Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
TURKI (5)


__ADS_3

HAPPY READING.....



salah ya kalau punya sahabat tapi gak mau sahabatnya deket deket sama orang lain?


Setelah Bulan sadar dan sudah mulai membaik. Tina memberikan kabar bahwa Bulan sudah bisa pulang ke Indonesia lagi karena menurut informasi dari Tina. Marissa sepertinya sudah salah sangka dengan papanya dan memintnya untuk segera pulang ke Indoensia.


Awalnya Bulan merasa aneh dengan keputusan mamanya namun, dia juga merasa lega. Setidaknya ia bisa menutupi hal ini dari mamanya agar mereka tidak bercerai.


Sekarang Bulan, Bintang, dan Fiona tengah menikmati liburan mereka di Turki. Ini adalah rencana dari Bintang. Katanya dia sudah jauh jauh datang dari Indonesia oleh karena itu, dia juga harus menikmati liburannya selama di Turki.


“Ayo lan!” ucap Bintang dengan semangat ketika mereka baru saja tiba. Hari ini Bintang sangat ngotot ingin mengunjungi Ankara Castle, entah apa ang membuat cowo itu sangat ingin pergi ketempat bersejarah ini.


“Bentar. Nunggu Fiona”


“Fiona lama banget sih!” gerutu Bintang sudah tidak sabaran.


“Cerewet banget sih lo, kayak perawan” sahut Fiona yang barusaja turun dari mobil.


“Dih gue mah perjaka”


“Udah lah. Ayo kita masuk” lerai Bulan.


“Ankara Castle I am coming” teriak Bintang ketika memasuki halam Castle.


Bulan tersenyum melihat Bintang yang tengah berlari sembari memotret setiap sudut di Ankara Castle. Bahkan Fiona nampak kesulitan mengikuti langkah Bintang yang sedari tadi meminta Fiona untuk memotretnya.


“Kasian Fiona bin!” teriak Bulan tidak tega dengan Fiona ang dijadikan fotografer dadakan.


“Gapapa yang penting gue seneng”


“Dasarr!”


Bulan memperlambat langkahnya ketika ponsel di saku jektnya bordering. Memperlihatkan nama seseorang yang beberapa hari ini selalu menghubunginya. Namun, karena Bulan sibuk disini dia belum sempat menjawab satupun pesan darinya.


“hMHalo”


“Hai” ucap suara disebrang sana.


“Kenapa do?”


“Ah itu..anu—apa lo kemana aj—ahh bukan…kemarin ada pembagian kelompok lo satu kelompok sama gue”


“Oh..oke, kirim aja tugasnya ke gue nanti gue selesaiin”


“Santai aja sih lan. Waktunya masih lama, lo ga perlu buru-buru”


“Ohh...iya”


Setelah Bulan mengatakan itu, tidak ada suara lagi dari di penelepon. Membuat Bulan mengernyitkan dahinya, apa jangan-jangan sinyalnye jelek?


“Do?”


“Ah..iya. kenapa?”


“Gue kira sinyal gue jelek”


“Gak kok. Emm itu—gue boleh tanya sama lo nggak?”


“Tanya aja nggak perlu sungkan” kekeh Bulan.


“Lo sama Bintang kemana aja?”


“Gue lagi liburan sama Bintang. Kenapa?”


“Ohh gue pikir kalian kemana gitu, soalnya kalian berdua nggak bisa dihubungi”


Bulan mempercepat langkahnya ketika sudah lumayan tertinggal jauh dari Bintang dan Fiona.


“Sorry, kemarin ada urusan mendadak di sini. Jadi, gue nggak sempet ngebalas beberapa pesan”

__ADS_1


“Oh iya”


“Lannnn!” teriak Bintang ketika jarak diantara mereka lumayan jauh.


“Itu Bintang ya?” tanya Dodo disebrang sana.


“Hahah..iya. dia lagi gila foto disini” jawab Bulan.


“Emang kalian lagi liburan kemana?”


Bintang yang sudah tidak sabaran tiba-tiba menarik tangan Bulan lalu berlari kecil. Bulan hanya mengikuti saja kemana Bintang mengajaknya ia pikir ada sesuatu yang inigin Bintang tunjukkan kepadanya ternyata Bintang hanya ingin mengajaknya berfoto.


Seperti sekarang cowo itu sudah memeluk Bulan dan sudah siap difoto bahkan Bulan belum siap untuk berpose sekarang.



“Curang lo!” Bulan menonjok pelan dada Bintang.


“Duh..sakit lan”


“Bodo” ucap Bulan lalu berjalan meninggalkan Bintang yang tengah memegangi dadanya kesakitan.


“Lan..” teriak Bintang yang kini tengah berlari kearahnya. Dan tiba-tiba mengelitiki Bulan.


Bulan yang tidak sempat menghindarpun membuat Bintang melancarkan asiknya. Bulan paling tidak suka digelitiki, sudah beberapa kali ia melawan tubuh Bintang namun, kekuatannya tetap tidak sebanding dengan Bintang.


“Geli tau Bin” ucap Bulan yang hampir saja merosot ke bawah.


Sebelum sampai terjatuh Bintang segera menggendong Bulan dan mereka tertawa bersama. Fiona yang tidak jauh berada di samping mereka segera mengabadikan moment yang sangat menggemaskan itu.


“Turunin gue bin!”


Bintang menurut, dia dengan perlahan menurunkan Bulan. “Ponsel lo nyala lan”


Bulan langsung melihat ponselnya, dia bahkan melupakan Dodo. Duhh..pasti Dodo kesal karena di abaikan sedari tadi oleh Bulan.


“Gue ganggu ya lan?” tanya Dodo disebrang sana.


“Siapa lan?” tanya Bintang, karena dia sempat mendengar suara cowo dan Bulan bukan tipe cewe yang sering telfonan sama cowo, kecuali Bintang dan Mars.


“Ini Dodo. Lo mau ngomong sama Dodo?”


“Gak usah maksih. Lo lanjutin aja ngobrolnya, gue mau lanjut foto foto”


Bulan hanya mengangguk, melanjutkan percakapannya dengan Dodo, bahkan sekarang dia melakian voice call dengan Dodo.


Tadi setelah Bulan mengatakan jika dia sedang berada di Turki, Dodo meminta tolong untuk memfotokan pemandangan disana namun, karena Bulan malas jadi dia meminta Dodo untuk melakukan voice call biar sekalian Dodo menikmati pemandangan disana.


“Na” panggil Bulan kepada Fiona.


“Apa-apan lo mangil gue na. panggil gue Fiona kalau nggak Fio”


“Dih..enakan juga na”


“Lo kenapa sih?” Tanya Fiona.


Bintang hanya diam saja, tidak menjawab. Fiona lalu melihat Bulan yang tengah asik dengan ponselnya yang sepertinya sedang asik mengobrol dengan seseorang.


“Nona Bulan lagi asik sama siapa?”


“Lagi asik sama gebetannya mungkin!” ucap Bintang kesal. Dia bahkan sekarang meninggalkan Fiona.


Fiona segera mengejar Bintang dengan langkah ringan. “ Lo cemburu ya sama nona Bulan?”


“Dihh..dia?” tunjuk Bintang ke arah Bulan.


Fiona mengguk sebagai jawabannya.


“Gue? Cemburu sama sahabat gue?” sekrang Bintang menunjuk ke arahnya sendiri.


“Emang kenapa?” tanya Fiona.

__ADS_1


“GAK MUNGKIN”


“Sesuatu yang nggak mungkin itu jika terjadi memang mengejutkan sih. Tapi. Bukan berarti mereka nggak bisa terjadi”


“Sok puitis lo!”


“Dibilangin juga.” sekrang Fiona yang dibuat kesal dengan Bintang.


“Kalian lagi ngapain?” tanya Bulan. Sepertinya dia sudah selesai bervoice call ria dengan Dodo.


“Udah selesai lo ngobrolnya sama gebetan?”


“Gebetan?” Bulan tampak berpikir sejenak, “siapa?”


Bintang tidak menjawab, dia berjalan lebih cepat. Mendahului Fiona dan Bulan.


“Dia kenapa sih?, siapa juga yang punya gebetan”


“Terus Dodo siapa?”


“Dia teman sekelas gue sama Bintang. Lebih tepatnya temannya Bintang sih”


“Cemburu kayanya dia”


“Serius lo?” tanya Bulan tidak percaya.


Fiona hanya meniakkan bahunya sebagai jawaban. “Udah sana susulin, ngabek kayanya dia”


Bulan mengguk, lalu berjalan cepat menyusul Bintang. Dia terus berjalan bersampingan dengan Bintang. Tapi di antara keduanya tidak ada yang mau memulai pembicaraan.


“Bin”


“Hhm?”


“Lo gak mau pindah lokasi gitu?” tawar Bulan.


“Emang mau kemana?”


“Gimana kalau ke pusat oleh-oleh?”


Bintang hanya mengguk namun, itu membuat Bulan tersenyum lebar. Dia memanggil Fiona dengan tanggannya “Kenapa nona?”


“Kita pindah ke tempat oleh-oleh ya. kayannya Bintang bosen”


Fiona mengangguk. Lalu melihat Bulan yang tengah menggendeng Bintang, mengajaknya keluar dari Castle.


‘Nona bener-bener bukan orang yang peka rupanya’ batin Fiona


*****


Akhirnya mereka memutuskan pergi ke Grand Bazaar Istanbul. Setelah tiba di Grand Bazaar Istanbul wajah Bulan tampak berseri-seri dibandingkan dengan yang lainnya. Seperti wanita pada umumnya Bulan memang sangat begitu menyukai belanja, meskipun dia tidak begitu tahu caranya dandan tapi, dia sangat gila belanja.


“Ayoo!” uacp Bulan bersemangat.


Baru satu jam mereka berbelanja disini namun, Bulan sudah berhasil memenuhi satu koper penuh yang berisikan oleh oleh semua, padahal itu temasuk koper besar.


“Lann udah lah ga udah belanja lagi. Ini udah banyak” keluh Bintang.


“Tadi itu banyak karena gue beli Tembikar Iznik, koas, sama karepet. buat kalurga lo, keluarga gue, temen-temen sekelas guru guru makanya satu koper penuh” ucap Bulan sambil melirik koper yang tengah dibawa oleh Jerry.


Mata Bulan becayaha ketika melihat salah satu menjual yang menjajakan Nazar Amulet, Bulan tahu benda itu. Benda yang diyakini sebagai jimat dan salah satu souvenir tradisinoal khas Turki.


Bulan berjalan kesana dengan langkah riang disusul dengan Bintang dan Fiona yang nampaknya sudah kelelahan.


“Saya beli 200 buah”


“Kenapa banyak banget?” tanya Bintang.


“Kan mau di bagi-bagikan”


Bintang hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, beruntung selama ini mamanya tidak pernah pergi berbelanja bersama Bulan karena jika itu terjadi dua wanita ini bisa betah seharian di mall dan pulang seperti perampok mall.

__ADS_1


__ADS_2