
kartun kesukaan Bulan
karakter kesayangan Bulan
HAPPY READING.....
namanya juga manusia kalau udah nemuin hal baru yang lama dilupain.
Jamkos membuat seisi kelas XI MIPA-3 mulai gaduh, banyak anak-anak yang mengabaikan tugas mereka. Ada juga yang rajin namun bisa terhitung jumlahnya sedangkan yang lainnya memilih bergosip, membuat snapgram, main kartu, juga koser dadakan di dalam kelas.
Bintang yang tengah bermain game online bersama Tiyo, Dodo, dan Rosan melirik Bulan yang tengah duduk tenang di bangkunya. Membuat fokus Bintang yang awalnya tertuju pada game teralihkan oleh Bulan yang sedang mengerjakan tugas. Bulan masih berkutat dengan soal-soal fisika yang sulit dan belum diterangkan oleh guru sama sekali bahkan fokusnya sama sekali tidak teralihkan oleh teman-teman mereka yang ramai, dia masih tetap tenang.
Akhir-akhir ini Bintang memang sengaja menjauhi Bulan, dia juga tidak tahu kenapa melakukan ini. Rasanya kali ini mengenal Tiyo, Dodo, dan Rosan sangat berbeda jika dibandingkan dengan Bulan, bukannya berteman dengan Bulan itu monoton. Hanya saja ia merasa bosan.
“Lirikin aja terus sampe lupa kalau lo udah mati” sindir Tiyo.
“Gue masih sehat wal afiat kok!”
“Maksud gue hero lo yang mati” kini Tiyo mulai tak santai.
Bintang langsung terperanjat dan segera fokus kembali ke ponselnya, dan benar saja heronya kini telah mati.
“Serius dong bin, Bulan mah tiap hari juga bisa lo pantengin” keluh Rosan.
“Iya-iya maaf, nih gue udah hidup lagi. Yuk lanjut.”
Setelah itu mereka menyelesaikan gamenya kembali, sampai victory dan mendapatkan savage. Teriakan kemenengan keempat cowo itu pun memenuhi seisi kelas, itu sudah bukan hal aneh dikelas mereka ini sudah menjadi hal yang sangat-sangat biasa.
Dodo merangkul Bintang secara refleks membuat Bintang secara refleks juga meninju kepala Dodo, “Aduhhh…sakit bin!”
Bintang memundurkan langkahnya menjauhi Dodo, “Jijik gue do” ucap Bintang paranoid.
“Peka dikit kenapa sih do, rumor lo sama Bintang gay itu udah cukup menyebar di sekolah jadi jangan ngelakuin hal-hal aneh samapi rumor itu mereda,” saran Tiyo.
Rumor tentang Bintang dan Dodo gay memang sedang anget-angetnya selama dua minggi kemarin, entah hal apa yang melatar belakangi rumor itu. Samapi sekarang masih belum jelas.
“Padahal gue normal lo, cewek-cewek juga biasa aja kalau ngelakuin hal-hal semacam pelukan” keluh Dodo.
“Lo kayak nggak tau aja sih, dimata cewe kita kan emang selalu salah. Sampai pelukan atau akrab dengan sesame cowok aja dibilang gay” kini Rosan yang bersuara.
__ADS_1
“Udah yuk lanjut push rank, nggak usah mentingin rumor gak jelas bikin pusing aja” ajak Bintang yang diangguki semangat oleh ketiga teman cowoknya.
Saat sedang asik-asiknya push rank Bulan datang menghampiri mereka, dia menatap Bintang intens tapi yang ditatap sedang tidak peka karena fokusnya benar-benar untuk game sekarang, Bintang tidak mau fokusnya teralihkan lagi karena gara-gara fokusnya teralihkan oleh pesona Bulan ia tidak jadi MVP.
Disisi lain Bulan masih menatap Bintang, sepertinya ia mau Bicara tapi tidak enak karena tidak mau mengganggu Bintang.
Beruntung Rosan yang disampingnya cukup peka dan segera menyikut lengan Bintang.
“Kenapa sih san jangan sengol-sengol napa” kali ini Bintang benar-enar menghirauka orang-orang disekitarnya.
Karena gemas Rosan mengirim pesan di tengah permainan mereka ‘ada Bulan disampaing lo!’
Bintang cukup terkejut ia segera menengok ke kanan, karena disamping kirinya ada Rosan jadi ia menengok ke kanan.
“Ada apa lan?” kali ini tidak seperti biasanya, dulu jika Bulan datang Bintang selalu memprioritaskan Bulan dan meninggalkan semuanya. Tapi, ini Bedan bahkan Bintang hanya menengok sebentar dan segera fokus ke gamenya. Bulan benar-benar diabaikan.
Bulan tahu Bintang sedang bosan namun, Bulan tidak menyangka Bintang akan secepat ini mengabaikannya.
“Ada apa sih?! Kalau nggak penting gue mau ngegame dulu”
Bulan segera tersadar akan tujuan utamanya mencari Bintang. “Sticky note gue yang gambar gumball kemarin lo bawa kan?”
“Iya” jawab Bintang singkat.
“Sekarang gue lagi butuh, sticky note nya mana?”
“APAA?!!!” teriak Bulan membuat ketiga cowok didepannya ini menghentikan permainan gamenya seketika ada juga beberapa siswa yang meliriknya tidak suka, karena di kelas ini memang banyak anak yang tidak suka dengan Bulan.
Bintang masih fokus ke gamenya dia nampak menghiraukan Bulan.
Sedangkan Bulan kini dadanya sudah naik turun, itu adalah stucky note kesayangannya bergambar karakter kartun yang sangat di gemarinya dan untuk mendapatkannya pun cukup sulit karena itu tidak ada yang memproduksinya. Sticky note itu secara khusus dibuatkan oleh tantenya yang memang memiliki perusahaan buku cukup besar di Indonesia dan di luar negeri. Bahkan Bulan tidak punya cukup banyak, sticky note itu ia hanya punya satu dan sekarang dengan seenak jidatnya diberikan oleh orang lain.
“Gue kemari ngasih kepercayaan sama lo buat minjemin sticky note itu dan sekarang lo ilangin?” tanya Bulan horror. Bahkan ketiga cowok itu kini menatapnya dengan bergidik ngeri lalu melanjutkan permainan yang sempat tertunda tadi.
“Lo kan masih punya sticky note yang lain masih ada darwin, anais, tuan Richard, dan nicole—“
“Lo tau sendiri kan diantara semua karakter itu cuma gumball yang paling gue suka dan gue mau sticky note gumball sekarang!” Bulan memang memerlukan sticky note itu untuk menghiasi buku catatan fisikanya.
“Tapi udah gue kasih ke Vani lan, gak enak kalau diminta lagi” Bintang benar-benar mengabaikan Bulan, fokusnya hanya game saja.
“Gue gak peduli. Itu sticky note gue dan tante gue cuma memproduksi khusu buat gue jadi, gue mau sticky note itu balik sekarang!”
“Lo masih bisa minta ke tante lo lagi dan juga kata lo, punya lo kan punya gue juga—“
__ADS_1
“Emang perusahaan tante gue cuma memproduksi sticky note yang gue mau apa?!” ucap Bulan emosi ia tidak mau tahu pokoknya ia mau sticky note nya sekarang juga.
“Gue lagi ngegame lan, bisa gak sih gausah rewel dulu”
“Gue gak peduli, pokoknya sekarang lo pergi ke kelas Vani mintakin balik sticky note gue!” teriak Bulan kehabisa kesabarannya.
Bintang mengebrak meja didepannya, ia berdiri meninggalkan gamenya dan Bulan, ia melangkahkan kakinya keluar kelas tanpa mengatakan sepatah kata apa pun. Dia benar-benar pergi begitu saja.
Bulan termenung sejenak ia tidak tahu apakah ia salah karena meneriaki Bintang tadi, atau karena ia terlalu kekanak-kanakan. Haishhh…tapi sticky note itu benar-benar langka.
“Lo nggak papa lan?” tanya Dodo khawatir dengan Bulan.
“Gapapa kok” ucap Bulan lalu berbalik menuju bangkunya dan menyelesaikan catatan fisikanya yang sempat tertunda. Ia hanya bisa bedo’a semoga saja Bintang tidak marah dengannya.
Sekarang semua orang sedang membicarakannya, mencibirnya secara terang-terangan. Sepetinya tadi semua orang sempat menikmati tontonan yang dilakon kan oleh Bulan dan Bintang mengingat mereka punya hubungan yang aneh menurut orang lain.
“Gila sih galak banget dia”
“Bisa-bisanya neriakin Bintang kayak gitu, ga tau diri emang padahal dia punya temen satu doang”
“Cuma sticky note aja ribet banget”
“Rumornya kaya tapi, masalah sticky note aja di besar-besarin”
“Dia mah emang alay gitu”
“Pinter ga mau dibagi lagi”
“gedek gue lama-lama sama dia**”
Bulan semakin mencengkeram erat bolpennya, dadanya mulai sesak nafasnya memberat. Ingatan masalalu sekelebat muncul. Bulan segera memasang earphonenya setidaknya ia tidak bisa mendengar cibiran teman-temannya.
Bulan menutup bukunya ia mengehela napas lega, sekarang tugas fisikanya sudah selesai dan catatan fisikanya pun sudah ia selesaikan. Karena semua tugasnya sudah selesai tinggal menulis beberapa rumus dan menunggu sticky notenya datang Bulan merebahkan kepalanya diatas meja dan mulai memejamkan matanya.
Belum saja Bulan memulai tidurnya, ia dikagetkan dengan kehadiran Bintang yang tiba-tiba melemparkan sticky note ke arahnya. “Itu kan yang lo mau?” kali ini ucapan Bintang benarbenar dingin.
Bulan menatap sticky note itu sejenak 'Bintang tadi ke kelas Vani dan minta sticky note buat gue?'
“Iya maksih” ucap Bulan, lalu merebahkan kepalanya kembali.
“Ya, sama-sama” setelah itu Bintang pergi meninggalkan Bulan, lagi.
‘Dia marah banget ya sama gue?’ batin Bulan.
__ADS_1
Mau minta maaf tapi suasana teman-temannya sedang kacau jadi ia urungkan untuk minta maaf nanti setelah pulang sekolah.
‘Semoga saja ia mau memaafkannya’