
Bab 8: Ciuman Menyakitkan
Inda terus diam tidak berani menjawab. Isi kepalanya dibayang-bayangi tentang kata-kata bibi Vanesha yang menjelaskan pribadi Jose yang tidak akan membiarkan orang lain mempermainkannya. Apa yang harus kubuat… kata hati Inda yang cemas dengan nasibnya. Apa dia harus menjelaskan semuanya atau diam dan menyembunyikan semua ini dalam hatinya. Tapi bagaimana cara Inda menyembunyikan semuanya sementara Jose sudah mengendus kebohongan yang diciptakannya.
“Cepat, aku sudah memberi opsi paling bagus loh. Apa seseorang mengancammu untuk tetap diam? Katakan, apa yang mereka rumorkan tentangku.” Suara Jose sangat lembut saat berbicara. Meski tetap terasa aura dingin di dalamnya.
“Apa mereka berbicara tentang kekejamanku yang tidak akan membiarkan seorang pun mengusik?” tebak Jose. Ditunggu hingga hitungan ke sepuluh, tetap saja Inda diam.
“Akui sekarang sebelum aku mengatakan semuanya dan terimalah hukumanmu.” Jujur Jose sudah tidak dapat sabar dengan semuanya. Meski Jose tidak tahu pasti siapa perempuan ini dan tujuannya memasuki kehidupannya sebagai seorang Istri yang jelas bukan Lista Dehendra. Perbedaan ciri fisik dan karakter yang kelihatan sangat berbeda membuat Jose berasumsi kalau perempuan di hadapannya merupakan perempuan bayaran.
“Jelaskan semuanya!” teriak Jose mencengkram bahu Inda. “Apa tujuanmu datang kemari!”
Inda mundur ketakutan. Hingga tubuhnya menyentuh sebuah meja kecil di samping ranjang dan menjatuhkan kotak berbentuk hati yang lusuh.
Dugh! Seketika pandangan Jose teralih. Dia terkejut kala melihat benda berharga baginya terjatuh. Pria itu mengambil kotak berbentuk hati yang tergeletak di lantai. “Apa yang sudah kau lakukan?!”
“Mam-maafkan aku.” Kepala Inda menunduk, dia tidak berani melihat amarah Jose yang tampak benar-benar tidak terkontrol lagi. Jose berdiri dan mencengkram dengan kuat leher Inda. Jose memberikan sentuhan bibir yang sangat kejam, menggigit kulit bibir Inda yang tidak pernah tersentuh sebelum ini. Segalanya terasa sangat mematikan bagi Inda. Sekuat tenaga Inda melepas tangan Jose di lehernya, berharap hal ini akan segera berakhir. Namun tidak kunjung berhasil.
Beberapa detik kemudian akhirnya Jose melepas ciuman mematikan itu, Inda langsung jatuh terduduk di lantai di mana dia tampak berusaha mengambil udara di sekitarnya dengan terburu-buru. Tubuh perempuan itu tidak berbusana, handuk yang dipakai sudah bertumpuk di lantai. Inda menangis karena ciuman pertamanya diambil tanpa pengalaman yang baik seperti cerita teman-temannya di sekolah sewaktu SMA dan banyak novel romantis yang ia baca. Kini Inda yakin jika alasan keluarga angkatnya menjadikannya tumbal hanya untuk menghadapi pria se-iblis Jose.
“Kamu jahat!” ucap Inda sambil terisak.
__ADS_1
“Bukankah berbohong untuk kebutuhanmu sendiri lebih jahat dari yang baru saja kulakukan?” Jose menyeka bibirnya yang baru saja menempel pada bibir Inda.
“Aku tidak melakukan apapun yang hanya menguntungkan hidupku, aku terpaksa melakukannya! Ibu tiriku memintaku mengucapkan janji suci karena kak Lista hilang semalam. Aku hanya anak tiri di keluarga, jadi lebih memilih menyetujui pernikahan yang mengatasnamakan kakak tiriku supaya keluarga tidak malu, lagi pun mereka menjanjikan jika aku menikah, budi baik keluarga akan terbayarkan tanpa bunga.” Tanpa ada kebohongan apapun Inda berbicara tentang kenyataan sebenarnya.
Jose sedikit tidak percaya dengan telinganya sendiri, kenapa kata-kata Ben benar semua 'ya? Namun hanya sebentar ia memperlihatkan ekspresi tidak percaya di hadapan Inda. Detik kemudian dia bersikap cuek, seolah tidak peduli dengan keadaan perempuan di hadapannya.
“Dengan kata lain kau diserahkan keluarga angkatmu untuk menghadapiku?” tebak Jose.
Inda menelan saliva dengan susah payah, ia mengangguk karena merasa hidupnya kedepan tidak akan berada dalam situasi baik-baik saja.
Jose tersenyum licik, isi otaknya penuh dengan rencana hebat untuk membalaskan dendam masa lalu pada seorang Lista, tapi keluarga jahat yang tersembunyi di balik topeng kedermawanan itu ternyata mampu bergerak selangkah lebih maju darinya. Jose menatap perempuan di hadapannya, kemudian berjongkok dan menyentuh dagu Inda. “Katakan siapa namamu, wanita.”
“Anin-da Antari. Bis-sa dipang-gil In-da,” jawab Inda dengan suara gemetarnya.
Inda mengangguk ketakutan. Wajahnya pucat, bahkan udara di sekitarnya mendadak hampa membuatnya sesak. “Tapi aku bukan kak Lista.” Inda berusaha mencari kemungkinan terkecil supaya dia tidak terkena masalah dengan Jose.
“Sayangnya mereka sudah melemparkanmu ke gua singa yang kelaparan. Hiduplah di sini mulai sekarang, Inda. Patuhi segala keinginanku yang adalah peraturan dan tugas untukmu mulai detik ini. Selama melakukan yang terbaik, maka hidupmu akan aman. Mengerti?”
“Mengerti!”
Jose tersenyum kecil melihat ketakutan perempuan lugu bernama Inda yang tampaknya memiliki sesuatu menarik. “Sekarang aku mau kau melayaniku sekarang.” Jose sangat penasaran melihat bagaimana perempuan ini melakukan pekerjaan keduanya setelah masak tadi sore.
__ADS_1
Inda melihat Jose dengan ekspresi gugup. Dia ingin menolak. Namun ciuman menyakitkan tadi benar-benar membuatnya trauma. Jose meninggalkan Inda dan tidur di ranjang. Pria itu menunggu kapan Inda akan bergerak dan mulai melayaninya. Namun lama kelamaan, ia juga tidak sabar. “Sampai kapan aku menunggu hem?”
Inda sadar dari lamunannya. Kapan Jose pergi dari hadapannya pun, Inda tidak tahu. Dengan langkah lemah, Inda berjalan mendekati Jose. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Ia tidak percaya sebentar lagi status kegadisannya akan menghilang dan pasti itu sangat mengganggunya kedepan.
“Lakukan tugasmu,” ucap Jose dengan suara datar mengandung kekesalan.
“Bab-baik, akan segera kulakukan.” Dengan perlahan Inda membuka pakaian Jose. Namun segera tangannya dicekal pria yang memperlihatkan wajah bingungnya.
“Kenapa dihentikan?” Inda mencoba bertanya.
“Apa ini yang kau maksud sebagai sentuhan?” tanya Jose dengan ekspresi datar.
Inda tidak mengerti. “Bukankah ini yang disebut sebagai melayani?” Apa mungkin kata melayani untuk pria ini berbeda dari biasanya ya? pikir Inda bingung.
"Aku memintamu untuk memijatku. Badanku sakit semua. Jadi sebagai pendampingku, aku harap kau punya skil memijat."
Inda seperti mendapatkan angin super segar. Ia tidak perlu melayani pria yang bukan pasangan sahnya, dan menurutnya ini merupakan berita yang baik.
"Aku pandai memijat. Jadi aku harap kamu menyukainya." Inda menunggu sampai Jose menelungkupkan tubuhnya. Setelah itu Inda meletakkan tangannya di punggung Jose. Tubuh pria ini sangat berotot. Inda yang biasanya memijat Ayah angkatnya tidak percaya, ternyata ini rasanya saat memijat tubuh orang lain. Berbeda.
"Eghhh. Di sebelah kiri, Inda." Jose sangat menikmati pijatan Inda yang sangat menyenangkan. Sebenarnya dia hanya bermain-main sebab teringat kata-kata almarhum neneknya yang sudah meninggal lima tahun lalu.
__ADS_1
Neneknya berkata, "Pijatan seorang Istri bisa memuaskan seluruh jiwamu melebihi pijatan seribu orang tukang pijat di luaran sana." Meski jelasnya Jose tidak menikahi Inda, ia hanya meminta Inda memijatnya. Namun ini lebih menyenangkan daripada terapi yang sering dilakukannya setiap weekend.
Apa dia saja 'ya yang jadi petugas memijatku untuk selanjutnya? Pikir Jose disela Inda yang melakukan tugasnya.