
"Tenang saja, Nak. Mama tidak akan melakukan hal yang akan merusak nama baikmu. Ceritakan apapun, dan jadilah putra kecil Mama yang penurut yang suka bercerita pada Mama," ucap Maria menenangkan Jose.
Jose menarik nafas dan mulai menceritakan keluh kesahnya pada Maria. Maria mendengarkan dengan saksama setiap kalimat yang dikatakan sang anak.
"Jadi begitu Ma. Jose pun bingung harus buat apa. Ini pernikahan pertama Jose dan Jose tidak terlalu pandai mengendalikan wanita."
Maria tersenyum hangat. "Yang pertama, mengenai kenyataan kalau keluarga Dehendra sudah membuat orang lain menjadi pengganti dalam pernikahan, sejujurnya itu tidak sah. Kalian bukan suami istri sebenarnya dan Mama harap kalian belum berhubungan seperti kata Ben."
"Kami memang tidak berhubungan, Ma. Jose hanya meminta Aninda memijat Jose karena ingat kata Nenek sebelum meninggal. Mama ingat kata Nenek. Dan pijatan tangan Aninda benar-benar menyenangkan. Jose suka," jelas Jose.
Maria, wanita berusia 65 tahun itu menatap putranya yang benar-benar dewasa secara postur tubuh. Namun ketika bercerita padanya, masih seperti putranya di usia lima sampai belasan tahun.
"Tapi dia seperti perempuan tak terdidik, Ma," kata Jose lagi.
Mama mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
"Kadang dia sangat baik. Masak seenak buatan Wilea, terus ada sifatnya yang buat Jose teringat pada Wilea. Tapi dia banyak bicara. Waktu Jose nangis karna ingat Wilea, dia tanya, ‘Kenapa sayang nangis?’. Terus Jose mau jawab tapi dia udah lanjut ke kata-kata yang selanjutnya sampai ambil makanan Jose terus mau ganti sama menu lain. Padahal itu enak loh, Ma," ucap Jose mengakui makanan Inda sangat enak.
Maria tersenyum lucu melihat tingkah Jose. "Kalau suka katakan suka. Meski dia bukan siapa-siapanya kamu, tetap saja kamu harus mengapresiasi apapun yang dilakukannya. Mama rasa tidak ada seorangpun perempuan yang mau menuruti perintah orang lain jika orang itu bukan yang terdekatnya. Apalagi sampai memasakkan makanan seenak yang kamu katakan itu. Kalau Mama jadi perempuan itu, Mama akan racuni dia supaya terbebas dari tekanan."
Seketika Jose terkejut mendengar kalimat sang Mama. "Mama ga lagi menakut-nakuti Jose 'kan?" Jose melihat Mamanya dengan perasaan was-was.
"Tidak. Ini kebenarannya. Mama juga perempuan. Sedikit banyaknya pasti ada kesamaan. Kamu sudah dewasa, Jose. Kamu harus banyak belajar."
"Kenapa, Tante?" tanya Ben ikut campur.
"Asal kalian berdua tau saja 'ya. mengurus perusahaan jauh lebih mudah daripada mengurus soal hati dan perasaan. Mereka sangat sulit sampai pakar terhebat sekalipun tidak dapat menaklukkannya. Karena perasaan datang tidak diundang, namun ketika dia pergi akan sangat menyakitkan apalagi karena faktor disakiti."
__ADS_1
Ben sangat menyimak kalimat demi kalimat yang dilontarkan wanita yang pandai berbicara ini.
Namun Jose, dia tidak terlalu menganggap hal ini merupakan soal yang cukup serius.
Karena sampai kapanpun hatinya akan tetap ada pada Wilea, dan dia yakin, tidak ada satupun orang yang dapat mencintai Wilea melebihi dirinya.
***
"Akh! Aku bosan!"
Inda benar-benar tidak tau mau melakukan apa. Terkurung dalam villa ini, sendirian. Terutama ditinggalkan karena satu kesalahan yang setelah dipikirkan Inda, merupakan sebuah kesalahan. Karena ketika Inda memposisikan diri sebagai Jose, Inda pun akan marah seperti Jose. Apalagi Inda hanya menjadi pengantin pengganti kakak Listanya yang membuat Jose pasti lebih siaga karena Inda hanya orang utusan dadakan.
"Kalau di rumah Ayah dan Ibu angkat, aku punya satu jam tiap hari selain malam untuk istirahat. Tapi baru kali ini aku merasa, istirahat itu menyebalkan." Inda menggerutu. "Mungkin aku harus ambil kesibukan sendiri," gumam gadis itu sambil berdiri dan melihat jendela besar di depannya. Hanya ada taman, beberapa rumput liar serta pohon tinggi tanpa perawatan. Sungguh tiada yang tampak menarik untuk saat ini. Inda meletakkan telunjuk di dagunya. "Berkebun boleh tidak 'ya?" pikir gadis itu lagi. Ia merasa sedikit takut dengan kemarahan Jose yang seketika muncul di kepalanya. "Tapi, untuk apa aku takut? Toh Jose tidak ada di rumah. Paling, pulangnya malam. Jadi dia tidak akan marah kecuali ada Jose kedua di sini."
Tidak lama kemudian Inda memilih keluar dan menikmati udara segar dari oksigen yang disediakan pepohonan di sekitarnya. Inda berjalan-jalan di sekitar villa Jose sekedar melihat pemandangan yang cukup menjernihkan pikiran.
"Hey! Siapa kamu?" tanya Inda setengah berteriak. Ia sangat takut karena pria dengan baju kodok lusuh itu membawa gunting rumput di tangannya.
Terlihat pria tua itu menengadahkan kepala. "Kamu memanggilku, Nak?" dia mendekat.
Inda melangkah mundur membuat jarak mereka semakin jauh. Dia sangat ketakutan. Merasa diintimidasi meski wajah pria itu sangat polos, bahkan tengah bertanya-tanya mengapa seseorang memanggilnya.
"Jangan takut," ucap pak tua itu menenangkan Inda setelah sadar kalau perempuan muda di depannya ketakutan melihatnya. "Aku bukan orang jahat. Aku hanya tukang kebun."
Inda berhenti. Meski ketakutan takut masih mewarnai wajahnya. Pria paruh baya berusia 50 tahun itu mendekat dan memegang tangan Inda. "Nah, bapak bukan orang jahat 'kan. Makanya jangan takut," ucap pak tua itu melepaskan tangannya.
"E iya pak. Aku kira tadi bapak orang jahat karena ... megang itu," Inda menunjuk gunting rumput di tangan bapak di depannya.
__ADS_1
"Oh ini. Maaf 'ya. Tadi bapak liat ada ranting pohon yang perlu dipangkas. Jadinya perlu ambil gunting rumput. Eh, malah liat kamu di sini. Nak..."
"Aninda. Panggil Inda aja," balas Inda.
"Aninda. Kok baru kenal? Pembantu baru 'ya?"
"Pembantu?" Inda tidak mengerti maksud pak tua di depannya ini.
"Iya. Pembantu. Tiga hari sebelum pernikahannya, kata tuan muda Jose, ada pembantu baru yang akan datang. Kerjanya ya... merapikan rumah karna Istri tuan muda bukan orang yang suka bersih-bersih, bahkan saya pernah melihat istri tuan muda sombongnya! Minta ampun."
"Tapi saya bukan pembantu."
"Terus kamu siapanya? Teman istri tuan muda?"
Inda menggeleng. Dan terdiam sejenak. Kini dia mengerti mengapa malah dianggap orang asing.
"Saya Istri tuan muda."
"Hah? Kamu tidak bercanda kan?"
Inda menggeleng. "Tidak Pak. Nama tengah saya Lista. Dan tuan muda sering memakai nama itu," ucap Inda berbohong.
Seketika pak tua di depannya berlutut.
"Heh, pak pak. Kenapa berlutut di depan saya?" Inda panik. Ia bukan seseorang yang patut dihormati sampai seseorang berlutut di depannya. Orang tua lagi. Inda mengangkat tubuh pak tua di depannya. "Jangan memohon seperti ini, pak," pinta Inda.
Air mata pria tua mengalir membuat Inda iba sekaligus bingung dengan sikap pria berkulit coklat gelap di depannya.
__ADS_1
"Tapi aku sudah bersalah. Mohon jangan menghukumku."