
"Mama … tidak perlu melakukannya."
Pergerakan Maria seketika terhenti setelah mendengar suara Aninda.
"Kenapa?"
"Emh, karena … aku ingin tetap berada di sini. Udaranya sejuk, tidak seperti saat berada di kamar rumah sakit, itu pengap dan tidak enak dihirup."
Maria mengangguk paham. "Mama mengerti, tapi Mama tidak ingin kamu kenapa-napa. Memang di sini lebih segar daripada rumah sakit, tapi kaki kamu sedang sakit," jelas Maria.
"Kakiku hanya perlu diberi es batu secara bertahap, itu saja."
Maria menatap Jose yang sedari tadi terdiam di tempatnya. Pria itu terus melihat kedua perempuan di depannya tanpa mencoba berbicara.
"Bagaimana Jose?" tanya Maria.
"Em, Jose kira kita harus ikuti kata Inda, Ma. Jose akan membeli es batunya, dan mengompres kakinya dengan es batu."
Maria setuju meski hatinya merasa tidak cocok. Lama kelamaan Anaknya menjadi pembangkang terhadapnya.
Setelah Jose membeli sekilo es batu, kaki Inda mulai dikompres. Sekali pengompreaan memakan waktu sepuluh menit dan itu dilakukan berulang-ulang hingga tiga kali.
Kaki Inda semakin membaik, tidak ada memar dan perempuan itupun tidak mengeluh kesakitan lagi.
Berjam-jam mereka di pantai. Berenang, membantu anak-anak membangun istana pasir, saling menciptakan air ke satu sama lain, berlarian di bibir pantai.
Ada raut kebahagiaan dirasakan. Sampai merasa lelah.
__ADS_1
"Kurasa sekarang kita perlu pulang," kata Jose.
"Pulang?" beo Inda.
"Hem ya. Pulang, sekarang sudah jam tiga sore. Kita harus pulang, sudah cukup lama kita ada di sini."
"Benar itu, Inda. Kita harus pulang, Mama juga sudah gosong lama lama di sini," ucap Maria diselingi tawa.
Inda berpikir sejenak kemudian setuju. "Inda juga mau pulang deh, Ma."
***
Sudah sebulan sejak Jose selalu berusaha menciptakan kebersamaan dengan Inda. Membuat perempuan itu nyaman dan tidak sekalipun membuat Inda kepikiran dengan banyak hal.
Dan di suatu hari saat merayakan Valentine, Jose memberi sekotak coklat mahal pada Inda, sambil berjongkok setengah badan.
"Hem, sekotak coklat. Aku akan memberikannya padamu," jawab Jose dengan memerlihatkan senyum terbaiknya.
"Kenapa harus berjongkok setengah badan seperti ini?"
"Biar terkesan romantis saja," jawab Jose lagi. Dia sangat menunggu momen di mana Inda menerimanya.
Sedangkan Inda terus melihat Jose dengan tatapan bingung.
"Aku harus menerimanya, begitu?" tanya Inda lagi.
Akhirnya Jose mengangguk, Inda memang tidak ada gaya refleks, perempuan itu masih sangat kaku dan terkesan sangat gugup.
__ADS_1
Akhirnya Inda mau ikut menerimanya.
Jose tersenyum senang, lelaki itu berdiri dan mencium kening Aninda. Akhir-akhir ini Jose memang sering mencium bagian kening Inda. Apalagi perempuan itu tidak menolaknya sama sekali.
Beberapa sentuhan sudah gencar dilakukan Jose. Sebenarnya dengan alasan ringan, Jose ingin menikahi Inda dan tidak ingin membuat perempuan itu terkejut saat disentuh jika Jose ingin menyentuh Inda ke arah yang lebih intim.
"Terimakasih sudah menerima hadiahku," kata Jose pada Inda dengan berbisik.
"Coba buka, kamu pasti akan menemukan hadiah di sana," ucap Jose lagi.
Tapi Inda tidak membukanya.
"Kenapa?'' tanya lelaki itu.
"Aku …" suara Inda tampaknya tercekat.
"Katakan saja," pinta Jose sambil mengelus sebelah kiri bahu Inda.
Inda melihat Jose dan tertunduk.
"Sebenarnya aku tidak punya hadiah. Sedangkan kau selalu.memberikan hadiah padaku," jawab Inda.
"Hanya itu?" tanya Jose terkejut.
"Hem, ya."
Jose menggeleng dan tersenyum lucu. dia berdiri di depan Inda karena sebelumnya berada di sebelah kanan Inda.
__ADS_1
"Aku tidak apa jika kamu tidak memberikan apapun padaku, hal paling bahagia yang pernah kudapatkan adalah melihatmu baik-baik saja."