas pemberian Yuna.


"Cepat baca Oma.." pinta Yuna mendesak Oma lagi.


"Kau masih mencintai Yuna, Keen?" tanya Oma kemudian.


"Tidak Oma.."


"Kau mencintai Keenan, Yuna?"


"Yuna sangat mencinta Keen, Oma." Ucap Yuna membuat Keenan seakan ingin menghentikan ucapan Yuna saat itu juga.


"Lalu, kenapa kau mengkhianati Keenan?" tanya Oma lagi.


"Itu.. karena.. aku kesepian Oma.., tapi sekarang aku sungguh-sungguh ingin kembali bersama Keenan."


"Tapi Keenan, sudah tidak mencintaimu. Bagaimana Oma bisa menyetujuinya?"


"Itu pasti karena wanita itu telah menghasutnya.." ucap Yuna dan menatap wajah Sha. "Oma harus tau, Keenan dulu sangat mencintaiku, bahkan ia melarang ku untuk pergi." ucapnya lagi.


"Tapi kau tetap pergi bukan..?"

__ADS_1


"Ya.." jawab Yuna menunduk dan kesal. Rasanya ia menyesali semuanya sekarang.


"Lalu kenapa kau tak mau kembali saat Keenan memintamu kembali?"


"Itu.. karena.. aku sibuk.. ya aku sibuk.." jawab Yuna berbohong.


"Bertahun tahun kau sibuk!" ucap Oma menegaskan. "Padahal kau tau Oma yang meminta mu kembali."


"Maafkan Yuna, Oma." ucap Yuna lagi dan suasana menjadi hening dalam seketika.


Keenan dan Sha mulai bertanya-tanya. Bagaimana Oma terlihat begitu tenang bahkan mengetahui semuanya. Padahal saat ini Keenan dan Sha begitu khawatir dengan kondisi Oma. Sha ingin sekali menghampiri Oma, ingin sekali memeluknya, ingin sekali meminta maaf padanya. Tapi, apakah saat ini Sha mempunyai hak untuk melakukan itu.


Ditengah keraguan yang menyelimuti hati Sha, akhirnya ia hanya mampu untuk berdiam diri saja, menatap Yuna, Keenan dan Oma. Hanya mencoba menerima apa yang ia dengar saat ini, apa yang ia lihat sekarang. Entah akhir seperti apa yang akan dijumpainya nanti.


"Kau telah menyakiti perasaan Keenan, cucu Oma. Bahkan kau membuat keributan di pesta ulang tahun Oma. Bagaimana Oma bisa memaafkan mu kali ini?"


"Yuna enggak bermaksud seperti itu Oma, Yuna cuman mau Oma tau bahwa wanita itu enggak baik buat Keenan. Wanita itu pasti hanya menginginkan harta Keenan. Buktinya ada surat perjanjian itu."


"Ini hanya selembar kertas, tak ada tanda tangan Shanum di dalamnya. Bagaimana kau bisa menuduh Shanum menginginkan harta Keenan." ucap Oma dan Yuna begitu terkejut sekali.


Shanum mengingatnya saat itu, saat Keenan menyerahkan surat perjanjian itu. Ia memang membacanya namun Sha begitu ragu. Lalu Sha mengembalikan surat itu pada Keenan.


Karena memang sedikit hatinya sudah ada rasa ke Keenan, dan pertemuan dengan Oma membuatnya tak tega untuk menyakitinya. Mencintai tak mengharapkan balasan, mungkin saat itu yang Sha rasakan.


"Tapi.. intinya wanita itu pasti ada niatan seperti itu." bela Yuna lagi dan membuat Oma tersenyum untuk kesekian kali.


"Tapi Oma.."


"Kalian sudah putus, Keenan pun sudah tidak mencintaimu lagi. Kau pun sudah mempunyai kekasih lain, lalu.. Keenan dan Sha pun sudah bertunangan. Jadi Oma rasa surat ini sudah tidak berarti lagi." ucap Oma dan kemudian merobeknya perlahan menjadi lembaran-lembaran halus dan kecil di hadapan semua.


Yuna yang melihatnya menjadi begitu kesal. Apa yang diucapkannya sejak tadi tak membuahkan hasil apapun. Rasa malu dan kesal menumpuk menjadi satu akhirnya.


Ia pergi kemudian, apa yang menjadi alatnya untuk memisahkan Keenan dan Sha telah musnah dalam sekejap.


Dengan langkah besar ia terus berjalan dan menutup pintu dengan keras. Membuat semuanya begitu terkejut menatap aksinya.


Bruk...


Namun bukan hanya itu saja yang membuat Keenan dan Sha terkejut, tiba-tiba saja Oma jatuh.. jatuh dan tak sadarkan diri.


"Oma..." teriak Keenan dan Sha bersamaan, lalu berlari menghampiri Oma


.


.


.

__ADS_1


.


Yuna melangkah begitu cepat, ia terlihat berlari meninggalkan rumah Oma. Radit yang melihat dan menyadari kepergian Yuna memutuskan untuk menyusul menemui Keenan dan Shanum berada.


Lain halnya dengan Aulia yang sejak tadi bersama dengan Radit. Ia mencoba berlari mengejar kepergian Yuna.


"Yuna.." panggil Aulia berulang sambil berlari.


"Kau kenapa mencari ku? Oh.. kau ingin menertawai aku kan?" ucap Yuna dengan air mata terlihat menggenang di ke dua matanya. Ia hapus dengan kasar air matanya itu.


"Kenapa kau jadi seperti ini?" ucap Aulia dan makin melangkah mendekat ke arah Yuna.


"Itu urusanku, kenapa kau ikut campur sekali." ucap Yuna kesal dan kembali melangkah meninggalkan rumah Oma.


Aulia terdiam menatap kepergiaannya. Ia menghela napasnya kemudian. Rasanya waktu cepat berlalu dan banyak sekali perubahan terjadi tanpa dirinya sadari.


Entah apa yang telah merubah hati sahabatnya itu. Sikapnya yang sekarang berbeda sekali dengan dirinya yang dulu.


Yuna masih terus melangkah, jemarinya mendadak sibuk dengan handphone yang di genggamnya.


"Honey.. rencana hari ini gagal total." protes Yuna.


"Bagaimana bisa?"


"Oma tidak mendengarkan kata-kataku. dia lebih percaya wanita itu dibandingkan aku. Aku kesal.." ucap Yuna dengan penuh emosi.


"Kau pulanglah.." pinta Endru dengan merendahkan suaranya, mencoba membujuk menenangkan hati Yuna.


"Pulang! aku tak mau pulang."


"Kau sudah berjanji akan pulang."


"Rasanya aku menyesal sekarang. Seandainya aku tak bertemu denganmu mungkin saat ini aku masih bersama Keenan."


"Kau bicara apa? Kau menyesal mengenalku? dari sekian banyak hal yang sudah kita lakukan bersama." ucap Endru dan kali ini terdengar kesal.


"Ahh.. sudahlah.." ucap Yuna lalu mematikan handphonenya.


.


.


.


.


Lanjuttt๐Ÿ’ช

__ADS_1


__ADS_2