
"Lagian aku hanya mau mempermainkannya aja 'kok. Setelah bosan, akhirnya dia juga akan sama kayak semua perempuan ga penting sebelum dia, kukeluarkan dari rumahku." ucap Jose menyangkal.
Ben yang mendengar jawaban Jose tentu saja tidak percaya. Apalagi sikap Jose yang tampak ‘lebih’ merindukan pulang ke rumah daripada di luar. Tapi Ben diam. Dia tidak ingin mengusik kebahagiaan sahabat yang sudah lama tidak tersenyum karena orang lain itu.
"Ini minuman 'kan? Aku mau minum, bagi dikit ya." Jose mengambil sebotol air putih yang terletak di tengah mereka.
Ben yang melihat Jose, sontak panik. "Itu bukan untuk diminum!"
"Tapi udah kuminum sampai habis."
Ben hanya terdiam dengan tubuh tegang. Dia tidak berani mengatakan apapun perihal minuman yang diminum Jose sebelum Ben mengizinkannya. Karena di dalam air mineral itu sudah dibuat Ben obat perangsang wanita yang juga bisa mempengaruhi pria.
Ben adalah pria yang haus hubungan badan. Dia memiliki beberapa wanita yang dikencaninya setiap malam.
Namun pria itu sedang menyukai seorang gadis perawan yang keras kepala bahkan sering membuatnya jengkel. Rencananya, Ben akan melakukan hubungan badan dengan gadis itu sebagai bentuk balas dendam. Namun sekarang obat perangsang itu justru diminum Jose.
Aku ga tau jelas kayak apa reaksinya pada laki-laki. Tapi aku harap Jose ga buat macam-macam di mobil ini.
Sekali-kali, Ben melirik Jose yang mulai merasakan sesuatu yang sangat mengganggunya.
"Ahhh." Terdengar suara ******* keluar dari mulut Jose. Jose mulai tampak tidak nyaman di tempat duduknya.
"Mampus aku." Dengan sangat cepat, Ben mengendalikan mobil yang dikendarainya untuk sampai ke Villa.
"Wileaaa, Anindaaa." Jose terus meracau memanggil nama Wilea dan Aninda Antari yang seketika membuat Ben terkekeh.
"Apa kubilang. Dia udah mulai tertarik sama pengantin penggantinya itu! Padahal baru beberapa hari loh."
Tapi masalahnya, Jose mulai memandang Ben dengan mata buram dan terus meracau nama Wilea dan Aninda yang kemungkinan dalam benak Jose, Ben adalah Wilea dan Aninda yang bergantian di matanya.
__ADS_1
"Wilea, itu kamu ya? Tidak-tidak. Kenapa bisa berubah menjadi Aninda? Tapi masa bodoh tentang itu. Aku baru tahu kamu bisa jadi perempuan secantik ini. Kemana penampilan culunmu itu? Ekspresi unikmu waktu kesal? Aku suka loh." Jose mulai mendekatkan tubuhnya kepada Ben. Membuat sahabatnya itu seketika menghentikan laju mobil di pinggir hutan, jalan menuju Villa Jose.
"Gila kau, Jose. Sadar." Ben mendorong tubuh Jose untuk menjauhkanya dari hadapannya. Ayolah, Ben itu pria normal, masih sehat dan menyukai wanita.
Meski Jose dan Ben ada di dalam mobil, ruangan tertutup, Ben tidak ingin mengotori tubuhnya dengan Jose yang mabuk. Pasti Jose akan melakukan sesuatu yang macam-macam.
Ben tau obat untuk menghilangkan rangsangan akibat obat perangsang yang diminum Jose. Namun dalam keadaan seperti ini, mana ada air dingin.
Ben kembali memacu mobilnya dan berakhir sampai di pekarangan Villa.
"Jose, sadar. Kita udah nyampe ke Villa." Ben menepuk bahu Jose yang terus meracau tentang Inda dan berbagai hal tentang yang dirasakannya pada perempuan itu. Tidak jarang Jose membelai tangan Ben dan terkekeh seperti orang gila.
“Kau sakit, Jose.” Ben melepas belaian tangan Jose dan keluar dari mobil. Dia menutup pintu mobil, dan mengatur nafas yang benar-benar memburu. Ben menggedor-gedor pintu Villa, membuat Inda yang baru selesai mandi dan kini sedang mengeringkan rambutnya sedikit terganggu.
“Tuan Ben. Ada apa malam-malam seperti ini datang?” tanya Inda setelah membuka pintu dan melihat Ben yang dipenuhi peluh di keningnya.
“Em, begini, nona Inda.”
“Itu yang mau saya katakan, nona Inda. Tuan Jose bersikap aneh setelah meminum sesuatu. Dia meracau dan menyebut nama anda.”
Sontak Inda panik. ”Lalu, di mana tuan Jose sekarang?”
“Di mobil.”
Inda bergegas mendekati kendaraan yang dibawa Ben sampai ke Villa. Dia membuka pintu mobil, namun tidak bisa.
“Pintunya baru saya kunci, nona Inda,” ucap Ben kurang enak.
Inda hanya melihat Ben yang sedang memencet remot kontrol mobil. Setelah pintu di buka, Inda langsung masuk ke mobil dan melihat keadaan ‘mengenaskan’ Jose yang dipenuhi peluh, tidak nyaman, bahkan meracau, “Aninda! Aku rindu menganggumu seperti kemarin!”
__ADS_1
Setelah melihat seseorang di dekatnya, sontak saja Jose memeluk orang di dekatnya itu. “Dia kenapa, tuan Ben?” tanya Inda dengan suara tercekik.
“Saya tidak tau,” jawab Ben berbohong. Dia tidak berani jujur pada Inda karena dia ingin, Jose yang mungkin saja belum berhubungan dengan Inda, malam ini akan terjadi juga. Ben ingin Jose merasakan malam panjang bersama perempuan.
Apalagi Jose dan Inda saling memperhatikan satu sama lain, meski terikat sebuah pernikahan yang tidak sah karena nyatanya, Jose menikah dengan Lista, bukan Aninda.
“Boleh bantu aku lepas pelukan tuan Jose?”
Ben mengangguk dan membawa Jose ke Villa, dengan memapah Jose dibantu Inda.
“Makasih bantuannya, tuan Ben,” ucap Inda berterimakasih dengan perbuatan baik Ben.
“Sama-sama nona Inda. Saya pulang dulu ya. Ini tas kantor tuan Jose.” Ben meletakan tas Jose di sofa kamar pasutri tak sah itu. Ben yang membantu Inda membawa Jose sampai ke kamar, tanpa menunggu lama, ia pergi dengan membawa mobil.
Sekarang, tinggallah Inda sendirian bersama Jose yang terus meracau membuat Inda yang polos sangat bingung harus melakukan apa untuk membuat Jose tenang.
“Tolong, ini panas …,” pinta Jose dengan lirih seperti cacing kepanasan.
Inda mengambil remot AC dan membuat suhu udara berada di 20 derajat. Suhu yang paling dingin menurutnya. Menunggu dengan terus melihat perkembangan Jose dari jarak yang cukup jauh. Sampai Inda juga kedinginan.
Namun ketika melihat Jose sedikit membaik dan Inda mendekat, ia malah ditarik ke tengah ranjang dan keduanya saling tatap dengan Inda di atasnya.
Jose mulai bertingkah semakin aneh. Ia menyentuh leher Inda dengan bibirnya. Inda merasa akan diterkam malam ini juga, membuatnya memberontak tanpa pikir panjang dan keluar dari kamar. Tidak lupa segera menutup pintu dengan kunci dan berdiam diri di luar sampai pagi menjelang.
***
Inda terbangun karena suara ayam hutan yang mengusik tidurnya yang baru berlangsung sebentar.
Semalaman ia tidak berani tidur dan memilih berjaga karena tingkah Jose seperti hewan buas. Berteriak seperti orang kesetanan, menyerukan namanya dengan kata-kata layaknya orang galau.
__ADS_1
Tidak lupa Inda juga mendengar suara pintu digedor-gedor dan permohonan Jose untuk Inda masuk ke kamar dan menemaninya di sini, bersamanya. Bagi Inda, Jose benar-benar sakit.
"Apa dia masih berulah lagi?" Rasanya sangat takut untuk mendatangi kamar itu. Meski Jose tidak jadi macam-macam dengannya, namun tetap saja, ia ingin menjaga kesuciannya sampai menemukan orang yang tepat untuk mengambilnya.