
"Dokter Susan sudah memperingatkan untuk selalu sabar menghadapi sikap Inda. Kata dokter, hanya perlu sedikit langkah saja untuk mengembalikan Aninda ke dirinya yang sebelumnya. Makanya aku tidak terlalu memaksakan keinginanku untuk dilakukannya," ucap Jose menjelaskan.
Maria langsung mengerti, wanita tua itu menyetujui rencana sang anak untuk membuat Aninda sembuh secara total, dengan begitu ia akan dengan mudah menjadikan Inda menantunya yang sebenar. Ia tau Jose belum menikahi Inda, dan ia ingin Jose semakin mencintai Aninda lebih besar lagi sebelum mendapatkan kabar bahagia.
"Mama kira kita harus sering-sering membawa Inda jalan-jalan keluar," susul Maria.
"Hem, Jose juga mau begitu. Tapi,"
"Tapi apa?"
"Pekerjaan Jose. Selama tiga bulan ini Jose tidak bekerja dengan baik, perusahaan berada dalam tahap standard, tidak ada naik turun yang spesifik. Jadi, Jose mau lebih fokus pada perusahaan."
Namun tatapan Maria berubah. Perempuan tua itu menjadi sangat dingin yang segera dapat disadari Jose.
"Tolong Mama jangan ngambek gini, Jose hanya ingin meningkatkan perusahaan Jose ke arah yang lebih baik."
__ADS_1
"Ke arah yang lebih baik?" suara Maria meninggi.
"Apa yang kamu maksud sebagai arah yang lebih baik? Perusahaan kamu akan tetap berdiri tegak karena memang dia bisa berdiri sendiri. Kamu hanya perlu sedikit mengendalikannya, dan itu tidak memerlukan waktu cukup lama menurut mama. Tapi ketika kamu ikut menyenangkan calon menantu Mama, Mama yakin Aninda akan menjadi pendamping yang terbaik. Kekayaan bisa dicari, tetapi kewarasan dan nyawa tidak dapat dibayar dengan apapun."
Maria benar-benar marah pada anak lelakinya ini.
Jose menghela nafas. Dia tahu betul Maria sangat menginginkan Aninda menjadi istrinya. Itu sebabnya Maria terus memanggil Aninda sebagai 'menantu'.
"Ya sudah deh. Jose akan temani Aninda."
Seketika senyum Maria kembali. "Nah begitu dong! Mama mau kamu semakin dekat dengan Aninda. Dia perempuan baik, Mama menyukainya."
***
Pagi hari.
__ADS_1
Aninda tidur berpelukan dengan Maria. Meski Aninda selalu menjadi orang yang benar-benar pendiam setelah tindak pelecehan di masa itu,
tapi Aninda masih memiliki sisi waras dimana dia merasa bersyukur bertemu Maria.
Maria sangat baik, dan mendukung Aninda dalam proses penyembuhannya. Tidak pernah ditemukannya seseorang yang memiliki kebaikan seperti Maria. Apalagi Maria adalah wanita paruhbaya.
Dalam hidup Aninda, dia sudah menemukan perempuan tua adalah monster. Mereka akan memperlakukan perempuan muda seperti budak terutama jika perempuan itu bukan bagian keluarga.
Jujur demi appaun, Inda merasa terharu.
Dia terus menatap Maria yang memeluknya erat. Tidak pernah dirasakannya pelukan sehangat ini, seumur hidup Aninda terus merasa kesepian. Tapi di depan Maria, hidup Aninda bagai tinggal di surga. Betapa menyenangkannya.
"Kamu kenapa menangis, Menantu?" tanya Maria yang tiba-tiba membuka matanya. Tentu saja hal ini membuat Aninda terkejut.
"Ada yang salah, sayang?" tanya Maria lagi sambil menyeka air mata Aninda.
__ADS_1
"Tidak, nyonya," jawab Aninda dengan suara lirih.
"Ah, kamu. Masih saja memanggil Mama dengan panggilan nyonya. Aku adalah Mertuamu, tapi pangg saja Mama. Sudah berapa kali Mama katakan, panggil Mama," ucap Maria menunjukkan kekesalannya.