
HAPPY READING.....
Bulan Syahara Schueller
pada akhirnya hari dimana kamu merasa bosan akan tiba lalu meninggalkan orang-orang yang selama ini selalu ada untuk kamu.
Hari ini Bulan dan Bintang cukup menjadi perhatian UFOST karena mobil baru Bintang yang mahal itu, terlebih mobil itu dinaiki oleh Bulan dan Bintang yang menjadi pasangan misterius menurut UFOST tidak jelas hubunganya.
Rosan yang kebetulan sedang memarkir montornya melihat Bintang dan Bulan yang juga baru turun dari mobil dan menghampirinya. “Mobil baru ni ye?” goda Rosan.
“Hooh” jawab Bintang se-adanya. Bulan masih sama dia selalu acuh dengan teman-teman Bintang.
“Kok bareng sama Bulan? Emang anak baru yang kemarin didepan gerbang lo kemanain?” Rosan memang paling up to date mengenai hal-hal yang berhubungan dengan cecan.
“Vani maksud lo? Dia cuma temen waktu kecil!” jelas Bintang.
“Sebastian lo banyak juga ya ternyata” goda Rosan sampil menepuk pundak Bintang. ”Gue duluan. Mau nyamperin gebetan gue” pamit Rosan lalu berjalan cepat meninggalkan Bulan dan Bintang yang sedang berjalan menuju koridor kelas.
“Hai Bintang! Hai Bulan!” sapa Vani yang tiba-tiba muncul dibelakang Bintang.
“Lo tau dari mana nama gue” ucap Bulan cepat plus cuek.
Vani sedikit terkejut melihat tingkah Bulan yang sedikit berbeda dari yang lainnya, ”Ehh..anu..itu gue kemarin nanya ke Bintang terus dikasih tau deh” Bulan hanya mendengarkan saja dan enggan menanggapi ucapan Vani. Jujur ia risih dengan Vani.
Hening sedari tadi hanya langkah kaki mereka bertiga yang terdengar. Vani pamit masuk kelas duluan karena memang kelasnya yang berada dibawah kelas Bulan dan Bintang sedangkan, Bulan dan Bintang masih tetap enggan berbicara.
Jam terakhir adalah pelajaran olahraga untuk kelas Bulan dan Bintang namun pak Anton tidak hadir karena ankanya yang sedang sakit jadi semua siswa free game tapi tidak ada yang boleh masuk kelas kecuali ada keperluan mendesak.
__ADS_1
Oleh karena itu Bulan menikmati free game ini dengan duduk dipinggir lapangan basket sambil melihat Bintang yang tengah gesit bermain basket.
Bintang menghentika permainanya dan berjalan menghampiri Bulan yang tengah duduk sendirian di pinggir lapangan padahal semua teman-teman cewe mereka asik bergerombol mengosip.
“Lo kenapa sih lan?” Tanya Bintang merasa aneh dengan sikap Bulan hari ini.
Bulan mendongakkan kepalanya menatap Bintang.“Nggak papa” ucapnya singkat lalu menatap lurus kearah lapangan.
“Gue tau lo nggak suka sama Vani tapi, dia baik kok. Lagian lo nggak biasa cuma temenan sama gue doang. lo harus punya temen lagi palinggak cewe.” entah ada angina apa hari ini Bintang berani menyarankan itu kepada Bulan.
“Cewe itu ribet dan rumit” Bulan berbicara dengan tatapan kosong.
“Lo nggak sadar kalau lo sendiri itu cewe?” cibir Bintang lalu pergi menuju kantin dengan teman-temannya dan meninggalkan Bulan sendirian.
Bulan tersenyu getir memandangi punggung Bintang yang semakin menjauh dan hilang. Dia sadar cepat atau lambat ini pasti akan terjadi.
Karena banyak siswa yang sudah kembali ke kelas Bulan pun memutuskan kembali ke kelasnya yang berada di lantai dua. Saat berjalan menaiki anak tangga Bulan tekejut melihat Vani yang dengan sanatainya memainkan ponsel, Vani yang merasa diperhatikan pun mendongakkan keplanya dan tersenyum kepada Bulan.
“Hai!!” sapanya yang hanya diberi tatapan dingin dari Bulan sepertinya Vani sudah biasa dengan sikap Bulan yang seperti itu.
Entah kenapa menurut Vani Bulan itu unik, dan dia bertekad ingin menjadi temannya Bulan.
“Tunggu!” Bulan pun mengentikan langkahnya. “Lo kanapa sih?, gue cuma mau temenan sama lo” ucap Vani lalu berjalan menaiki tangga.
”Stop!!" Bulan berbaik menatap Vani intens. "Gue nggak bisa temenan sama lo jadi, jangan sok care sama gue” potong Bulan lalu berlari menuju kelasnya.
Orang seperti Vani memang sangat ambisius dalam hal apapun Bulan harus sedikit berhati-hati dengan Vani, meskipun ia tahu niatnya baik tapi Bulan takut jika melangkah lebih jauh lagi.
******
__ADS_1
Bulan berjalan menuju parkiran sendirian karena hari ini Bintang entah ada dimana dan bel pulang sudah berbunyi Bulan memutuskan untuk menunggu Bintang diparkiran mobil. Toh Bulan punya kunci mobil cadangan.
Setelah limabelas menit Bintang baru muncul dan terkejut melihat Bulan yang tertidur didalam mobilnya’sorry lan, gue tadi masih kumpul sama anak-anak’ batin Bintang sambil memasangkan selt belt Bulan “Lo nggak mau apa-apain gue kan?” Tanya Bulan.
Bintang terkejut melihat Bulan yang sudah bangun dan segera duduk.
“Najis” ucapnya lalu menjalankan mobil.
“Lo tadi kemana?”
"Gue masih kumpul sama anak-anak basket, minggu depan lomba soalnya” jelas Bintang dan Bulan hanya mengangguk tanda mengerti.
“Lan?!”
“Apa?”
“Saran gue, lo harus cari sahabat cewe dan menurut gue Vani adalah orang yang tepat. Gue tau itu mungkin berat buat lo tapi, Vani nggak sejahat yang lo pikirin dan menurut gue dia adalah cewe yang tepat untuk jadi sahabat lo”
Bulan menoleh kearah Bintang “Gue akan coba” ucapnya sambil tersenyum kearah Bintang.
“Gitu dong!” kata Bintang sambil menarik kuncir Bulan.
“Sakit Binnn” rengek Bulan.
“Salah sendiri dikuncir. Gue suka kalau rambut lo diurai, lebih cantik!”
Bulan terdiam, benarkah jika rambutnya terurai ia lebih cantik. Entah kenapa dipuji seperti itu oleh Bintang membuat Bulan ingin terbang. Aneh, baru kali ini ia merasakannya setelah semua hal yang Bulan dan Bintang lakukan.
Entah sejak kapan rasa itu mulai ada yang jelas aku bahagia jika terus bersama kamu, Bintangku.
__ADS_1