Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
6. Untuk Malam Pertama


__ADS_3

"Kenapa diam?" tanya Jose dengan mata menyelidik.


Inda menggigit sudut bibirnya, melihat ke segala arah sebab dia sedang berpikir, apa yang harus dilakukannya untuk menghindar dari Jose tanpa membuat pria itu marah. Dengan perlahan Inda melangkah mundur. "A … aku harus mengambil air," ucap Inda mengalihkan pembicaraan.


Jose mengerutkan kening. Namun segera terdengar suara cegukan Ben. Dan tanpa melepaskan peluang, Inda pergi ke dapur dan menuangkan air ke kedua gelas air di meja dapur.


Semaksimal mungkin Inda berusaha bersikap seolah tidak terjadi apapun saat ini. Walau pada kenyataannya, dia jelas sangat gugup dan merasa tercekik. Udara di sekitarnya seperti terenggut. Inda takut, suatu waktu Jose memaksanya untuk jujur siapa dirinya yang sebenarnya. Apalagi setelah tahu melalui bibinya, Jose bukan pria sembarangan, pastinya Jose tidak akan membiarkannya hidup tenang.


Inda meletakkan teko dan gelas berisi air di nampan. Inda berjalan mendekati Jose dan Ben, memberikan satu persatu gelas di depan keduanya. "Silahkan diminum, tuan Jose dan tuan Ben."


Inda berdiri dan menunggu sampai Jose dan Ben selesai makan. Untung rasanya bagi Inda, Jose dan Ben tidak


berbicara apapun.


Beberapa menit kemudian, Jose berdiri diikuti Ben. "Kami akan menghadiri rapat di luar kota. Jangan bersikap aneh-aneh atau ada konsekuensi berlaku untukmu."


Inda mengangguk dan tersenyum senang  setelah kedua pria itu pergi dari rumah. Inda terus bersorak, "Ye! Ye! Ye! Akhirnya aku bisa bebas!" Inda menari sepanjang rumah. Bersiul senang karena merasa hidupnya yang sempat terenggut, kini kembali.


Sedang di sisi lain, Jose dan Ben di mobil. 


"Apa yang lagi kau rencanakan, Jose? Kenapa membiarkannya di rumah sendirian?"


Jose melihat ke arah Ben. "Tanpa sepengetahuannya ada orang di sekitar rumah. Mereka tukang kebun, orang-orang yang sering lewat di jalan depan rumah setiap lima dua sekali. Aku udah mengatur mereka untuk melihat siapa Lista sebenarnya. Mungkin perempuan licik itu udah tau setiap rencanaku, jadi sikapnya benar-benar beda biar aku luluh. Kau kan tau siapa aku? Kita lihat aja selama tiga jam ini. Ada banyak samaran kamera CCTV juga di Villa. Jadi setiap geraknya bisa terpantau." Jose memperlihatkan sebuah tab dan sedikit mendekatkan tablet itu pada pria yang selalu menyetir kendaraannya. "Lihat, dia lagi ngapain."

__ADS_1


Ben melihat tablet itu sekilas, Inda tampak sedang mencuci piring dengan wajah penuh kesenangan. Seketika hati Ben sedikit senang. Ia memang memiliki rasa pada perempuan itu sejak sikapnya benar-benar berbeda. Entah ini baik atau tidak, tapi Lista yang adalah Inda sungguh berbeda.


Jose melihat Ben dengan aneh. Ia kurang suka melihat perubahan wajah Ben karena Dia mengerti perasaan Ben saat ini. "Ingat Ben. Dia udah pernah menghancurkan semuanya. Jangan tertipu penampilannya sekarang, siapa tau dia lagi menyamar biar kita lupakan alasan kita membawanya tinggal di Villa."


"Memang siapa yang suka sama dia. Aku hanya kagum," ucap Ben menyangkal.


"Asal tau aja. Kagum bisa buat cinta," peringat Jose.


"Tapi kalo dipikir-pikir, ada kejanggalan waktu pernikahan itu," ucap Ben mengaihkan pembicaraan.


"Kejanggalan kayak apa?" Jose sedikit penasaran.


"Kau tau gak, di ruangan berkumpul keluarga, mereka kayak marah-marah sama si Lista. Mereka bersikap kayak Lista bukan anaknya. Terus ekspresi ketakutan … Hemmm, aku kira perempuan sombong menjijikan itu ga pernah buat mukanya kayak orang bodoh, suka nangis, terus waktu dia keluar dari sana, dia ngeluh kakinya sakit karna sepatu yang kekecilan. Sejak kapan kaki bisa besar hanya dalam seminggu. Kan waktu itu aja dia yang pilih semua baju dan barang-barang lainnya. Tapi masa setelah seminggu semua barang kayak dipinjam dari orang lain."


"Terus kenapa dia tau makanan kesukaan kita, sampai membuat percis seenak dan selezat buatan Wilea?" Dengan berbagai opininya, Ben terus berusaha membiarkan Jose percaya akan segala kejanggalan yang seharusnya diketahui sejak awal. Ben tidak ingin Jose salah langkah dalam malah menghancurkan hidup perempuan tidak bersalah yang diduganya adalah orang lain, bukan Lista.


"Tentang masak-memasak, waktu dulu dia juga termasuk salah satu dari kita sebelum kejadian itu. Jadi, perempuan jahat itu pasti berusaha mengelabui masing-masing dari kita," balas Jose dengan ekspresi tidak peduli.


"Jelas aku masih ingat, dulu dia mana pandai masak. Masakannya hambar kadang terlalu asin. Dan hanya Wilea yang seluar biasa itu bisa masak. Makanya dia jadi koki di sirkel kita. Dan pikiranku nih ya, ada benarnya juga yang kau bilang itu Jose, tapi pake alur berbeda."


"Gimana, cobalah bilang," tanya Jose penasaran, kenapa Ben selalu melakukan pembelaan akan sikap berbeda yang ditunjukkan Lista dalam beberapa jam ini.


"Aku yakin, setelah keluarga Dehendra tau rencanamu, mereka paksa orang lain buat gantiin si Lista. Dengan begitu, yang kena amuk perempuan itu sedang Lista enggak."

__ADS_1


"Cari tau kebenarannya dulu, baru bicara. Aku memintamu untuk cari tau latar belakangnya 'kan. Untuk sekarang, biarkan dia bersiap untuk hari buruknya malam ini juga. Sekarang kita perlu pergi ke Butik, aku perlu membeli beberapa set pakaian yang pastinya akan mengejutkannya," ucap Jose yang tidak terlalu menanggapi kata-kata Ben sebagai hal serius. 


***


Inda melihat kebun di samping rumah yang diberikan Jose padanya. Tempat itu adalah tempat yang sangat dikaguminya bahkan sejak pertama kali melihatnya. Inda ingin ke sana. Namun ia sedikit ragu, apakah akan dimarahi jika mengunjungi tempat itu. Akhirnya Inda  mengurungkan niat dan memilih duduk di sebuah sofa panjang berwarna coklat.


"Wuh, lembutnya," ucap Inda saat perempuan itu menekan dudukan sofa dengan telunjuknya. Inda melihat ke segala arah. "Tidak ada orang lain 'kan?" bisik Inda lagi pada dirinya sendiri. Meski agak canggung, Inda mencoba duduk di sofa ruang keluarga. Rasanya sangat empuk, begitu memanjakan badan.


Meski Inda tinggal selama sepuluh tahun di rumah keluarga kaya, namun dia diperlakukan seperti pembantu. Duduk di sofa, merupakan sesuatu yang dilarang. Jadi baru kali ini Inda duduk di tempat senyaman ini.


"Nanti kalau aku tidak boleh tidur di kamar, mungkin tidur di sini tidak ada salahnya."


Inda sangat menikmati keempukan sofa panjang di rumah pria yang mengucapkan janji pernikahan di depan Pendeta tadi pagi jam sepuluh. Inda tertidur sangat pulas, bahkan bermimpi sedang terbang di awan-awan, tidak ada beban.


Dua jam sudah berlalu. Di tempat Jose dan Ben.


"Apa ga salah kau beli semua ini, Jose?" tanya Ben sedikit canggung dengan semua barang belanjaan yang dibeli Jose. 


"Ya ga salah lah. Memang kapan aku beli sesuatu tergantung selera?"


"Nggak pernah sih. Tapi semua ini … untuk apa?"


"Masak ga bisa tebak. Ya untuk malam pertama, lah."

__ADS_1


__ADS_2