Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
PESTA BBQ


__ADS_3

Hari ini. Sabtu malam minggu, Bulan, Bintang, Dodo, Tiyo, Rosan, Vani, dan juga Dina berencana untuk menginap di rumah Bulan.


Vani dan Bulan juga semakin dekat dan akrab, bahkan saat ini mereka tengah mengadakan pesta BBQ di rumah Bulan karena,kebetulah rumah Bulan yang kamarnya paling banyak, Bulan hanya menurut saja lagipula ia juga ingin dekat dengan Tiyo dan kawan-kawan, entah kenapa sekarang ia jadi ingin mempunyai banyak teman.


Ketika memasuki rumah Bulan semuanya terkejut melihat kemewahan rumah ini, kecuali Dina, Bintang, dan Dodo. Mereka juga sedikit kaget dengan tingkah laku omanya Bulan yang bukan seperti nenek-nenek pada umumnya.


“Teman-temannya Bulan ya?” tanya oma sangat antusias karena ini pertama kalinya Bulan membawa teman sebanyak ini.


“Iya oma” jawab mereka serentak.


“Tutttiii, Innemm, Mirrna, mangg Udiinn, mang Asepp” teriak oma cetar membahana. Vani dan Tiyo dkk semakin heran dengan tingkah nenek-nenek ini.


"Hai oma" sapa Dodo sok kenal sol dekat dengan oma.


"Ehh..Dodo makin ganteng aja" canda oma.


"Oma bisa aja"


"Penjilat" sindir Tiyo.


“Kalian silahkan duduk aja dulu ya” pinta oma. Tak lama kemudian semua pembantu rumah ini sudah berkumpul.


“Mirna buatin minum sama cemilan buat temanya Bulan ya, Inem siapin kamar, Tuti beli bahan buat bikin BBQnya, mang Udin anterin Tuti, terus mang Udin bersihin halaman belakang ya” perintah oma.


“Oma tinggal dulu, anggap aja rumah sendiri. Oma masih ada pekerjaan.” pamit oma.


“Itu oma kandung lo lan?” Tanya Tiyo ragu.


“Iya.”


“Kok tingkahnya nggak kayak lo sih” sahut Rosan yang diangguki oleh teman-temannya. kecuali


“Bin, lo kok ngajak temen-temen lo segala sih!?” ucap Vani sedikit tidak suka kepada Tiyo dan kawan-kawan.


“Dia ngikut sendiri!” jawab Bintang.


“Lagian sama Bulan aja boleh, kenapa lo yang sewot!” beo Dodo.


“Santai aja kali, gue nggak sewot ya cuma heran aja perasaan tadi Bulan nggak ngajak lo pada” ucap Vani naik satu oktaf sambil menunjuk kearah Tiyo dan kawan-kawan.


“Lo itu murid baru, juga baru kenal Bulan jadi jangan belagu!” Rosan mulai ikut emosi. Rosan memang tipikal cowok yang tidak suka disalahkan atau dipojokkan.


"Meogg" Seekor kucing gendut putih tiab-tiba datang dan berjalan mendekati Bulan lalu bermanja disekitar kaki Bulan.


Bulan menatap kucing itu, lalu menggendongnya. "Ini namanya Doremi kucing aku" Bulan memperkenalkan Doremi.


"Udah kayak anaknya Bulan itu mah" ucap Bintang.


"Gak boleh gitu bin, nanti dia sakit hati. Dia udah gue anggap anak gue sendiri." Bulan mulai mendramatiskan suasan.


"Kok gue nggak lihat Doremi sih waktu main kesini?" tanya Dina.


"Waktu itu dia sakit. Harus dirawat dirumah sakit hewan." jawab Bulan.


Dodo mendekati Bulan lalu mencoba mengelus-ngelus kepala Doremi. Namun, tiba-tiba Doremi mencakar Dodo, beruntung Dodo cepat menghindar.


"Kok Doremi jahat sama calon papa sih" kata Dodo sedih.


Bintang menggeser tubuh Dodo, dia menggambil Doremi dari gendongan Bulan. "Doremi pintar deh, nurut kalau sama papa."


"Enak aja. Gue papanya" marah Dodo tidak terima.


"Apaan sih lo, gue yang ngadopsi dia sama Bulan bukan lo"


"Siniin biar gue aja yang jadi papanya!" ucap Rosan hendak mengambil Doremi dari gendongan Bintang.

__ADS_1


Bintang dengan siap menghindar dan Dodo dengan cepat menepis tangan Rosan, "Apaan sih lo bocah Fuckboy." teriak mereka bersamaan.


“Udah-udah jangan ribut!” pinta Bulan. “Bin, mending lo ajak temen-temen lo main PS di ruang tengah sana!” saran Bulan karena sepertinya jika mereka terus-terusan berada dalam ruangan yang sama dapat menimbulkan senyawa yang buruk.


“Emang lo punya PS?” Tanya Bintang balik. Pasalnya yang ia tahu Bulan itu tidak punya PS.


Bulan menghela nafas panjang sebentar. “Tadinya gue mau beli PS baru buat Mars tapi, buat kalian aja deh!”


kata Bulan yang membuat teman-temannya melongo kenapa mereka tidak dari dulu saja berteman dengan Bulan dan pantas saja Bintang betah sahabatan sama Bulan.


Bintang, Tiyo, Dodo, dan Rosan sibuk bermain game sedangkan Bulan dan Vani masih menikmati cemilan sedari tadi, cewe memang jado ngemilnya. Karena merasa bosan Bulan mengajak Vani ke kamarnya untuk melihat drama korea kesukaan Vani yang kebetulan membawa fleshdisk.


Ketika masuk kedalam kamar Bulan, Vani dan Dina cukup terkejut melihat kamar Bulan yang mewah sekaligus setiap dinding dikamar Bulan ada foto masa kecilnya bersama Bintang dari tahun-ketahun sampai difoto yang terakhir Bintang mencium puncak kepala Bulan dengan mesranya entah kenapa hati Vani sedikit teriris melihat foto itu.


"Emang ya kalan berdua itu bener bener best pren poreper." ucap Dina terkagum-kagum foto-foto Bulan dan Bintang.


Ternyata bukan foto itu saja masih banyak polaroid-polaroid kecil yang terpajang di atas meja belajar Bulan. “Lo udah lama ya, sahabatan sama Bintang?” tanya Vani yang masih setia melihat foto-foto kebersamaan Bulan dan Bintang.


“Udah dari kelas tiga, mungkin kurang lebih sepuluh tahun.” jawab Bulan.


"Busett dah, nggak bosen lo?"


Bulan tertawa renyah menanggapi pertanyaan Dina, "Bintang malahan yang sering bosen sama gue."


Dina mengangguk-ngangguk mendengar jawaban Bulan, "Nggak heran sih, ceweknya aja gonta-ganti."


"Asal lo tau aja ya, dia nggak pernah sekalipun pacaran semua itu cuma rumor atau kalau nggak gitu cewenya yang ngerasa hubungan mereka spesial dan mengkalim Bintang sebagai pacarnya," jelas Bulan.


"Rumor yang itu bener juga ya," tebak Dina.


"Berapa Banyak sih rumor yang lo denger sebenarnya"


"Banyak banget sampe lo juga ikut terkenal gara-gara popularitas Bintang." Dina tahu itu karena dia pernah join grup khusus fansnya Bintang. Itu salah satu pengalaman kelam Dina.


“Lo nggak ada perasaan gitu ke Bintang?” Tanya Vani tiba-tiba.


"Gue lihat lo mesra banget deh sama Bintang" lanjut Vani.


"Udah bukan mesra lagi. Udah kayak suami istri malahan." Imbuh Dina.


******


Sekarang Bulan dan teman-temanya sudah berkumpul di halaman belakang dengan peralatan BBQ yang sudah lengkap tinggal memotong buah, daging dan menusukkanya saja. Akhirnya setelah cukup lama berdebat Bulan, Bintang, vani, dan Dodo mendapat bagian memotong daging, buah, dan sayur-sayuran sedangkan Tiyo dan Rosan bagian membuat bumbu dan menyiapkan bahan pangangan.


Semuanya sedang mengerjakan pekerjaan masing-masing dengan telaten saat sedang asik-asiknya memotong daging tangan Bulan tidak sengaja terkena sayatan pisau. Bintang yang melihat itu langsung tampak cemas dan menghisap darah Bulan lalu pergi ke rumah untuk mengambil plester dan memasangkanya di tangan Bulan.


“Lo gapapa kan?” cemas Bintang.


Bulan menarik tanganya measa tidak enak dengan Vani dan Dodo. “Gue gapapa, udah lanjut”


Kini saatnya mereka memangang BBQnya dan mengolesi bumbu setelah cukup lama menunggu akhirnya semuanya sudah siap disantap. Malam itu semuanya menikmati kebersamaan mereka bahkan Bulanpun sekarang menikmati rasanya kebersamaan bersama sahabat lagi, kenapa tidak dari dulu saja ia mempunyai banyak teman?


“Udah kenyang semua?” tanya Bintang saat melihat semua temanya hampir teller karena kekenyangan.


“Udah” jawab Tiyo.


“Gue nggak nyangka Tiyo sama Rosan bisa buat sambal seenak ini. Gue kira rasanya bakal kacau” puji Dodo yang terkesan mengejek.


“Iya, bener banget rasanya mantul banget!” ucap Vani sambil memakan BBQnya.


“Akhirnya lo menyadari kalau lo ngefans sama gue” goda Rosan.


“Gue suka sama sambal lo bukan berarti gue ngefans sama lo!” ketus Vani lalu pergi meninggalkan halaman belakang dan menuju rumah.


Bulan hanya tersenyum simpul ketiak perdebatan-perdepatan seperti ini terjadi.”Ayo tidur” ajak Bulan, menyuruh teman-temanya untuk naik kekamar atas.

__ADS_1


Malam ini Bulan tidur bersama Vani, Tiyo dan Rosan dikamar tamu, Bintang dan Dodo tidur dikamar Bintang dirumah ini, sejak kecil oma memang sengaja membuat kamar untuk Bintang katanya biar sering tidur dan main kesini.


Sudah hampir jam sebelas malam Bulan belum bisa tertidur sedangkan Vani sudah tertidur sejak tigapuluh menit yang lalu. Bulan berniat keluar dari kamar ia melihat pintu kamar Bintang yang ada disamping kamarnya, pintunya sedikit terbuka sepertinya Bintang juga tidak bisa tidur.


Bulan berjalan menuju halaman belakang dan duduk di gazebo taman dia merenung sambil menatap bintang-bintang dilangit. Bulan jadi teringat tentang pengakuan bahwa Vani menyukai Bintang dan sekarang sepertinya benih-benih cinta itu mulai timbul juga dihati Bulan namun egonya mengatakan bahwa ia harus mematahkan perasaanya kepada Bintang.


Karena rasa kantuknya yang sudah mulai melanda Bulan memutuskan untuk kembali ke kamar. Saat Bulan hendak menaiki tangga Bulan melihat Bintang yang datang dari arah dapur. “Bintang?!” Bintang terkejut melihat Bulan yang memakai piyama putih begambar kucing dengan rambut diurai “lo ngapain?” lanjut Bulan.


“Gue habis kekamar mandi, di atas lampu kamar mandinya rusak” jawab Bintang.


Bulan mengangguk dan melanjutkan langkahnya dan menaiki tangga. “Lo sendiri habis dari mana?” tanya Bintang balik.


“habis dari taman” ucap Bulan sedikit dingin namun Bintang menyadarinya.


“Lo kanapa lan? lo gapapa kan? Ada yang luka? Ada yang jahat sama lo?” Bulan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Bintang.


“Alay lo, gue bukan anak kecil yang selalu lo hawatirin lagi jadi, gue mohon jangan terlalu hawatir sama gue.” ucap Bulan. Lalu melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Bintang yang mematung ditempat.


Bulan benar-benar merasa bersalah dengan Bintang seharusnya ia tidak mengatakan demikian namun, ini semua karena ia ingin mematahkan perasaan kepada Bintang semakin Bintang menghawatirkanya semakin membuat Bulan terbang dan selalu ingin di nomor satukan oleh Bintang.


Mungkin mulai sekarang Bulan harus menjauh dengan Bintang agar tidak terlalu terbawa suasana dan baper dengan tingkah Bintang yang semuanya hampir dianggap bercanda olehnya. Untuk sementara waktu mungkin Bulan akan mengantung Bintang sampai Bulan benar-benar sudah tidak punya perasaan lagi kepada Bintang maka Bulan akan menolak Bintang.


Bintang hanya menatap punggung Bulan yang semakin menjauh aneh, tidak bisasanya Bulan bersikap seperti ini dengan Bintang.


‘Ini gue yang nggak peka atau emaang pada dasarnya cewe itu labil?!’ gerutu Bintang diruang tengah, lalu mengambil camilan yang berada diatas meja. Setelah merasa ada hawa-hawa negatif Bintang memperpanjang langkahnya menuju kamar.


******


Tepat pukul delapan pagi semunya sudah bangun dan mulai memenuhi rumah Bulan. Bulan dan Vani yang tengah membantu menyiapkan sarapan.


Tidak ada kata canggung disini bahkan semuanya menganggap ini rumahnya sendiri seperti saat ini sebelum sarapan pagi Tiyo menikmati kopi dan koran paginya diteras samping rumah, persis seperti bapak-bapak komplek sebelah. Rosan dan Dodo tengah panggilan alam dan Bintang yang sedang sibuk sendiri dengan Dorami kucing peliharaan Bulan.


“Binnn…bilangin ketemen-temen lo makanannya udah siap!” teriak Vani di ruang makan.


“Iya bentar” sahut Bintang.


“Cepetan, keburu dingin nih!!”


"Bentar gue lagi ngasih makan anak gue!"


Setelah beberapa menit Bintang dan ketiga temannya akhirnya datang dan berkumpul di meja makan.


“Siapa yang mau pimpin baca doa?”tanya oma memecah keheningan.


“Tiyo aja” balas bintang.


“Kenapa harus gue?”


“Lo kan kauman. Kaum beriman!” ledek Bintang yang diikuti ketawa renyah dari teman-temanya. Oma yang melihat itu sangat bahagia karena, ini pertama kalinya ia melihat Bulan bahagia dengan keberadaan teman-temanya.


“Kalian itu satu kelas kah?” tanya Oma disela-sela makan meraka.


“Iya oma, kecuali Vani” jawab Dodo mewakili.


Oma hanya mengangguk dan sepertinya akan bertanya lagi. “Bulan anaknya dingin ya?”


“Awalnya iya oma tapi, setelah kita mulai dekat sama Bulan akhirnya leleh juga” masih Dodo yang mewakili. Sepertinya Rosan dan Tiyo tahu bahwa sahabatnya itu sedang PDKT kepada omanya Bulan, bukanya Bintang menutup mata akan hal itu dia sangat tahu bahkan jauh sebelum Rosan dan Tiyo hanya saja Bintang bodo amat dengan semuanay karena ia tahu oma-nya ini lebih mempercayakan Bulan dengannya daripada Buid yang baru dikenalnya.


“Kamu suka Bulan ya?” Tanya oma lebih mengarah kepada Dodo. Dodo yang ditanyai spontan seperti itu hanya bisa tersenyum.


“Oma kasih izin, tinggal Bulannya aja gimana”ucap oma yang membuat Bintang tersedak dengan makanannya.


Saat itu juga suasana sarapan mereka menjadi hening entah mereka menyadari hawa yang tidak enak dari Dodo dan Bintang atau mereka hanya malas berbicara saja.


Tio, Dodo, Rosan dan Vani memutuskan untuk pulang dari rumah bulan nanti sore saja mereka masih ingin menikmati vasilitas di rumah Bulan ini, snack yang tinggal sesuka hatinya seperti supermarket, alat-alatgym yang terbaru dan cangih tentunya pokoknya semua alat-alat dirumah Bulan itu serba terbaru dan canggih.

__ADS_1


Seperti saat ini mereka berdua tengah mencoba-coba alat-alat musik Bulan yang terbaru dan pastinya sangat mahal, Bulan memang tipikal orang yang tidak mau ketinggalan zaman jadi, setiap ada barang baru dia tidak segan-segan menyumbangkan alat-alat lamanya dan membeli alat canggih yang terbaru.


Seperti saat ini Rosan tengah bergeming dengan drum baru yang Bulan beli sekitar tiga minggu lalu bahkan Bulan belum mencobanya sama sekali, Bintang yang tengah mencoba basnya, Tio seperti mencari nada-nada yang pas dengan gitarnya dan Dodo yang tengah menkan-nekan tust piano sedangkan Vani dan Dina dia lebih memilih menemani Bulan mengunboxing biola yang baru dibeli oleh Bulan.


__ADS_2