
HAPPY READING.....
lain kali kalu bosen sama gue bilang. Jangan asal ngejauh gue nya kan jadi serba salah. Lo diemin gue juga nggak papa kok, gue bakal nunggu lo.
Suasanaya di mobil sangat akward meskipun mereka sudah berteman sangat lama namun, masih ada saja momen-mement akward seperti ini. Mereka benar-benar mendiamkan satu-sama lain.
Bintang memarkirkan mobilnya dibagasi rumah, di menyuruh Bulan turun dan memintanya untuk berbicara di kamarnya saja. Bulan hanya menurut saja, mengkuti Bintang sampai tiba di kamarnya. Disana ia langsung duduk diatas tempat tidur Bintang, sudah terbisa memang.
“Tunggu bentar gue mau ganti baju dulu”
Bulan hanya mengagguk lalu berdiri, menjelajahi kamar Bintang dan melihat benda-benda aneh di kamar ini. Fokus matanya tertuju pada sebuah polaroid berisikan foto-foto member blackpink dan red velvet. Bulan mendekat kerah didinding berisikan polaroid, ia tertarik kepada salah satu foto cewe yang menurutnya cukup cantik.
“Itu namanya jisoo, cantik kan?” ucap Bintang tepat berada di belakangnya dengan kaos khas rumahan.
“Iya cantik”
“Tapi masih cantikan lo sih” ucap Bulan sambil memaikan rambut Bulan yang selalu di kuncir.
“Gue sadar diri kok bin, gak usah dipuji kaya gitu”
Bintang memutar tubuh Bulan agar menghadapnya, lalu meraih dagu Bulan agar dia bisa melihat manik mata hazelnut milik Bulan. Ditatap se intens ini oelh Bintang membuat debaran jangtungnya semakin cepat rasanya kupu-kupu terbang juga memnuhi perutnya.
“Lo itu bisa ditatap kayak gini, kalau mereka kan cuma bisa dilihat pas konser doang”
Bulan segera menarik tangan Bintang dan dagunya, dia tidak boleh melupakan tujuan utamanya kerumah Bintang.
“Gue mau bicara sama lo”
Bintang menyuruh Bulan duduk disofa kamarnya, Bulan hanya menurut saja lalu segera duduk disana.
“Gue minta maaf ya bin”
Tanpa ba bi bu Bintang tiba-tiba menidurkan kepalanya diatas paha Bulan, ini memang bukan hal baru sih tapi, tetap saja itu membuat Bulan cukup terkejut
“Soal?” tanya Bintang. Tapi tatapan matanya masih fokus menatap wajah Bulan, sepertinya cowo itu sedang menikmati pesona wajah milik Bulan.
“Sticky note”
Sialan memang. Memang Bintang pikir ditatap seperti itu tidak membuat hatinya cukup bersesir apa.
“Gue juga minta maaf, seharusnya gue nggak nagasih sticky note itu ke Vani”
“Jadi?—“
“Kita baikan kan?”
“Iya”
Bintang membuka ponselnya disana ada beberapa chat dari cewe-cewe yang selalu mencari perhatian kepadanya, kalau di anggruin kan juga tidak baik. Tidak seperti cewe disampingnya ini yang terkadang bodoamat kepadanya.
Sudah bebrapa kali Bulan mencoba mengajak Bintang tapi, selalu diabaikan. Sepertinya ponselnya kini lebih menarik dibandingkan Bulan.
Tiba-tiba saja Bintang mengentikan aktivitasnya bermain ponsel. Ia melihat keatas, melihat wajah Bulan yang sekarang juga tengah menatapnya.
“Lo ngerasa ada yang aneh nggak lan?”tanya Bintang, tanpa melepas tatanya dari wajah Bulan.
Bulan menggelengkan kepalanya, “Nggak, biasa aja”
“Gue ngerasa aneh akhir-akhir ini, ada sesuatu yang beda” akhinya Bintang mampu mengatakan kalimat itu.
Bulan menatap lurus ke dapan, ia sudah menduga hal ini akn terjadi. “Lo bosen ya temenan sama gue?”
Setelah cukup puas memandangi wajah Bulan, Bintang mendudukkan tubuhnya disamping Bulan sambil.
“Nggak kok”
Bulan menyenderkan kepalanya ke bahu Bintang, tatapannya masih lurus kedapan ia sangat menyukai sandaran ini, “Bosen juga nggak papa, namanya aja manusia. Wajar.”
Bintang cukup terkejut dan langsung memutar tubuhnya sebilan puluh derajat menghadap Bulan, “Lo gapapa?”
“Emang gue kenapa?”
Bulan tersenyum, senyum itu dan ekspresi wajah yang selalu tenang. Benar-benar membuat Bintang tidak bisa menebak-nebak isinkepala Bulan.
“Sorry ya lan. Tapi, hidup gue itu bener-bener udah kayak tergantung sama lo"
“Iya, lain kali kalu bosen sama gue bilang. Jangan asal ngejauh gue nya kan jadi serba salah. Lo diemin gue juga nggak papa kok gue bakal nunggu lo"
Bintang mencengkeram erat bahu Bulan lalu memeluknya, Bulan pun membalas pelukan itu, mengosok-ngosokkan tangannya ke punggung Bintang, “Lo tetep sahabat gue yang paling baik lan, pokoknya lo harus dengerin kalimat gue yang satu ini. Apapun nanti kalau lo ngerasa gue samakin jauh lo harus tetp inget kalau lo itu sahabat gue”
“Iya-iya, butuh berapa lama?”
Bintang hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Kali ini sepertinya ia tidak bisa memastikan kapan waktunya.
“Gue tau, ga usah dijawab gue tunggu kok. Besok gak usah antar jemput gue, lo pasti butuh waktu kan? Gue pamit. Oma pasti udah nyariin gue”
Saat hendak melangkah keluar Bulan tiba-tiba mengentikan langkahnya, ia membalikkan badannya menghadap Bintang, “Lo besok lomba kan? Semanagt ya” setelah mengatakan itu Bulan berlalu pergi.
“Iya, makasih”
__ADS_1
Bintang masih terdiam ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa, dia hanya menatap punggung Bulan yang semakin menjauh dari kamarnya.
*****
Hari dimana pertandingan basket antara sma UFOST dan SATURNUS akhirnya tiba. Dimana pertandingan ini sangat di nanti-nantikan oleh semua orang. Dua sma ini memang cukup popular bukan karena fasilitas pendidikannya saja tapi, juga karena sekolah ini hanya bisa di injaki oleh anak-anak orang kaya dan para pejabat tinggi.
Seperti saat ini Baru saja tiba disekolah Dina sudah heboh sendiri bahkan dia membuat Q and E di snapgramnya tentang siapa yang akan menang hari ini. Bulan yang menyaksikan tingkah Dina hanya memandanginya saja tidak mau berkomentar sama sekali.
“Lan lo nanti nonton kan?” tanya Dina tapi, fokusnya masih tertuju pada snapgramnya.
“Iya, kan nanti Bintang main”
“ah iya, lo kan bestpren poreper banget sama dia”
Bulan hanya tertawa kecil emanggapi ucapan Dina, ia jadi kepikiran untuk menyemangati Bintang. Dia tahu Bintang sedang mode bosan sekarang tapi, menyemangati sahabat sendiri nggak salah kan?
Bulan : Bin
Bulan: Bibin
Tanpa menunggu lama Bintang sudah membalas chatnya.
Bintang : Kenapa lan?
Bulan : Katanya bosen sama gue tapi, masih fast respons aja
Bintang : WA gue emang lagi online jadi balasnya cepet, ini gue juga lagi chatan sama anak-anak basket
Bulan : Yah..kirain udahan bosennya
Bulan : semanggat ya kalu gitu, semoga aja lo menang, lagi.
Bintang : Sabar ya lan
Bintang : Makasih Bulan
“Nanti pertandingan basketnya jam berapa din?”
“Jam pelajaran kedua, lo nggak beli sesuatu dulu buat Bintang?”
Bulan menimang-nimang sejenak pertanyaan Dina apakah ia harus membelikan sesuatu untuk Bintang? Bagaiman jika Bintang menolaknya? Atau bagaimana jika Bintang mengabikannya lagi. Ia tahu para fans Bintang selalu memberikannya minuman setelah pertandingan namun, hanya ,minuman dari Bulan yang selalu ia teriman.
“Lan” tanya Dina lagi.
“Lo mau ikut gue ke kantin nggak?” ucap Bulan pada akhirnya.
“Yaudah ayo, sekali habis dari kantin nati langsung ke pertandingan basket aja. Sebentar lagi dimulai soalnya”
Bulan mengangguk lalu membawa ponselnya ke saku roknya hari ini dikarenakan ia lupa mengisi tempat ini Bulan harus mengisi ulang minumannya di kantin, “Yuk!”
Sesampainya dikantin suasana kantin sangat ramai, dipenuhi oleh para pemain basket yang tengah sarapan juga beberapa siswa yang sedang caper.
Dina, sudah seperti ulat kepanasan melihat para cowo-cowo pemian basket yang tengah menikmati sarapannya. Bahkan sekarang ia mencengkeram tangan Bulan sangat erat sambil menggigit bibirnya.
Bulan mengerutkan dahinya menatap Dina dengan heran, kenapa nih orang?
Bulan menyikut lengan Dina agar dia menghentikan aksi gilanya itu. “Lo kenapa sih?”
Sekarang Dina yang dibuat heran dengan Bulan, “Lo nggak tahu kalau mereka yang tengah makan disamping meja itu cowo-cowo ganteng, terhitz, dan ter kece se--sma SATURNUS cowok-cowok ganteng yang terlahir dengan menggenggam sendok emas” Bisik Dina tepat di samping telinga bulan.
Bulan hanya ber’oh ria saja ia tidak terlalu memusingkan hal itu, dan benar saja jika dilihat-lihat dikantin ini bisa dibilang semua pengunjungnya mayoritas adalah para cewe-cewe yang tengah menatap para cowo-cowo itu dengan tatapan memuja dan kagum.
Saat hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba dari arah belakang ada seoarang cewe yang menabrak Bulan dengan sengaja, Bulan yang belum siaga langsung tersungkur begitu saja ke tanah, ini sangat memalukan. Bahkan semua pandangan mata dikantin kini melihat Bulan terjatuh.
Dina yang berada disampinya segera membentu Bulan dan menatap cewe yang menabrak Bulan tadi dengan tatapan sadis.
Bulan langsung merapikan roknya yang terlihat kotor dan sepertinya lututnya terluka.
“Kalu jalan pakek mata dong” hardik Dina.
“Aduhh..sayangnya mata gue nggak bisa buat jalan”
Sekarang Bulan tahu siapa yang menabraknya, dia adalah Aya kakak kelas yang sempat mengomelinya karena merebut tempat duduknya.
“Udah lah din, dia kan ratunya kantin di sini. Udah ayok temenin gue isi ulang air minum” Bulan menarik tangan Dina yang masih main plotot-plototan dengan Aya dan antek-anteknya.
Setelah selesai mengisi air minum Bulan dan Dina segera menuju kelapangan basket, hari ini mereka cukup beruntung karena mendapatkan tempat duduk diurutan paling depan.
__ADS_1
“Lan bintang lan, keren banget sih sahabat lo itu” heboh Dina sambil menunjuk-nujuk ke arah Bintang.
“Gue juga bisa lihat Din”
Dina menyengir tanpa dosa, lalu mengehentikan aksi hebohnya. Kini Dina dan Bulan nampak tenang sambil menikmati permainan basket.
Bulan menatap permainan basket Bintang dengan lekat, biasanya jika sedang seperti ini Bintang akan beberapa kali menatapnya dengan senyum sok badboynya itu, namun kali ini nihil.
Pertandingan babak pertama satu menit lagi berakhir, entah kenapa hari ini Bulan sangat-sangat berharap bahwa Bintang akan mendatanginya dan meminta minum kepadanya.
Seperti saat ini Bulan tengah menggenggam minuman itu dengan erat, berharap Bintang melihatnya. Namun, sepertinya harapannya pupus bahkan sekalipun Bintang tidak meliriknya ia malah berjalan ke arah lain dia berjalan ke arah…
Itu adalah arah tempat duduk Vani, dan benar saja Bintang menrima minuman dari Vani. Membuat semua penonton pendukung sma UFOST berteriak dramatis sambil memeluk satu sama lain. Dina yang tengah menyaksikan itu tampak melongo, lalu mengalikan tatapannya sambil menatap Bulan.
“Lo nggak papa lan?” Dina tahu persahabatn diantara keduanya sedang tidak baik tapi, ia pikir tidak akan seburuk ini juga.
“Biasa aja” ucap Bulan sambil tersenyum dengan senyum palsunya.
“Nggak papa kok lan, gue yakin Bintang nggak akan semudah itu berpaling sama lo”
“Itu haknya dia sih, gue nggak ngelarang juga”
“Iya juga sih”
Setelah itu babak Kedua dimuali dan skors antar tim perbedaanya sangat sedikit, biasanya tidak seperti ini. Sma UFOST selalu menyandang empat kali kemenangan secara berturut-turut namun, sepertinya kali ini berbeda.
“Lan lo ngerasa aneh ga sih?”
Ternyata bukan hanya Bulan saja bahkan Dina pun juga merasa demikian.
“Iya, sengit banget din”
Dina menajamkan pandanganya melihat satu persatu tim dari sma SATURNUS, dammm!!!...Seperinya Dina mendapatkan petunjuk sekarang. Dia bahkan dengan berani menujuk salah satu pemain dari tim SATURNUS.
“Lan, kali ini SATURNUS ada pemain baru. Lo sadar ga?”
Bulan pun melakukan hal yang sama seperti Dina, mempertajam penglihatnya. Sekarang fokusnya tertuju pada seorang cowok bernomor punggung lima belas. “ setelah mengingat ngiat disetiap pertandingan seblumnya Bulan tidak pernah melihat cowo itu sekalipun.
“Sekarang gue baru sad—“ baru saja Bulan ingin menyelesaikan kalimatnya, bunyi peluit tanda babak telah berakhir membuat fokus siapapun tertuju ke arah layar monitor yang menunukan skors kedua tim.
Teriak kemenangan dari sma SATURNUS langsung menggema di tribun itu, sedangkan sma UFOST sepertinya cukup terpul kali ini. Bagiman tidak gelar empat kali kemenangan yang mereka banggakan sekarang hilang begitu saja.
Bulan langung mengalihkan tatapannya mencari keberadaan Bintang, dia menemukannya Bintang tengah terduduk lesu dipinggiran tribun sambil menatap kosong bola basket didepannya. Ingin sekali Bulan menghampirinya tapi, dari arah kejauhan ia melihat Vani tengah menberikan minum dan semangat untuk Bintang.
Bulan hanya bisa menyaksikan adegan romantis anatara Vani dan Bintang sambil mencengkeram erat botol minumannya. Tiba-tiba teriakan heboh memenuhi kedua tribun itu namun, sepertinya Bulan mengabaikannya dan masih menatap adegan yang dilakonkan antara Vani dan Bulan.
“Lo Bulan Syahara Schuller?”
Bulan yang merasa ada yang memanggil namanya segera mengalihkan pandangannya. Ia sangat-sangat dikejutkan dengan seorang cowo yang tengah berdiri dihadapannya. Tunggu. Kenapa cowo ini bisa mengetahui nama panjang Bulan dan juga nama marganya. Selama ini ia cukup merahasiakannya bahkan di buku presensinya hanya tertuliskan nama Bulan Syahara saja.
“Iya” jawab Bulan, ia masih menerka-nerka sebenarnya siapa cowo didepannya ini.
cowo itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, “Ini ponsel lo?"
Bulan langsung mengambil ponsel itu tanpa menjawabnya dan segera mengecek apakah ponsle itu miliknya atau bukan. Ini benar-benar ponselnya tapi, kenapa bisa sama coeok ini.
“Iya, kok ada di lo?”
“Gue nemu itu di kantin”
Spertinya Bulan tidak sadar, ketika ia jatuh tadi mungkin saja ponselnya terjatuh. “Oh..makasih”
Cowok itu menyungingkan senyumnya, sambil tertawa pelan. “Terima kasih aja?”
Tiba-tiba cowok itu mengulukan tanganya “Gue Alif” ucapnya. Membuat seluruh tribun berteriak kesetanan. Dina yang berada disamping Bulan memanfaatkan kesempatan itu dipaparkan di snapgramnya.
“Gue Bulan” Bulan membalas uluran tanangan itu, lalu melepaskannya secepat mungkin.
Alif mengaruk lehernya yang tidak gatal, sepertinya ia sedang menjadi tontonan gratis disini. “Gue haus, minta minum ya”
Tanpa persetujuan dari Bulan cowo itu sudah mengambil botol minumnya secara langsung dan segera meminumnya hingga tandas. Lagi-lagi Dina memanfaatkan kesempatan itu untuk memfoto Alif. Lumayan setidaknay cita-citanya menjadi selebgram sedikit demi sedikit bisa di raih.
“Makasih.” Cowok itu menyodokan minumannya yang langsung diberi tatapan tak santai dari Bulan. “cantik” setelah mengatakan itu Alif tersenyum lebar, membius semua wanita yang ada disana.
“Oh ini,” ucap Bulan memperlihatkan botol minumnya, “Iya sih, ini edisi terbatas”
Cowo itu langsung menciutkan bibirnya menatap Bulan dengan tatapan gemas, “Maksud gue bukan itu!”
“Ha? Apa?, gimana?,” Bulan dibuat cengo sendiri disini.
Tiba-tiba Bintang datang sambil menepis tangannya yang memegang botol minum, membuat botol itu terjatuh. Bukan hanya itu Bintang juga menarik pergelangan tanganya, membuat seisi tribun bersorak sorarai.
Bintang masih menarik tangan Bulan sampai ke kelas mereka, Bulan tidak tahu Bintang sedang kenapa sudah beberapa kali ia mencoba melepaskan genggaman tangan itu tapi, Bintang masih semakin erat menggenggamnya.
Sesampinya di kelas Bintang langsung melepaskan genggaman tanganya, kini tatapnnya menatap Bulan menyeluruh. “Lo kenapa sih lan?”
Bulan mengerutkan dahinya, kini giliran ia yang menatap Bintang dengan smirk kecilnya. “Seharusnya gue yang tanya itu ke lo” Bulan mengela napas lelah, ia sudah mau menuruti kemauman Bintang tapi, sekarang apa?
“Gue udah ngikutin kemauan lo, sekarang lo tanya gue kenapa? Gue ngak salah denger kan?”
__ADS_1
Tiba-tiba Bintang mengak-ngacak rambutnya sendiri, lalu pergi meninggalkan Bulan yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.