Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
KELAS OLIMPIADE


__ADS_3

Selamat menunaikan puasa🙏🏼


HAPPY READING.....


Bulan menatap selembar kertas peminatan kelas olimpiade. Sekarang dia dibuat bingung untuk kelas olimpiade mana yang akan diikutinya.


Biasanya disekolahan ini Bulan yang akan mewakili olimpiade matematika, fisika, maupun kimia, bukan bulan yang mnegajukan dirinya sendiri melainkan guru-guru yang menunjukknya untuk mewakili sekolah. Tapi entah kenapa disemester baru ini peraturannya diubah. Peserta olimpiade murni dari hasil tes.


“Nah gini dong diseleksi, gak kayak tahun-tahun kemaren yang mewakili itu itu aja. Sampe eneg gue lihatnya” ucap Amanda membuat beberapa siswi menatap ke arahnya.


“Bener juga sih, kalau gini kan sama rata. Paling nggak yang otaknya kek kita-kita ini diberi kesempatan” timpal seoerang cewe yang setuju dengan ucapan Amanda.


“Iya juga sih. Lumayan lah meskipun setiap mata pelajaran cuma diambil tiga siswa gini-gini kan kelas kita termasuk kelas unggulan”


“Yah setidaknya nggak kayak semester lalu. Masa tiga mata pelajaran semua diborong sama satu siswi doang” kini Amanda terang-terangan menyindir Bulan.


Bulan mendengar semua percakapan mereka karena mereka tengah berbicara disamping tempat duduk Bulan yang hanya berjarak satu tempat duduk.


“Oh ya? siapa sih orangnya?”


“Sekelas sama kita kok” jawa Amanda.


“Jangan bilang si pararel satu?”


“Siapa lagi?!” ucap Amanda.


Mereka semua langsung menatapa Bulan yang tengah memandangi kertas seleksi olimpiadenya. Sebenarnya Bulan tengah mati-matian menahan amarahnya yang sejak tadi ingin menjambak rambut Amanda dan memfilter mulutnya.


“*Dia yang waktu itu nerangin materi fisika yang belum diterangin sama guru-guru kan? Rumus-rumus baru yang dia buat juga mudah dihapal”


“Caper dia mah, lo tahu sendiri kan Bintang aja sampe jadi playboyin cewe-cewe sesekolahan gara-gara dia. Kemarin aja si Alif anak basket Starlight juga mau di embat sama dia”


“Dia emang ganjen gitu ya? gue lihat sih akhir-akhir ini Tiyo sama geng nya juga makin akrab sama Bulan. Denger-denger motor baru yang dipakek Dodo ahir-akhir ini juga dari dia juga mobil yang dipakai Bintang*”


Amanda mengibaskan rambutnya cewe berseragam ketat itu menatap Bulan sekilas. “ Gue jadi ragu kalau Bintang selama ini diancam sama dia dengan dibeliin barang-barang mewah”


Dina berdiri. Amanda benar-benar sudah keterlaluan. Menggebrak meja yang tengah menjadi pergibahan mereka. Sedari tadi dia mendengar semuanya dia pikir Bulan akan turun tangan sendiri namun, dia salah Bulan malah diam saja mengabaikan gosip yang tidak jelas ini semakin menjadi. Dina tidak bisa tinggal diam melihat kejadian ini semua.


“Lo..lo.. pada. Kalau mau ngegibah lihat-lhat situasi bisa nggak sih. Emang lo pikir orang yang lo gibahin nggak sakit hati? Mikir dong kalau lo yang ada diposisi dia”


Amanda berdiri menatap Dina yang lebih pendek darinya, “ Ya maaf nih ya, gue kan nggak ganjenan kayak dia jadi, mana ague tahu”


“Dia nggak berlebihan dan nggak ganjen. Kemarin dia yang dipilih sendiri sama sekolah buat ngewakilin sekolah kita dan Bulan juga banyak membawa mendali emas dan perak. Dia juga nggak ganjen. Menurut gue cowok-cowok yang ngedeketin Bulan itu tahu deh mana yangberkuaitas beneran sama mana yang udah permakan”

__ADS_1


“Maksud lo yang permakan siapa ya?” tanya Lia, karena menurutnya perkataan Dina tadi sangat tidka berdasar.


Dina menatap Amanda dengan tataoan meremehkan, “Siapa? Terus apa kabar sama dagu lo sama hidungnya Amanda?”


“Sewot banget sih lo! Tetep aja dia ngekang Bintang buat jadi temennya terus”


Dina mendekati Amanda menepuk pundak gadis itu pelan, “Kalau punya sosmed itu dipakek dong mbak, lo belum lihat instastory gue ya? disana udah ada klarifikasi dari Bintang sendiri kok” Dina hendak berbaik namun sebelum itu ia berhenti. “Oh ya..lo masih ingat pepatah ini kan. Iri tanda tak mampu”


Amanda dan teman-temannya yang awalnya asik bergosip kini terdiam. Sedari dulu ia memang sangat iri dengan kepintaran dan kemampuan Bulan yang bisa memikat Bintang untuk menjadikan Bulan sebagai satu-satunya wanita yang dekat dengan Bintang cukup lama.


Dina duduk kembali ke tempat duduknya. Dia merangkul Bulan dengan gemas. “Gak usah dengerin omongan mereka.”


Bulan menatap Dina. “Iya, makasih ya din”


“Apa sih yang enggak buat lo”


Bulan tersenyum. Kenapa dia baru sadar bahwa masih ada manusia yang berhati baik dan benar-benar tulus berteman dengannya.


*****


Bulan melepas sepatunya sebelum memasuki pepustakaan. Di SMA UFOST memang ada dua tempat yang mengharuskan baik siswa maupun guru untuk melepas sepatu sebelum memasuki ruangan tersebut yaitu, perpustakaan dan UKS.


Hari ini pengunjung perpustakaan sangat ramai tidak seperti biasanya. Mungkin karena sepulang sekolah nanti akan diadakan tes peminatan olimpiade oleh karena itu, banyak murid yang menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca buku diperpustakaan.


“Kalau mau duduk mah duduk aja. Lagian yang kosong cuma disekitar sini tempat duduknya” Ucap cowo berkacamata tadi. Bahkan cowo itu tidak sekalipun melirik Bulan tapi dia mengetahui keberadaan Bulan.


Bulan gelagapan. Seperti maling yang tertangkap basah. Bulan melihat sekeliling banyak tempat duduk yang sudah terisi, sepertinya hanya ini yng tersisa. “Gue gak ganggu?” tanya Bulan.


“Selagi niat lo belajar dan nggak caper lo boleh duduk didepan gue” ucap cowo oti masih dengan posisi deperti tadi.


Bulan mengangguk. Meletakkan beberapa buku matematika dan fisika yang selalu ia simpan di loker. Bulan sangat menyukai pelajaran matematika dan fisika tadi, setelah cukup lama memutuskan dia memilih untuk mengikuti tes seleksi matematiaka dan fisika.


Cowo berkacamata itu mengangkat kepalanya. Dia menatap buku milik Bulan seperti melihat sesuatu yang sangat berharga dimatanya. “Lo dapat buku itu dari mana?”


Bulan menghentikan aktivitas mengerjakan soalnya, melirik buku yang dimaksud oleh cowo berkacamata itu. “Oh..ini, ini hadiah dari tente gue. Kenapa?”


“Buku ini edisi terbatas” ucap cowok itu mengambil buku yang sedang dikerjakan oleh Bulan. “gue sampe menyerah nyarinya”


"Kalau lo suka ambil aja. Kebetulan kemarin tante gue beliin dua buku yang sama”


Cowo itu melepas kacamatanya. Kini Bulan tahu bahwa cowo didepnnya itu tidak secupu seperti yang ia pikir. Bhkan sekarang ia lebih tampan jika tidak memakai kacamata.


“Lo serius? Gue gak maksa sih. Tapi kalau lo kasih ya alhamdulillah” tanya cowo itu tidak percaya.

__ADS_1


Bulan mengangguk. “Tapi buku yang satunya masih ada dirumah”


“Gue pikir kita nggak sedekat itu sampe lo ngasih gue buku” cowo itu mengulurkan tangannya. “Kenalan dulu. Gue Fathur”


Bulan menatap uluran tangan itu sejenak, lalu menyambut uluran itu dengan senyum kecilnya. “Bulan”


“Lo pasti masu ikut olimpiade matematika kan?” tebak Fathur.


“Iya, kalau lo?"


“Gue suka fisika"


Kali ini Bulan hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Fathur.


Setelah percakapan tadi, Bulan dan Fathur kembali hening karena sibuk dengan soal-soal matematika dihadapan mereka. Sampai jam pelajaran berbunyi mereka baru beranjak dari tempat itu.


*****


Bulan memasuki ruang tes,disana sudah ada Bintang yang tengah duduk dengan santainya.


Bintang melambaikan tangannya ketika melihat Bulan memasuki ruangan. “Sini lan” ucap Bintang sambil menepuk tempat duduk disampinya yang kosong.


Langkah Bulan terhenti saat melewati yang Fathur juga berada di ruangan yang sama dengannya, "Lo bukannya suka fisika ya?"


"Gue emang suka fisika. Tapi, bukan berarti gue nggak bakal ikut tes matematikan kan?"


Bulan hanya mengerutkan dahinya. Setelah itu ia mengangkahkan kakinya menuju tempat duduk disamping Bintang.


“Lo ikut tes juga ternyata” ucap Bulan.


“Emang Cuma lo yang mau ikut olimpiade” sindir Bintang.


Bulan berdecak kesal. Mininju pelan lengan Bintang.


“Tapi serius deh lan. Gue pngin ikt olimpiade biar nanti kalau gue menang buat tambahan nilai masuk jurusan informatika terus kerja di Microsoft”


“Gue doain deh lo lulus tes”


“Itu gue udah yakin sih” ucap Bintang dengan percaya diri. Karena selama ini dia juga termasuk pararel tiga besar seangkatannya jadi. hari ini pasti dia bisa.


Setelah lima Belas menit ruangan tes dipenuhi dengan peserta yang ingin ikut tes matematika. Padahal dari semua yang mengikuti tes hanya diambil tiga dengan nilai terbanyak.


Bu Asih sebagai pengawas tes kali ini sudah datang.

__ADS_1


Lalu membagikan lembaran soal matematika pada semua siswa peserta tes matematika. Bulan segera mengerjakan soal-soal itu demi apapun dia sangat ingin ikut olimpiade kali ini. Meskipun dia cukup pintar namun, entah kenapa dia tetap saja takut gagal.


__ADS_2