Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
34. Sudah Sering


__ADS_3

Jose menghampiri Inda, lelaki itu berusaha menjelaskan kalau ia tidak bermaksud membuat Inda kesal. Apalagi tingkahnya yang seperti lelaki berandalan di luaran sana.


"Maafkan ya, aku janji tidak akan melakukannya," ucap Jose memohon.


Inda hanya terdiam tanpa berkata, tentu saja hal ini membuat Jose semakin panik, "Jangan mendiamkan ku begitu, ini begitu menyakitkan untukku."


Inda menghela nafas, "Aku tidak marah, aku hanya sedikit tidak menyukai caramu bercanda."


"Ya, maka dari itu aku minta maaf."


"Untuk terakhir kalinya?" tanya Inda memastikan.


"Ya, untuk terakhirnya kalinya."


Sankin senangnya lelaki itu, dia sampai memeluk Inda tanpa menunggu persetujuan perempuan itu.


Inda membeku di tempat, matanya membulat sempurna, dan jantungnya berdetak abnormal, tidak seperti biasanya.


"Aku punya hadiah untukmu di kotak coklat itu," kata Jose setelah merasa semuanya sudah baik-baik saja.


Inda, tanpa protes langsung membuka kembali kotak coklat yang tanpa sadar dipegangnya.


"Coba makan yang itu, tapi jangan telan ya," Jose menunjuk salah satu coklat dengan bintik merah kecil di bungkusnya.


Lagi-lagi Inda menurut. Saat dia memakannya, perempuan itu menemukan kalau, sesuatu terasa mengganjal di lidahnya.


Mau tidak mau dia mengeluarkannya untuk menghapus rasa penasaran.

__ADS_1


"Apa ini?" gumam perempuan itu bingung.


"Ini kalung," jawab Jose. Dia mengambil susunan logam emas yang sedikit keluar dari mulut perempuan di depannya.


"Izinkan aku memakaikannya untuk perempuan yang paling berarti bagiku," kata Jose sebelum memasangkan kalung di leher Inda.


"Kamu cantik memakainya." Sekarang Jose berdiri di hadapan Inda, dan memandang perempuan bertubuh pendek di hadapannya dengan rasa bahagia


"Kamu cantik bagai bidadari," puji Jose. Inda hanya tersenyum kecil mendengarnya.


"Makasih," jawab Inda dengan menunjukkan senyum tipis-tipis.


"Aku ingin membawamu ke suatu tempat, tempat yang menurutku sangat menarik," kata Jose.


Tapi Inda terdiam dan menggeleng.


"Kamu setuju 'kan?" tanya Jose memastikan.


"Kamu pikir Mama tidak tahu? Mama sangat tahu, Inda. Malah mama mau ikut." Kata Jose pada Inda.


"Iya kan Ma?" Jose bertanya pada wanita yang duduk di kursi roda bergerak maju ke arah mereka.


"Iya, Jose."


Seketika pandangan Inda teralih, dia terkejut, "Kapan Mama ada di sini?" tanya Inda.


"Baru saja mama datang," jawab Maria.

__ADS_1


"Sudah lama kamu tidak keluar. Mama dan Jose berencana membawa kamu ke suatu tempat."


"Tapi sekarang sudah malam, Ma," ucap Inda memprotes.


"Tidak jauh kok. Itu ada di …"


"Ma. Kalau dikasih tau bukan kejutan namanya," tegur Jose.


"Oh iya. Mama lupa." Mama tersenyum malu dan menepuk pelan jidatnya.


Saat Inda terdiam mengamati Jose dan Maria, tiba-tiba sebua penutup mata dikenakan padanya.


"Apa ini?" tanya Inda panik.


Tiba-tiba saja terbayang kejadian yang menimpa dirinya berapa bulan lalu.


"Jaj-jangan …" sontak refleks tangan Inda mendorong Jose sangat kuat dan membuat lelaki itu jatuh.


Keadaan hening.


Maria maupun Jose saling tatap menatap.


"Sudah mama bilang, Jose. Jangan memancing ingatan buruk itu," peringat Maria.


"Maaf ma."


***

__ADS_1


"Hanya ke sini?" tanya Inda setelah mereka bahkan hanya sampai di lantai teratas villa Jose.


Ayolah, Inda sudah sering ke sini dikala ingin mendapatkan udara super segar selain taman yang memagari Villa Jose.


__ADS_2