Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
18. Membelikanmu Semua


__ADS_3

Jose membawa Inda ke Mall untuk membeli segala keperluan yang tidak ada di Villa. Memang hal yang dilakukan Jose, bagi pria itu adalah hal biasa, namun tidak bagi Inda.


Sepanjang perjalanan ke Mall, Inda terlihat sangat bahagia, matanya berbinar dan senyum tidak lepas dari bibirnya. Ida bersikap seolah tidak pernah pergi kemanapun, membuat Jose berpikir, ‘Jangan-jangan memang dia tidak pernah pergi kemanapun.’


“Ayo turun,” ajak Jose setelah mereka sampai di basement mall Cemara, mall terbesar di kota mereka.


Inda membuka pintu mobil, menurunkan satu kakinya yang beralaskan sepatu kets kuning pucat milik Lista yang tentu kekecilan di kakinya. Inda memakai baju putih polos dan celana panjang berwarna kuning. Seraya menunggu Jose menjumpainya, Inda mengikat rambutnya setengah ekor kuda dan mengumpulkan susunan rambut itu di dada, sebelah kanannya. 


“Ayo ikut,” ucap Jose dengan suara menggema di seluruh ruangan parkir bawah tanah. Ternyata Jose sudah berjarak lima meter dari mobil. Inda tentu terkejut melihat kecepatan Jose dalam melangkah yang tanpa mengajaknya. Inda menutup pintu dan berlari kecil menghampiri Jose.


“Selain barang yang sudah ada di list, apa yang mau kau beli?” tanya Jose seraya berjalan setelah Inda ada di sampingnya.


“Tidak ada,” jawab Inda singkat, padat dan jelas.


Jose melirik perempuan di sampingnya dengan menaikkan sebelah alisnya. “Kamu tidak mau membeli benda apa, gitu? Biasanya semua perempuan ’kan mau beli barang di luar barang yang seharusnya dibeli apalagi saat ke mall?” tanya Jose merasa aneh melihat Inda yang benar-benar lebih polos daripada anak TK yang menginginkan banyak hal dalam hidupnya.


“Aku tidak tau apa yang kusukai kamu sukai juga,” jawab Inda malu-malu.


Jose kini paham dengan kondisi Inda. “Yaaa, kita kan beda gender, tentulah berbeda keinginan. Nanti kalau ada yang mau kamu beli, katakan saja, atau ajak aku langsung membelinya. Uangku ada banyak, dan sebagai Istriku, kamu harus bisa setidaknya sederajat dengan nyonya-nyonya sosialita.”


Kening Inda mengerut mendengar kata ‘nyonya-nyonya sosialita’. “Apa itu nyonya sosialita?”


“Hem, semacam perkumpulan istri-istri petinggi perusahaan,” jelas Jose.


“Apa yang biasa mereka lakukan kalau bertemu?”


“Biasanya sih arisan. Berbicara ala wanita, dan membeli barang branded,” jawab Jose lagi.

__ADS_1


“Barang branded. Maksud kamu barang mahal yang harganya sampai triliunan?”


Jose mengangguk.


Inda tidak mampu membayangkan kalau ia masuk ke grup itu. Apalagi statusnya di sini hanya sebatas pengantin pengganti. Jika Lista ditemukan dan Jose tidak menginginkannya lagi, maka mungkin ia akan menjadi orang paling hina dan menyedihkan dimata para wanita sosialita itu.


“Hem, tuan Jose.” Inda menarik siku pakaian Jose yang membuat pria itu terhenti.


Jose menoleh, “Apa?” tanyanya.


“Tentang perkumpulan para nyonya sosialita, apa semua pendamping petinggi perusahaan perlu mengikuti perkumpulan itu?”


Jose berpikir sebentar. Ia tetap berjalan sehingga terus diikuti Inda. “Kalau kamu menginginkannya ya akan kubawa. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak merekomendasikan keikutsertaanmu dalam perkumpulan itu. Kalau kamu pernah melihat ibu-ibu tukang gosip, mereka lebih dari itu. Selain pamer, mereka juga merendahkan serta menindas orang. Apalagi dengan harta dan kekuasaan suami mereka, mereka mampu melakukan banyak hal tanpa dideteksi hukum.”


Dari deskripsi yang diberikan jose mengenai kelompok itu, INda sudah mampu membayangkan betapa kejamnya lah kelompok itu.


Jose merasa lega mendengar jawaban perempuan di sampingnya ini. Sebenarnya kelompok nyonya-nyonya sosialita itu tidak seburuk seperti diceritakan, namun Jose hanya tidak ingin membuat hidup Inda hancur dengan memasukinya.


Para wanita berpengaruh akan meracuni pola pikir anggotanya untuk membeli banyak barang mahal yang bahkan akan menghabiskan seluruh gaji pasangan mereka dalam sekejap mata.


Jose paham, Inda akan pergi dari hidupnya setelah wanita menyebalkan yang menjadi istri asli Jose itu kembali dari persembunyiannya. Dan jika Inda masuk ke lingkungan tersebut, mungkin Inda akan terbiasa menghabiskan seluruh gaji bulanannya hanya demi barang mewah yang tidak bermanfaat sama sekali.


“Ayo kita ke toko sunscreen dulu,” ajak Jose seraya menarik tangan Inda dengan lembut.


Entah mengapa jantung Inda lagi-lagi berdetak tidak seperti biasanya. Inda sudah sering mengalami hal semacam ini setiap bertemu Jose, namun dia terus menekan perasaan itu untuk tidak tumbuh. Ia ingat kata-kata keluarga angkatnya untuk tidak boleh menaruh hati pada Jose karena akan sangat menyakitkan apalagi status sosial Jose dan Inda seperti bumi dan matahari.


“Kamu pilihlah mana yang menurutmu cocok,” ucap Jose setelah melihat Inda hanya diam seperti gadis bodoh.

__ADS_1


“Aku kira semuanya sama,” jawab Inda yang membuat Jose ingin tertawa terbahak-bahak. 


Di saat semua wanita mengejar benda paling berkualitas dengan uang sedikit, Jose malah menemukan tipe wanita seperti Inda, menganggap segalanya sama yang lagi-lagi membuat Jose ingin bertanya, “Kamu berasal dari zaman mana, sih?’


“Ya sudah, ambil sesukamu,” ucap Jose yang tidak mau ambil pusing. 


Inda mengambil satu kotak sunscreen di rak toko dan masih memperlihatkan kebodohannya dengan terdiam.


 ‘Yang ada semakin lama aku mati kesal melihat perempuan disampingku ini,’ batin Jose seraya menggigit giginya sendiri.


“Ya sudah, aku kira kamu perlu menggunakan waktumu untuk membeli barang yang kamu inginkan. Ini kartu untukmu, limitnya lima juta. Gunakan seperlumu, aku akan membeli barang yang menjadi alasan kita datang kemari,” ucap Jose seraya memberikan kartu pada Inda. Jose bergegas pergi setelahnya.


Inda terdiam bodoh di tempat selama semenitan. Ia tidak tahu mau melakukan apa dengan kartu … yang diberikan Jose padanya. ‘Aku disuruh belanja ‘kan ya?’ pikir Inda. Namun ia ingat saat pertama kali datang ke Villa Jose. Di saat itu Jose ada bilang tentang uang lima juta yang harus diirit dalam tiga puluh hari. 


‘Apa karena tuan Jose sudah mempercayaiku maka dia membiarkanku mendapatkan jatah?’ tanya Inda di dalam hati.


Memikirkan hal itu membuat Inda tersenyum lebar. “Tidak kusangka, secepat itu tuan Jose mempercayaiku.”


Kemudian Inda mulai berpikir tentang hal apa yang akan dibelinya, namun hal itu bermanfaat dalam jangka panjang.


“Emas ‘kah? Atau, makan. Tapi, stok di kulkas masih banyak. Bahkan masih cukup hingga sebulan ini. Sedangkan emas, tuan Jose pasti masih punya banyak di dompetnya. Jadi beli apapun mungkin tidak akan berguna.”


Dalam hati terkecil Inda, ia ingin membeli sesuatu yang berguna. Namun ia bingung ketika kembali memikirkan tentang Jose yang memiliki segalanya.


Sejam kemudian.


Jose merasa aneh melihat uang lima juta lebihnya tidak berkurang sama sekali. Jujur ia khawatir.

__ADS_1


“Gadis itu tidak dirampok orang ‘kan?”


__ADS_2