Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
13. Apa Dia Berkepribadian Ganda


__ADS_3

Dengan buru-buru, Inda mengerjakan semuanya.  Berusaha tidak meninggalkan sebuah kesalahan yang akan membuatnya kena masalah seperti kemarin hari.


Perempuan itu seperti dikejar hewan buas. Seraya memasak, dia memilih dan memakaikan pakaian untuk Jose. Inda suka masak makanan yang berkuah. Kali ini dia memasak ayam kuah yang lima belas menit pertama sudah di oven supaya matang karena tau memasak di kompor memerlukan waktu sangat banyak.


"Tapi aku kurang suka melihatnya. Bisa diganti?" pinta Jose yang tidak suka melihat warna pakaian yang diberikan Inda. 


"Tapi ini warna hitam. Bukankah semua pakaian kantormu warna hitam?" tolak Inda dengan halus.


"Aku tau mereka berbeda. Pakaian ini untuk meeting di dalam perusahaan. Sekarang Aku mau ke luar kota."


Menyebalkan. Itulah kata yang diungkapkan Inda dari hati terdalam. Bagaimana mungkin Jose yang memberinya tantangan seperti ini, namun ia malah mempersulit hidupnya. Jika dia pergi dari sini, mungkin saja Jose akan memperlakukannya dengan kasar seperti kemarin.


"Baiklah, akan ku ganti. Mana pakaian untuk ke luar kotamu?" tanya Inda dengan sabar.


"Dalam lemari di ujung sana. Di rak paling bawah, dan susunan paling bawah juga."


Inda menghela nafas mendengar kata-kata Jose. Namun dia tetap mengikuti perintah pria itu.


Dalam sekejap mata Inda sudah menemukan pakaian yang diinginkan Jose.  Inda memberikan pakaian berwarna hitam yang terlihat sama dalam bentuk maupun teksturnya. Diamnya Inda saat memberikan pakaian yang diinginkan Jose tersebut membuatnya disindir oleh Jose dengan sebutan, "Perempuan cuek."


Inda berniat tidak membalas. Dan pergi ke dapur, meninggalkan Jose yang kebingungan dengan tingkah mendadak Inda. 


Inda melihat masakannya sudah matang. Tanpa menunggu waktu lama, gadis itu menuangkan sup dan daging ayam ke dalam mangkuk. 


"Tolong pakaikan."


Sejak kapan pria ini berubah menjadi manja? pikir Inda yang merasa lelah dengan semua pekerjaan yang dikerjakannya. Mulai dari merapikan rumah saat oven sedang memasak daging, sampai menyiapkan pakaian Jose itupun, masih ada kekurangan. Apa dia mau membuatku mati berdiri?


Inda meletakkan mangkuk di atas meja makan. Pria di depannya bahkan masih memakai kaus yang sama seperti saat Inda meninggalkannya. 


"Mana bajunya?" Inda mengulurkan tangan, ia meminta pakaian yang sudah diambilkannya sebelum pergi dari kamar mereka sebelum ini.


Tanpa menunggu lama Jose memberikannya. "Bisa tidak, kau jangan cemberut seperti ini?" pinta Jose dengan wajah memelas. 


Oh Tuhan. Apa ini sebabnya makanya keluarga Dehendra memberikan tuan Jose padaku secara cuma-cuma, bahkan memberikan janji kalau balas budiku pada keluarga itu akan selesai semudah ini?

__ADS_1


Entah mengapa, malah ada rasa menyesal yang dirasakan Inda saat ini. Terutama setelah melihat perbuatan Jose yang benar-benar di luar ekspektasinya.


"Apa kamu marah padaku?"


Dia berkepribadian ganda? Inda menebak-nebak dalam hati. Teringat sebelum ini Jose memberikannya tantangan yang cukup menyulitkan, namun sekarang pria itu malah berkata sangat lembut, seperti manusia polos, tidak tau apapun.


"Em, tidak. Aku tidak marah," jawab Inda cuek sembari memakaikan baju kepada pria di depannya itu.


"Lalu kenapa kamu cuek?"


Inda menghela nafas. "Ayo makan." Inda berusaha mengalihkan pembicaraan dengan membawa Jose duduk di kursi meja makan setelah membuat pria itu memakai pakaiannya. Inda menyiapkan piring dengan nasi, ayam dan sayur di depan Jose.


"Makan?"


Inda yang sudah duduk di kursinya, melihat Jose sekilas dan berkata, "Bukankah sebentar lagi kamu ada meeting? Cepat habiskan makanannya. Pasti bekerja bersama banyak orang membutuhkan banyak tenaga."


"Kamu mengusirku?"


Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan Jose yang pura-pura bersikap layaknya anak kecil yang ingin mengetahui banyak hal, membuat Inda menggigit giginya sendiri.


Jose berdiri dan berjalan mendekati Inda. Meninggalkan makanan yang belum dimakannya sama sekali. Kemudian berdiri di belakang tubuh Inda untuk segera menyentuhnya.


Inda yang memperhatikan tingkah pria itu hanya diam. Jose memberi pijatan yang mampu menghilangkan lelah di tubuhnya.


"Enak?" tanya Jose lagi dengan suara sangat lembutnya.


Inda mengangguk dengan senyuman yang berhasil dilihat Jose setelah dia kembali duduk di kursinya.


"Boleh menyuapiku?"


Inda menatap Jose yang sikapnya makin aneh-aneh. Namun dia tetap menurutinya. Apalagi setelah Jose sudah membantunya menghilangkan rasa lelah yang menyakitkan itu dari tubuhnya.


Inda menggeser kursinya dan duduk berhadapan dengan pria itu. Dia mengambil piring Jose dan mulai menyendokkan makanan ke dalam mulut pria itu.


Jose memandang Aninda yang berkulit sawo matang, namun sangat manis apalagi setiap pekerjaannya jarang memiliki celah keburukan. Wajah Aninda Anatari terbayang dalam ingatan Jose meski pria itu sedang meeting bersama beberapa klien di luar kota.

__ADS_1


"Jose. Pagi tadi kau aneh kali lah ku tengok," kata Ben sejam setelah mereka rapat.


"Aneh gimana?" tanya Jose yang terus tersenyum, seraya menikmati makanannya.


Ben merasa aneh melihat tingkah sahabatnya ini. Membuatnya bertanya dalam hati, Dia salah makan obat ya pagi ini?


Mood yang terlalu baik dan sangat sopan sejak pertemuan pertama pagi ini membuat Jose seperti iblis berwujud malaikat. Pasti dicurigai.


Malam hari tiba.


"Kita mau kemana sebelum ke Villa-mu?" tanya Ben setelah keduanya sampai di bandara kota.


"Ya langsung ke Villa."


Ben menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya kau bakal kemanaaa gitu sebelum ke rumahmu."


"Ya sekarang beda lagi."


Ben mulai berpikir dan menemukan satu jawaban. Yaitu, Jose pasti udah jatuh cinta sama istrinya sendiri! tebaknya sedang senyum lebar, penuh bayangan indah bagaimana pria jomblo seperti Jose akan memiliki pasangan yang tepat untuk menggantikan posisi Wilea, sahabat masa kecil mereka.


Melihat sahabatnya mulai berpikir ngaur, Jose berdehem. "Ekhm. Aku tau pikiranmu. Tapi bukan karna itu aku mau ke rumah."


"Heh. Mana ada laki-laki yang mau pulang ke rumah kalo ga ada penyebabnya. Lagian selama ini jelas-jelas kau jarang di rumah. Tapi sejak ada pengantinmu, kau jadi lebih betah tinggal di Villa daripada ketemuan sama aku."


"Jadi maksudnya, kau cemburu?" goda Jose seraya menggeleng. 


"Mana ada. Aku laki-laki. Pastilah, suka sama perempuan. Bukan sesama!"


"Ya gitu juga sama yang kurasakan. Tapi jangan kira aku suka sama dia ya! Aku hanya ketarik sama masakannya dan kepenurutannya sama apa yang kubilangin. Mana ada perempuan yang mau disuruh-suruh. Tapi dia, beda."


"Engg, aku tau kau lagi bilang dia itu istimewa dibanding perempuan yang dulu jadi pacarmu."


"Enak aja!" tolak Jose kesal.


"Neh, kau bahkan ngomong sambil malingkan muka. Aku tau kau hanya ngeles. Bilang cinta aja, kenapa sih! Lagian aku kan sahabatmu. Bukan orang lain yang bakal bocorin berita kemana-mana," jelas Ben kesal.

__ADS_1


__ADS_2