Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
9. Sikap Menyebalkan


__ADS_3

Sikap Menyebalkan


Inda membuka mata dan turun dari ranjang untuk memulai hari. Ia mendapati Jose ada di sampingnya, sedang tertidur sangat pulas karena Inda sudah melayaninya beram-jam. Seluruh tubuh Inda terasa sangat sakit karena kejadian semalam. Namun ia sudah diberikan tugas untuk masak sarapan pagi dan tidak membangunkan Jose sebelum pukul delapan.


            Terlebih dahulu Inda mencuci wajah, menggosok gigi dengan tetap memakai pakaian tidurnya. Inda datang ke dapur, langsung memasak nasi dan mulai bersih-bersih. Menyapu rumah, mengepel, mencuci pakaian dan terakhir masak. Inda terus hati-hati supaya tidak menimbulkan suara bising karena tidak ingin terkena masalah seperti semalam.


            Setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima menit, Inda datang ke kamar dan melihat Jose baru keluar dari kamar mandi.


            “Emm, maafkan aku.” Inda pamit keluar kamar karena tidak ingin mengganggu privasi pria itu.


            “Masuklah, bantu aku carikan baju yang tepat,” ajak Jose dengan suara lembutnya.


Seketika Inda tercengang melihat perubahan sikap yang terkesan drastis dari seorang Jose Friden. Begitu suaranya waktu jadi manusia waras? Benar-benar beda. Tanpa menunggu lama Inda masuk ke dalam kamar dan melihat Jose sedang memilih pakaiannya.


“Apa yang bisa kubantu Sayang?” tanya Inda.


“Aku tidak tau harus memilih baju yang seperti apa. Hari ini ada rapat dengan nyonya Maria dari Selfana grup.”


Setelah mendengar nama perusahaan itu, kedua bola mata Inda berbinar. “Selfana?”


“Ya, Selfana. Apa kau mengetahui sesutu?” Jose sangat penasaran dengan karakter Inda yang benar-benar menarik di matanya.


“Aku ...” Inda merasa salah tingkah karena bersikap berlebihan saat Jose menyebut nama Selfana grup. “Aku hanya tau beberapa bagiannya saja,” lanjut Inda dengan nada suaranya yang mengecil. Ia malu mengungkapkan kalau Selfana group adalah perusahaan yang memproduksi berbagai pakaian termurah yang sering dibelinya. Apalagi dengan status sosial Jose yang terpandang, membuatnya insecure. Pasti Jose akan menertawakan kemiskiannya.


“Perkataanku adalah perintah untukmu, jangan membuatku menunggu lebih lama lagi, Aninda,” peringat Jose.


Inda menelan saliva. “Perusahaan itu adalah perusahaan yang memproduksi pakaian termurah, dan aku suka membeli produknya. Kemudian mereka sering memberikan bantuan sosial kepada banyak orang miskin, bahkan memberi mereka pekerjaan. Jadi Aku hanya kagum pada mereka,” jawab Inda jujur-sejujurnya untuk menghindari masalah dari pria di depannya ini.


“Tidak ada informasi apapun tentang nyonya Maria?” tanya Jose lagi.

__ADS_1


“Tidak ada.”


“Baik kalau begitu.” Ternyata dia tidak terlalu banyak tau, pikir Jose.  ”Tapi meski begitu kamu tetap bisa ‘kan membantuku memilihkan pakaian?”


“Bisa. Aku tau pakaian yang cocok denganmu.” Inda mulai memilih beberapa pakaian di lemari besar Jose yang hampir seluruhnya berisi jas dan selebihnya pakaian bebas.


“Ini mungkin tepat,” gumam Inda sambil mengeluarkan kemeja batik berwarna coklat dari lemari.


“Kenapa memilihkanku kemeja seperti itu?” tanya  Jose menguji Inda.


“Aku pernah membaca dari buku ‘Rahasia Orang Konglomerat’ dikatakan, orang besar tidak perlu menggunakan pakaian terlampau resmi untuk sebuah pertemuan. Sedikit berwarna selain putih dan hitam itu lebih baik dan menciptakan suasana menyenangkan. Lagi pun aku pernah baca artikel tentang Maria, bos perusahaan Selfana. Dia suka pakaian bermodel, selain jas dan celana atau rok hitam.”


Jose kagum dengan pemikiran luas Inda. Sebenarnya dia juga sudah tau semua karakter dari Maria yang tidak lain adalah Mama kandungnya. Tadi lima menit setelah Inda keluar kamar, ia mendapat panggilan video Mamanya yang menginginkannya datang kemari sekedar berkunjung. Dan Mamanya ingin Jose membawa serta pengantinnya. Hingga dia berusaha mengajak Inda


“Apa kamu tidak memilih pakaian?”


Inda mengerutkan kening. “Maksudnya?”


“Kamu tidak sedang bercanda ‘kan?” Inda senang. Perasaan antara tidak percaya dan senang menyatu. Ia sangat menyukai semua produk merek Selfana. Bahkan pernah bermimpi untuk bertemu dengannya dan berbicara tentang bagaimana perempuan yang diberitakan memulai karir saat suaminya pergi meninggalkannya bersama sepuluh orang anaknya yang lain. Sekarang Inda diberikan kesempatan? Tentulah Inda akan berkata, “Aku mau!” ucap Inda girang bahkan tanpa sadar berteriak dan melompat. Tidak lupa memeluk Jose dan itu dilakukan di luar dari kendali kesadaran.


“Ehm!” Jose memperingatkan.


“Em, maaf. Aku terlalu senang.”


“Mandi dan berpenampilanlah serapi mungkin.”


Aku akan bertemu panutanku, kenapa aku harus berpakaian buruk?  Pikir Inda dalam hatinya.


Setengah jam kemudian.

__ADS_1


Inda memakai gaun coklat yang tidak bermotif batik. Pakaian kak Listanya tidak ada yang bermotif batik. Mungkin bagi sang kakak pakaian batik itu pakaian jadul. Inda hanya mengepang rambut hitam legam bergelombangnya, memakai bedak setipis mungkin, karena meski dia memiliki kulit agak gelap, Inda tidak suka berpenampilan glamour.


Jose melihat penampilan Inda dengan perasaan kagum. Ternyata dia cantik juga, bisik Jose pada udara dalam keadaan tidak sadar.


“Apa kita tidak makan?” Inda menyadarkan perhatian Jose yang hanya terfokus padanya. Membuat Inda penasaran,  sebenarnya apa yang salah pada wajahku? Kenapa dia melihatku seperti itu.


“Kita makan. Ya, kita akan makan,” balas Jose dengan ekspresi gugup. Dia merasa seperti terciduk melakukan sesuatu yang memalukan.


“Aku sudah memasak makanan yang ada di kulkas dan aku harap Sayang menyukainya.” Inda berusaha bersikap sangat baik kepada seseorang yang menjadi suami saudara tirinya. Apalagi dia akan dibawa kepada orang penting seperti nyonya Maria, tentu saja Inda akan menjaga perasaan Jose supaya pria itu tidak mengurungkan niat untuk membawanya.


Setelah sampai di dapur yang sudah dibersihkan hingga tampak sangat bersih dan terawat, Inda langsung menarikkan kursi untuk diduduki Jose. “Silahkan duduk.” Inda memperlakukan Jose seperti seorang raja. Menyiapkannya piring dan memasukkan nasi serta lauk pauk yang sudah dimasaknya. Ada daging ikan sarden yang dikukus dan diberi bumbu kemudian sayur bayam merah kesukaan Inda yang mungkin akan menjadi sesuatu kesukaan Jose juga.


“Silahkan dinikmati.” Inda meletakkan piring nasi dan lauk pauk di depan Jose, tidak lupa sendok dan garpu.


Jose melihat hidangan sederhana seperti sangat tertarik untuk segera mencobanya. Setelah suapan pertama, Jose seperti bernostalgia dengan masakan sahabat masa kecilnya yang juga memasak masakan yang sama dengan rasa dan juga aroma yang juga sama. Lagi-lagi Jose seperti mendapatkan kembali sahabatnya yang telah hilang. Namun Jose tidak dapat berharap banyak. Wilea sang sahabat sudah dipanggil sepuluh tahun lalu oleh Tuhan dengan sebuah misteri yang belum terungkap hingga hari ini.


“Kenapa sayang menangis?” Inda merasa aneh karena setelah memakan masakannya Jose malah meneteskan air matanya. “Apa rasanya tidak enak?”


“Tid–”


“Mungkin tidak cocok ya di lidah sayang.”


“Bukan seperti–”


“Kalau begitu aku akan menggantinya dengan masakan lain yang sudah aku pelajari siapa tau sayang tidak cocok dengan masakan kampungan buatanku ini.”


“Jangan menguji kesabaranku, Aninda!”


Inda berbicara seperti diburu sesuatu. Bahkan bertindak tanpa mendengar kata-kata Jose yang berusaha mencegahnya untuk tidak mengambil makanannya. Inda berhenti saat suara menggelegar Jose menguasai seisi ruangan.

__ADS_1


“Maafkan aku.” Inda tertunduk dan menghentikan aktivitasnya.


Jose menggeser kursi dan pergi dari sana. Moodnya sudah hancur meski perutnya masih lapar. Ia adalah seseorang yang memiliki temperamen tinggi dan jika sudah marah, baginya segala makanan di hadapannya tidak bergizi jika dimakan.


__ADS_2