
"Tapi sebentar lagi akan muncul bintang jatuh," jawab Maria dengan senyum merekah bagai bunga.
"Untuk?"
"Ya untuk mengucapkan permohonan," jawab Jose.
Hal ini membuat Inda terdiam. Dia memandang langit malam yang udaranya terasa begitu sejuk, bulan tampak terang, dan ribuan bintang berserakan di angkasa.
"Nah, lihat itu!" Jose menunjuk langit. Pandangan Inda teralih.
"Cepat ucapkan permohonan!" kata Maria dengan girang. Detik kemudian dia dalam posisi berdoa dan komat-kamit. Begitu juga dengan Jose.
Inda hanya terdiam bingung dalam benaknya.
Apa benar permohonan dengan cara kuno ini berhasil? pikir Inda ragu.
Jujur, perempuan muda ini tidak pernah mempercayai sesuatu seperti benda-benda di bumi. Tapi kala melihat Jose dan Maria, ia tertegun.
Mungkinkah nyonya Maria menjadi orang kaya karena mengucapkan permohonan pada bintang jatuh? Kalau begitu, aku ingin seorang pria sangat mencintaiku dan menerimaku apa-adanya.
Inda hanya berkata begitu dalam pikirannya. Bahkan tidak peduli kalau bintangnya sudah jatuh beberapa menit setelah dia mengucapkan permohonan.
"Apa permintaanmu, Jose," tanya Maria.
__ADS_1
"Sesuatu yang pasti sudah Mama ketahui," jawab Jose ambigu.
"Kamu Inda?"
"Em, tidak. Tidak ada," jawab Inda berbohong. Ia tidak terlalu percaya pada mitos bintang jatuh yang akan mengabulkan permintaan. Jadinya dia tidak ingin memberitahukan apapun.
Maria mengangguk paham. Ia cukup maklum dengan sikap Inda yang tentu saja seperti orang linglung. Walau segalanya sudah terjadi empat bulan lalu.
"Besok, ada acara ultah perusahaan Jose. Mama mau Kamu ikut ya, sekalian bantu-bantu."
"Boleh Ma," jawab Inda menyetujui.
Maria tersenyum senang, "Baguslah kalau begitu. Malam ini kamu wajib tidur supaya fit untuk acara besok," pinta Maria.
Setelahnya, Maria menatap Jose dengan tatapan penuh arti.
"Mama kenapa menatap Jose begitu?" tanya Jose tidak nyaman.
Maria melihat ke sana kemari dan menajamkan pendengarannya. Takut Inda belum pergi dan malah mendengar percakapan mereka.
"Hem. Mama hanya penasaran, tadi sempat kan kamu beri tahu tentang rencana kita?" tanya Maria dengan berbisik.
"Ti-dak," jawab Jose ragu-ragu.
__ADS_1
"Kenapa tidak?" jelas saja Maria terkejut. Waktu empat bulan menunggu Jose mengungkapkan perasaan sudah sangat lama menurutnya. Dan sekarang …
"Arghh! Anak tiada guna!" maki Maria kesal.
Tentu saja Jose terkejut sampai mundur selangkah dari posisinya. Mamanya benar-benar sangat marah saat ini.
"Mama sudah lama menunggu masa itu! Mama ingin melihat kamu menikahi Aninda, kemudian mendapatkan banyak anak darinya! Kamu aneh, ada banyak kesempatan untuk mengungkapkan perasaan bahkan mama ikut bantuin. Tapi malah kamu sia-siain!"
Maria ngambek.
Jose menghela nafas. Keadaan hening sampai sepuluh detik kemudian.
"Jose ragu Ma. Takut Inda-nya menolak," jawab Jose memberanikan diri berbicara.
Maria ingin menggeleng dan menghela nafas frustrasi. "Jujur ya, Jose. Empat bulan bukan waktu yang singkat buat Mama. Seharusnya kalau kamu melamar Inda, dan sekarang Inda pasti sudah bunting dan tinggal menunggu bulan lahirnya saja."
Jose terdiam. Dia tidak tahu Mama nya begitu berharap besar padanya. Akhirnya Jose berlutut di hadapan sang Mama.
"Jose minta maaf Ma. Jose tidak tau Mama sangat menginginkan Jose bersama Inda. Sekarang Jose akan berusaha. Tolong beri waktu seminggu untuk Jose mempersiapkan diri melamar Inda," kata Jose dengan tulus.
"Tidak, Mama tidak mau."
"Kenapa?" tanya Jose bingung.
__ADS_1