Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
16. Pergi ke Pantai untuk Balas Budi


__ADS_3

Selama setengah jam setelah dokter Ari pergi dari Villa, Inda terus memantau perkembangan Jose. Ia telah memberi obat pereda mabuk yang dimasukkan ke dalam secangkir susu hangat.


Dengan perlahan dan hati-hati, Inda membuka mulut Jose dan memasukkan corong kecil di antara gigi Jose. Inda memasukkan sedikit demi sedikit susu melalui corong itu. Ia sangat berharap, Jose tidak sakit.


Tidak seperti dugaan Ben kalau Inda sudah jatuh cinta pada Jose, nyatanya Inda hanya tidak ingin masuk penjara karena di dalam Villa Jose hanya ada Inda. Jika Jose meninggal atau sakit, bisa-bisa dia dituduh sebagai pelaku.


Inda memasak bubur dan menyuapi Jose dengan sabar. Karena sebenarnya, merawat orang pingsan tidak semudah merawat orang sakit.


Jose dalam pingsannya, mendengar secara jelas apa yang terjadi. Bagaimana Inda dalam menanganinya. Ternyata Inda sangat mandiri dan terampil. Jose terharu. Dia tidak percaya telah mendapatkan seorang wanita yang benar-benar tulus padanya. Sehingga Jose berpikir ia harus membalas kebaikan Inda dengan sesuatu yang pantas.


Pukul dua belas siang. Aninda sudah mengantuk karena memperhatikan Jose, apalagi dia terlalu bosan menunggu kapan Jose bangun. Inda meletakkan kepalanya di ranjang, dan pinggulnya di kursi.


Saat Inda sudah terlalu nyenyak, Jose bangun dan meletakkan perempuan yang sudah membantunya sangat banyak itu. Jose mencoba memeluknya. Ternyata Inda membalas pelukan itu.


Inda sangat imut di mata Jose. Wajah alami tanpa polesan make up, Inda sangat sederhana, namun membuat Jose tertarik. Bahkan tanpa sadar, Jose sudah meletakkan secuil hatinya pada Inda.


Sekitar satu jam Inda tidur. Saat perempuan itu bangun, dia tidak melihat Jose ada di sekitarnya. "Di mana dia?" monolog Inda kebingungan. "Dia yang sakit, kenapa justru aku yang tidur di sini?" lanjutnya.


Inda turun dari ranjang dengan rambut berantakan. Matanya menyipit karena efek cahaya yang cukup menyilaukan. Inda melihat ke sana kemari, dan tidak menemukan apapun selain perabotan dan keheningan. 


"Apa semua ini mimpi?" tanya Inda lagi, pada dirinya sendiri.


"Nyenyak tidurnya?" suara Jose yang ramah sungguh mengejutkan Inda.


"Kamu …" Inda menunjuk Jose dengan keheranan. 'Kenapa suaranya terdengar sangat lembut, ya?'


"Apa. Kenapa denganku. Ada yang salah?" Jose memaku pandangannya pada Inda.


"Em, tidak. Tidak ada," jawab Inda menghentikan topik pembicaraan.


"Katakan saja. Tidak ada yang melarangmu." Jose meyakinkan Inda untuk berbicara.

__ADS_1


Inda tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Kemudian dia melihat apa yang sedang dimasak Jose. "Tampaknya rasanya enak." Inda memuji potongan daging ayam yang sedang dimasak dalam wajan.


"Apa kamu sudah mencobanya?"


"Belum. Tapi aromanya menggugah."


"Menurutmu, apa ketika belum mencoba bisa mengatakan kalau rasanya enak? Bisa saja 'kan, penampilan menipu?"


Inda terdiam untuk sementara. Dia mencoba mencerna kata-kata Jose. 'Apa dia sedang mencurigaiku?' pikir Inda.


"Itu artinya, kamu menginginkanku mencobanya terlebih dahulu?" Inda bertanya pada Jose karena ia tidak serta-merta menganggap pikirannya benar.


"Bisa dikata begitu. Aku baru pertama kali memasaknya. Aku lapar setelah tidur entah sudah berapa jam. Maafkan aku kalau dalam situasi kacauku semalam kamu kewalahan," ucap Jose menyesal.


"Apa yang kamu bicarakan? Tidak, aku tidak lelah. Aku hanya takut kamu sakit dan aku dijadikan tersangka. Makanya aku merawatmu."


Entah mengapa hati kecil Jose sedikit miris mendengar jawaban Inda. Ia seolah kecewa karena Inda mengatakan dia tidak ingin menjadi tersangka jika Jose kenapa-napa.


Jose melihat Inda yang mengambil sendok dan mencuil kuah. Inda meletakkan kuah itu di ujung jarinya. Dan diam untuk sementara. Jose tidak mengerti mengapa Inda melakukannya. Membuatnya bertanya, "Bukankah kamu harus mencicipinya, bukan meletakkan setetes kuah itu di tanganmu?"


"Lidahku kurang dalam merasakan. Jadi kalau mau tau apa garamnya sudah cukup atau kurang, aku biasa meletakkannya di ujung jari. Kalau panas yang terlalu menyengat seperti kuah ini, itu artinya garamnya kurang," jelas Inda. Kemudian dia mengambil kotak garam dan menaburkan garam di masakan Jose. Mengaduknya secara perlahan, ini membuatnya kelihatan sangat terampil.


"Apa semalam aku berbuat sesuatu yang macam-macam padamu?"


Inda menghentikan adukan spatula, dan berkata tanpa melihat Jose. "Tidak. Aku buru-buru pergi keluar dari kamar setelah kamu menarikku ke ranjang dan mencoba melakukannya."


"Kenapa kamu berbuat begitu?" tanya Jose penasaran.


"Karena aku sadar aku bukan siapa-siapa."


Jose dan Inda terdiam untuk beberapa menit lamanya. Hingga keduanya makan bersama di atas meja makan. Benar saja, makanan Jose sangat nikmat karena Inda memasukkan garam yang pas.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku mengatakan kamu adalah seseorang yang istimewa?"


"Uhuk!" Perkataan Jose seketika membuat Inda batuk.


"Ini airnya." Jose menyodorkan segelas air pada Inda. Setelah minum, Inda masih saja batuk, namun ia dapat menahannya sehingga batuk itu menghilang.


"Kenapa batuk? Ada yang salah dengan kata-kataku?" tebak Jose.


"Tidak. Tidak ada," jawab Inda cuek.


"Baik kalau begitu." Sepertinya Inda belum menerima kenyataan kalau dia adalah orang spesial mulai sekarang. Pikir Jose.


"Besok hari Sabtu. Aku rasa aku ada waktu seharian untuk liburan. Apa kamu tau destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi?"


Inda terdiam sebentar.


"Tempat apa saja tidak masalah. Asalkan masih di kota ini. Karena kamu sudah merawatku, aku ingin balas budi," ucap Jose menjelaskan.


"Aku tidak pernah pergi keluar karena di rumah keluarga Dehandra, aku hanya menjadi pembantu tanpa gaji. Jadi, aku harap kamu mengerti aku tidak pernah keluar rumah untuk bersenang-senang,” Inda tersenyum miris mengatakan kata-katanya.


Jose mengangguk paham dengan penjelasan Inda. “Aku ada beberapa destinasi wisata yang bisa ditunjukkan, tapi aku perlu tau kamu mau pergi ke mana.”


“Pantai. Aku mau ke sana,” jawab Inda malu-malu.


Jose mengeluarkan ponselnya, dan membuka gambar wisata pantai. “Pilih tempat yang menurutmu menarik," pinta Jose dengan lembut.


"Aku akan ikut kemana saja. Aku suka semua pantai, hanya saja tidak pernah ke sana selain mendengar pembicaraan orang-orang tentang pantai," jawab Inda jujur.


Jose tidak percaya Inda adalah perempuan yang tersiksa selama ini. Kini Jose mengerti mengapa Inda selalu melakukan banyak hal dengan hati-hati dan berusaha membuatnya sempurna. Karena selain bekerja dan bisa makan hari itu merupakan sesuatu yang sangat disyukurinya. Hingga kini Jose berpikir, 'Aku pasti tidak akan menemukan perempuan seperti dia di mana pun.'


"Baik kalau begitu. Aku akan membawamu besok hari. Mungkin kamu bisa menyiapkan segala yang kamu perlukan."

__ADS_1


Kata-kata Jose membuat Inda seketika berteriak, "Horeee!" Bahkan tanpa sadar mendekat pada Jose dan memeluk pria itu dengan erat. Entah Inda melakukannya dengan sadar atau tidak.


__ADS_2