
“Aku ga salah dengar nih?” Ben mengangkat sebelah alisnya. Dia terkejut dan tidak percaya dengan perkataan sahabatnya itu.
“Nggak. Kau ga salah dengar. Sebelum semuanya dimulai, aku kira main-main sama dia juga gapapa. Dia ‘kan udah jadi Istriku. Apa sahabatku ini keberatan?”
“Enggak. Aku nggak keberatan. Dia 'kan Istrimu. Paling yang dikhawatirkan hanya … kalian bisa saling mempermainkan.” Lagi-lagi Ben menyangkal perkataan Jose.
Jose hanya tertawa renyah kemudian menepuk bahu Ben. “Tenang saja, Aku tau apa yang sedang kulakukan.” Jose mengerti Ben merasakan benih-benih cinta untuk perempuan penghancur hidup dan masa remaja mereka di masa lalu. Sedikit menggoda Ben, Jose rasa tidak masalah.
***
“Khuaq, hoaaamm …” suara Inda yang menguap.
Inda baru bangun, meregangkan tubuh kemudian mengucek matanya dan melihat keadaan rumah yang penuh dengan nuansa coklat. Perabotan yang terkesan antik, jelas terasa aneh di mata dan pikirannya yang belum terbiasa dengan keadaan villa Jose. “Aku di mana?” gumamnya panik. Pikiran Inda seolah memberi sinyal bahaya. Tapi ketika Inda mengingat kumpulan memori sebelumnya, kini Inda paham, “Ah, betapa bodohnya aku. Ini ‘kan rumah suamiku eh, suami kakakku.”
Kemudian Inda mencari-cari jam dinding. Dan oh betapa terkejutnya lah dia, sekarang sudah jam tujuh. “Ternyata aku sudah tidur lama sekali!” Inda panik, dia melihat sekeliling dan tidak menemukan seorangpun di rumah. Inda tidak pernah tidur selama itu. Bahkan bisa terbilang ia hanya tidur enam jam dalam sehari itu pun di malam hari, tidak siang maupun sore.
“Eh, tapi bukannya tuan Jose bilang dia akan rapat dan tidak kembali dalam waktu dekat? Oh, syukurlah.” Inda seperti mendapatkan secercah harapan, di mana dia tidak akan terkena masalah sampai detik ini.
Kemudian Inda pergi ke kamar yang ditunjukkan Jose padanya setelah sampai di villa ini beberapa jam lalu. Inda mengambil handuk merah muda yang tergantung di jemuran handuk. Tubuhnya bahkan masih belum berganti pakaian sejak tadi. Meski tubuhnya tidak bau bawang, tetap saja keringatnya menempel dan membuatnya tidak nyaman.
Inda membuka lemari, terdapat banyak pakaian Lista di sana. Tapi kesamaan lingkar tubuh yang jelas tidak jauh beda membuat Inda sedikit lega, karena ia yang tidak membawa pakaian sama sekali, mendapatkan pakaian gratis.
__ADS_1
Semua benda yang ada di kamar ini, sangat lengkap merupakan milik Lista. Membuat Inda berpikir. “Semua benda punya kak Lista ada di sini, apa dia ga rugi semua barangnya jadi milik aku selama tinggal di sini? Tapi apa sih, alasan jelasnya kenapa kak Lista hilang? Apa dia tidak ingin menikah?”
Inda merasa sangat percuma bertanya pada diri sendiri. Inda mengambil micellar water dan mengoleskannya pada wajah dengan tisu. Membersihkan permukaan wajah yang tertempel make up, sampai tampaklah wajahnya yang penuh jerawat, kulit berwarna coklat agak gelap dan jelas terlihat, tidak ada kemiripan wajah antara Lista dan Inda.
Hal ini membuat Inda merasa sedikit takut. “Apa nanti tuan Jose akan tau kalau aku bukan Istrinya?”
Jose turun dari mobil dengan membawa seluruh barang yang dibelinya berdasarkan survei beberapa wanita bersuami yang dibayarnya hanya untuk mengetahui apa yang harus disiapkan Jose untuk malam pertama mereka. Jelas bagian ini bukan sesuatu yang direncanakan Jose sejak awal. Namun baginya perkataannya adalah sebuah janji. Dan Jose yang sudah berjanji tidak ingin mengingkari janjinya karena itu sama saja dengan berdusta meski Jose hanya menggoda Lista sebelum ini.
Ben tidak ikut pulang bersama Jose ke Villa. Karena selain Ben yang tidak tinggal bersama Jose, Ben juga tidak ingin mengganggu malam pertama pria perjaka itu. Ya, Jose masih perjaka. Dan sebenarnya dia juga tidak ingin melepas keorisinilannya hanya untuk sebuah rencana. Hingga untuk menjaga hal itu, Jose sudah membuat suatu rencana terbaik untuk tetap menyakiti Lista tanpa harus menyentuhnya. Karena bagian kesengsaraan sudah dimulai sekarang.
Jose membuka pintu Villa. Pria itu tidak melihat Istrinya di mana-mana. Hal ini membuatnya berdecih. "Benar dugaanku. Semua hanya tipuan belaka." Jose menutup pintu dan meletakkan semua barang bawaannya di sofa. Dia duduk di sana, membuka tablet untuk melihat segala yang terjadi di rumah ini selama dia pergi.
Pria itu berdiri dan melangkah ke kamar. Di waktu yang bersamaan Inda keluar dari kamar mandi dengan tubuh penuh sisa air yang tampak sangat menggoda. Entah mengapa Jose sedikit tergoda melihat penampilan Inda.
"Ternyata kau sudah siap melayaniku," Jose mendekati Inda.
Setelah mendengar suara Jose, Inda hanya terdiam dan bertanya dalam hatinya, Kapan dia kembali? Namun kata-kata Jose membuatnya mengerutkan kening. "Apa yang Sayang maksud?"
"Pakaianmu. Kau berusaha menggodaku 'kan?"
Inda menggeleng. "Tidak …, aku tidak sedang menggoda Sayang," jawab Inda gugup. Tatapan pria itu sangat tajam, cukup mengintimidasi. Tarikan dan hembusan nafas Jose benar-benar terdengar di telinga Inda, membuat perempuan itu merasa gugup. Dia tidak setuju dengan kata-kata Jose. Kapan dia menunjukkan sebuah pesona yang menggoda pria kaya ini? Melayani. Inda merasa itu kalimat untuk sebuah hubungan suami-istri.
__ADS_1
"Lalu pakaianmu?" Jose menyentuh handuk yang memeluk seluruh permukaan dada, punggung dan lutut Inda.
"Aku baru mandi," jawab Inda sambil menjauhkan tangan Jose dari handuknya. Dia risih kala melihat seseorang menyentuh tubuhnya tanpa izin. Dan tanpa permisi Inda pergi dari depan Jose.
Jose menatap kesal Inda. Sudah pasti dia bukan Lista, pikir Jose. "Siapa Kamu sebenarnya?"
Langkah Inda terhenti. Dia mengepal tangannya, menahan kegugupan.
"Jawab aku, jangan diam. Atau nanti aku malah mengira kau bukan Istriku." Jose mengamati reaksi perempuan yang sedari awal sudah dicurigai sebagai orang lain itu.
Pasti dia akan mengaku-ngaku. Dan benar saja tebakan Jose. Inda berbalik dan berkata, "Apa yang sayang maksud? Jelas-jelas aku Lista Dehendra, Istrimu."
Jose tersenyum miring. “Kalau begitu, ayo melakukan malam pertama."
“Malam, pertama?” tanya Inda terkejut.
“Ya! Malam pertama. Kita ‘kan suami istri.” Jose tau jika wanita di hadapannya bukan Istrinya, maka kemungkinan terbesar, wanita itu akan menolak, seperti yang sering dilakukan wanita ini sewaktu di mobil yang berjalan menuju Villa tadi siang. Kalau tetap berlaku sama, mungkin Jose akan memikirkan hukuman yang tepat untuk Lista palsu.
Pikiran Inda berkecamuk. Ia tidak menyangka Jose meminta ‘haknya’ sebagai suami secepat perkiraannya. Andai kamu tau, tuan Jose. Aku bukan Istrimu dan bukan kewajibanku melakukan itu. Ingin sekali Inda mengatakan isi hatinya saat ini. Namun Inda tidak sanggup.
“Kenapa diam?” Jose mendekat dan menepuk bahu Inda. “Katakan semuanya lebih jelas sebelum semuanya lebih buruk dari perkiraanmu. Aku tidak akan marah.”
__ADS_1