
Jose menggeleng sebagai tanda ketidaksetujuannya atas tebakan Maria. "Nggak tahu ah Ma. Kepala Jose lagi panas ini." Jose malah kembali mengambil air kelapa milik namanya, meneguknya habis sampai tidak tersisa.
Maria yang tidak bisa berkata-kata atas kelakuan putra bungsunya ini hanya bisa mengamati Jose yang sedang kesal. Dia menganalisis, kalau Jose pasti sedang bermasalah dengan Inda. Tapi mungkin dengan satu atau dua alasan, maka Jose menolak bercerita.
"Kamu sudah besar loh Jose. Masalah itu, harus diselesaikan baik-baik. Kalau kamu terus melarikan diri, kapan dewasanya?"
"Tapi masalah ini tidak seperti yang Mama pikirkan."
Maria akhirnya bisa tersenyum karena Jose mau kembali berbicara padanya. "Iya, Mama tahu masalahmu tidak seperti yang Mama pikirkan. Tapi Kamu itu laki-laki loh. Nggak boleh asal main lari aja dari masalah. Kalau begini terus, masalah tidak akan selesai justru semakin rumit. Masalah harus diselesaikan, Jangan biarkan Inda menganggapmu sebagai seorang pecundang."
"Kenapa Inda bisa berpikir aku pecundang, Ma?"
"Kembali pada penjelasan Mama tadi. Karena kamu laki-laki. Laki-laki sudah seharusnya mampu mengayomi wanita, bukan meninggalkannya. Asal kamu tahu saja, sewaktu Ayah kamu yang yaaa sikapnya sebelas dua belas miripnya kayak sifat kamu ini. Suka main diam sendiri, malah yang menjadi kesenangannya, pergi entah ke mana. Tapi kamu masih lebih baik daripada dia, kamu masih mau menjumpai mamamu. Kalau dia tidak. Dia malah pergi ke bar untuk minum-minum. Akhirnya ketemu sama wanita lain dan sering habiskan malam bersama. Akhirnya jatuh cinta, tapi menyakiti hati Mamamu ini." Air mata Maria menetes membayangkan kejadian di masa lalu yang memang begitu sakit sampai tidak mampu dilupakannya.
Entah mengapa setelah mendengar cerita mamanya, Jose merasa sangat bersalah. Dia mulai memegang tangan Maria seraya berkata, "Maafkan Jose Ma. Setelah dengar cerita mama, Jose dan Jose sadar kalau sudah salah. Tapi apa aja boleh Jose bercerita pada mama?"
Maria tersenyum penuh arti, dia menggeleng. "Sudah berapa kali Mama bilang, kamu boleh! Bercerita apapun; karena kamu, adalah anak mama."
"Sebenarnya, masalahnya dimulai dari Jose mengungkapkan perasaan Jose pada Inda. Jose rasa Inda menjadi wanita yang tepat untuk Jose, karena Inda; jauh berbeda dari wanita lain yang pernah Jose kenal selama ini. Tapi, dia menolak dan terus berkata kalau dia tidak bisa menerima lamaran ini. Karena, Jose sudah beristri dan dia tidak ingin menjadi perusak hubungan rumah tangga orang. Cobalah dulu Mama jadi hakim atas masalah kami. Apa Jose salah dalam perasaan Jose sendiri?"
“Perasaanmu tidak salah. Karena itu wajar dialami seseorang yang sudah menilai orang lain tepat dan cocok untuknya." Jawaban singkat itu membuat Jose tersenyum.
"Tapi mama belum selesai bicara loh, Jose."
__ADS_1
Seketika Jose murung. Bagaimana mungkin mamanya akan melanjutkan kalimat yang sempat membuat Jose seketika Jose sangat senang itu. Dalam hati terdalamnya, Jose bertanya; apa mamanya menyalahkan perasaannya ini?
"Yang salah itu, kamu salah dalam waktu."
"Maksudnya, Ma?" tanya Jose tidak mengerti.
"Waktu kamu mengucapkan perasaan itu terbilang cukup cepat. Kalian bersama bahkan kurang dari seminggu. Perlu kamu tahu saja, bagi kami para wanita, diperlukan sebuah kepercayaan yang kuat. Itu semacam landasan awal yang membentuk hubungan. Makanya kalau kamu lihat ada wanita yang selalu bertahan pada laki-lakinya yang bisa terbilang sangat kacau hidupnya, pasti pada awalnya, laki-laki itu sudah membangun landasan hubungan yang kuat bagi hati wanita itu untuk tetap bersamanya meski meski laki-laki itu memiliki sifat yang sangat buruk."
"Lalu apa yang perlu Jose lakukan untuk masalah Jose ini, Ma, dan seperti apa cara membangun landasan hubungan yang kuat?" tanya Jose yang benar-benar buta dalam hal hubungan.
Mama lagi-lagi tersenyum. 'Dia benar-benar putra kecilku,' ucap Mama dalam hati. "Kamu harus merayunya dengan cara memperlakukannya selayaknya wanita yang pantas dicintai. Memberinya hadiah, mengajaknya jalan-jalan, menuruti segala keinginannya, mengingat hari-hari spesial seperti tanggal lahirnya, pokoknya kamu harus memperlakukannya dengan sangat baik!"
Jose terkejut mendengar syarat yang diucapkan sang mama. "Sebanyak itu?" Jose benar-benar tidak percaya.
Mama segera mengangguk. "Dia saja sudah melakukan yang terbaik untukmu selama beberapa dia ada di sisimu. Kenapa kamu tidak mampu?"
"Karena Mama bukan wanita tua renta yang sangat bodoh dan tidak tahu zaman. Karena kamu putra Mama, setidaknya kamu harus bisa Mama pantau perkembanganmu. Mama tidak ingin kamu berbuat macam-macam. Oh, ya. Satu lagi. Mama tidak ingin melihat bagaimana kamu mencoba memperkosa Inda."
"Jose tidak memperkosanya, Ma!" tegas Jose.
"Mama tidak menerima pengecualian apapun! Mau kamu mabuk atau berhasrat ingin menyentuhnya. Dia harus tetap menjadi gadis sampai tiba kamu sah menikah dengannya."
Jose menggaruk kepala."Kata Mama Jose salah dalam hal menikah–"
__ADS_1
"Kapan Mama katakan kamu salah menikahinya?"
"Tadi? Kata Mama Jose harus mampu membangun dasar yang kuat di hati Inda."
"Mama tidak pernah mengatakan kamu salah melamarnya untuk menikahnya. Mama hanya bilang kamu harus membujuknya untuk jatuh cinta padamu. Wanita yang dipaksa menikah biasanya wajahnya murung dan tidak terdapat kebahagiaan. Apalagi kalau kamu tambah dengan tindak pemerkosaan padanya."
"Dia kan sudah menjadi istriku di altar. Maksud Jose, Jose mau menikahinya atas namanya di catatan sipil," jawab Jose menghentikan kalimat sang Mama.
"Kalian tidak menikah secara sah. Menikah secara siri pun tidak diterima. Mama tahu kamu mengerti soal perusahaan. Tapi hubungan itu lebih rumit dari menghitung seluruh jumlah rambut yang ada di kepala ini. Kamu hanya menikahi Lista dan bukan Aninda. Dan meski Mama tidak menghadiri pernikahanmu karena sedang sakit, namun mama menonton acaranya di televisi. Kamu menyebut nama Lista Dehendra di hadapan Tuhan!" tegas Mama menyatakan keadaannya.
Jose hanya diam.
"Apalagi kamu baru bersamanya dalam beberapa hari dengan keadaan Inda yang terpaksa bersamamu. Setidaknya kalau kamu ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius dari ini, kamu harus bisa memperlakukannya dengan baik. Dengan begitu dia akan percaya padamu kalau kamu akan melindunginya.”
“Tapi Jose mau secepatnya menjadi Suami Inda,” ucap Jose dengan keras kepalanya.
Hal ini membuat Maria menghela nafas. “Mengulur waktu lebih baik daripada buru-buru. Tapi mama ingatkan, kalian bukan suami istri. Pasangan atau apalah itu. Sekalipun kamu berhasrat bersamanya, jangan paksakan kehendakmu. Karena itu bisa sangat berbahaya untuk masa depanmu dan nama baik keluarga Friden."
"Lalu, seperti apa yang harus Jose lakukan supaya Inda yang– dia pasti sedang kesal karena kutinggalkan setelah aku tidak setuju dengan jawabannya?" tanya Jose.
"Hal pertama yang perlu kamu lakukan hanya … memakai pakaian dengan benar."
"Maksud mama?"
__ADS_1
"Kamu kemari hanya memakai mantel mandi, Jose."
Perkataan Mama membuat Jose melihat tubuhnya yang memang tidak memakai apapun selain mantel mandi. Jujur demi apapun, kemarahan Jose benar-benar membuatnya tidak melihat apapun selain kekesalahan akan Inda yang kini sudah menghilang karena perkataan Mamanya yang sudah makan asam garam kehidupan.