Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
ADEK KELAS


__ADS_3

HAPPY READING...


Tiyo telah membuat grup COGANNYA INDONESIA VERSI LOKAL


*Tiyo telah menambahkan Dodo


Tiyo telah menambahkan Rosan


Tiyo telah menambahkan Bintang*.


Dodo : Opo sih?


Rosan : Baru sadar kalau gue itu cogan


Tiyo : Si Bintang kemana kok nggak muncul?


Dodo : Bibin kemana? Mas Dodo udah disini ini(


 


Bintang : Bibin disini mas.


 


Tiyo : Ora waras kabeh;v


Rosan : Rumor kalian gey itu ternyata benar ya?


Dodo : Becanda san, gue masih doyan cewe. Lagian Bintang kan udah punya Bulan.


 


Bintang : Gue sama Bulan cuma sahabatan.


 


Tiyo : Lo yakin perasaan lo sama Bulan cuma sebatas sahabat?


 


Bintang : Perasaan gue ke Bulan sih Cuma sebatas teman aja. Kalau Bulan ke gue, gue nggak tau:v


 


Dodo : Gue kira nih ya, kalian itu kembar tapi nggak identik habisnya kemana-mana berdua terus


Tiyo : Lo mau tau perasaan Bulan ke lo itu seperti apa? PC gue sekarang! Promo terbatas!!!


Bintang : Oke


Rosan : Nyimak


Dodo : Gue nggak ngerti kalian berdua pada ngebahas apa_-


Pagi ini seisi kelas sedang digegerkan dengan Bintang. seperti sekarang Bintang tengah sibuk menanyai seluruh anggota kelas tentang siapa yang mengriminya coklat putih dan puisi yang dia temukan dibawah kolong mejanya dan hasilnya nihil tidak ada yang tahu siapa pelakunya.


Bahkan mading kelaspun ia isi dengan pengumuman seperti ini ‘Assalamualikum wr.wb om swiatiastu namong budaya salam kebajikan. Dengan ini saya memberitahu seisi kelas ini untuk segera mengaku siapa yang menaruh coklat putih dan puisi dibawah kolong meja saya dan apabilan ada seseorang yang mengaku atau mengethui si pengirim coklat ini saya akan memberikan hadiah yang luar biasa.


Sekian terima kasih.


salama cinta dari cogan se-SMA UFOST Arjuna Bintang Yudhistira.


“Rosan, lo tau nggak yang ngasih coklat sama puisi ini siapa?” tanya Bintang ke cowok yang berdarah India itu.


Rosan yang baru saja tiba didepan pintu kelas dibuat kebingungan oleh sikap Bintang.“Lo tanya gue?, lo nggak liat gue baru aja masuk kelas?”


“Iya juga sih, makasih ya bro” ucap Bintang lalu berjalan kembali ke tempat duduknya.


“Kadang gue nggak ngerti sama jalan hidup tu anak, ganteng ganteng kok rada gesrek” gumam Rosan.


Bintang kembali duduk disamping Bulan dengan keadaan masih memandangi coklat dan puisi itu.”Bulan, lo tau--”

__ADS_1


“Stop!!! Lo udah tanya itu sebanyak duabelas kali pagi ini” kesal Bulan kesahabatnya itu.


“Lo cemburu?” tanya Bintang ngaco.


“Are you kidding me? Inikan bukan pertama kali lo dapet coklat sama puisi. Kenapa seheboh itu sih?” Bulan semakin tidak habis pikir dengan tingkah laku Bintang yang aneh itu.” Dan lagi” Bulan merogoh laci meja Bintang dan disana masih ada beberapa batang coklat juga surat. “Dilaci lo masih ada banyak kenapa lo nggak cari aja semua pengirim ini?!”


“Gue juga nggak tahu tapi, yang ini rasanya beda.” ucap Bintang sambil memegangi dadanya. Alay!


“Emang yang ini rasa apa? Anggur? Stowbery? Melon? Atau coklat?” tanya Bulan logis. Sebenarnya ia risih sendiri melihat sikap bintang yang terlalu melebih-lebihkan. Wajar jika Bulan bersikap seperti itu karena ini bukan pertama kalinya Bintang mendapatkan coklat, puisi dan barang-barang lainnya. Kerena ia sudah sering mendapatkan hal-hal seperti ini sejak kelas 10.


“Lo tuh ya nggak ngertiin perasaan teman. Kayaknya gue dipelet sama ni orang, buktinya sekarang jantung gue berdebar nggak karuan, gue harus kasih perhitungan sama tu anak” geram Bintang masih sambil memegangi dadanya.


“Lo itu pura-pura **** atau emang ****!” Bulan meninggalkan Bintang yang masih sibuk dengan coklat dan puisinya itu, menurutnya sahabatnya ini sangat aneh daripada bergelut tidak jelas dengan Bintang, Bulan memutuskan pergi ke kantin.


‘Sial gue ditipu sama saranya si Tiyo’ batin Bintang. Belum beberapa hari ini Bintang, Rosan, Tiyo, dan Dodo membuat grup aneh khusus untuk rumpi para laki-laki. Tiyo memberikan saran kepada Bintang jika kita mau mengetes kesetian sahabat kita, kita harus membuatnya cemburu jika dia merasa cemburu maka sahabat kita sudah menghianati persahabatanya sendiri.


Sekarang Bintang merutuki semua kebodohanya seharusnya ia tidak mendengarkan saran gila si Tiyo itu. Pasti sekarang ia tampak aneh dihadapan Bulan.


****


Bulan, Bintang, Rosan, Tiyo dan Dodo kini berada dikantin sekolah, memang belakangan ini mereka berlima sering makan berama dikarenakan grup tidak jelas itu yang membuat mereka kecuali Bulan menjadi akrab, dan tentang Bulan kalian pasti tahu dimana ada Bintang disitu ada Bulan.


“Do, titip pesenin nasi telor dong!” perintah Tiyo ala-ala bos geng.


“Gue juga sama” beo Rosan.


Dodo yang hendak pergi memesan hanya bisa pasrah, “Bintang sama Bulan mau gue pesenin sekalian?” tanya Dodo berusaha care dengan Bulan dan Bintang.


“Nggak usah gue sama Bulan udah bawa bekal kok dari rumah gue nitip jus jeruk dua ya!” tolak Bintang halus.


Dodo hanya mengngguk, setelah itu Dodo beranjak memesankan pesanan mereka layaknya seorang babu. Sekarang Bulan tahu bahwa Dodo itu spesies yang terlalu penurut.


Bulan mengeluarkan kotak bekalnya sekaligus kotak bekal Bintang yang sedari tadi diberi tatapan aneh dari Rosan.”Kalian saudaraan?”


“Bukan” jawab Bitang dan Bulan bersamaan.


“Terus?” tanya Rosan lagi. Entah kenapa sekarang ia kepo dengan hubungan kedua manusia ini.


Dari arah pintu masuk kantin tampak segerombol adik kelas yang belakangan ini menjadi trending topik bagi kakak kelas yang suka gosip dan sepertinya mereka tengah menuju kearah meja makan Bintang dan kawan-kawan.


“Siang kak!” sapa Vada—adik kelas dengan suranya yang cetar membahana diikuti antek-antek dibelakangnya.


“Siang juga adek yang cantik, ada apa ya” balas Bintang dengan senyum mengembang. inilah kenapa Bintang di cap playboy sekolah.


Vada merekahkan senyumnya diberi senyuman seperti itu oleh Bintang membuatnya senang. pasalnya biasanya saat ia menyapa Bintang hanya diberi tapan acuh-tak acuh olehnya.


“Kakak tadi udah dapat puisi sama coklat putih dari aku belum? Udah dimakan? Udah dibaca? Gimana? Comel kayak aku kan kak!” ucapnya tanpa malu.


Tiyo, Rosan, dan Bintang hanya bisa melongo melihat adik kelas yang sanggat liar ini. Sedangkan Bulan tampak bodo amat. Bahkan Bintang sempat tersedak karena ucapan Bintang.


‘Senjata makan tuan’ batin Bintang.


“Coklat putih, puisi? Gue nggak tau mungkin tadi langsung gue buang, kali” alibi Bintang jelas-jelas tadi dia menanyai seluruh kelas tentang siapa pengirim coklat putih dan puisi itu.


“Yahh masa nggak tau sih kak padahal coklat putih itu dari jerman, sama puisinya aku bikin sendiri loh!” ucap Vada dengan nada haru. Jijik euyy


“Ohhh, jadi lo yang ngirim tuh coklat sama puisi sampi Bintang mencak-mencak nggak karuan” ucap Dodo yang tiba-tiba muncul dari arah kantin.


“Beneran kak? Serius?kakak udah suka sama aku?” girang Vada. Selama ini Vada selalu menaruh puisi dan coklat putih di dalam loker Bintang ia juga sudah mengungkapkan perasaannya kepada Bintang namun selalu ditolak dan ditolak.


SKATT MATT


Bintang membisu, Rosan melongo, Tiyo nampak menahan tawa, Dodo dengan ekspresi tanpa dosa, sedangkan Bulan tengah sibuk menikmati makan siangnya.


MBAH GOOGLE YANG BUKAN MBAH GUE TOLONG BINTANGGG!!!


“Itu dari lo? yaudah makasih. Udah kan nggak ada lagi. Gue mau makan dan lo ngeganggu makan gue soalnya” Bintang nampak risih dengan Vada


“Sama-sama, kalau gitu aku pamit dulu ya kak. Besok Vada kasih coklat lagi ya kak..dada kak Bintang” pamit vada sambil sesekali melambaikan tanganya.


“Tunggu dek!”kali ini Bulan bersuara. “Kayaknya ada yang mau disampein deh sama temen gue, katanya yang ini rasanya beda. Ya kan Bin” Bulan menyikut lengan Bintang.

__ADS_1


Vada pun barbaik mendekatkan lagi jaraknya dengan Bintang “Beneran kak?” tanya Vada setengah tidak percaya.


Bintang diam, Rosan membisu, Tiyo puta-pura tuli, Dodo masih dengan wajah tanpa dosanya dan Bulan yang sibuk dengan jus jeruknya yang baru saja tiba.


“Eh anu iya, yang ini rasanya emang beda soalnya kan coklatnya dari Jerman” alibi Bintang masih dengan image coolnya.


“Dirumah masih banyak kok kak, besok aku bawain lagi yang lebih banyak. Aku ke kelas dulu ya, permisi” pamit Vada dengan senyum ceria yang diberi senyuman kikuk dari Bintang.


“Kenapa pada diam semua?” Tanya Bulan memecah keheningan. Karena setelah kepergian adek kelas tadi suasananya menjadi agaka kikuk.


“Iya. Kenapa sih? Ada masalah?” Tanya Dodo masih tanpa dosa.


“Kita bertiga mau ikut audisi pantomim makanya belajar diem” jawab Rosan asal.


****


Setelah pulang sekolah Bintang tidak langsung pulang kerumah ia ngadem dulu dirumah Bulan karena AC rumahnya sedang diperbaiki. Lumayan lah mumpung punya sahabat holkay. Meskipun keluarga Bintang cukup kaya namun, dibandingkan dengan keluaga Bulan ia tidak ada apa-apanya.


Bulan Nampak sibuk memandangi ponselnya bahkan si cogan Bintang pun dilupakan. Merasa terus terusan dikacang oleh Bulan Bintang merebut paksa ponsel Bulan. Hanya sekedar iseng karena merasa terkacang.


“Lo kenapa sih?!” kesal Bulan, ngedumel nggak karu-karuan. Dan berusaha mengambil ponselnya namun Bintang justru menjauhkannya dari Bulan.


“Lo yang kenapa? Dari tadi gue dikacang mulu disini” ucap Bintang cemburu dengan ponsel Bulan. “Kalau punya temen ganteng tuh jangan dianggurin!”


Bulan mendesah ia harus sabar menghadapi sahabatnya ini “Yang minta album blackpink kemarin siapa?”


Bintang nyengir tak berdosa lalu mengembalikan ponsel Bulan kekeadaaan seperti semula. ”Iya. maaf lan” rayu Bimtang.


“Sekarang lo pilih sendiri deh mau album yang mana daripada gue pusing-pusing milihnya” kesal Bulan lalu menyerahkan ponselnya kepada Bintang yang disambut sumringah oleh Bintang.


“Oh ya. Lo tadi pas disekolahan aneh banget nggak kayak biasanya” ucap Bulan yang membuat Bintang terkejut.


“Aneh kanapa ya? gue baisa aja tuh” Tanya Bintang pura-pura ****.


Bulan memutar bola matanya malas ”Lo nggak lagi bikin rencana ngebuat gue cemburu kan?” Bulan to the poin dan sepertinya tebakannnya ini benar.


“Itu..anu..bu-bukan gi-“


“Jujur sama gue. Mata nggak pernah bisa bohong Bintang, lo tau kan gue paling nggak suka ada rahasia-rahasiaan” potong Bulan cepat.


Bintang menghembuskan nafas gusar. Membohongi Bulan sama-sama bergelut dengan pesikolog nggak akan pernah bisa dibohongi!. Bintang menceritakan semuanya dari awal mulai dari dia membut gurp GAJE itu sampai mendapat saran dari Tiyo si ketua kurang tua.


“Jadi, lo ngeraguin persahabatan kita?” Tanya Bulan kecewa.


“Buuu-bukan gitu. Gue Cuma nggak mau lo terlalu terbawa suasana sama persahabatn kita ini, takutnya lo baper. Kalo lo baper kan gue nggak mau repot-repot tanggung jawab” jelas Bintang sambil menunduk, ia malu akan sikapnya hari ini.


“Tetep aja lo ngeraguin perasaan gue sebagai sahabat lo Bintang dan lo lebih percaya sama si pak rempong Tiyo itu!” kesal Bulan lalu memalingkan mukanya.


Bintang mendekatkan duduknya ke Bulan lalu menggengam tangannya, “Gue tau gue salah, gue minta maaf gue saharusnya lebih percaya sama lo daripada Tiyo. Gue jan-“


“Jangan janji kalu nggak bisa ditepati!” potong Bulan cepat seperti kereta api.


“Iya. Gue nganku salah dan nggak akan ngulangi lagi” mohon Bintang sambil mengeluarkan pupil eyesnya, merasa tidak direspon Bintang menelangkupkan tangannya dipipi Bulan tatapan mata Bintang begitu menusuk membut Bulan merasakan gejolak aneh.” Tatap gue Bulan. Gue minta maaf, gue ngaku gue salah!” ucap Bintang terus meminta maaf.


“Iya gue maafin” ucap Bulan lalu memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkan Bintang yang masih duduk di ruang keluarga ia naik tangga sedikit berlari keburu Bintang tahu bahwa Bulan sedang blushing.


“Udah sana pulang!” usir Bulan ketika menginjakkan kakinya di anak tangga.


“Nggak mau AC rumah gue lagi disservice semua gue mau ngadem dulu” protes Bintang.


“Sebahagia lo aja deh. Gue mau kekamar dulu” ucap Bulan benar-benar pergi meningalkan Bintang di ruang keluarga.


“GUE TAU LO BLUSING TADI!!!” teriak Bintang mengoda Bulan.


“BODO AMAT” balas Bulan yang masih menaiki tangga.


“JANGAN NYALAHIN AMAT, AMAT NGGAK BODO!” ucap Bintang yang sudah tidak didengar oleh Bulan.


“Kita teman Bintang, hal kayak gini nggak mempan buat gue” ucap Bulan sebelum akhirnya melangkah pergi menuju kamarnya.


Tanpa mereka sadari rasa itu mulai tumbuh seiring berjalannya waktu diantara mereka. Semakin tumbuh dan terus membesar hingga datanglah cinta ditengah persahabatan kecil mereka.

__ADS_1


__ADS_2