Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti
20. Ini Baru Awal Mengerjaimu


__ADS_3

"Anak-anak? Mereka bisa diajak?"


Jose mengerutkan kening mendengar jawaban perempuan di depannya ini. Sejenak ia berpikir dan setelah mendapat jawaban yang cukup masuk akal, ia kembali berbicara.


"Maksud kamu anak-anak yang tadi kamu dongengkan itu?"


"Iya. Hampir semua anak-anak masih ada di sini. Mereka pasti akan membantu. Apalagi dia suka dengar cerita tentang saling menolong sesama. Mereka pasti akan mau," jawab Inda memaksa Jose secara halus dan perlahan.


Ayolah, dia sangat ingin memberi semacam bantuan sosial untuk orang di luaran sana. Bukan untuk mencari nama. Namun ia ingin tau rasa senang tersendiri yang dirumorkan begitu saling berbagi.


“Memang kamu pikir semuanya semudah pikiranmu?”


Kata-kata Jose membuat Inda mengerutkan kening “Maksudnya?” tanya Inda.


“Area sejorok itu tidak jauh dari kriminalitas,“ jelas Jose.


“Tapi kan kita hanya berbagi. Tidak akan ada kriminalitas.” Inda berusaha meyakinkan Jose akan keputusannya.


Namun tentu saja Jose menolak. “Tolong mengerti Inda. Dalam sistem berbagi kepada orang-orang, tidak akan ada anak-anak di dalamnya. Meski anak-anak bisa membantu, tetap saja mereka rawan mengalami penculikan. Badan mereka masih kecil. Dan sekali ditarik keluar dari lingkungan pengawasan kita, sudahlah."


“Lalu siapa yang bisa kita ajak?" tanya Inda dengan suara kecilnya. Dia lemas karena Jose tidak menyetujui keinginannya.


"Semua orang dewasa. Aku akan mengurusnya nanti. Tapi kita harus pulang untuk istirahat. Besok kita pergi ke pantai." Jose mengambil semua barang belanjaan perempuan di depannya ini dan menggandeng tangan Inda untuk membawanya pulang. Ia tidak ingin ada penolakan, atau kemarahan menanti Inda karena Jose tidak suka dibantah.


Setelah sampai di mobil, Inda hanya melihat Jose dengan kesedihan mendalam. Ia tidak bisa menolak. Pikirannya kembali pada kesadaran, dia bukan siapa-siapa dibanding Jose.


"Semua barangmu sudah ada di bagasi. Kapan hari aku akan mengajakmu untuk berbagi. Tapi tidak sekarang. Kamu tau 'kan aku orang sibuk," Jose berusaha mengambil pengertian Inda untuk keadaannya.


Inda hanya menghela nafas dan tersenyum paksa. “Aku akan menunggu waktu itu.”


Jose menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobil. “Aku tidak ingin membatasi pergerakanmu. Aku tau keinginanmu untuk membantu orang-orang adalah keinginan yang baik. Namun berbagi kepada rakyat berkekurangan bukan hal mudah."

__ADS_1


"Aku mengerti." 


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan diantara keduanya. Inda maupun Jose sibuk dengan pikirannya sendiri. Mereka tidak ingin mengganggu satu sama lain karena memahami kalau perkataan salah satu di antara mereka bisa saja mengganggu yang lain.


Besok harinya.


"Semua makanannya sudah siap?"


"Sudah. Tapi kenapa aku harus menyiapkan makanan sebanyak ini?"


"Nanti kamu tahu sendiri."


Inda menatap tubuh Jose yang membawa tiga rantang bekal. Seiring detik berjan, pria itu semakin hilang dari jarak pandangnya. Tadi pagi setelah Inda bagun dari tidur, Jose memintanya memasak bihun goreng dengan porsi sepuluh orang. 


Inda selalu mencoba bertanya, tapi tidak dijawab dengan benar. Inda menghela nafas, kemudian mengambil sarung tangan beserta sabun pencuci piring dan mulai mengerjakan semua barang yang berserakan karena memasak bihun goreng pesanan Jose.


“Kamu tidak siap-siap?” tanya Jose tanpa dosanya setelah kembali dari bagasi mobil untuk meletakkan tiga rantang mie bihun goreng beserta nasi-nasinya.


Inda hanya melirik Jose sebentar sebelum kembali bersikap cuek dengan sibuk dengan piring di hadapannya.


“Aku akan mandi sebentar lagi, tolong persiapkan pakaianku ya.” Jose pergi dari dapur lantas membuat Inda menghela nafas tanpa berkata-kata.


Sepuluh menit sudah berlalu. Inda selesai dengan cuciannya. Dia mengambil satu set pakaian santai dari lemari besar Jose, dan meletakkannya di atas ranjang. Tidak lupa dia juga mengambil pakaian, handuk serta alat mandinya. Dan pergi sebelum Jose keluar dari kamar mandi; karena pasti Jose akan meminta hal-hal menyebalkan seperti memakaikannya pakaian. ‘Huh, memang seperti sedang merawat anak kecil,’ kata hati Inda setiap kali disuruh Jose melakukannya.


Inda mandi di kamar mandi tamu. Hanya mandi singkat, sebelum akhirnya Inda keluar dengan pakaian melekat di tubuhnya. Inda juga membawa baju kotor yang sudah dibersihkan saat mandi untuk dijemur. Saat melewati kamar, Inda melihat Jose berkutat dengan laptopnya hanya memakai mantel mandi. Ia berhenti. Mengernyit, agak bingung. ‘Kenapa dia tidak memakai baju, ya?’ akhirnya Inda memutuskan menghampiri Jose.


"Kenapa bajumu belum kamu pakai? Ada yang salah ya?" tanya Inda berusaha mengetahui penyebab Jose belum memakai pakaiannya.


Jose hanya melirik sebentar. Dan kembali fokus pada laptopnya.


Inda kesal karena dicuekin. Tapi dia mengambil jalan aman, dengan tidak berdebat. Inda keluar dari Villa dan menjemur pakaiannya. Tepukan di bahunya membuat Inda menoleh. Ternyata ada Jose datang dengan mantel bajunya yang belum kunjung diganti.

__ADS_1


"Apa," tanyanya rada cuek.


‘‘Sudah mulai pandai mencueki suami sendiri ya?’’ Jose memperlihatkan senyum pada Inda yang membuat Inda menghela nafas singkat.


‘Jelas-jelas kamu bukan suamiku. Kapan aku menikah denganmu? Kita hanya dipersatukan oleh keluarga angkatku yang sampai sekarang tidak menampakkan wujudnya seolah aku memang ditakdirkan untuk menghadapi sifat manja pria ini setiap hari.’


"Bisa tolong pasangkan bajuku?" pinta Jose tanpa malunya tidak peduli sekarang ada di mana.


‘Huh, beruntung sekitar Villa ini hanya ada pepohonan yang menyaksikan. Coba kalau itu adalah tetangga julit. Kemana wajahku akan kutaruh kalau digosipin,’ gerutu Inda dalam hati. Jujur, dia semakin tidak mengerti melihat sifat Jose yang lama kelamaan seperti anak kecil yang menggantungkan hidupnya sepenuhnya hanya pada sang Ibu.


"Ini bajunya, kenapa kamu tidak memakaikannya padaku? Hari akan semakin siang loh," peringat Jose yang membuat Inda merampas baju di tangan Jose serta pergi ke Villa.


"Kenapa tidak di luar aja?!" teriak Jose yang lagi-lagi sedang mengerjai Inda dengan berbagai tingkah kekanak-kanakannya.


“Kamu mau itumu kelihatan, hm? Kalau aku sih masih punya pikiran ya, maka aku mau kita di Rumah aja,” ucap Inda seraya berjalan.


Jose malah tersenyum lucu melihat tingkah Inda yang semakin lama sangat menggemaskan. ‘Andai aku bisa menggigitnya sekarang,’ pikir Jose senyum-senyum sendiri.


“Ayo cepat. Katanya hari akan semakin siang,” seru Inda malas. Ia menatap pria di depannya yang bahkan berjalan seperti anak kecil dan senyuman anehnya itu membuat Inda jengkel setengah mati. ‘Dia tidak mengalami gangguan jiwa ‘kan?’ pikir Inda.


“Aku sudah di sini. Cepat pakaikan pakaianku,” kata Jose seraya tersenyum geli.


“Iya, aku pun tahu kamu ada di sini.”


“Makanya, cepat.”


"Dasar laki-laki berperilaku kanak-kanak!" cibir Inda cemberut.


"Aku hanya bermain-main dengan Istriku sebelum ada anak yang menghalanginya," ucap Jose bercanda. Ia semakin terhibur mendengar ketidaksukaan Inda pada sifatnya yang rada-rada.


Jose memang suka mengerjai orang. Bukan seperti rumor yang beredar, kalau Jose adalah orang kejam dan berdarah dingin. Terutama dengan sifat Inda yang baik sejauh ini. Sangat patuh, polos dan tidak banyak menuntut.

__ADS_1


“Kita bukan suami istri Jose,” peringat Inda.


“Tapi sebentar lagi aku akan menikahimu."


__ADS_2