
"Sepertinya dia perlu diberi pencerahan," pikir Jose memutuskan.
Tentu saja Jose tidak terima dengan pemikiran Aninda. Jose sangat mencintai perempuan itu, maka dia melakukan segalanya untuknya.
Jika tidak, mungkin Jose sudah membiarkan Aninda meninggal saat akan dilempar ke lautan di bawah jembatan.
"Tuan tidak perlu kesal seperti itu, pemikiran buruk orang trauma memang aneh-aneh, saya juga sudah sering berbicara padanya untuk tidak menuruti semua bisikan jahat dalam kepalanya. Tinggal menunggu pembuktian."
"Pembuktian seperti apa?" tanya Jose bingung.
"Yaaa, pembuktian seperti tuan harus selalu ada di samping nona Inda. Karena sekarang, trauma Inda sudah berangsur menghilang, tuan hanya perlu selalu ada di samping nona Inda tapi saya harap tuan jangan melakukan sentuhan sensitif meski menginginkannya. Saya anjurkan, tahan saja dulu. Penyembuhan tahap ini sangat penting. Karena nona Inda belum mempercayai setiap lelaki, jadi berlakulah baik."
"Tapi saya memang pria baik." Pengaruh kekesalan yang sebelumnya dialami Jose, membuat lelaki itu menjawab spontan tanpa berpikir dahulu.
"Iya tuan. Saya hanya mengingatkan. Pokoknya kuncinya jangan mengingatkannya pada kejadian tiga bulan lalu, dia masih sangat sensitif."
Jose pun setuju.
***
Dua hari setelah konsultasi, Jose diperbolehkan membawa Aninda pulang. Karena selama ini, Aninda tinggal di rumah psikiater yang membantunya kembali seperti Aninda yang dahulu.
__ADS_1
Sekarang Aninda tampak sangat sehat, tidak sekacau beberapa bulan lalu.
Jose sangat senang melihat Anindanya kembali bisa berbicara padanya. Meski perempuan itu sesekali melamun, tapi Jose berhasil menghentikan lamunannya.
"Apa kamu mau memakan sesuatu?" tanya Jose.
"Tidak, aku tadi sudah makan," jawab Aninda seadanya tanpa memandang Jose. Dia terus melihat keluar jendela mobil yang sedang membawanya pergi.
"Apa semasa tinggal di rumah nona Susan kamu senang?"
"Hem ya. Dia orang yang baik," jawab Aninda seadanya.
Jose memang tahu atikat Aninda adalah pendiam, tapi Jose merasa aneh dan takut jika Aninda terus menjawab singkat dan seadanya seperti ini.
"Menantu Mama …" Maria datang menyambut Aninda dengan sebutan menantu. Wanita paruh baya itu keluar dari dalam rumah dan tampak akan memeluk Aninda.
"Mama merindukanmu."
Aninda hanya tersenyum menanggapi kerinduan Maria.
"Mama sudah lama menunggu kedatanganmu, apa kalian sudah bisa saling berpegangan tangan?" tanya Maria setelah pelukan mereka terlepas.
__ADS_1
"Sudah ma," jawab Jose.
"Coba kalian berpegangan tangan sekarang," pinta Maria dengan girang.
Tampak Arinda menolak dengan tidak bereaksi apapun.
Jose yang paham langsung berkata, "Ma, ayo kita masuk saja."
Maria mengangguk meski bingung kenapa anaknya berkata begitu.
Jose masuk sambil mendorong kursi roda yang diduduki Mama. Sebelumnya Maria mendorong kursi rodanya sendiri saat keluar dari rumah.
Aninda tampak melihat rumah dengan tatapan kosong. Jose yang memperhatikannya pun langsung memanggil perempuan itu.
"Inda, ayo kita makan. Pasti Mama sudah masak di dapur. Iya kan Ma?"
Maria mengangguk tersenyum. "Iya. Mama sudah masak enak sebelum ini. Kalian pasti lapar setelah perjalanan jauh."
***
"Inda kenapa, Jose. Kelihatannya dia seperti bukan Aninda yang Mama kenal," ucap Maria tidak terbiasa dengan sifat Aninda yang terlalu pendiam.
__ADS_1
Meski Maria tidak pernah bertemu Aninda saat Aninda penuh dengan kewarasan, tetap saja dia tahu gerak-gerik Aninda. Maria suka memperhatikan Aninda yang waras lewat CCTV yang terhubung dengan rumahnya. Jadi Maria tahu betapa baiknya Aninda meski hanya sebagai orang 'asing' diawal