
HAPPY READING.....
lo lucu deh bin, waktu itu lo yang bilang sendiri kan kalau sahabat itu nggak ngekakang, posesif, nggak berantem, dan yang terpenting sahabat iti nggak bisa putus. Terus sekarang apa?--Bulan
Bintang meloncat-loncat bahagia diatas kasur Bulan, hari ini album exo yang dinantikannya sudah datang selain itu Bulan diam-diam juga membelikanya album BTS, EXO, RED VELVET dan BLACKPINK dan semua itu kesukaanya Bintang. Tak lupa Bulan juga membelikan lips stick masing-maisng dari grup band korea itu.
Memang awalnya Bulan hanya ingin meberikan album blackpink saja namun melihat Bintang yang sangat sangat ingin punya album itu ia jadi sedikit iba dan ingin membelikannya album.
“Gue harus pamer ke Kiya pokoknya, salah sendiri kemarin bawa-bawa album ke sekolah kan gue pengen!” Bintang ngoceh sendiri sambil melihat-lihat album barunya.
Tak henti-hentinya Bintang mengucap terimakasih dan memeluk Bulan “Makasih Gembulku, gue jadi makin sayang dan cinta sama lo!” Bulan hanya geleg-geleng kepala melihat tingkah ajaib sahabatnya ini.
Setelah Bintang cukup lelah melihat-lihat album barunya. Bulan dan Bintang tiduran diatas kasur sambil menatap langit-langit kamar. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.
Setelah keduanya terdiam cukup lama akhirnya Bintang bersuara.“Lo tau lan, entah kenapa perasaan itu mulai muncul dan semakin menjadi mungkin aneh tapi wajar. Gue takut jika gue nggak bisa ngontrol perasaan ini” ucap Bintang sambil memegangi dadanya.
“Perasaan apa?” Tanya Bulan, menoleh kearah Bintang.
“Gue suka sama lo lan. Bukan sebagai sahabat tapi lebih dari seorang sahabat” Bintang menoleh kearah Bulan sekarang pandangan mata mereka bertemu.
Bulan tertawa renyah “Bercanda lo jelek!” ucap Bulan lalu bangkit dari tempat tidur dan duduk memunggungi Bintang.
Bintang ikut Bangkit dan duduk disamping Bulan. “ini bukan candaan tapi pernyataan. “GUE SUKA SAMA LO!” ucap Bintang tegas dengan nada pengharapan bahwa sahabatnya ini juga punya perasaan yang sama.
Entah kenapa atmosfer diantara mereka tiba-tiba memanas, hening sesaat hanya kedua mata mereka yang saling pandang. Bulan masih berusaha mencerna perkataan Bintang tadi. Ini yang paling dia takutkan. Ingin rasanya Bulan memaohon kepada tuhan bahwa apa yang diucapkan Bintang kali ini hanya candaan belaka.
Bulan menatap manik mata Bintang mencari kebohongan didalamnya namun nihil kebohongan itu tidak ia temukan “Maksud lo apa? Gue ga paham. Bukankah kita teman? Bintang?”
“Gue suka sama lo lan, gue tahu ini salah tapi itu yang gue rasain sekarang. Gue suka sama lo bukan sebagai sahabat lagi namun lebih dari itu” setelah mengucapkan semua isi hatinya selama ini Bintang tersenyum menatap Bulan, senyum yang begitu meneduhkan dan mampu membuat semua wanita meleleh dibuatnya.
Baru pertama kali ini ada tatapan lain dimata Bintang,, bulan merasakanya entah kenapa semua itu mebuat tubuh Bintang mati kutu, jantungnya bergemburuh, oksigen disekitarnya mulai berkurang, tubuhnya membeku dia tidak mengeti perasaan ajaib apa ini.
"Lo lucu deh bin, waktu itu lo yang bilang sendiri kan kalau sahabat itu nggak ngekakang, posesif, nggak berantem, dan yang terpenting sahabat iti nggak bisa putus. Terus sekarang apa?" Tanya Bulan kepada Binang.
"Kita nggak akan tau lan, kedepannya gimana. Nggak akan tahu kalau kita nggak coba dulu" kali ini Bintang benar-benar tulus mengatakannnya.
Bulan menelan salivnya dengan susah payah ia memalingkan wajahnya ke arah lain dan berlalu pergi meninggalkan Bintang sendiri dikamarnya. Bukan hal baru lagi memang jika Bintang berada didalam kamar Bulan juga sebaliknya mereka sudah terbiasa sejak kecil.
“Jadi, ini maksudnya gue ditolak atau masih digantung?” Tanya Bintang pada dirinya sendiri, perempuan memang sangat rumit dan sulit di mengerti sebenarnya jenis spesies apakah wanita itu?. Bintang semakain binggung.
Bintang berjalan menuruni tangga hendak pamit ingin pulang tapi sepertinya Bulan sedang menghindar dari Bintang.
“Oma, Bintang pamit pulang dulu ya!, nanti kalau Bulan tanya tolong kasih tau ya” ucapnya lalu bersalaman dengan oma.
__ADS_1
“Iya. Bintang oma boleh minta tolong” ucap oma yang sedang duduk dikursi ruang tengah.
“Tolong apa oma?”
“ Kalu bisa, tolong ajarin Bulan bawa mobil ya”
Bintang terdiam sebentar lalu menganguk dan pulang ke rumah. Setibanya dirumah ia dikagetkan dengan Mars yang senyum-senyum dengan ponselnya, sadar kids jaman now batin Bintang.
Bintang termenung didalam kemar pikiranya kacau, ternyata rasanya begini jika mengungkapkan perasaan kita dengan sahabat kita sedniri saripada pusing mikirin hal yang tidak pasti Bintang memutuskan untuk mendengarkan album barunya mumpung mamanya sedang tidak minta diantar ke mall.
*****
Sudah sepuluh menit Bintang menunggu Bulan didepan rumahnya padahal biasanya Bulan yang selalu menunggu Bintang dan ternyata menunggu itu juga harus ekstra sabar, pikir Bintang.
“Sorry, tadi gue bangun kesiangan soalnya” ucap Bulan yang kini sedang memasang selt beltnya. Bintang hanya mengangguk kaku dan menjalankan mobilnya entah kenpa ia jadi canggung jika berbicara dengan Bulan.
“Bin, kemarin-“
“Nggak usah dijawab dulu, lo pikirkan baik-baik dulu aja” potong Bintang.
“Oh oke. Tapi, maksut gue kemarin fotonya si mbak Lisa ketinggalan dikamar gue ”
Shitt...Bintang semakin malu jika harus berbicara dengan Bulan. Kantong kresek mana kantong kresek!?
Dia pikir Bulan akan menjawab pernyataanya kemarin. Bintang mengacak ramburnya frustasi setelah cukup tenanang dia segera menjalankan mobilnya.
*****
"Hai do!" Bulan menanggapi sapaan Dodo dengan semestinya.
“Apa aku harus jadi Tayo biar kamu sapa setiap hari?” ucap Dodo lirih. Namun, Bulan bisa mendengarnya. Mereka bertiga meninggalkan parkiran dan berjalan dengan santai menuju koridor kelas.
Ketika Bulan dan Bintang tiba dikoridor dekat tangga kelas mereka Vani datang dengan senyum cerianya “hai Bintang, hai Bulan dan lo-“ tunjuk Vani ke Dodo.
“Gue Dodo” sahut Dodo ketika Vani menunjuknya.
“Hai!” kali ini Bulan menyapa Vani, mungkin dia juga bisa menrima Vani sebagai temannnya. Vani tampak sangat senang karena kali ini sapaannya dibalas dengan tulus oleh Bulan.
“Kita ke kelas dulu ya” pamit Bintang yang dijawab anggukan ceria oleh Vani.
******
Istirahat kali ini Bulan dan Bintang tidak bersama-sama mungkin karena masih canggung juga Bulan ingin lebih mengenal Vani bahkan tadi dia datang ke kelas Vani hanya untuk mengajaknya pergi ke kantin. Biasanya Bulan akan pergi ke kantin bersama Bintang atupun Dina. Tapi, karena Dina sedang tidak masuk hari ini dia nekat pergi ke kelas Vani.
Canggung? Pasti selera humor Bulan bisa dikatakan jelek oleh karena, itu sejak dulu ia tidak banya mempunyai teman bahkan satu-satunya sahabatnya sekarang hanya Bintang. Namun, dengan berusaha menetralkan kecanggunganya, sekarang Bulan tahu bahwa Vani adalah tipikal cewe yang sanggat friendly, dewasa, periang, dan sangat ambisius selain itu, Vani juga cantik feminim pula, sekarang yang Bulan suka dari Vani adalah rambutnya yang lurus dan selalu diurai membuat kesan cute dari Vani.
__ADS_1
Vani dan Bulan juga bertukar cerita terutama Vani yang banyak bercerita tentang apa mekanan kesukaannya dan hobinya. Bulan tidak menyangka tipikal cewe seperti Vani ini suka sekali make up. Bulan kira Vani tipikal cewe yang natural dan juga cerewet.
“Kalau dilihat-lihat sebenarnya lo itu cantik lan tapi lo terlalu menutupi kecantikan lo contohnya sejak hari pertama gue ketemu rambut lo ngak berubah selalu dikuncir terus. Mungkin, dengan sedikit serbuk vanibell lo bakal gue sulap jadi peri” canda Vani.
Vani memang tidak melebih-lebihkan Bulan memang cantik sayang ia tidak pernah memperlihatkan kecantikanya dia selalu mengkuncir rambutnya dan tidak pernah berdandan alasanya Cuma satu yaitu, RIBET!
“Gue nggak terlalu suka dandan, ribet!” ungkap Bulan yang langsung disahut oleh Vani.
“Kapan-kapan gue dandanin lo deh!” usul Vani. Awalnya Bulan ragu tapi akhirnya Bulan mengangguk.
“Oh ya lan kapan-kapan gue boleh main kerumah lo kan?” Tanya Vani setelah mereka hampir kehabisan topik pembicaraan.
“Boleh” jawab bulan tidak banyak basa-basi jujur rasa cangungnya belum sepenuhnya hilang.
“By the way gue denger-denger nih ya, lo pacaran ya sama Bintang? kemarin aja liburan bareng”
Bulan terkekeh mendengar pertanyaan Vani, kenapa semua orang selalu menganggap bahwa Bulan dan Bintang itu mempunyai hubungan yang sepesial.“Nggak kok, itu hoax” jelas Bulan.
“Tapi, kenapa lo selalu kemana-mana sama Bintang? Bahkan lo berangkat dan pulang sekolah juga sama Bintang kan?” Bulan rasa Vani sedikit kepo tentang hubunganya dengan Bintang.
“Bintang belum cerita ke lo ya?” Bulan bertanya balik. Ternyata Bintang masih saja sama jika mengenai privasi seseorang dia akan menutupi semuanya serapi mungkin.
“Soal gue kemana-mana selalu sama Bintang itu karena gue cuma punya teman yaitu, Bintang disekolah ini dan soal gue selalu pulang dan berangkat sama Bintang itu karena, oma gue yang nyuruh. Dulu sih diantar jemput sopir tapi karena ada kendala, oma beliin mobil buat Bintang dan nyuruh dia jagain gue” ucap Bulan panjang kali lebar.
Vani sedikit terkejut “Jadi itu mobil dari oma lo?!” Tanya Vani sedikiit berteriak yang hampir menjadi pusat perhatian di kantin.
“Iya, gue juga nggak habis pikir sama oma gue kadang gue ngerasa iri sebenarnya cucunya itu gue atau Bintang. Jangan bilang siapa-siapa ya soal ini” pinta Bulan.
“Mmm,,,kenapa lo cuma berteman sama Bintang?” kepo Vani.
“Gue punya trauma” ucap Bulan bersamaan dengan bel peringatan sisa waktu istirahat yang tinggal lima menit lagi.
“Ke kelas yuk! Mau masuk nih” ajak Bulan. Vani hanya menurut saja jujur ia sangat ingin tahu tentang kepribadian Bulan sudah bekali-kali ia bertanya ke Bintang tapi Bintang selalu menjawab ‘Lo cari tau aja sendiri’ dan itu membuat Vani semakin kepo dan ingin tahu.
Bulan masuk kedalam kelas tepat pada saat bel jam pelajaran kelima dimuali. Ia duduk dibangkunya dan langsung diberi tatapan horror oleh Bintang. Hari ini dikarenakan Dina tidak masuk Bintang duduk sebangku dengan Bulan, “Lo habis dari mana?”
“Ke kantin sama Vani” terang Bulan.
“Seenggaknya kasih tahu gue kek, kabarin gitu. Gue hawatir Bulan!” cemas Bintang.
“Apaan sih bin, gue bukan anak kecil lagi. Lagian gue sama Vani sekarang udah temenan lo kan juga ada Tiyo da-“ ucap Bulan terpotong karena Bu Asih datang.
“SELAMAT SIANG ANAK-ANAK!!!” ucap bu Asih yang cukup horor di telinga semua murid.
“Duduk urut per absen hari ini kita ada ulangan harian dadakan untuk mengetes apa kalian masih ingat materi bab kemarin” kata bu Asih dengan santainya.
__ADS_1
Semua murid kelas XI - IPA 1 hanya bisa diam dan pasrah karena, jika mereka makin protes bu Asih auto ngegas.
Tiba-tiba kelas mendadak hening. Semuanya pindah tempat duduk sesuai nomor absen tanpa suara. Mungkin masa SMA memang indah tapi, kalau sudah menyagkut pelajaran sekolah nggak ada indah-indahnya.