
23: Kedatangan Lista
Wajah Jose memerah. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Pantas saja ada orang sekitar yang memandangnya dengan tawa. Awalnya Jose bingung kenapa mereka berperilaku seperti itu. Namun sekarang Jose mengerti maksudnya.
"Kenapa Mama tidak mencoba menyadarkan Jose?" tanya Jose kesal.
"Yaaa karna Mama tahu kamu lagi marah. Dan Mama tidak mau, kalau kamu menyalahkan mama seandainya Mama ngomongnya macam-macam tentang pakaianmu," jawab Mama santai.
"Tapi sekarang Jose malu, Ma."
"Ya gantilah bajumu. Apa lagi?"
"Mama lah yang ambil bajuku," kata Jose yang tidak tahu mau ditaruh ke mana lagi mukanya karena kelakuan bodohnya hari ini.
"Wih, enak saja kamu. Kamu sudah dewasa dan kamu harus menyelesaikan masalahmu sendiri. Apa kamu tidak melihat kaki Mama sudah hilang sebelah. Kamu janganlah bersikap seperti putra kecil mama yang dulu. Sekarang kamu sudah dewasa. Tidak perlu diarahkan lagi. Pergilah ke mobilmu dan ganti di sana," ucap Mama tegas.
Buru-buru Jose berjalan ke parkiran. Ada banyak orang melihatnya dengan pandangan aneh, ada yang terpukau dan ada yang tertawa. Jose memaki dirinya yang tidak melihat penampilan karena kemarahan.
Seusai memakai pakaiannya, Jose membuka bagasi. Dia mengambil kotak bekal dan membawanya ke depan mamanya.
"Apa ini?" tanya Mama penasaran.
"Kotak bekal lah, Ma," jawab Jose.
"Iya. Mama tahu itu kotak bekal. Tapi yang Mama tanya ini untuk siapa dan siapa yang memasaknya?"
"Ini untuk kita dan dimasak Inda."
"Lalu kenapa kamu meninggalkan Inda setelah dia memasak makanan untuk kita?" Mama benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan putra bungsunya yang semakin keterlaluan.
"Kembali ke awal tadi. Jose kesal melihat Inda."
Mama menggeleng. "Jangan karena kekayaan, otak dan hati nuranimu jadi hilang, Jose."
Jose hanya diam menatap Mamanya.
__ADS_1
"Hukum karma itu berlaku loh. Sekarang kamu memperlakukannya sangat buruk, ada waktunya seseorang memperlakukanmu lebih buruk dari ini ketika di masa susahmu," peringat Mama.
"Mama menyumpahiku?"
"Tidak. Mama tidak menyumpahi putra Mama sendiri. Mama hanya memperingatkan, Tuhan itu tidak pernah tidur. Sekarang, Mama harap kamu jemput Inda dan minta maaf padanya! Mama tidak mau dia yang sudah baik padamu malah kamu jahati seperti ini."
Jose yang tidak mau membuat Mamanya sakit akhirnya pergi menyusul Inda.
"Jangan lupa bawa dia ketemu mama setelah kalian baikan!" teriak Maria saat Jose berjalan pergi meninggalkannya.
Jose membawa kendaraannya. Tak lama kemudian dia sampai di Villa.
Jose mencari Inda di mana-mana. Namun tidak menjumpainya Inda dimana pun, di segala sudut rumah ini. Jose sudah bertanya pada pak Kuwa namun pak Kuwa bungkam.
"Pak Kuwa. Jawab! Saya bertanya loh pak Kuwa!" ketakutan akan kehilangan Inda benar-benar menghantuinya. 'Ayolah, di mana kamu, Inda.'
"Did-di … kamar."
Kening Jose mengerut. "Saya sudah mencari istri saya di mana pun termasuk kamar. Tapi kenapa dia malah ada di sana?" tanya Jose tidak terima.
Jose membuka pintu yang tertutup. Seketika kedua netra Jose membulat lebar setelah dilihatnya seorang wanita yang berbaring menghadap ke arahnya dengan pakaian kurang bahan.
Jose mengerutkan kening. 'Apa ini benar Inda?' Jose ragu. Lantaran wajah perempuan di depannya ini sangat mirip dengan Inda. Namun sifat … wanita di depannya begitu agresif. Bukan seperti Inda. Namun meski begitu, Jose tetap mendekati wanita itu dan menyentuh dagunya. “Apa kau mau mengulangi kejadian semalam, nona?”
Mendadak, suara Jose dingin dan tegas. Matanya tajam setajam elang hingga wanita di depannya terlihat kikkuk. “Em, iya. Aku menyukainya. Apa aku boleh kita mengulanginya lagi?” tanya wanita itu yang suaranya terdengar gugup.
Jose tersenyum miring dan merobek pakaian wanita itu.
"Ke-kenapa kamu malah merobek bajuku?" tanya sang wanita tidak terima.
"Heh!" Jose tertawa meremehkan. "Aku rasa Istriku memanggilku dengan sebutan 'suami sayang'. Bukan aku-kamu," balas Jose dengan karangan buatannya. Dia mendekatkan wajah ke telinga wanita itu. "Sebenarnya siapa kamu, nona?"
Terlihat wanita itu ketakutan. "A-aku istrimu, Jose," lirih sang wanita dengan suara yang benar-benar mirip dengan suara Aninda.
"Katakan yang jelas, kamu siapa!?" suara Jose meninggi. Dia mencengkeram buah dada wanita itu dengan sangat kuat hingga sang wanita merintih.
__ADS_1
"Tolong hentikan, Jose," pinta wanita itu.
Jose menarik sudut bibirnya, seraya berdecih. "Istriku hanya Aninda Antari. Apa kamu suruhan Lista Dehendra?"
"Tid-tidak."
Jose merasa geram mendengar jawaban menyebalkan itu. Dia kembali melakukan kekerasan dengan mencengkram bahu wanita itu. "Katakan dengan jujur! Aku mau tahu siapa yang menyuruhmu datang ke atas ranjangku bahkan tanpa malunya mengatakan kau adalah Istriku?!"
"Aku istrimu, Jose!" teriak sang wanita setengah marah.
Hal ini membuat Jose semakin yakin kalau sang wanita bukan Inda tapi orang lain. ‘Inda 'kan orangnya suka menangis; sekecil apapun masalahnya’. Jose seperti memahami tingkah Aninda meski baru kurang satu minggu mereka bersama.
"Sekali lagi kutanya. Siapa kau dan siapa yang menyuruhmu datang ke atas ranjangku? Oh ya, satu lagi. Kemana Istriku, wanita!"
"Aku Istrimu, Jose. Harus berapa kali lagi kukatakan?!"
Jose membulatkan mata terkejut. Dia tidak percaya, wanita ini sangat keras kepala hingga menolak mengakui siapa dirinya selain dia adalah Istri Jose.
Kemudian Jose ingat satu hal. “Kamu Lista Dehendra?” tanya Jose dengan hati-hati.
Mendadak wanita itu mengalungkan tangannya di leher Jose. Dia tersenyum menggoda, "Akhirnya kamu paham. Aku Istrimu, sayang."
Jas menjauh dia tidak percaya akan bertemu Lista lagi. "Di mana Istriku?!"
"Ada di depanmu, Jose." Suara serak basah itu bertujuan untuk menggoda Jose. Lista berdiri dan mendekat. Dia menyentuh dada bidang Jose dengan telunjuknya, kemudian menampilkan ekspresi berhasrat yang jelas sangat menggoyahkan iman Jose.
"Mam-maksudku Aninda Antari. Ya, dia istriku, bukan kamu!" jawab Jose gugup.
Namun Lista menggeleng. Dia meletakkan salah satu tangannya di bahu Jose. Tatapannya sangat memikat. Bibir berpoleskan lipstik merah cerah serta dada tanpa busana yang membusung jelas mengganggu pikiran pria normal seperti Jose.
"Bagaimana mungkin kau berselingkuh secara terang-terangan begini, Suamiku? Menyebut nama wanita lain di belakangku. Kamu kejam!" Air mata buaya itu sangat memuakkan Jose. Lista benar-benar membuat Jose semakin jijik melihatnya
Jose menepis tangan Lista serta berkata, "Hilangkan sandiwaramu itu dan katakan, di mana Indaku?" tanya Jose kesal.
"Aku istrimu! Bukan dia. Jadi untuk apa kau tetap mencarinya? Biarkan kau hanya menyentuhku, sayang," ucap Lista yang tiba-tiba mengecup leher Jose.
__ADS_1
"Kau gila, Lista!" Maki Jose yang terus berusaha menahan hasratnya untuk wanita yang berusaha memancing nafsu terselubung dalam dirinya.