
“Sayang–”
“Jangan memanggilku seperti itu lagi," ucap Jose dengan nada dinginnya.
Inda terdiam dan menunduk dengan perasaan gemetar. Ia mengejar Jose sampai ke depan pintu untuk minta maaf karena perilaku khilafnya saat makan. Namun aura kemarahan Jose membuat Inda tidak mampu bicara. Inda melihat Jose memasuki mobil dan pergi. Inda terduduk lemas di depan pintu dan menangis. Dia tidak terlalu sedih saat Jose mengabaikannya, namun Jose yang pergi dari Villa tanpa ikut membawanya sungguh menyakiti hatinya.
“Padahal aku mau ketemu nyonya Maria,” ucap Inda disela tangisnya.
Di mobil yang dikendarainya, Jose terus memaki Inda yang membuatnya emosi. Dia memang tidak suka mendengar seseorang berbicara terlalu cepat dan mengabaikannya yang sudah menjawab. Apalagi bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain.
“Dasar perempuan tidak tahu tata krama!”
Jika saja Jose sudah kehilangan kendali atas dirinya, maka Jose akan berbuat buruk pada Inda. Meninggalkan bekas mendalam bagi jiwa perempuan itu. Namun ia masih ingat siapa dia dan orang di depannya. Maka memilih pergi dari Villa untuk menenangkan diri.
“Ben, datang ke rumah Mamaku sebelum pukul sembilan.” Jose meninggalkan pesan suara lima detik ke nomor Jose. Meski tau pukul sembilan tersisa tiga puluh lima menit lagi, Jose tidak mau tahu kapan Ben akan menerima pesan suaranya. Yang penting Jose mendapati Ben sudah sampai di rumah Mamanya, bahkan kalau perlu Ben sampai dahulu ke rumah Maria sebelum dirinya.
Dua puluh menit kemudian.
Jose sampai ke rumah sederhana sang Mama di sudut kota yang setiap sisinya dipenuhi pohon dan banyak rerumputan hijau seluas satu hektar. Maria sudah tua. Dan perlu hidup sehat dengan lebih banyak melihat pemandangan hijau, serta menghirup udara bersih yang diproduksi pohon.
Jose turun dari mobilnya. Melihat sebuah mobil silver bermerek Lotus Evija yang dikenalnya. Ia tau itu milik Ben. Ternyata dia sampai duluan, pikir Jose dengan senyum miring yang sekilas menghiasi wajahnya. Segera Jose mendekati Ben. “Cepat juga datangnya 'ya. Bukannya kau harus main sama perempuan bayaranmu dulu?” sindir Jose.
“Ck. Semalam pekerjaanku terlalu banyak karenamu. Ga bakal sempat berduaan sama ******-****** itu. Terus pesan suaramu. Itu benar-benar membuatku frustasi. Untung jalanan belum rame. Atau gak, mungkin ada tabrakan massal di jalan.”
Jose hanya ber oh-iya.
“Omong-omong aku udah ketemu identitas perempuan di rumahmu. Namanya An–”
__ADS_1
“Aninda Antari. 23 tahun, anak tiri keluarga Dehendra.”
“Kau udah tau siapa dia?” tanya Ben terkejut.
Jose hanya mengangguk sekilas dengan wajah datar. “Aku udah tau lebih dulu darimu.” Jose pergi dari depan Ben tanpa permisi.
Hal ini membuat Ben sedikit geram. Kalau udah tau kenapa masih minta aku cari tau siapa dia? gumam Ben menggerutu.
“Aku dengar apa yang kau bilang," suara Jose yang lima belas langkah sudah di depannya.
Ben hanya menghela nafas mendengar penuturan kata atasan yang juga sahabatnya itu. Jose memang selalu membuatnya kesal saat Jose juga kesal. Untuk itu, nyatanya Ben sudah terbiasa. Ben kemudian memutuskan untuk mengikuti Jose ke dalam rumah bibi Maria, mama Jose.
Jose melihat tiada sang Mama di mana pun dalam rumah kecil yang juga dihuni seorang pelayan dan seorang pengasuh wanita paruh baya itu. Membuatnya memutuskan bertanya pada pengasuh sang Mama. Katanya, "Kemana nyonya Maria?"
"Oh, di sana, tuan. Sedang berjemur." Pengasuh Maria menunjuk ke luar rumah. Terdapat seorang wanita bertubuh gemuk yang duduk di kursi jemur dengan dua potong mentimun menutup matanya. Kursi jemur menghadap kolam kecil berisi banyak ikan koi yang terletak di belakang rumah. Hal itu menambah kesan damai dan tenang.
"Pagi Jose, Ben," ucap Maria yang tanpa melihat langsung menyapa dua pria yang menghampirinya itu.
"Mama tau dari mana kami tiba?" tanya Jose yang benar-benar gemas melihat Mamanya yang tidak pernah membiarkannya menyapanya terlebih dahulu.
"Dari aroma tubuh kalian Mama tau." Maria membuka irisan timun yang menutup matanya. Ia duduk tegak dan menatap Jose serta Ben. "Lagipun, bukankah kendaraan kalian terdengar sampai kemari?" lanjut Maria dengan alasan super logis.
"Duduk-duduk. Duduk di sini juga bisa, di sana juga bisa. Bukankah untuk datang kemari kalian memerlukan waktu lama?" Maria menunjuk dua batu di sisi kolam. Jose dan Ben duduk di dua batu itu dengan tetap menatap wanita paruh baya itu.
"Mama tidak melihat ada gadis yang kau nikahi itu. Di mana dia?" tanya Maria yang membuat Jose segera menggeram dalam hati. 'Kenapa dia harus ditanya di saat seperti ini sih!?'
"Semalam mereka baru melakukan malam pertama, bibi Maria. Jadi wajar pengantinnya kak Ben ga bisa hadir.
__ADS_1
Jose melihat Ben yang berbicara agak ngelantur. Tapi Ben sudah menyelamatkannya dari pertanyaan Mamanya itu.
Maria tersenyum senang melihat Jose, si putra bungsu yang kini menjadi anak satu-satunya yang hidup setelah kematian sembilan saudaranya yang lain itu.
"Mama tidak sadar kamu sudah sedewasa ini, Jose. Dulu kamu masih mama gendong sekarang sudah menggendong wanita. Jangan memperlakukan perempuan sangat kasar 'ya. Mama tau kamu masih terluka dengan kejadian masa lalu. Tapi pengantinmu si Lista dia tetap seorang wanita. Perlakukan dia dengan baik supaya kamu pun akan diperlakukan sangat baik juga," nasihat Maria.
Jose hanya mengangguk paham. Ia mendengar, tapi tidak menyimpannya dalam hati. Pikirannya masih terbayang-bayang kejadian tadi. Ia benci melihat seseorang yang tidak turut aturan. Termasuk pengantin penggantinya itu!
"Dengar kamu, Jose?" tanya Maria karena melihat putranya itu melamun.
"Ya, Jose dengar, Ma," jawab Jose dengan suara datar.
"Apa yang kamu pikirkan, putra Mama?" Maria melihat ada sesuatu yang berbeda dari putranya ini. Jose duduk tepat di depannya, namun pikirannya, entah lari kemana. Maria menyentuh bahu Jose. Jarak yang cukup dekat memudahkannya. Ia tidak dapat bergerak sebebas dulu lagi. Karena wanita tua itu kehilangan salah satu kakinya yang berharga.
"Mungkin karena tau pengantinnya bukan perawan, Bibi."
"Hustt! Apa yang kamu katakan Ben?" tegur Maria.
"Kan bisa saja bang Jose kepikiran tentang malam pertama mereka," canda Ben yang dilirik menggunakan tatapan tajam oleh Jose.
"Ada beberapa wanita tidak memiliki selaput dara yang membuatnya seolah sudah pernah berhubungan. Mama lihat Lista masih perawan 'kok. Perempuan perawan ada bedanya dengan perempuan non perawan. Kamu sudah dewasa, Jose. Jangan terlalu berpikir negatif tentang simbol kesetiaan."
Jose menghela nafas. Ingin sekali ia berkata, "Sayangnya kata-kata Mama tidak ada yang membantu menetralkan emosiku!" namun ia tidak sanggup mengatakannya.
"Atau kamu keberatan datang kemari 'ya? Kamu masih memiliki pekerjaan lain? Maaf 'ya Jose. Mama mungkin mengganggu aktivitasmu yang padat. Tapi Mama hanya ingin berkenalan dengan menantu Mama. Tapi kamu tidak membawanya ke hadapan Mama. Mama juga tidak datang waktu pernikahan kamu. Mama lagi sakit saat itu. Kalau karena terpaksa-nya kamu datang kemari, Mama minta maaf."
"Tidak Ma. Jose hanya pusing dengan istri Jose. Bukan karena terpaksa datang kemari. Kalau Jose bisa cerita sama Mama dan Mama tidak membocorkannya pada siapapun, maka Jose akan ceritakan kenapa Jose seperti ini."
__ADS_1