Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
31. Luka


__ADS_3

"Kita akan pergi ke mall untuk berbelanja, setelah sampai di sana, pilih apapun yang kamu inginkan, tolong jangan memperlihatkan sisi sungkanmu. Jose itu Calon suamimu, dia orang kaya, beli apapun, uangnya takkan habis," pesan Maria saat mereka akan menuju ke mall dengan Jose sebagai supir.


Aninda hanya bereaksi terkejut dengan ucapan Maria yang seolah menginginkannya menikahi Jose. Inda terus menatap ke arah pria yang menjelma sebagai supir itu. Dia berpikir suatu hari akan menikah dengan Jose. Tapi satu pertanyaan, apakah Jose mau menerima dirinya yang bukan perempuan suci ini?


"Aku tidak ingin ke Mall," kata Aninda dengan berbisik pada Maria.


Seketika kening wanita paruhbaya itu mengerut, "Kenapa?"


Aninda menggeleng, "Aku tidak suka tempat seperti itu, seluruh harga barangnya mahal, membuatku pusing hanya membayangkannya," ucap Inda memberi alasan.


Maria menepuk bahu Inda. "Sudah Mama bilang, calon suamimu orang kaya. Kamu harus terbiasa menghabiskan uangnya, kalau tidak, dia akan mencari perempuan lain untuk saling menghabiskan uang yang mencapai dua kuadriliun itu."


Ucapan Maria lagi-lagi membuatnya sangat terkejut. Jika saja Aninda adalah perempuan suci dan akan melakukan apapun untuk uang, maka Aninda tidak akan menyia-nyiakannya. Tapi segalanya berbeda. Aninda bukan perempuan semacam itu.


"Aninda mau pergi ke taman atau tempat wisata saja, Ma," pinta Aninda supaya tidak jadi pergi ke mall.


"Tidak tidak-tidak. Mama tidak mengizinkannya. Kamu harus belanja, kali ini Mama memaksa!" ucap Mama dengan tegas.


Aninda terdiam dan menunduk.


Perilaku Aninda tentu dapat dilihat dan dirasakan Jose karena pria itu sesekali memperlihatkan ke belakang lewat cermin.


"Ma, sebaiknya kita pergi ke lokasi wisata saja. Di sana Inda bisa menghirup udara segar, kebetulan Jose punya daerah wisata dekat-dekat sini, kita ke sana ya?" tanya Jose meminta izin.


Akhirnya Maria menurut permintaan Jose yang menginginkannya tidak terlalu memaksa Aninda.

__ADS_1


Mereka pergi ke salah satu tempat wisata pantai yang terkenal dengan airnya yang jernih.


"Mama mau langsung istirahat saja. Kamu bawa saja Aninda kemana pun, yang penting menarik,” kata Maria setelah tersedia karpet dan payung teduh yang ditempatinya.


Jose menggandeng erat perempuan di sampingnya. Takut hilang pikirnya.


Namun bagi Inda yang sudah mulai terbuka pada Jose, sentuhan tangan ini berhasil membuat suasana hatinya berbunga-bunga.


Tanpa sadar, Inda bahkan melihat Jose yang memiliki tubuh tinggi. Perbedaan jarak tinggi Inda dan Jose seperti anak bapak. Inda hanya setinggi bahu Jose.


"Apa ada yang aneh di wajahku?" tanya Jose sambil meraba pipinya.


"Em tidak." Inda menjawab dengan gugup. Perempuan itu memalingkan wajah dan melihat kakinya yang dipenuhi sisa pasir ketika berjalan.


"Ya," jawab singkat Inda.


"Di sana ada es kelapa. Kita ke sana yuk," ajak Jose.


"Boleh."


Jose menarik tangan Inda dan membawanya menuju pedagang es kelapa, tapi kaki Inda tersandung akar pohon kelapa.


"Awh!"


Beruntungnya Jose berhasil menangkap tubuh Inda.

__ADS_1


"Kakiku, sakit!" Aninda mendesis. Saat Jose melihat, kaki kecil perempuan itu terjepit di antara dua akar pohon.


"Bagaimana ini," gumam Jose sambil berpikir bagaimana melepaskan kaki Inda tanpa membuat perempuan itu kesakitan.


Akhirnya Jose mencoba menarik kedua akar dengan kedua tangannya, tapi akar itu terlalu besar dan kekuatan Jose tidak sebanding.


"Aku coba minta pisau ya."


Jose mendatangi penjual es kelapa untuk meminta pisau dan penjual itu menyetujuinya.


Setelah berjuang memotong akar pohon, Jose menggendong Aninda untuk kembali ke tempat Maria.


"Aninda kenapa, Jose?" tanya Maria panik.


"Kakinya terjepit akar pohon di sana," kata Jose sambil menurunkan Aninda.


Maria melihat kaki Aninda dan merasa kasihan, "Pasti sakit," gumam Maria.


"Mana Mama tidak membawa salep lagi."


Kulit kaki putih Aninda memar. Ada sedikit luka terlihat di sana.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit saja," usul Maria yang panik.


_130223_

__ADS_1


__ADS_2