
HAPPY READING.....
Enak ya jadi kamu, otaknya encer terus. Nggak kayak aku jadi nomor dua terus.
Entah kenapa hari ini tiba-tiba pihak sekolah memgumumkan bagi para siswa yang ikut serta dalam kelas khusus olimpiade menuju kelas olimpiade masing-masing saat jam istirahat.
Ketika bel istirahat berbunyi Bulan segera berjalan dengan langkah cepat menuju kelas olimpiade matematika. Bahkan gadis itu menghiraukan Bintang yang terus memanggil-manggil namanya.
Bulan membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar, disana sudah ada Fathur yang tengah membaca buku.
Bulan tersenyum canggung ketika Fathur menatapnya, “Nggak usah buru-buru.” Ingat Fathur.
Bulan menggaruk lehernya yang tidak gatal dia dengan langkah perlahah mengambil tempat duduk disebelah Fathur. “Nggak tahu kenapa perasaan gue nggak enak sama pengumumannya.”
“Santai aja palingan juga tentang pengarahan buat olimpiade.”
"Tetep aja gue nggak tenang thur." ucap Bulan mulai gelisah.
Fathur menghentikan aktivitasnya. Dia memiringkan tubuhnya sembilan puluh derajat menatap Bulan.
"Tenang aja, kita kan udah mempersiap kan semuanya dengan matang," hibur Fathur.
Bulan mengangguk, dia berusahan menepis pikiran negatifnya. Tim mereka memang sudah memperispakan semuanya dengan matang seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tak lama setelah Bulan datang. Bintang masuk dengan napas tersengal-sengal.
“Jalan lo cepet banget!”
“Sini duduk, atur napas lo dulu baru ngomong lagi.” Bulan menyuruh Bitang duduk dibangku kosong disebelah kirinya.
“Menurut lo ada apa ya bin?” tanya Bulan. Setelah dirasa sahabatnya itu sudah bernapas dengan normal kembali.
“Paling juga pengumuman buat lomba olimpiade.”
“Kan kemarin udah diumumin, waktunya tinggal dua minggu lagi kan?”
Bintang mengangguk, memang benar pengumuman lomba itu sudah diumumkan bahkan sebelum mereka memasuk kelas khusus ini.
"Kok firasat gue bilang kalau ada perubahan dalam olimpiade kali ini ya." tebak Fathur.
Bu Asih masuk dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, ia segera duduk di meja yang bisanya dipakai oleh profesor Harris.
“Selamat siang anak-anak!” sapa bu Asih. Guru matematika paling killer di sma ini.
“Siang bu.” jawab bereka bertiga serentak.
“Lansung pada intinya saja. Kalian pasti sudah tahu bahwa rencana awalnya bahwa olimpiade kali ini adalah perregu namun, dari pihak pusat memberi pengumuman baru bahwa ada perubahan.” Bu Asih menjeda kalimatnya sepertinya dia juga tidak tege memberikan pengumuman kalin ini, “Olimpiade kali ini perorangan seperti tahun lalu” lanjutnya yang membuat ketiga siswa tersebut syok seketika.
__ADS_1
Bagaiman tidak selama dua minggu terakhir ini mereka belajar bersama di kelas khusus ini bahkan sudah membagi tugas mereka saat olimpiade nanti.
“Kok mendadak gini sih bu,” Protes Bintang.
“Iya, dua minggu lagi itu waktu yang singkat buat kami,” lanjut Fathur setuju dengan perkataan Bintang.
Bu Asih melepas kacamatanya, menatap mereka bertiga bergantian. “Saya tahu ini mendadak. Namun, ini sudah keputusan pihak pusat kami sebagai guru mau protespun sudah tidak bisa.” jelas Bu Asih.
“Jadi, kita akan diseleksi lagi?” kali ini Bulan yang bertanya.
Bu Asih mengangguk, “Kami para guru sudah sepakat, tiga hari lagi akan diadakan seleksi jadi, tolong disiapkan dengan sematang-matangnya” setelah mengatakan itu Bu Asih pamit dan menyuruh mereka segera kembali ke kelas karena jam pelajaran berikutnya akan segera dimulai.
Lagi-lagi mereka bertiga menghela napas lelalah. Mereka sudah menggap tim mereka sebagai rekan seperjuangan. Bagaimana mungkin sekarang mereka harus mengalahan timnya sendiri untuk bisa ikut olimpiade.
Fathur merebahkan tubuhnya disenderan kurisi, dia menghela napas cukup lama. “Kayaknya udah nggak perlu diseleksi lagi deh. Pasti Bulan yang bakalan ngewakilin olimpiade matematika.” ucap Fathur dengan nada pasrah.
Bulan memalingkan wajahnya, dia menatap Fathur tidak suka. “Lo pesimis banget sih, setahu gue lo itu orang yang ambis dan optimis.”
Fathur tersenyum miring, “percuma kalau lawan gue orang secerdas lo!” setelah mengatakn itu Fathur pergi keluar kelas, meninggalkan Bulan dan Bintang yang masih bergeming disana.
Bahkan Fathur yang terknal ramah kepada kaum hawa sekarang mengabaikan Bulan. Sepertinya pengumuman kali ini benar-benar membuatnya terpukul.
Bulan menatap Bintang yang sedari tadi diam termenung. Entah apa yang sedang dipikirkan cowok itu.
“Ayo ke kelas bin!” ajak Bulan.
Karena tidak ada jawaban dari Bintang. Bulan mencubit kecil perut Bintang, membuyarkan lamunannya.
“Aduhh..Sakit lannn!”
“lo kenapa sih? Ngelamun?”
Bintang memijat pangkal hidungnya, benar yang dikatakan Bulan dia sedari tadi tengah melamun. “Gak papa kok. Ayo ke kelas!”
Bulan menatap punggung Bintang yang berjalan didedepannya.
‘kenapa tuh bocah?’
******
Bulan menyalakan bel rumah Bintang beberapa kali, meskipun dia sudah sering diperingkatkan oleh pemilik rumah ini untuk langsung masuk rumah saja tanpa menyalakan bel. Namun, Bulan masih ingat tata krama menjadi tamu dirumah orang lain.
Mars membuka pintu rumah dengan muka kucelnya. Seketika wajahnya yang kucel berubah menjadi sentum ceria secarah matahari.
"Kak Bulan!" ucop Mars histeris bahkan cowok itu dengan terang-terangan memeluk bulan tanpa malu.
"Jangan kayak anak kecil." ucap Bulan menjauhkan tubuh Mars dari dirinya.
__ADS_1
"Kan aku kangen sama kakak." bener-bener bocah satu ini ketika bertemu dengan Bulan akan sangat manja.
"Gue bukan mau ketemu sama lo."
Mars mendecak sebal, bahkan raut mukanya yang awalnya ceria berubah menjadi tak suka.
“Kak Bintang ada di kamar” ucap Mars tanpa basa-basi.
“Tau aja kalau gue nyari Bintang.” Bulan mengacak-acak rambut Mars gemas.
“Kak Bulan!” teriak Mars tidak suka rambut klimisnya diacak-acak.
Bulan meghiaraukan teriakan bocah itu, dia langsung naik ke lantai dua. Menuju kamar Bintang.
Bulan membuka kamar Bintang begitu saja tanpa mengetuk. Karena sudah terbiasa. Disana dia melihat Bintang tengah berkutat dengan soal-soal matematika di meja belajarnya. Bhakn dia tidak sadar akan kehadiran Bulan.
“Tumben rajin.” ucap Bulan membuat Bintang menoleh ke arahnya.
“Iya nih.”
Bulan duduk diatas kasur kamar Bintang. Dia menatap Bintang yang tengah sibuk belajar. Atau terkadang iseng membuka album K-POP milik Bintang namun, lama-kelmaan dia merasa bosan juga karena diabagikan terus menerus oleh Bintang.
Bulan merebahkan tubuhnya diatas kasur, menatap langit-langit kamar Bintang, “Lo nggak mau main?” tanya Bulan.
“Gue sibuk belajar. Seleksi olimpiade kan tiga hari lagi.” jawab Bintang sok sibuk.
“Penting banget ya seleksinya buat lo?”
“Iyalah. Ini kan kesempatan terakhir gue, nanti kelas duabelaskan udah nggak bisa ikut olimpiade lagi. Kalau gue bisa menang bisa tambah poin buat masuk ke jurusan informatika” jelasnya sambil menatap Bulan yang tengah rebahan.
Bulan mengangguk-ngangguk ia sempat lupa bahwa Bintang ingin masuk ke jurusan informatika dan kerja di Microsoft.
“Lo nggak belajar?” kini Bintang yang bertanya ke Bulan.
Bulan menggelengkan kepalanya, “Lagi nggak mood.”
“Gak usah belajar!” seru Bintang.
“Kenapa?" tanya Bulan. Heran dengan perkataan Bintang.
“Biar gue yang lolos tes”
“Nggak fair dong namanya”
Bintang berdiri ikut merebahkan tubuhnya disamping Bulan, dia memejamkan matanya sejenak. “Gue capek lan.”
“Capek kenapa?”
__ADS_1
“Jadi nomor dua terus!”