Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
27. Akan Tetap Setia


__ADS_3

Saat Inda membuka matanya, tubuhnya bergetar. Dia merasakan ketakutan yang teramat dalam. Meski Jose ada di depan matanya, namun bayangan mengenai beberapa pria asing yang menyentuhnya dengan kasar membuat Inda menjerit histeris.


"Aaaaaa … jangan mendekat, tolong menjauh!"


Seketika Jose menjauh dan menatap Arinda yang ketakutan dengan panik.


"Inda … dia kenapa, Ma?" tanya Jose syok.


Maria tidak menjawab. Tapi wanita paruh baya itu memanggil dokter. Maria terus mengelus kepala Aninda dan membisikkan sesuatu padanya.


"Jangan takut, aku nyonya Maria ibu mertuamu. Kita memang tidak pernah bertemu, tapi kamu mengagumiku sebelum ini 'kan. Aku harap kamu sadar, yang baru saja kamu teriaki adalah suamimu. Ya, dia suamimu dia berhak terhadapmu, jangan takut ya."


Tubuh Inda yang bergetar ketakutan perlahan berhenti. Mata yang tertutup itu juga terbuka dan melihat nyonya Maria, perempuan yang dikaguminya jauh sebelum ini.


"Nyonya Maria?" Aninda terkejut karena perempuan di sampingnya adalah Maria. Rasa tidak percaya, melingkupinya hingga menatap Maria tanpa berkedip.


Tak lama setelahnya seorang dokter datang. Karena melihat dokter itu adalah seorang lelaki, tubuh Inda kembali bergetar. Rasa takut membuatnya tidak dapat berpikir banyak selain meneriaki lelaki di depannya untuk pergi.

__ADS_1


"Jangan mendekat!!"


Maria terus berusaha menenangkan Aninda. "Dia dokter, Aninda. Jangan takut."


Tapi Aninda tidak menjawab, dia meringkuk dan terus menangis histeris.


"Tidak apa, nyonya. Karena tindak pemer-kosaan yang dilakukan beberapa pria sebelum ini, merupakan hal yang wajar jika pasien trauma. Kami akan merekomendasikan beberapa psikiater terbaik yang bisa memperbaiki trauma pasien."


"Lakukan yang terbaik untuk menantuku. Dia mengalami hal buruk sebelum ini, tapi dia sangat baik. Aku menyayanginya," ucap Maria berharap.


Tentu saja dengan antusias Maria menyetujuinya. Dokter umum itu segera menghubungi dokter Obgyn untuk mengecek rahim Aninda dari situasi subur. Setelah memberikan obat dengan dosis tepat, barulah Aninda dinyatakan tidak akan hamil meski sudah pernah diper-kosa.


***


Malam harinya.


Aninda sudah tidur karena pengaruh obat bius yang diberikan padanya. Maria takut, Aninda akan melakukan hal diluar nalar jika tidak tidur apalagi perempuan itu baru mendapat suatu kenyataan tak terduga.

__ADS_1


"Padahal dia masih suci dan perawan sebelum ini," gumam Maria karena merasa sedih melihat kondisi Aninda.


Di saat yang bersamaan Jose datang membawakan makanan di atas nampan. "Ma, makan. Sudah jam tujuh, loh. Nanti mama sakit," kata Jose yang segera diangguki Maria.


Maria makan di samping ranjang Aninda. Keadaan hening hingga Maria selesai makan.


"Kalian berdua kasihan," ucap Maria kala melihat Jose yang duduk memandang wajah Aninda dengan sedih.


"Kenapa ma?" tanya Jose melihat Maria.


"Kamu mencintainya, bahkan belum melakukan apa-apa dengan tubuhnya, malah disalip orang-orang bejad."


Jose tentu paham maksud Mamanya. Dia menghela nafas dan berusaha tegar.


"Aninda sudah membuat Jose berubah, Ma. Meski keadaannya tidak semulus dulu, dia tetap Aninda. Jose akan menunggu Aninda sembuh, dan tetap akan menerima Aninda."


Maria tersenyum senang melihat kebesaran hati putranya itu. Dia mendatangi Jose dan memeluknya dari samping, "Mama mendukung seratus persen keputusanmu, nak. Aninda itu perempuan yang baik, mama saja menyukainya."

__ADS_1


__ADS_2