Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
RIVAL


__ADS_3


DION LYMAN HUSODO


Ini visual Dodo. Coba tebak nama Dodo-nya diambil dari mana.


HAPPY READING.....


lo yang bilang tikung menikung itu nggakpapa kan? jadi, mulai sekarang. Selamat. Lo udah jadi rival gue.


Bintang tengah menatap teman-temannya. Sekarang mereka sedang kerja kelompok dirumah Bulan. Kemarin saat Bulan dan Bintang tengah libura guru Sejarah meminta mereka untuk membuat makalah dan dibuat power point lalu mempresentasikan di depan.


Ini memang tidak seperti biasanya karena Bulan tidak pernah ikut kegitan belajar kerja kelompok secara tatap muka seperti ini. Biasanya Bulan akan mengerjakan tiga per empat dari tugas kelompoknya dan sisanya ia serahkan ke taman-temannya tapi, kali ini Bulan sudah memutuskan untuk berusaha menerima orang-orang baru di hidupnya.


Kali ini kelompok mereka beranggotakan empat orang yaitu, Bintang, Bulan, Dodo, dan Dina. Awalnya Bintang tidak satu kelompok dengannya tapi dia memaksa Tiyo untuk keluar dari kelompoknya dengan syarat Bintang harus membelikan skin baru untuk Tiyo.


“Jadi kerja kelompok nggak sih?” Bintang kesal sendiri. Sedari tadi sejak mereka tiba di rumah Bulan mereka bukannya kerja kelompok malah room tour rumah Bulan. Terutama Dina yang sangat antusias dengan hal ini sedangkan Dodo entah kenapa cowo itu menurut saja.


“Bentar dulu dong Bin, lo mah pasti udah sering keluar masuk rumah Bulan gue kan baru kali ini” ujar Dina.


“Benar kata Dina bin, sekalian kerja kelompok sambil main kerumah Bulan” Dodo mwmbenarkan ucapan Dina.


Bintang menatap Bulan yang sedari tadi menerangkan ini dan itu tentang rumahnya, ini bukan kunjungan museum ataupun kampus kenapa se-alay ini sih.


“Perlu gue catat di buku sejarah gak kalau kalian berdua adalah orang ke tiga dan ke empat se—sma UFOST yang datang kerumah Bulan?” setelah mengatakan itu Bintang meningkalkan mereka bertiga dan memilih utnuk menunggu mereka di ruang keluarga rumah Bulan karena, jika diruang tamu tempatnya terlalu formal dan tidak nyaman untuk belajar kelompok.


Setelah acara room tour rumah Bulan selesai mereka semua berkumpul diruang tamu sambil menikmati beberapa cemilan dan minuman yang sudah disediakan.


“Nanti kalau kurang ambil sendiri di rak sncak sama minuman ya, gue ke atas bentar mau ambil laptop sama buku-buku yang penting” ucap Bulan berlalu pergi ke kamarnya.


Dodo melirik Bintang yang tengah asik ngemil sambil rebahan,”Rumah Bulan isinya cuma Bulan sama para pembantunya ya?” tanya Dodo penasaran.


“Nggak masih ada omanya, cuma kayaknya lagi keluar”


“Sumapah rumahnya gede banget.” Dina masih terkagum-kagum dengan rumah Bulan sampai Dodo jadi lebih kepo daripada Dina.


“Biasa aja kali din lihatya” kesal Bintang.


“Diem aja deh lo, ini gue mau buat tik tok kayak di instagram yang lagi tenar tau”


"Gue haran deh Din Bulan kok mau temenan sama lo” heran Dodo.


“Gue kan anaknya hiperaktif, gak kayak lo”


“Sok iye banget sih lo Din” cibir Dodo.


Bintang mengangguk, mendukung ucapan Dodo, “Tau tuh, gara-gara lo gue jadi nggak satu bangku lagi sama Bulan"


Dina menghentikan aktivitas bermain tik toknya, ia menatap kedua cowo didepannya bergantian, “Syirik tanda tak mampu”


“Sialan lo din” karena kesal Dodo melempar bantal sofa yang ada dipangkuannya ke arah Dina.


Ditengah perdebatan mereka Bulan turun sambil membawa laptop dan beberapa bukunya, dia melihat ruang keluarganya sedikit berantakan beberapa bantal sofa yang berserakan dimana-mana.


Ajaibnya setelah melihat Bulan datang ketiga temannya itu langsung mengambil bantal sofa yang berserakan dan menatanya seperti semula.


“Kalian kenapa sih?” tanyan Bulan, sikap mereka bertiga jadi semakin aneh.


“Gapapa kok , kan udah yuk langsung ngerjain tugas” Dina mengambil laptop yang dibawa Bulan lalu menyalakan laptop tersebut.


“Kita bagi tuga dulu ya, gue sama Dina bagian ngetik sama cari referensi di google nanti gantian, Bintang sama Dodo cari referensi dari buku sejarah. Gimana?” ucap Bulan, gadis itu memang yang paling bisa jika dijadikan sebagai ladder.


“Oke” jawab mereka bertiga serempak.


Setelah selesai mengerjakan materi sejarah mereka berempat merebahkan tubuhnya sambil ngemil, hanya mengerjakan tugas sebentar saja mereka sudah kecapean.


“gMGue kok ngerasa cepek banget ya hari ini” ucap Dodo masih rebahan dan memakan cemilannya.


“Sama” sahut Dina yang tengah tengkurap dibawah sofa.


“BULAN!!!!, OMAA PULANG SAYANG!” teriak oma disusul para bibi-bibi pembantu yang langsung membawakan tas milik oma.


Bulan memutar mata malas dan menutup kedua telingnya, ia selalu melakukan itu ketika omanya berteriak.


Dodo dan Dina yang sedang rebahan langsung berdiri dan menyalami oma. Sedangkan Bintang masih duduk disana nampak biasa saja dengan kepulangan oma.


“Ohh..ya ampunn, ada tamu disini! Kalian pasti temannya Bulan kan? Ah, kalian sangat sopan sekali, oma terharu melihat kalian berdua yang menyambut dan langsung menyalami oma” ucap oma terharu. Nenek ini memang sekua mendramatiskan suasana.


Oma mendekati Bulan dan Bintang, menunjuk merek berdua bergantian, “Lihat..lihat, kedua cucu oma ini bahkan ketika oma pulang mereka tidak menyambut oma sama sekali”


“Oma jangan berisik” mohon Bulan yang masih menutup telingga dengan kedua telunjuknya.

__ADS_1


Bintang tersenyum simpul menatap oma, “Terakhir kali kita ngelakuin itu. Oma sangat senang dan ngadain syukuran se—kompleks juga ngintilin kita kemana-mana” ucap Bintang.


Oma mendekati Bintang lalu duduk disana, sangat dekat seperti kepada cucu sendiri dan Bintang juga tampak terbiasa dengan hal itu. Bulan semakin memutar matanya malas melihta adegan nenek dan cucu itu hampir membut Bulan gumoh setiap hari.


Dodo dan Dina hanya bisa duduk cengo melihat tingkah oma Bulan yang ajaib ini.


“Bintang udah baikan sama Bulan ya? duh kalian itu memang menggemaskan kalau berdua, makannya jangan marahan lagi. Oh ya oma sampai lupa” oma menepuk tangnnya tiga kali lalu semua pembantu sudah berkumpul dihadapnnya.


“Siap nyonya, kami siap melayani nyonya sekeluarga”


Oma tertawa renyah lalu melihat Dodo dan Dina bergantian, “Kalian temannya Bulan kan?”


“Iya oma” ucap Dina dan Dodo serempak.


“Ya ampun oma lupa, perkenalkan saya ini omanya Bulan tapi masih muda berseri-seri kan? Karena kalian temannya Bulan jadi udah oma anggap seperti keluarga sediri sama seperti Bintang. Kalau boleh tahu nama kalian berdua ini siapa?” Tanya Oma.


“Saya Dina oma”


“Saya Dodo”


“Kalian dibetah betahin ya dirumah ini, sering-sering main kesini juga gakpapa” oma masih sangat ceria.


“Kalian udah makan siang? Ah belum ya, yaudah cepetan buatin makanan sana!” bahkan Dodo dan Dina belum menjabpun Oma sudah menyuruh semua pembantunya membuat makan siang.


“Siap nyonya”


Oma menepuk tangannya sekali lalu pembantu yang tadi membawakan tasnya memberikatasya kepada oma, “Dodo sini!” Oma menyuruh Dodo mendekat.


Dengan ragu-ragu Dodo mendekati oma dan duduk disampingnya, sekarang posisi oma diapit oleh Bintang dan Dodo, “Kamu punya kendaraan pribadi?” tanya oma.


“Ada sih oma, satu. Tahun lalu baru dibeliin sama papa”


“Yah udah punya ya” oma mengambil sesuatu dari dalam tasnya, “ini oma ada vocer motor gede gratis buat kamu”


“Tapi oma—“


Oma menaruh vocer itu ke telapak tangan Dodo, “Gapapa, buat koleksi”


“Makasih oma” ucap Dodo sambil memeluk oma. Dan tentu saja itu membuat oma senang.


Bintang sedikit was-was ia tidak boleh membiarkan ini bisa-bisa posisi cucu laki-laki kesayangan miliknya direbut paksa oleh Dodo.


Bitang segera menyingkirkan tangan Dodo yang masih bertengger dibahu oma. “Lo kenapa sih do, main peluk aja”


Dina menyeaksikan kejadian itu dengan seksama, ini bukan mimpi kan? Ini sungguh nyata? Sepertinya oma juga akan memberikan vocer gratisan kepada nya, kira-kira apa ya, duit? Belanja di mall?apartemen gratis? Atau vocer umrah gratis?


Dina masih menebak-nebak kira-kira apa yang akan oma berikan kepadanya, hingga gilirannya dipanggil. Dina mendekat memasang wajah cerianya menatap oma yang tak kalah cerianya juga.


“Hai Dina” sapa oma.


“Hai juga oma” Dina benarbenar memasang senyum paling cerianya.


“Jamu kayaknya anaknya hiperaktif banget ya”


“Hehehe..iya oma”


Oma mencari sesuatu didalam tasya, ia mengerutkan dahinya, “Yahh..oma Cuma punya vocer belanja senilai lima puluh juta ini” ucap oma sambil menunjukkan vocer belanja itu.


Mata Dina langsung berbinar mama papanya saja tidak pernah memberinya uang sebanyak ini, tanpa ba bi bu Dina langsung memeluk oma dan mengucapkan kata terima aksih berkali-kali.


“Maksih oma, sayang oma deh"


Sudah cukup Bulan melihat drama antara oma dan para cucu cucunya ini. Bulan berdiri menghampirin oma yang tengah duduk disamping Bintang, “Oma istirahat dulu ya nanti kalau waktunya makan Bulan panggil”mohon Bulan.


“Tapi oma kan mau nyambut teman-teman kamu, oh ya mall kita lagi adain vocer belanja bagi-bagi sama temen kamu, ini hotel kita yang ada di lombok juga ada vocer peket sekeluarga, ini oma juga baru dapat kiriman jalan-jalan sekeluarga ke Korea sama Singapur dari papa kamu, dan ini oma- juga ad-“ Bulan langsung menarik paksa omanya ke lantai atas, jika dibiarkan disini terus itu akan menganggu teman-temannya.


“Itu beneran oma Bulan ya?” Dodo masih belum bisa mencerna kejadian hari ini.


Dina menatap vocer belanja yang dipegangnya, “Gue gak lagi mimpi kan Do, coba lo tampar gue do!”


Dodo menampar Dina pelan, Dina meringis ini sakit berarti dia sedang tidak bermimpi, bukannya norak Dina juga sering mendapatkan vocer belanja tapi tidak sampai lima puluh juta juga, paling banyak ia hanya pernah mendapatkan senilai lima juta.


Bintang masih melihat adegan Dodo dan Dina yang masih syok karena kejadian ini, “Alay lo berdua”


“Ko jangan syirik gitu dong bin” sengit Dina.


“Iya, lo yang nggak dapat apa-apa jangan sedih ya” ujar Dodo setengah mengejek.


“Dih apaan sih, gue setiap minggu dapat vocer gratis seratus juta dari keluarga Bulan, dapat mobil seharga satu miliar lebih, dan lo masih Bilang gue syirik?”


Setelah mendengar itu Dina dan Dodo ganti menatap Bintang dengan tatapan penuh kesyirikan. Bagimana mungkin ada orang seberuntung Bintang di dinia ini.

__ADS_1


****


“Nona ada telepon dari tuan!” seru pengawal itu, sambil menunduk.


“Oh iya, gue tinggal bentar ya” pamit Bulan meninggalkan teman-temannya yang tengah asik bercengkerama di gazebo rumah Bulan.


Dodo melihat kepergian sampai memasuki rumah ‘gue nggak salah lihat sama ekspersi bulan tadi kan?’


Dilihatnya Bintang yang tengah menatap Bulan dengan pandagan yang menurut Dodo penuh kehawatiran. “Lo kenapa bin?”


Bintang terkejut lalu menormalkan ekspresinya kembali, “Ha? Gapapa kok”


Dina masih sibuk membalas balasan story disnapgrammnya, sedari tadi cewe itu tidak terlepas dari ponselnya. Dina menghentikan aktifitasnya membuat video snapgram kini ia beralih ke isi dmnya yang penuh dengan sebuah pertanyaan. Pengikutnyapun juga semakin bertambah.


“Sumpah ini gila, parah benget!” teriak Dina heboh.


“Kenapo lo Din?” tanya Dodo sambil melihat ponsel Dina yang sepertinya manrik.


Dina memeprlihatkan isi dmnya secara refleks Dodo membaca isi dm itu dengan cukup keras, “Apa hubungan antara Bulan dan Bintang”


“Ha? Gue sama Bulan” Bintang menunjuk dirinya sendiri.


Dina mengangguk lalu segera membuat video di snapgramnya, “Apa hubungan kamu sama Bulan” Dina menggulangi pertanyaan tadi.


“Sahabat, gue sama Bulan sahabatan dari kecil” setelah mengucapkan kata itu Dina langsung mengepostnya dan mencari pertanyaan menarik lainnya.


“Verapa lama lo sahabatan sama Bulan?” lagi Dina masih melakukan hal yang sama, sepertinya ia memanfaatka situasi ini untuk ketenarannya.


“Dari sebelum gue kelas tiga SD, lo hitung sendiri deh”


Dina menggunakan tangannya yang lain utuk menghitung berapa lama Bulan dan Bintang bersahabat, “ satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembiln,wohhhhh..udah sembilan tahun mereka berteman ternyata”


Dina segera mempost video tadi, lalu menscroll isi dmnya, “Masih banyak yang di tanyaain lagi nih Bin”


“Yaudah sih gapapa sekali klarivikasi biar gak banyak yang salah paham” entah kenapa Bintang lagi baik hati hari ini.


“Pinjem hp lo dong do!” pinta Dina.


“Buat apa?”


“Biar gue enak aja gitu ngasih pertannyaan ke Bintang, biar ga buka tutup dm sama snapgaram”


“Serah lo aja deh!” ucap Dodo sambil menyerahkan ponselnya.


Dina melanjutkan sesi tanya jawabnya, kali ini dia meminta Dodo untuk memvideokan sedangkan Dina bertugas menanyai Bintang.


“Buat kak Bintang, aku penasaran banget. Sebenarnya kakak itu ada rasa nggak sih sama kak Bulan?”


Bintang terdiam, ada rasa? Kenapa ia jadi bimbang gini sih biasanya ia akan tegas menjawab bahwa dia hanya punya satu rasa untuk Bulan. Rasa ingin melindungu dan rasa sayang kepada sahabat.


“Jawab elah bin, cepek gue ngevideonya” protes Dodo.


“Gue sama Bulan kan udah lama sahabatan. Jadi selama ini yang gue rasain itu kayak gimana ya mungkin seperti rasa sayang antar sahabat gitu aja sih”


“Pertanyaan berikutnya, kakak percaya gak sih anatar persahabat cewe dan cowo itu gak munngkin ada rasa”


“Buktinya gue sama Bulan juga biasa aja, kita juga pernah berantem kayak sahabat lainnya gak ada rasa-rasa gituan. Ralat bentar, maksud gue belum ada rasa begituan”


“Lanjut ya, mungkin gak kalau Bintang nembak Bulan?”


Bintang terdiam, ia sering menggoda Bintang dengan candaan seperti itu kenapa ia malah gelisah gini sih, “Mungkin aja gue nembak dia, bisa juga nggak. Kedepannya kan nggak ada yang tau”


“Ini terkahir bin, tikung menikung itu menurut kakak gimana?”


“Ya gapap sih, kalau hubungan lo masih kayak pacaran atau tunangan pokoknya beum menikah aja, kan belum milik orang jadi, gapapa lah”


Setelah itu Dina segera mempost postingan terakhirnya ini, dan dmnya masih dibanjiri dengan fans Bintang yang mampir ke lapaknya hanya sekedar mencari tahu informasi tentang hubungan Bulan dan Bintang.


“Lo suka sama Bulan kan Bin?” tanya Dodo tiba-tiba.


Bintang membelakkan kedua matannya, ia menatap Dodo dengan kerutan didahinya.


“Udah jawab aja kenapa sih ribet banget” desak Dodo.


“Jalau iya kenapa? Kalau nggak kenapa?”


“Kalau iya, selamat mulai sekarang gue bakal jadi rival lo buat dapetin Bulan” setelah mengatakan itu Dodo segera menyalami tangan Bintang dan berlelu pergi memasuki rumah Bulan.


Dina menyesel tidak menvideo kejadian tadi, ia merutuki kesalahannya jika ada video ini ia yakin akan segera menjadi atris snapgram dalam waktu terdekat.


“Kalian tadi nggak beneran kan?” tanya Dina ragu-ragu.

__ADS_1


Bintang hanya diam saja, menatap Dodo yang tengah berjalan memasuki rumah Bulan, karena tidak ada respons dari Bintang Dina segera meninggalkan Bintang yang tenggah melalun, ia takut temannya ini kesambet jadi dia buru-buru pergi.


__ADS_2