
Aninda sebagai perempuan normal tentu saja merasa hatinya terbunga-bunga kala mendengar kalimat romantis yang Jose ucapkan.
Tapi, dia tidak menunjukkan ekspresi bahagia sebagaimana hatinya berkata.
Melainkan dia selalu bersembunyi di balik wajah datar, murung yang menunjukkan betapa dirinya belum terbiasa dengan keberadaan Jose dalam kesehariannya.
Meski ia tahu, bahwa lelaki itu sudah membantunya sangat banyak, menyelamatkannya bahkan mengobatinya.
Sekarang, Jose bahkan memberikan hadiah yang sangat mahal baginya.
Cokelat Thorntons yang disukai banyak orang. Saat Inda membukanya, perempuan itu melihat bola-bola coklat yang terbungkus kertas plastik berwarna kuning emas.
"Makanlah," ucap Jose yang segera diikuti Aninda.
Dia memakannya, bahkan tanpa sadar berkata, "Enak…" senyum terbit sangat lebar dari kedua sudut bibirnya.
"Mana coba?" Jose mendadak menginginkan coklat yang sedang dikonsumsi Inda.
Dengan polosnya perempuan itu memberi satu bungkus coklat tapi Jose menolak.
"Tidak. Aku tidak mau yang itu."
"Lalu?"
__ADS_1
"Hem, yang sedang kamu makan."
Ucapan Jose membuat Inda menolongo, "Kamu mau makan apa?"
"Yang dimulutmu."
Seketika kening Inda mengerut, "Tidak boleh," ucapnya menolak. "Yang ini saja." Jujur, ia tidak suka dengan maksud terselubung Jose.
Meski kepalanya sudah sedikit mendapat ketenangan setelah beberapa hal yang kejadian sebelum ini, tetap saja ia tidak suka melakukan sentuhan berlebihan seperti itu.
Setelah memberikan satu buah coklat, dia pergi.
"Padahal aku juga tidak berniat melakukannya," gumam Jose sedih.
***
Ini covernya. author pake nama pena baru, Sweety Gemilang.
Dan ini sedikit ringkasan babnya.
Bab 1. Berita Mengejutkan
__ADS_1
"Tega kamu, Yoga," kata Arinda sambil memukul dada bidang Yoga–kekasihnya dengan air mata tak terbendung. Dia sangat putus asa setelah mengetahui kabar pernikahan Yoga dengan perempuan lain.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Yoga katakan. Lelaki itu tidak bertindak lebih, meski sekedar menenangkan jiwa yang sedang terluka.
"Bukannya kamu bisa menolaknya? Kenapa harus bersama perempuan itu …" Arinda menyandarkan kepala di dada bidang Yoga. Kepalanya cukup pusing menangisi Yoga yang akan akan menikahi wanita lain dan membuat hubungan yang terjalin selama tiga tahun ini kandas semudah itu.
"Semua karena kakek, beliau akan meninggal dan permintaannya hanya satu, dia harus melihatku menikah, tapi dengan wanita pilihannya." Yoga menjelaskan dengan suara serak khas orang menangis. Kesedihan yang dirasakannya tak tertahankan lagi. Dia juga sedih, tapi mau gimana lagi. Keberadaannya bagaikan buah simalakama, betapa situasi sulit sedang menghimpitnya.
"Iya aku tahu. Tapi maksudku, kenapa kamu ga berusaha nolak? Apa kamu ga mau kita sampai nikah, gitu? Atau kamu ga cinta lagi sama aku?" tanya Arinda menatap Yoga dengan mata yang berharap belas kasihan.
"Aku juga menolak mati-matian karena aku sangat mencintaimu. Tapi tolong mengerti, aku melakukannya karena keluargaku yang memaksa. Mereka takut kena karma karena ga ngejalanin wasiat terakhir orang yang mau mati."
"Begitu 'ya?"
"Iya."
Kemudian Arinda terdiam. Dia tahu ada mitos tentang wasiat yang kalau tidak dijalani akan kena karma. Namun masih begitu, kini perasaannya yang sedang dipertaruhkan.
"Mereka juga akan …" Baru menyelesaikan tiga kata, mendadak Yoga diam.
"Mereka akan apa?" tanya Arinda penasaran.
Yoga yang terdiam terus menatap Arinda dengan tampang putus asa.
__ADS_1
...****************...
Mampir ya. Siapa tau suka😆