Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
17. Benar-benar Berbeda


__ADS_3

Tentu dengan pelukan yang spontan dilakukan Inda pada tubuh Jose membuat jantung Jose berdebar tidak seperti biasanya. Ia yang hanya merasakan hal seperti itu pada sahabatnya Wilea, tidak mempercayai hatinya.


         'Tidak mungkin aku cinta padanya seperti saat bersama Wilea. Ingat Jose, ini hanya balas budi. Lagi pula dia sudah sangat baik padamu selama beberapa hari setelah pernikahan. Dia melayanimu tanpa cacat bahkan tidak banyak menuntut. Jadi, apa salahnya mengajaknya keluar dan menikmati keadaan di luar meski hanya sebentar.'


"Ekhm. Bisa melepasnya?" tanya Jose dengan ekspresi datar. Ia bersikap seolah mengerti dengan sifat perempuan di depannya ini, jika senang pasti akan memeluk orang yang membuatnya bahagia. Entah Inda melakukannya dengan sadar atau tidak.


"Maaf." Inda tersenyum malu. "Tapi aku rasa aku akan pergi menyiapkan semuanya lebih awal." Inda berhambur pergi dari hadapan Jose.


Sepeninggal Inda dari dapur, Jose hanya menggeleng. Entah mengapa ia merasa lucu melihat sikap Inda. Beberapa detik kemudian pria itu sadar. ‘‘Kenapa aku jadi tersenyum seperti ini? Akh, aku pasti sudah gila.’’ Jose berbicara pada dirinya sendiri karena merasa aneh dengan sikapnya.


Beberapa menit kemudian Jose sudah selesai makan. Ia menyimpan piring kotor di wastafel, mengambil ponsel dan mengetikkan pesan pada Ben.


[Aku bakal liburan sama Aninda besok. Aku harap kau bisa menghandle rapat besok hari karna sehariannya kami di sana]]


Kemudian Jose meninggalkan dapur. Namun langkahnya terhenti kala melihat nasi dalam piring Inda yang bahkan belum habis di makan. Dia mengambilnya, dan pergi ke kamar.


Jose melihat Inda yang sedang memilih beberapa lembar pakaian. Itu hal biasa, karena Inda meminta izin untuk mengurus semua hal yang perlu dibawa ketika pergi ke pantai. Namun masalahnya, Jose melihat Inda membawa satu koper sedang untuk memasukkan semua barang-barang miliknya.


Jose tersenyum lucu seraya menggeleng. Ia mendekat, setelah meletakkan piring di atas meja rias. Dia berjongkok menyamakan posisi Inda yang juga berjongkok. Tidak lama kemudian ia berkata, "Apa kamu mau melarikan diri dari sini?" Jose setengah terkekeh.


"Tidak. Aku tidak pergi," jawab Inda tidak mengerti maksud Jose.


"Kalau tidak pergi, kenapa menyusun semua pakaianmu di koper. Bukankah itu sudah menunjukkan tanda-tanda kalau kamu ingin melarikan diri dari sini?" tanya Jose menyindir.


Inda terdiam sejenak. Dia tidak tahu pakaian apa saja yang perlu dibawa untuk dipakai saat ke pantai nanti. Jadi dia pikir, membawa beberapa pakaian tidak masalah. Namun Jose malah meledeknya secara halus.


"Aku akan membantumu," kata Jose pada Inda seraya mengambil satu persatu pakaian yang sudah dimasukkan gadis itu ke dalam koper.


“Lah, tuan. Kenapa mengeluarkan semua baju-bajunya? Kita ‘kan akan pergi, haruslah membawa pakaian sebanyak mungkin.”


“Kita hanya ke pantai, Inda,” kata Jose. 'Bukan berbulan madu,' pria itu melanjutkan kalimatnya di dalam hati. ‘Mungkin dia memang tidak pernah menyusun pakaian keluarga yang akan pergi ke pantai,’ pikir Jose.

__ADS_1


“Aku tau kita pergi ke pantai, tapi bukannya lebih baik membawa banyak pakaian?”


“Kita hanya seharian di sana, mengerti?” Jose sedikit  meninggikan suaranya. Untuk kedua kalinya, Inda lupa hal yang tidak disukai Jose, segala perkataannya dibantah. Jose tau apa yang dilakukannya dan orang yang membantah kata-katanya sama dengan orang bodoh di matanya.


“Meng-ngerti.” Inda terdiam. Dia merasa hampir saja memancing amarah pria di sampingnya ini. Inda terus melihat Jose yang mengganti koper dengan tas yang memiliki banyak ruang.


“Mana pakaian yang mau kamu bawa,” pinta Jose.


Inda mengambil satu set piyama yang segera membuat Jose mengerutkan kening. “Kita ke pantai, bukan bermalam di hotel.” Jose rasa, ia akan semakin emosi melihat Inda yang tidak tau membedakan hal-hal yang harus dipersiapkan untuk tujuan mereka


“Lalu apa yang harus kupakai?” tanya Inda hampir putus asa. Dia kira pantai itu dingin, dan perlu memakai piyama.


“Kamu ambillah pakaian renang,” jawab Jose seraya menghela nafas.


“Aku tidak memilikinya.”


Jose terdiam sejenak setelah mendengar jawaban singkat, padat dan cukup jelas dari Inda. “Kalau tidak punya, akan kubelikan. Berapa ukuran tubuhmu?”


“L. Sizemu L,” ucap Jose seraya mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Ben yang bahkan belum membaca pesannya yang lain.


'Dari mana dia tau sizeku L?' kata Inda dalam hatinya.


"Selain baju renang, aku butuh alat mandi, handuk, sunscreen, kaca mata, sendal, dan baju ganti termasuk pakaian dalamnya," pinta Jose. Inda mengambil semua benda itu kecuali sunscreen, dan kaca mata.


"Ini, tuan," kata Inda seraya memberikan semua benda yang dikatakan Jose.


Pria itu melihat semuanya sudah tepat, di mana ia langsung menyusunnya di dalam tas. 


"Apa kamu tidak memiliki sunscreen dan kacamata?"


"Kacamata, tidak. Tapi san … san–"

__ADS_1


"Sunscreen," jawab Jose memperbaiki kata-kata Inda.


"Ha, iya. Apa itu sankren?"


"Sunscreen, Aninda Antariii." Untuk kedua kali Jose memperjelas kata Inda.


"Apa benda itu? Apa dia perlu?" tanya Inda sangat hati-hati. Dia berharap, kata-katanya tidak menyinggung Jose yang berakibat fatal untuknya.


"Perlu. Bahkan sangat perlu melebihi pakaian dalammu. Terutama jika kamu tidak ingin memiliki warna kulit lebih hitam dari yang sekarang." Kata-kata Jose lagi-lagi seperti menyindir Inda.


"Lalu obatnya, di mana dibeli? Di sini 'kan tidak ada warung," jawab Inda polos.


Jose tidak tau mau mengekspresikan mimik wajah yang seperti apa. Entah tersenyum karena Inda yang banyak bicara dan sangat polos. Atau malah marah karena kepolosan Inda, membuatnya mulai emosi.


Sedang di sisi lain. Ben baru selesai mandi di jam dua belas siang. Ia baru selesai bermain-main para kupu-kupu malamnya.


Ia duduk di sudut ranjangnya setelah memberi imbalan atas kerja keras wanita penghibur itu dari jam delapan pagi sejak ia sampai ke rumah setelah tau keadaan di rumah Jose baik-baik saja, sampai sekarang, pukul dua belas siang, akhirnya pertempuran Ben dan wanita itu berakhir.


Ben melihat ponsel dan melihat ada pesan dari Jose. Ia yang penasaran, tanpa pikir panjang langsung membukanya.


[Aku bakal liburan sama Aninda besok. Aku harap kau bisa menghandle rapat besok hari karna sehariannya kami di sana]


Segera Dia membulatkan mata terkejut setelah melihat pesan dari Jose. “Dia pasti udah gila!” gumam Ben memaki Jose. 


“Rapat itu ‘kan rapat besar. Otaknya pasti lagi sakit. Tapi, aku udah melakukan kesalahan semalam, aku tidak bisa membantah keinginannya, karena yang ada aku dipecat.” Ben sedih. Meski Jose adalah sahabatnya, namun tetap saja. Sebagai atasan, Jose bersikap tegas.


“Mungkin ini hukuman untukku,” monolog Ben seraya menggeser layar dengan jempolnya.


[Oh, ya. Satu lagi. Aku mau kau bawa sepasang baju renang wanita dari segala ukuran. Kecuali ukuran X, XX dan XXL.]


[Segera kukirim!] Ben mengetik di layar ponselnya. Meski menyetujuinya, ia tetap menghela nafas berat.

__ADS_1


__ADS_2