
Trauma itu seperti disforia yang menggerogotiku. Trauma itu selesai. Akupun juga selesai.
suara musik aurobik tengah menggema di salah satu ruangan kediaman Bulan. Omanya tengah memintanya untuk menjadi pemandu senam dan Bintang kebetulan sedang ikut menemani oma Bulan untuk senam, entah kenapa yang paling nampak semangat adalah oma, mungkin karena cucu angkat kesayangannya tengah menemaninya, sedangkan Bintang nampak kualahan karena gerakan senam yang terlalu cepat.
Biasanya oma dan Bulan menikmati waktu senamya paling tidak selama satu jam tapi karena Bintang tampak kelelahan mereka harus menunda waktu senamnya.
“Capek oma” keluh Bitang.
“Tuttt..Ttuuttiii, ambilin minumm bawa ke ruang senamm!” teriak oma, dan ini kebiasaanya. Oma memang sudah berumur enam puluhan tapi jiwanya jiwa dua puluhan.
“Alayy lo bin!” ejek Bulan.
“Ye, gue itu nggak alay gue kan emang jarang senam, yakan oma” ucap Bintang meminta pembelaa ke-oma.
“Iya lan, lagian ini juga pertama kan buat Bintang” bela oma.
“Dasar, oma sama cucu sama aja” ucap Bulan merajuk.
"Udah udah oma mau kebelakang dulu. Ini si Tuti disuruh ambil minum lama banget” kesal oma lalu pergi ke dapur.
“Lo jarang senam?” Tanya Bulan. Sejujurnya ia sudah tahu bahwa Bintang jarang olahraga, ia hanya ingin basa basi saja.
“You know lah, nggak udah dibahas”
Bulan nyengir kuda, dia tahu bahwa Bintang paling anti dengan topik senam. “Eh iya, lo bisa silat nggak, gue denger hampir semua cowok dikelas ikut ekstra silat” bulan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Nggak, gue nggak suka hal-hal semacam itu”
“Terus, kalau lo punya cewe lo nggak bisa ngelindungi cewe lo dong!” ucap Bulan logis.
“Melindungi kan bukan berarti harus dengan cara kekerasan”
“Terus pakek apa dong” Bulan semakin tidak mengeti dengan Bintang terkadang jalan pikiranya sangat tidak bisa ditebak oleh manusia, bahkan Bulan yang cerdas ini tidak bisa menebaknya.
__ADS_1
“Ya nanti kalau cewe gue diganggu, gue ajak lari aja, kalau perlu gue gendong!” Bintang tertawa melihat raut wajah Bulan yang sedikit kesal pasalnya Bulan tadi sudah sangat kepo dengan cawaban Bintang.
“Kumaha maneh, BINTANG!!” kesal Bulan lalu ia meninggalkan Bintang sendirian di ruang senam.
“Gue becanda kali , lan” teriak Bintang saat Bulan sudah mulai menjauh.
****
Bintang tengah kebingungan mencari Bulan, ia sudah mencarinya diseluruh sudut rumah ini bahkan ia sampai mencarinya kegudang belakang. Tadi Bintang hanya pamit pergi ke toilet namum setelah kembali Bulan sudah tidak ada di tempat senama ataupun kamarnya.
‘Ini anak kemana sih, sehari nggak bikin gue resah nggak bisa apa?!’ batin Bintang.
“Oma, tahu Bulan dimana?” Tanya Bintang ia sudah terlalu kelelahan mencari Bulan.
“Udah dicari diseluruh tempat belum?” bukan menjawab oma malah bertanya balik.
“Udah oma, sampai ke gudang belakang juga nggak ketemu” keluh Bitang sejak dulu ia memang selalu manja jika bersama oma, mungkin sudah habit.
Oma terkekeh pelan. ”Coba kamu cari lagi di atas, pojok terus pintunya ada lambang musik” saran oma. Tanpa berucap apapun Bintang segera mencari Bulan dikamar atas entah kenapa ia rasa ada yang tidak beres dengan Bulan. Satu bulan yang lalu Bulan memang menyuruh oma merenovasi rumah karena Bulan ingin membuat studio musik pribadinya.
Bulan menekan tust pianonya dengan penuh emosi yang medalam entah kenapa tiba-tiba ia teringat Melan sahabat dekatnya semasa SD yang meninggal karena kecelakaan. Dulu Bulan adalah gadis yang sangat periang ia juga mempunyai banyak teman dan dia mempunya lima sahabat dekat.
Suatu hari mereka berlima berniat menghabiskan waktu disore hari ber-lima entah kenapa tiga sahabatnya itu sedikit iri dengan Bulan karena Bulan selalu mendapatkan segalanya. Mereka bertiga berniat menenggelamkan Bulan di danau karena mereka tahu bahwa Bulan tidak bisa berenang. Saat itu Bulan memag hampir tenggelam tapi Melan membantunya ia mendorong tubuh Bulan ke dalam perahu lagi sedangkan Melan yang juga tidak begitu ahli berenang ia tenggelam sejak itu pula semua teman bahkan sahabtnya sendiri membenci Bulan padahal ini tidak murni kesalahan Bulan.
Bulan menangis sambil meminkan piano ia ingin meluapkan semua emosinya, ia ingin melupakan semua masalahnya, andai waktu bisa diulang Bulan ingin dia saja yang tenggelam disaat itu. Bulan tidak mau hidup dengan penyesalan yang amat mendalam, dia tidak mau hidup dengan terror masa lalu. Percuma selama ini ia terapi psiikolog semua obat-obat mereka tidak akan mengembalikan Melan dan tidak akan merubah takdir bahwa Melan meninggal karena Bulan.
“BULANN!!” Bintang terkejut melihat keadaan Bulan yang seperti ini, ia langsung menarik Bulan kedalam pelukanya Bintang memeluk Bulan sangat erat sambil sesekali negusap-usap punggungnya berharap ia “ Tenang lan, semuanya akan baik-baik saja” bisik Bintang menenagkan Bulan ia tahu bahwa sahabtnya ini belum bisa menerima kenyataan pahit masalalu.
“GUE JAHAT BINTANG, MELAN BINTANG, MELANN!” teriaknya sambil sesenggukan.
Ini adalah hal yang paling Bintang takuti dan benci.
“Melan udah tenang dialam sana, lo harusnya bahagia bukan malah nangisin dia”
__ADS_1
“TAPI GUE JAHAT BINTANG, GUE PEMBUNUH!!”
“MELAN BIN, dia sahabat gue yang paling gue sayangi”
“Mel-“ ucapan Bulan terpotong, ia pingsan dipelukanya Bintang. Bintang tahu ini akan terjadi terkadang lebih baik jika ia pingsan seperti ini daripada arus ngoceh nggak jelas tentang penyesalannya.
ini masih mending daripada beberapa tahun yang lalu, dulu Bulan selalu melepaskan traumanya dengan melakukan cutting diseluruh tangan sampai kakinya.
Bintang membopong Bulan kedalam kamarnya, ia menidurkan Bulan dan menyelimutinya. Oma datang dengan perasaan yang campur aduk melihat kondisi cucunya yang selalu seperti ini jika teringat Melan.
“Oma, maaf Bintang belum bisa jaga dan bahagiain Bulan”
“Ini bukan salah kamu Bintang, dulu ia jauh lebiih buruk dari pada ini tapi semenjak ada kamu setidaknya dia masih bisa tersenyum”
“Bintang pamit pulang dulu ya oma, takut mama nyariin soalnya tadi pamitnya cuma senam aja” pamit Bintang.
“Iya, hati-hati “
****
Bintang memasuki rumah dengan langkah gontai ia sanggat hawatir dengan keadaan Bulan, jika saja dia hari ini tidak ada janji mengantar mamanya pergi ke Mall mungkin Bintang akan menunggu sampai Bulan siuman.
Ketika hendak naik keatas Bintang sempat terkejut melihat Mars--adik laiki-laki Bintang yang tengah senyum-senyum tidak jelas didepan televisi sambil memandangi ponselnya.
“Ngapain lo senyum senyum?” Tanya Bintang memastikan bahwa adiknya ini sehat wal afiat.
“Chatan sama pacar dong” jawab Mars santai. Bintang miris mendengar itu, dia saja masih menjoblo sampai saat ini sedangkan Mars sudah mempunyai bebrapa mantan padahal maru masuk SMP
“Si Mela?”
“Bukan Mela mah nggak asik, masa gue terus yang harus cari topik. Males!” dan Bintang juga tahu bahwa adiknya ini sangat play boy, meskipun Mars terkenal play boy tapi, sia tidak pernah berbuat macam-macam. Menurut Bintang adiknya ini hanya butuh pacar untuk penghibur lara saja.
“Dasar, lo kapan belajar setianya sih!” cibir Bintang.
__ADS_1
“Emang lo bang. Kemana-mana sama kak Bulan terus, sahabatan aja dari kecil tapi nggak pernah ada kemajuan. Kalau gue yang jadi lo udah gue lamar tu kak Bulan” ucap Mars ngaco.
Bintang sedikir merasa ngena tetang ucpan Mars yang mengatakan bawa ia dan Bulan tidak pernah ada kemajuan bukannya tidak ada kemajuan, tapi entahlah diding persahabatan itu sangat sulit untuk dihancurkan terlebih mereka sudah sangat nyaman dengan persahabatan ini.