Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
MOBIL BARU


__ADS_3


kalau lo nggak bangun, kita nggak akan tau kan apa yang terjadi setelah ini. Gue ini cowok normal lo lan


HAPPY READING.....


Akhirnya Bintang menjelaskan bahwa Bintang dan Vani sudah berteman sejak mereka kecil karena papanya Bintang adalah rekan bisnis papa Vani. Dulu sewaktu tinggal di Jakarta mereka sempat tetanggan tetapi karena urusan pekerjaan Bintang dan keluarganya harus tinggal di Semarang dan sekarang mereka berdua bertemu kembali.


Bintang dan Vani mengobrol cukup lama sehingga mengabaikan Bulan yang sedari tadi hanya menjadi pendengar saja, bisa juga Bulan disebut sebagia obat nyamuk.


Bahkan ketika jemputan Bulan dan Bintang datangpun mereka berdua tak menyadarinya, ketika Bulan naik kadalam mobil pun mereka juga belum menyadarinya. Akhirnya Bulan menegur Biantang dan menyuruhnya masuk kedalam mobil merasa tidak enak dengan Vani Bulan mengajak Vani pulang, sekalian katanya mau mampir kerumah Bintang.


Bahkan sejak dimobil pun Bulan sealu dikacang karena merasa bosan dengan hal itu Bulan menyumpal telinganya dengan earphone sungguh miris nasibnya sedari tadi hanya dijadikan obat nyamuk. Gini ya rasanya jika sahabat punya sahabat baru dan ngelupain sahabat lamanya.


Bulan turun dari mobil dengan muka masam dan mengabaikan Bintang dan Vani yang sedari tadi ngobrol hal-hal yang aneh menurut Bulan. Bagaiman mungkin mereka membahas keanehan drama film sepongeboob dari tadi samapi sekarang. Bahkan ketika Bulan pamit mau pulang kerumah tidak ada satupun dari mereka yang meresponya yang membuat Bulan merasa ada hal yang aneh. Parahnya setelah turun dari mobil mereka tidak mengucapkan sepatah katapun dan langsung pergi menuju rumah Bintang.


‘Dasar tidak tahu terimakasih!’ cibir Bulan dalam hati.


Bulan menaiki tangga rumah dengan berlari sungguh ia tidak mau berbicara dengan siapapun kali ini. Bulan ingin mengurung diri dikamar dia juga marah kepada Bintang karena telah mengabaikan Bulan. Jujur selama ini baru kali ini dia diabaikan oleh Bintang,jika saja pak Amir tidak menjempunya dengan terlamabat mungkin mereka tidak akan bertemu dengan Vani dan Bintang tidak akan mengabaikan Bulan. Ahh..kenapa Bulan jadi menyalakan orang lain.


Bulan membanting tubuhnya dikasur dengan mood yang sanggat hancur rasanya ia ingin makan sebanyak-banyaknya hari ini jika perlu ia ingin memborong semua snack yang ada di supermarket.


“Lann”ucap oma didepan Pintu kamar Bulan.


“Masuk aja oma, pintunya nggak dikunci kok!”


Oma masuk kamar dengan senyum yang selalu membuat Bulan nyaman dibuatnya.”kok mukanya masam gitu, kenapa? Coba cerita ke oma” ucap oma sudah seperti mama Bulan sendiri. Seandainya mama disini mungkin Bulan sudah menceritakan semuanya kepada mamanya.


“Pak Amir jemput lama banget” keluh Bulan.”udah gitu tadi Bintang diemin Bulan terus!” adu Bulan sudah seperti anak kecil. Oma merangkul pundak Bulan sedangkan Bulan otomatis menidurkan kepalanya dibahu oma.


“Pak Amir tadi lama masih nganterin oma belanja”


“Kan ada sopir pribadi oma sendiri!”


“Sopir oma lagi pulang kampung, anaknya sakit” jelas oma.


Bulan memeluk omanya dengan penuh kasih saying sekarang hanya omanya lah orang yang ada untuk Bulan, sudah cukup ia mulai kehilangan Bintang jangan omanya juga.


****


Karena hari ini hari minggu Bulan memutusan hibernasi seharian penuh dikamarnya toh pasti Bintang sibuk dengan si Vani itu. Jika boleh jujur sebenarnya Bintang sedikit risih dengan Vani. Ralat bukan sedit tapi sangat risih.


“GEMBULLLL” teriak Bintang yang tiba-tiba sudah berada diatas kasurnya.


Bulan menerik selimutnya samapai menutupi semua badannya.“BERISIKKK! GUE MAU HIBERNASI!” teriak Bulan tak mau kalah dari Bintang.


“Dasar mamalia” cibir Bintang.


“Gue bukan mamanya lia”


Bintang mengembuskan nafasnya kasar sambil berkacak pinggang “Oma nyuruh gue bangunin lo, kita disuruh kebawah secepatnya”


Bulan masih tidak bergeming dibawah selimutnya. Merasa tidak ada jawaban dengan jahilnya Bintang juga menidurkan tubuhnya lalu menarik selimut yang dikenakan Bulan, sekarang mereka berada dibawah satu selimut yang sama.


Bintang menarik tubuh Bulan kedalam pelukannya, semakin erat sampai Bulan yang awalnya memberontak terdiam karena hembusan nafas Bintang yang tepat mengenai lehernya membuat dia merinding.


“Kalau lo nggak bangun, kita nggak akan tau kan apa yang terjadi setelah ini. Gue ini cowok normal lo lan” Ucap Bintang yang semakin membuat Bulan merinding


Karena malas bedebat dengan cowok yang bermulut cewe dihadapannya ini Bulan menggeram keras lalu berjalan menuju kamar mandi sambil mengehntak-hentakkan kakinya.


Tiba-tiba Bulan menghenti langkahnya dan menatap Bintang yang juga sedang menatapnya . ”Lo ngapain masih disini? Gue mau mandi!” ucap Bulan membuat Bintang yang masih tiduran diats kasurnya segera keluar.


Bulan turun menggunakan baju kodokan berwarna biru muda dan rambut kuncir kuda seperti biasanya. Sekarang oma meminta semua orang untuk berkumpul di halaman depan rumah, entah apa yang akan oma rencanakan hari ini.

__ADS_1


“Semua sudah kumpul!?” seru oma dengan senyum sumringah.


“Iya” teriak semua yang ada disitu bersamaan.


Hari ini oma mengumpulkan Bulan, Bintang, semua pembantu, tukang kebun, sopir dan Mars entah siapa yang mengundang, yang jelas bukan oma.


“Kita ngapain si oma” Tanya Bulan mulai bosan dengan rencana oma.


“udah tunggu aja, bentar lagi barangnya samapi kok” Dan benar saja beberapa menit kemudian datang truk pengangkut mobil yang berisikan mobil sport Porsche 718 seharga 1,5 M lebih. Sekarang pertanyaanya itu mobil siapa?


“KEJUTAANN!!! INI MOBIL BUAT KAMU BINTANG!”


teriak oma yang mebuat semua orang melongo dan membatu tak terkecuali Bulan yang menatap omanya dengan mulut terbuka.


‘What? Oma beliin Bintang mobil sport! gue yang cucunya minta motor merengek sehari aja gak di kasih’ batin Bulan.


“Oma nggak bercanda kan?” kaget Bintang bukan main, mama dan papanya saja tak berniat membelikanya mobil. Lah ini sodara bukan, kerabat bukan malah dikasih hadiah mobil, sport lagi.


“Iya ini buat kamu biar nanti kalau berangkat kesekolah naik ini aja. Oma juga sengaja beliin kursinya dua khusus buat kamu dan Bulan” oma tersenyum memandangi Bintang dan Bulan.


Tanpa ba bi bu Bintang segera berlari menuju mobilnya, melojak-lojak girang sambil memeluk mobilnya.


“Mars cepet foto gue sama mobil baru gue”


Dengan siap Mars segera memfotokan Bintang “Nanti gentian yan bang!”


“Oma nggak salah? Kan aku bisa naik mobil sendiri oma!” rengek Bulan.


“Tapi kamu kan nggak bisa naik mobil Jadi, untuk sementara berangkat sama Bintang dulu nanti kalau udah bisa nyetir sendiri oma beliin buat kamu”


Memang yang dikatakan omanya benar di dunia ini hanya satu alat transprtasi yang bisa Bulan kendalikan, yaitu sepeda.


Bintang memeluk oma kegirangan ”Makasih oma. Bintang sayang oma!”


“nLNggak mau!” tolak Bulan tegas.


Bintang tersenyum melihat tingkah Bulan dia berjalan mendekati Bulan. “Udah lah lan, mobil gue kan mobil lo juga. Ayo!!” ucapnya lalu menarik tangan Bulan menuju mobil, Bulan hanya pasrah saja Karena ini juga perintah omanya.


Bulan melirik Bintang sejenak lalu menghela napasnya,“ Yaudah bentar, gue ambil tas sama HP dulu!”


“bLBang, gue ikut dong” ucap Mars dengan mata berbinar.


“Nggak muat BAMBANG!”


Mars cemberut namun, tak lama kemudia ia tersenyum sumringah, ”Kalau gitu, fotoin gue sama mobilnya ya bang! Tadi kan gue udah fotoin lo” ucap Mars memohon.


Merasa kasihan kepada adiknya yang gagal hitz ini Bintangpundengan sangat terpaksa memfotokan Mars.


Tak lama kemudia Bulan turun dengan baju yang tadi ditambah dengan sepatu kets tapi, ada yang lain dia mengurai rambutnya kali ini. Awalnya Bintang sempat terkejut jujur setelah memasuki masa remaja Bulan sangat jarang sekali mengurai rambutnya dan kali ini fenomena sangat langka. ”Ayo!” ucap Bulan yang sudah masuk duluan kedalam mobil.


***


Bintang menghentikan mobilnya tepat didepan pintu masuk hutan. Bulan meraasa déjà vu dengan tempat ini.


“Kita mau kemana?” Tanya Bulan.


“Udah ikut aja. Lo pasti suka” ucap Bintang yang sudah duluan masuk kedalam hutan.


Cukup lama mereka berjalan didalam hutan yang penuh dengan pohon pinus ini dan sepertinya tempat ini benar-benar sepi sejak daritadi Bulan tidak melihat manusia yang lalu-lalang disini hanya dirinya dan Bintang saja. Hutan ini cukup indah dan masih sanggat asri mungkin jika dijadikan tempat wisata cukup menarik.


“Kita nggak nyasar kan?” Bulan memastikan, pasalnya mereka sudah terlalu jauh masuk kedalam hutan.


“Nggak, gue yakin kok. Bentar lagi sampai!” yakin Bintang.

__ADS_1


Selang beberapa kilometer mereka berjalan akhirnya mereka sampai ditempat yang Bintang maksud dan tempat ini adalah D-A-N-A-U.


Bulan terkejut melihat tempat ini dan tempat ini adalah tempat yang paling Bulan hindarai. Bukanya Bintang tahu bahwa Bulan sanggat tidak suka danau lalu, kenapa sekarang Bintang mengajaknya kesini?


“Gue tau lo benci danau tapi, semakin lo takut dan ngehindar sampai kapanpun ketakutan itu akan selalu ada kalau lo nggak pernah ngelawan ketakutan itu”


Bintang menggengam tangan Bulan penuh keyakinan” Percaya sama gue”. Bulan hanya menanggapi dengan anggukan saja, sekarang keringat dingin sudah mulai bercucuraan di dahinya.


“Sekarang kita mau ngapain?” Tanya Bulan memastikan Bintang tidak mengajaknya yang buka-bukan lagi.


“Kita naik perahu!” ajak Bintang yang sudah menarik tangan Bulan menuju perahu kecil yang ada didekat danau.


Bulan mendelikkan matanya “are you kidding me?”


“why I kidding you?” Tanya Bintang balik.


Bintang sekarang sudah berada diatas perahu, sedangkan Bulan masih ketakutan akan trauma masa lalu. “Danaunya nggak dangkal kan? Perahunya nggak bocor? Lo bisa bawa perahu kan? Nanti kalau tenggelam gimana?” Tanya Bulan mulai ketakutan.


“Lo nggak percaya sama gue?” Tanya Bintang yang dijawab gelengan tegas dari Bulan.


“Cepetan masuk, sini duduk depan gue!” titah Bintang. Bulan pun mulai memasukkan kakinya kedalam perahu itu dengan hati-hati dan ketika duduk diperahu itu ia menutup mata dan telinganya bahkan ketika Bintang mulai mendayung perahu itu Bulan masih belum membuka matanya sampai Bintang mulai mendayung ditengah-tengah danau pun Bulan masih setia menutup matanya.


“Buka mata lo!” Bulan pun membuka matanya dengan perlahan-lahan dan ketika Bulan membuka mata, pemandanganya sanggat bagus nampak dua bukit kembar yang saling melengkapi juga keindahan air terjun kecil pinggir danau sungguh Bulan kagum dengan tempat ini.


“Lo suka?”


Bulan tersenyum dan mengangguk. “Banget” ucap nya lalu memeluk Bintang.


“Lo tau bin, jika gue diberi hadiah yang nggak bisa dibeli oleh manusia dan hanya bisa diberi oleh tuhan. Mungkin, gue akan minta sama tuhan supaya gue punya kakak laki-laki kayak lo!” Bulan tersenyum sambil menatap kedua bola mata Bintang.


“Maaf, udah nyuekin lo dimobil kemarin” ucap Bintang sambil mengelus rambut Bulan yang tergurai indah itu.


“Iya. Gue maafin tapi, jangan diulang lagi!” ancam Bulan. Entah kenapa Bintang sangat menyukai ekspresi Bulan sekarang.


Bintang mengangguk menatap Bulan lekat “Lo beda hari ini” ucap Bintang yang membuat Bulan blushing.


“Jangan baper dulu!” ucap Bintang yang diberi tatapan aneh dari Bulan.


“Gue belum siap tanggung jawab kalau lo baper!” jawab Bintang seolah mengerti tatapan tak terbaca dari Bulan.


“Apaan sih” Bulan mencubit perut Bulan. “sakit lan” rengek Bintang.


“Salah sendiri” ucap Bulan sambil menjulurkan lidahnya.


Bintang memegang pundak Bulan, membuat Bulan yang tadinya menghadap kesamping menjadi berhadapan dengan Bintang “gue suka sama lo”


DEG. Entah kenapa seperti ada kupu-kupu terbang diperut Bulan. Sial. Perasaan senang apa ini? “Sebagai sahabat kan?” ucap Bulan lalu memalingkan wajahnya.


Entah kenapa ada rasa sakit dihati Bintang ketika dibeginikan oleh Bulan padahal niatnya hanya bercanda tetapi kenpa Bintang sendiri yang baper, senjata makan tuan!!!. Lagi.


Karena hari mulai senja Bulan dan Bintang memutuskan untuk meninggalkan danau dan pulang kerumah. Namum sebelum sampai di tempar Bintang memarkir mobil tiba-tiba hujan datang mengguyur mereka berdua.


Mereka pun memutuskan untuk berteduh disebuh gubuk kecil yang digunakan untuk berteduh atau istirahat.


Bulan mengosok-ngosokkan kedua tanganya karena merasa kedinginan dia tidak mengira jika hari ini akan hujan. Bintang yang melihat itu segera tanggap, melepaskan jaketnya dan menyelimuti Bulan dengan jaket itu, Bintang juga mengosok-ngosok tanganya lalu mmenelangkupkanya ditangan Bulan tak sampai disitu dia juga meniup tangan Bulan sampai Bulan merasa hangat.


“Udah hangat?” Tanya Bintang memastikan.


Bulan mengangguk. “makasih” Bulan tersenyum simpul.


“Dalam persahabatan nggak ada kata terimakasih, lan!”


Bulan mengacak-ngacak rambut Bintang gemas.”Gue jadi makin sayang sama lo” kata Bulan lalu bersender dibahu Bintang samapi tertidur yang pada akhirnya Bintang harus mengendong Bulan sampai kedalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2