
"Memang apa salah bapak. Jangan seperti ini pak. Saya tidak merasa bapak bersalah." Inda merasa tidak enak hati.
"Aku sudah mengatai nona muda sebelum mengenal siapa di depanku lebih jauh. Mohon jangan menghukumku."
"Bapak tidak bersalah. Dan aku tidak akan menghukum bapak. Ya sudah pak. Bapak berdiri dan lanjutkan pekerjaan bapak. Aku hanya bosan di rumah dan keluar untuk sementara waktu mencari udara segar, menenangkan pikiran."
Inda memilih pergi karena perasaan canggungnya. Baru saja hendak masuk ke rumah, tampak mobil Jose yang terparkir di depan rumah.
Kapan dia sampai? Inda sangat keheranan. Inda mengintip dari balik jendela. Mengamati, apa yang dilakukan Jose yang datang secepat perkiraannya.
"Di mana dia?" tanya Inda dalam hati. Inda tidak menemukan Jose meski telah melihat dua jendela. Di ruang tamu, dan ruang keluarga.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Eh!" Inda terkejut. Jantungnya seakan-akan melompat kala mendapat tepukan Jose di bahunya beserta suara Jose yang keluar.
Inda akhirnya memilih mengikuti Jose. Mereka sama-sama memasuki villa. Jose menutup pintu, ini membuat Inda mengernyit bingung. "Kenapa tuan menutup pintu?"
"Banyak angin."
Apa hubungannya pintu dan banyak angin? Memangnya sekarang angin lagi kencang, ya? Semacam angin putih beliung gitu? Inda bermonolog dalam hati seraya melihat keadaan luar dari jendela. Tapi ia memilih diam, dan tidak banyak bicara sebab takut, Jose akan kembali pergi.
"Nda, kamu bisa kemari sebentar?" Entah sejak kapan. Inda sampai terkejut setelah mendengar suara Jose yang terdengar dari kamar mereka.
Tanpa basa-basi, Inda pergi ke kamar. "Apa yang bisa kubantu, tuan?"
"Tolong bantu melepaskan bajuku."
Bukannya kau bisa melepasnya sendiri? Inda menghela nafas pelan dan mulai membantu Jose melepas bajunya. "Mulai sekarang, aku mau kalau aku masuk ke rumah, kau sudah ada di depan pintu, menyalim dan melepaskan kedua sepatuku, serta meletakkannya di atas rak sepatu kamar. Jangan setelah aku pulang, kau malah bicara dengan pak Kuwa di taman."
Apa penampilanku seperti pembantu makanya kau memberi tugas menyebalkan seperti ini? Seumur hidup, Inda tidak pernah mendengar kalau seorang wanita diperlakukan seperti ini. Sedangkan di rumah keluarga Dehendra saja, para wanitanya adalah penguasa meski suami yang bekerja.
"Kemudian kau harus membantuku melepas pakaian, dan menyiapkan teh hangat."
Seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya, kau pasti akan mengganti peraturan itu seenak moodmu. Meski menolak dalam hati, Inda tetap berkata dengan lembut dalam hati, "Baik tuan. Akan kulaksanakan dengan baik."
__ADS_1
"Baik, hanya itu untuk bagian menyambutku saat pulang."
Inda selesai membuka pakaian Jose, dia meletakkan seluruh pakaian itu di ember pakaian kotor. Jose yang melihatnya segera berkata, "Pakaianku, kuharap dicuci sesuai warna. Merah dengan merah, putih dengan putih, hitam dengan hitam."
Seketika Inda terkejut. Apa yang dia maksud? Pakaiannya dicuci perwarna? Ini namanya pemborosan!
"Apa yang kau pikirkan sekarang, Aninda?" Jose tau pikiran Inda, namun dia membiarkan wanita itu berpikir banyak tentangnya tanpa menghalang.
"Em, tidak ada yang aneh-aneh, tuan Jose. Aku hanya sedikit! Keberatan dengan peraturan mengenai mencuci pakaian."
"Bagian yang mana keberatan, nona Aninda Antari?"
"Bagian … ketika tuan Jose berkata, pakaian dicuci berdasarkan warna. Aku tau pakaian tuan Jose mahal dan berkualitas terbaik, namun maaf ya tuan Jose, bukan menyinggung. Pakaian yang dicuci berdasarkan warna, biasanya pakaian yang luntur." Jujur saja, selama menjelaskan maksudnya, Inda begitu takut kalau Inda akan dimarahi.
Jose mengangguk paham. "Aku mengerti. Baiklah, kalau begitu. Lakukan sesuai kemampuanmu. Namun aku harap, jangan ada kesalahan mengenai pakaianku. Atau ada ganjaran sesuai kesalahanmu."
Ya, ya, ya. Seperti biasa, tuan Jose. Meski baru dua hari aku di sini, aku sudah mengerti. Kalau kau adalah orang paling teliti dalam setiap pekerjaanmu.
"Aku rasa sampai di sini saja seluruh peraturanku untukmu. Aku harap kau mau bekerja sama dalam menjadi istri sementaraku."
*
Esok harinya.
Inda kembali bangun dari tidur. Hari menjadi pagi, setelah malam menyelimuti bumi.
Inda melakukan aktivitas seperti biasa. Mencuci wajah sebelum belum bekerja sebagai pengantin pengganti, namun sesuatu yang aneh menurutnya mulai menggantung indah di dinding.
"Jangan lupa berdoa sebelum memulai aktivitas. Apa maksudnya ini?" Inda melihat banyak bingkai yang isinya berbagai kata mutiara, anjuran dan peraturan. Bingkai itu terletak di semua ruangan.
–Bagi orang bijak, cukup mendengar sekali dan melakukannya semampunya~
–Masaklah dengan hati, jangan ribut~
–Sambut suami dengan hati yang tulus~
__ADS_1
–Istri yang baik disayangi suami~
Dan banyak lainnya. Semua peraturan itu dibaca sampai di kamar. "Kecuplah pipi Suami setelah kau bangun. Tapi jangan membangungkannya. Makin lama makin aneh," Inda bermonolog seraya menggelengkan kepala. Apalagi bingkai itu terletak di samping ranjang.
"Apa kau tidak ingin melakukannya sekarang?"
"Eh?" Inda kembali terkejut. "A-apa? Melakukan apa?" tanya Inda gugup.
Mendadak Jose menarik Inda ke tengah ranjang. Menguncinya supaya tidak kabur. Inda yang masih belum terbiasa dengan pelukan dari seseorang, selalu terkejut bahkan memohon, "Tu-an … tolong lepasin."
"Ini hanya sebentar," bisik Jose. Suaranya sangat lembut namun untuk Inda, pelukan ini adalah masalahnya.
Namun karena Inda tau dia tidak akan dapat lepas dari kungkungan pria ini, maka ia memilih memejamkan mata karena menebak pasti Jose akan memeluknya seperti yang dilakukan lelaki itu saat malam.
"Bangun. Apa kau keenakan saat kupeluk?"
Inda melihat keadaan sekitarnya dan hanya meregangkan tubuh. "Jam berapa ini?" tanya Inda dalam keadaan setengah sadar.
"Delapan."
Seketika Inda sadar sepenuhnya. "Apa? Ja-jam delapan?"
Jose hanya berdehem. "Kalau tidak percaya, silahkan liat jam, nona tukang tidur."
Segera Inda bergegas pergi ke dapur. Ia belum menyiapkan apapun termasuk memasak nasi. Ia merutuki dirinya yang tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur karena pelukan yang diberikan Jose yang dikiranya lama, padahal mungkin saja itu hanya sepuluh sampai lima belas menit.
"Aku berikan kau waktu setengah jam untuk menyelesaikan semua pekerjaan terbengkalaimu, nona tukang tidur."
Aku Aninda, bukan nona tukang tidur! teriak Inda dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"Aku punya meeting di luar kota satu jam lagi. Kau bahkan belum menyiapkan pakaianku, makanan dan membersihkan rumah."
Yang benar saja. Perintah Jose benar-benar membuatnya bingung. Bagaimana mungkin dia akan mengerjakan semuanya dalam satu waktu.
"Ba-ik tuan. Aku akan mengerjakannya." Inda menjawab dengan gugup.
__ADS_1
Jose tersenyum senang dalam hati setelah mendengar jawaban Inda.