
Sangat perlahan dan hati-hati, Inda membuka pintu. Ia hanya ingin memastikan apa Jose sudah sadar atau belum, tapi dengan tetap memperhatikan keselamatannya.
"Masih tidur. Syukurlah." Saat akan kembali menutup pintu, pandangannya tertuju pada tubuh seorang pria yang tergeletak di dekat kamar mandi.
Inda tidak menyangka, ternyata Jose tenang dan tidak berulah karena pingsan. Tanpa menunggu lama Inda masuk ke kamar yang dipenuhi kekacauan untuk melihat kondisi Jose.
"Jose. Tuan Jose? Tolong bangun." Inda menepuk-nepuk bahu Jose, tapi pria itu tidak kunjung bangun.
Inda semakin panik. Untuk mempertahankan kegadisannya, dia membiarkan Jose yang mabuk sendirian di kamar.
Ia tau Jose tersiksa di kamar, tapi dia terlalu takut menyerahkan diri pada pria itu.
Apalagi dengan cerita para teman-temannya di masa SMA yang rata-rata sudah menyerahkan keperawanannya pada para kekasih yang sangat mereka cintai. Mereka berkata, hubungan badan itu sangat menyakitkan. Dan Inda tidak ingin menyakiti dirinya sendiri.
"Tuan Jose. Tolong bangun," pinta Inda. Namun pria itu tidak kunjung bangun seperti keinginan Inda. Terdapat keringat di tubuh Jose yang menandakan kalau pria itu baru pingsan.
Pada akhirnya Inda mendatangi pak Kuwa yang sedang berkebun. Sekitar semenitan Inda menerangkan apa yang sedang terjadi pada Jose. Pak Kuwa mengangguk paham atas penjelasan Aninda dan mengeluarkan ponselnya. Dia mencari nomor kemudian menekan tombol hijau di layar sentuh ponselnya.
"Bagaimana pak Kuwa?" tanya Inda dengan khawatir. Perbincangan antara pak Kuwa dan seseorang di telepon terdengar begitu ambigu.
"Dokter Ari akan datang tidak lama lagi, nona Inda."
"Baik terimakasih pak. Aku tidak tau mau melakukan apa kalau tidak ada bapak." Inda sangat bersyukur ada pak Kuwa di sini.
"Nanti kalau dokter Ari datang, ceritakan seperti yang terjadi pada dokternya ya. Biarkan dokter tau cara mengobati tuan Jose," jelas pak Kuwa mengalihkan pembicaraan.
Inda kembali ke kamar dan melihat Jose masih tergeletak. Entah Jose pingsan atau apa, Inda tidak atau dan berharap, Jose akan sembuh.
Inda berinisiatif memandikan Jose dengan mengelap pria itu dengan kain lembab. Inda hanya ingin membuat Jose tampak segar, sekalian melihat apakah ada bagaian tubuh yang sakit supaya ia dapat melaporkannya pada dokter bernama Ari itu.
Saat mengelap tubuh Jose, Inda bergidik ngeri melihat benda kepemilikan pria bertubuh tinggi itu. Membayangkan hal kotor dalam kepalanya sungguh mengganggu.
__ADS_1
"Aku pasti sudah gila!" Inda berusaha menghilangkan pikiran kotor dalam kepalanya. Karena mau gimana pun, Aninda Antari adalah perempuan dewasa. Aninda hanya membayangkan jika milik pria itu memasuki dirinya dan membuatnya kesakitan seperti cerita teman-temannya di masa SMA.
"Pernikahan ini hanya sementara, Inda. Jangan banyak berpikir tentang malam pertama." Inda meyakinkan dirinya. Karena ia sudah melakukan yang terbaik selama hidup bersama Jose. Tinggal menunggu waktu kapan kakak Listanya ditemukan dan dia akan sepenuhnya lepas dari berbagai tanggungjawab.
Setelah selesai memakaikan Jose pakaian, Inda hendak keluar dari Villa. Namun Dia melihat seorang sebuah mobil memasuki pekarangan Villa dan tanpa menunggu lama, seorang pria berpakaian baju dokter muncul.
Inda tau siapa orang itu dari penampilannya saja. "Selamat pagi Dokter," sapa Aninda saat dokter Ari berhadapan dengannya.
"Selamat pagi juga nona Inda. Apa tuan Josenya masih di sini?"
Dari mana dia tau nama aku? pikir Inda disela senyum yang ditunjukkannya.
"Di kamar. Tuan Jose pingsan di dekat kamar mandi setelah aku bertingkah aneh semalaman, aku tidak mampu membawanya ke ranjang."
"Baiklah. Akan saya bantu."
Inda membawa dokter Ari ke kamar mereka. Pakaian Jose yang sudah diganti dan tampak begitu segar tidak seperti tadi, sangat kunyel, layaknya orang gelandangan.
"Tuan Jose tidak kenpa-napa, nona Inda. Anda tidak perlu terlalu sedih seperti itu. Tuan Jose hanya perlu beri susu dan obat pereda mabuk."
"Em, makasih atas penjelasannya dokter. Saya bersyukur karena tuan Jose tidak kenapa-napa."
"Baik kalau begitu. Saya akan pergi. Tolong jaga kesehatan tuan Jose sampai dia pulih ya. Proses pemulihan ini hanya berlangsung satu hari. Namun Saya harap anda menjaga pola makan tuan Jose, dan selalu peringatkan beliau untuk selalu minum dalam jumlah yang banyak supaya efek obatnya berkurang."
Dokter Ali pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah, terderngar suara Inda yang memanggilnya. "Tut-tuan Dokter..."
"Iya, ada apa nona Inda? Ada yang perlu anda tanyakan lagi?" Dokter Ari menghentikan langkah dan kembali berbalik.
"Ada dokter. Hanya satu. Kenapa tuan Dokter tau nama saya Inda?"
Dokter hanya tersenyum ramah, dan pergi.
__ADS_1
Inda tidak mengerti mengapa dokter itu hanya memberikan senyuman padanya bahkan tanpa berkata sama sekali.
Namun ia tidak terlalu memikirkannya. Sebab sekarang, Jose-lah yang jadi prioritasnya.
Di luar Villa.
Pak Kuwa tampak sedang berbicara dengan orang lain saat dokter Ari berjalan ke arah pak Kuwa dan orang yang bersamanya itu.
"Ben. Aku udah menjalankan semuanya," ucap Ari seraya berjalan ke arah mereka.
Orang lain yang ternyata adalah Ben yang sedang menyamar itu tampak tersenyum sangat lebar seraya menatap Ari.
Setelah Ari di dua langkah dari mereka, Ben menjabat tangan Ari dengan berkata, "Thanks ya, Ri. Ah, kalo ga ada kalian berdua yang mau ikutan bantu, aku ga tau harus bilang apa sama si Jose."
"Sesama sahabat harus mau membantu. Lagian mereka nampaknya cocok kok. Harapanku sih, Aninda jadi Istri Jose yang asli. Aku mau Jose berubah, jadi kayak Jose kita yang dulu," kata Ari, terlihat sangat berharap.
Selain Jose, Wilea, Lista dan Ben, mereka juga memiliki persahabatan dengan orang lain, yaitu Ari.
Hanya saja di masa kecil Ari, pria itu selalu dikekang ayahnya untuk selalu belajar dan belajar supaya menjadi dokter.
Apalagi dengan perekonomian mereka yang cukup sulit, maka hanya dengan jalur beasiswa lah Ari bisa melanjutkan pendidikan.
Saat di Mobil setelah pergi dari Villa Jose, Ben tidak dapat tenang sehingga memutuskan untuk kembali ke Villa sahabatnya itu.
Ben melihat segalanya tenang setelah Jose tidak sengaja meminum obat perangsang. Ben berpikir, Ia mungkin harus melihat kondisi Jose. Dan suara merintih dan kata-kata layaknya orang galau menjelaskan segalanya, Inda tidak berniat menyembuhkan kesakitan yang dialami Jose. Hal ini segera membuat Ben merasa sangat bersalah atas keteledorannya. Saat pak Kuwa, tukang kebun yang sedang di luar rumah kecilnya di dekat Villa, Ben ketahuan mengintip dari jendela.
Daripada dikira mau buat macam-macam di rumah sahabatnya itu, akhirnya Ben menjelaskan semuanya.
Pak Kuwa menyetujui permintaan Ben untuk membantunya semakin mendekatkan Jose dengan Inda.
Karena sebagaimana sifat semua lelaki, pasti mereka akan luluh kalau ada wanita.
__ADS_1
Ben hanya berharap, ketika Jose dan Inda yang tengah jatuh cinta itu, Inda dapat menetralkan amarah Jose padanya. Karena Ia tau sifat tempramental Jose. Ingatan sedih di masa lalu membuat Jose sangat tertekan melebihi semua sahabat-sahabatnya kecuali Lista.