
Jose duduk di Taman yang letaknya tidak jauh dari Mall tempat Jose meninggalkan Inda.
Lelaki itu tampak kebingungan, lantaran tidak melihat suatu perubahan pada kartu yang diberikannya pada perempuaan yang nyatanya sedang ia uji sifat serakahnya.
Jose sangat tau jika semua wanita akan tunduk pada uang, bahkan tidak segan-segan menunjukkan sifat aslinya yang haus akan alat tukar barang tersebut.
Jose sudah membeli semua barang keperluan untuk ke Pantai, semua uangnya habis sejutaan lebih hanya untuk membeli peralatan renang Inda dan cemilan. Namun hingga saat ini, Jose tidak melihat tanda-tanda Inda yang menghabiskan sepeserpun uang dari kartu yang diberikannya.
”Gadis itu tidak dirampok orang ‘kan?” tanya Jose pada udara setelah melihat tiada notif ponsel tentang pengurangan saldo ATM.
“Tapi kalau dirampok, pasti ada pengurangan saldo apalagi sekarang sudah hampir satu jam Inda kutinggalkan berbelanja. Atau, dia malah tidak tahu cara memakai kartu itu? Dia ‘kan polos. Huh, padahal aku meninggalkannya di sana untuk membuat dia leusa berbelanja. Tanpa sadar, aku sudah membuat masalah baru untuknya.”
Akhirnya Jose menemukan rahasia di balik misteri tidak berkurangnya saldo ATM. Hal ini membuat Jose bergegas pergi ke titik semula Jose meninggalkan gadis itu. Namun hasilnya nihil, Jose tidak menemukan keberadaan Inda di manapun.
“Dia tidak hilang ‘kan?” Jose sangat takut jika Inda malah kesasar yang berujung dijahati orang-orang. Apalagi sikap baik Inda dan pekerjaannya yang hampir mulus tanpa cacat, akan membuat Jose merasa menjadi orang yang sangat tidak berguna di dunia ini.
Jose terus mencari keberadaan Inda seperti orang kesetanan. Dia menyentuh bahu para wanita yang kiranya memiliki rambut dan pakaian yang sama dengan Inda, namun Jose tidak mendapati Inda asli sejauh ini.
Hingga saat Jose hampir putus asa, ia mendengar suara perempuan yang bercerita di area baca anak-anak.
“Kancil terus berpikir, mengenai bagaimana caranya supaya dia bisa menyeberangi sungai yang besar ini tanpa harus! melewati sungai yang dingin dan deras ini, adik-adik. Kalau kalian di posisi Kancil, kalian melakukan apa?”
Rasa cemas dan khawatir yang dialami Jose berganti menjadi kagum akan Inda yang ternyata tidak hilang maupun dicelakakan orang.
__ADS_1
Entah mengapa dia senang melihat Inda yang peduli pada anak-anak dengan menceritakan dongeng dengan alangkah bagusnya.
‘Kalau dia jadi seorang Ibu, pasti dia akan sangat terampil dan mandiri. Sekarang masih gadis saja sudah bisa membuat anak-anak betah ada di sisinya. Apalagi ketika sudah memiliki anak. Anak-anaknya pasti sangat pintar, terpimpin dan beruntung karena mendapatkan Ibu seperti dia.’
Jose berpikir di bawah alam bawah sadarnya. Namun ketika dia sadar akan pikirannya, ia mengelak. “Aku tidak boleh berpikir sampai ke sana. Aku tahu dia baik, terampil dan sekarang penyayang anak. Tapi akhir dari hubungan kami hanya sampai perempuan jahat itu kembali dari persembunyiannya. Aku tidak boleh membiarkannya ada di sisiku meski aku menginginkannya di sampingku.”
Jose melihat Inda di area baca buku anak. Dannn, Jose melihat gadis itu kembali hilang! “Di mana dia?” Jose mendadak panik. Bagaimana mungkin Inda hilang dalam sekejap mata. ‘Apa karena aku sudah sangat lama melamun?’ pikir Jose lagi dengan kemungkinan paling masuk akal.
Jose menggaruk kepalanya. ‘Kemana lagi dia harus kucari?’
Jose merasa kapok mengajak Aninda keluar dari Villa. "Sepertinya untuk lain kali aku akan meminta Ben atau siapapun sebagai kurir untuk membeli keperluan di Villa."
"Jangan seperti itulah." Suara Inda yang sangat manis dan berbeda membuat Jose menoleh ke sumber suara. Dia melihat Aninda dengan senyum, perlahan mendekat ke arahnya sendirian.
"Tadi diajak anak-anak untuk beli ice cream," jawab Inda.
Segera Jose membuka ponselnya dan melihat, tiada uang yang berkurang sama sekali. "Dari mana uang untuk membeli ice creamnya?" Jose sangat tau, Inda tidak membawa sepeserpun uang karena Jose belum memberikan uang belanjaan selama di Villa maupun di sini selain kartu ATM itu.
"Hem." Inda meletakkan telunjuknya di dagu. Matanya melihat ke kanan, seolah berpikir, "Dari uang di mesin cuci."
Kening Jose mengerut. "Mesin cuci?" setahunya, mesin cuci tidak menghasilkan uang. Tapi kenapa Inda malah berkata mesin cuci?
"Iya, mesin cuci. Aku selalu membersihkan pakaianmu. Dan pasti menemukan lembaran uang warna biru dan merah di kantong kemeja maupun celana. Aku mengumpulkannya dan dapat hampir satu jutaan."
__ADS_1
Jose tercengang. 'Aku tidak tahu dia menyimpan semua uang itu dan membawanya kemari.' Meski Jose memiliki uang dalam kartu ATMnya, namun tetap saja Ia suka membeli barang dengan uang kertas. Karena baginya uang kertas terasa nyata dan menjalin keakraban dengan banyak orang yang ditemuinya.
"Dan, aku juga sudah membeli barang yang aku inginkan. Ini dia!" Inda menunjukkan semua barang yang sangat diinginkannya. Beberapa kantong belanja yang berisi pakaian obral tiga sepuluh ribu dari salah satu toko pakaian cuci gudang dalam mall tersebut.
"Ini baju untuk siapa?" Jose melihat banyak pakaian dalam kantong belanjaan itu. Tiada yang menarik, bahkan terkesan polos. Hingga berdasarkan bahasa kasarnya, bisa dikata pakaian itu jelek dan kampungan.
"Ada banyak orang yang miskin sepanjang perjalanan kita kemari. Semua keperluanku di rumahmu sudah sangat terpenuhi sehingga kupikir, membantu banyak orang akan membuat mereka merasa tertolong."
Jose tidak percaya, pikiran Inda sama dengan Maria mamanya yang hidup sangat sederhana namun tetap membantu orang dengan beberapa persen dari keuntungan perusahaan.
"Apa boleh kita mengunjungi mereka untuk memberi mereka pakaian-pakaian ini?"
"Makanan tidak ikut juga?"
Inda terdiam sejenak. Namun segera dia tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi putih serta kantung mata yang mengkerut. "Semua uangnya sudah habis," jawab Inda, singkat padat dan sangat mencengangkan.
"Biasanya kalau mau berbagi harus lengkap. Apalagi kamu tau aku berduit. Setidaknya harus ada makanan. Karena makanan adalah kebutuhan primer setiap manusia normal di dunia ini," jelas Jose.
"Hanya untuk beberapa orang saja. Ini bahkan tidak sampai lima puluh. Tadi aku juga berebut dengan Ibu-ibu lain," jelas Inda tampak bersedih. Meski nyatanya dia hanya ingin mengambil simpati Jose supaya lelaki itu mengizinkannya hanya memberi pakaian layak untuk orang jalanan itu.
"Kalau mereka tau kita sedang berbagi, jumlah orang di sana akan lebih banyak dari ekspektasi. Karena mereka mengundang teman-temannya tanpa diminta. Aku sudah sering ada di lingkungan berbagi seperti itu. Jadi sudah lebih banyak mengerti. Asal kamu tau saja, kita berdua atau hanya kamu sendiri yang membagikan, tidak akan cukup. Jadi perlu mengundang beberapa orang tambahan sebagai sukarelawan."
"Anak-anak?"
__ADS_1