Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
TURKI (3)


__ADS_3

HAPPY READING....


jadi sahabat itu bebas lan, nggak ngekang, bertengkar, posesif, dan yang terpenting sahabat itu nggak bisa putus.


Bulan bersandar di samping pintu kamar hotel Bintang, dia sedang menunggu Bintang. Bulan tidak mau masuk ke dalam kamar temannya itu karena terakhir kali Bulan menunggu Bintang berdandan ia tidak henti hentinya bertanya apakah model rambutnya sudah pas dengan pakaiannya atau sepatunya cocok dengan warna baju dan celananya.


Padahal Bulan sudah mengatakan semuanya cocok tapi, cowok itu malah mengejeknya, dengan berkata bahwa Bulan tidak tahu tentang fasion sama sekali. Bukan hanya itu cowok itu juga mengganti tatanan rambutnya juga pakaiananya beberapa kali sampai Bulan hampir dibut gumoh dengan tingkah Bintang.


Bulan tidak mau membuang waktunya, ia membuka dokumen yang diberikan oleh Tina sebelum pergi tadi. Karena Bualn, benar benar tidak mau bertemu mamanya sekarang jadi, dia memjnta Tina untuk memberika informasi yang Bulan butuhkan.


Bulan membaca setiap detail yang tertulis disana. Hampir semua isinya membahas tentang aktivitas papanya selama di Turki namun, Bulan tidak menemukan ke anehan disini. Kecuali hotel yang sering papa kunjungi selama di Turki.


Bulan membalik bebrapa halam sebelumnya di jam yang sama papanya juga mengunjungi hotel itu, Bulan membalik lembar halam yang baru dan disana di jam yang sama pula papanya mengunjungi hotel itu lagi.


Bulan tidak mau menduga yang tidak tidak yang ia tahu papanya adalah orang yang penyayang dengan keluarganya jadi, tidak mungkin papanya melakukan itu.


“Lo nungguin gue lan?” tanya Bintang yang baru saja keluar dari kamar hotel.


Bulan menutup dokumen itu. Tanpa menjawab pertanyaan Bintang ia menarik tanggan Bintang begitu saja. Bahkan Bintang hampir tersandung karena Bulan menariknya sambil berlari.


Sesampainya di depan hotel sudah ada mobil yang menunggu mereka, Bulan segera menyuruh Bintang masuk, dia tidka bisa membuang waktu lagi.


“Cepet pak, kita ke grand Ankara Hotel!" seru Bulan.


“Siap nona”


Bintang melirik Bulan yang sedang membolak balik dokumen di tangannya. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ada di keapala Bintang sedari tadi namun, dia berusaha diam saja. Melihat Bulan yang gelisah sedari tadi membuat Bintang mengurungkan niatnya.


“Nona kita mau menunggu disini saja?”


Bulan menatap ke depan hotel, ini tidak terlalu mewah untuk seorang papa Bulan. Kenapa papanya memilih tinggal di hotel ini? Apakah untuk menutupi identitasnya?


“Jerry tolong kamu pantau setiap mobil yang keluar dari hotel, nanti kalau ada plat mobil nomor 43 MA 012 ikutin ya”


“Baik nona”


“Kenapa kita harus ngelakuin ini sih lan?” akhirnya kalimat tanya itu keluar juga dari mulut Bintang.


Bulan menutup dokumen yang ada dipangkuannya. Dia menoleh. Menatap Bintang yang tengah menlihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Gue kan udah Bilang, gue kesini mau menyelidiki papa gue”


Bintang mendengus, ia langsung memalingkan wajahnya. Tidak puas dengan jawaban Bulan.


Bintang menatap ke depan melihat kendaraan yang berlalu lalang di negara yang baru pertama kali ia kunjungi. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu mobil keluar dari hotel itu tapi, nihil. Sedari tadi yang keluar hanyalah bebrapa taksi. Bahkan Bulan sudar terlihat lelah.


Bintang secara reflex menepuk bahu Bulan, “tadi palat mobil yang lo bicaraain berapa?”


Bulan yang sedang memejamkan matanya karena lelah nampak mengabaikan pertanyaan Bintang.


“Nona plat mobilnya 43 MA 012 bukan? maaf saya lupa”


Bulan yang mendengar itu langsung membuka matanya dan membenarkan posisi duduknya, “Cepat ikuti!” suruh Bulan.


“Lo kenapa nggka bialang sih binnn!”


“Gue tadi udah tanya sama lo, gue kan nggak bisa menghapal banyak angka”


Bulan memijat pangkal hidungnya, bagaimana ia bisa lupa bahwa sahabatnya ini tidak bisa menghapal banyak angka jangankan hari ulahtahun Bulan mungkin cowo itu juga lupa dengan tanggal lahirnya sendiri.


“Lan papa lo ngapain ke Bandara?” tanya Bintang saat mereka baru saja melewati papan petunjuk jalan.


Bulan mengernyitkan dahinya, menatap mobil yang sedari tadi dibuntutinya. “Aku udah ngecek semua dokumen, selama di Turki papa tidak pernah pergi ke luar kota Ankara"


"Mungkin ada bisnis disana" tebak Bintang.


*****


Sesampainya di bandara Bulan terus mengikuti papanya hingga samapai ke tempat pemesanan tiket, dan arah tujuannya kali ini adalah Istanbul.

__ADS_1


'Kenapa papa pergi ke Istanbul?' batin Bulan.


Bintang menatap Bulan. Pandangan gadis didepannya ini sama sekali tidak terlepas dari gerak-gerik yang dilakukan papanya.


“Mungkin papa lo ada urusan bisnis disana”


“Tapi keluarga aku nggak punya cabang di Istanbul”


“Lan” jeda Bintang sejenak, Bintang menatap punggung Bulan yang masih mengawasi papanya. “Kita nggak akan ikut terbang ke Istanbul kan?”


Bulan berbaik mengahap Bintang sejenak. Gadis itu terdiam dengan wajah datarnya. “Kita iku terbang ke Istanbul” putus Bulan.


Bulan berjalan menuju tempat pemesanan tiket setelah papanya pergi, bahkan Bintang tidka sempat menghentikan Bulan, cewe ini memang snagat keras kepala.


Bintang masih menunggu di tempat mereka tadi, sembari menatap tiket di tangan Bulan, “Gue nggak ikut ke Istanbul”


“Sorry, tapi gue udah beliin lo tiket” ucap Bulan sambil menunjukkan dua tiket di tangannya.


Bintang hanya menghela napas lelah, dia benar benar lelah sekarang. Ia pikir liburan kali menyenangkan mengingat Turki adalah negara yang belum pernah ia kunjungi.


Untung Bulan adalah sahabat yang sangat di sayanginya jika tidak Bintang pasti sudah meninggalkan Bulan sendirian di Bandara ini.


*****


Sesampainya di Istanbul Bulan dan Bintang membututi papa Bulan hingga ke suatu hote. Bulan mengepalkan kedua tangannya jalannya juga sangat cepat. Bahkan Bintang sedari tadi kesulitan mensejajarkan langkahnya dengan Bulan.


“Lan! Pelan-pelan kenapa sih!”


“Kita nggak boleh kehilangan jejak”


Sesamapinya di dalam hotel Bulan langsung disambut oleh seorang resepsionis hotel.


“Selamat datang nona, boleh lihat kartu hotel nya”


Bulan melupakan itu, hotel mewah ini pasti tidak sembarang orang boleh memasukinya,Bulan terpaksa harus mengeluarkan kartu identitas keluarganya disini. Dia tidak mau satpam di depannya ini menghambat kegiatannya.


“Bulan Syahara Schueller, anak tunggal tuan Schueller yang beberapa menit tadi masuk hotel ini. Saya ada urusan dengan papa saya sekarang, boleh tahu nomor kamarnya berapa?”


Bulan hanya mengguk mengiyakan. Sedangkan Bintang yang melihat itu cukup tertegun, ini untuk pertama kalinya ia melihat Bulan mengeluarkan kartu identitas kelaurganya.


“Nona, tuan Schueller berada di kamar nomor 167. Mari saya antar!”


“Tidak perlu, cukup tujukkan saja petunjuk jalannya”


“Ba-baik nona, nona cukup naik lift ke lantai delapan disana adalah deretan kamar nomor seratus delapan puluh”


“Terima kasih”


Setelah mengucapkan itu Bulan Bulan mempercepat langkahnya, menuju kamar yang ditujukkan tadi. Demi apapun ia sangat penasara dengan apa yang dilakukan oleh papanya. Bulan mempercepat langkahnya ketika pintu lift terbuka, meninggalkan Bintang yang berusaha mensejajarkan langkah mereka.


“Lan…”


“Gue mau masuk” ucap Bulan saat melihat papanya yang baru saja masuk ke dalam hotel itu.


“Lan tungg-“ Bintang langsung terdiam. Dia melihat Bulan yang ragu-ragu ketika mengetuk pintu kamar hotel papanya.


“Lan mungkin papa lo ada rapat penting disini”


Bulan semakin mengeratkan genggaman tangannya, “Rapat apa yang dilakukan di kamar hotel kayak gini?”, Bulan melihat pintu kamar hotel disebelah kamar papanya yang pintunya sedikit terbuka.


“Lan..lan!”


Bulan langsung masuk kedalam kamar itu, disana ada seorang pelayan yang tengah membersihkan kamar mwnggunakan mesin penyedot debu. Bintang yang melihat itu langsung menarik tangan Bulan untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian.


Suara pembersih alat itu sudah berhenti, disusul dengan pintu kamar hotel yang tertutup. Bulan langsung membuka pintu lamari, dia menuju jendela kamar hotel.


“Lan jangan manjat ke cendela” sergah Bintang.


Bulan melihat ke bawah, ini terlalu tinggi.

__ADS_1


Dia melihat sekeliling kamar itu mencari benda yang bisa ia gunakan untuk melihat atau mendengar apa yang terjadi di kamar sebelah. Bulan terfokus pada gelas kaca yang ada diatas meja kamr hotel, dia membalik gelas kaca itu dan menempelkan telinganya ke gelas.


“Haishhh…dindingnya terlalu tebal! Gue nggak denger apa-apa”


Bintang berusaha mencari cara, dia memindahkan TV yang menghalangi stopkontak di belakangnya. Bintang meraih gelas yang digunakan Bulan tadi, menempelkan gelas itu disana, mendengarkan apa yang tengah terjadi di kamar sebelah.


Bintang tertegun sejenak, segera merubah eksperesinya yang sedikit terkejut.


Bulan menunggu reaksi Bintang dengan perasaanya yang sudah camlur aduk, “Lo mendengar sesuatu? Apapun itu?”


Bintang menggeleng, meletakkan gelas tadi ke tempat semula, “Dindingnya terlalu tebal”, Bintang menggengam tangan Bulan, “Ayo pulang! kalau kita ketahuan bisa gawat”


“Bentar. Gue mau dengerin” Bulan menggambil gelas yang tadi, namun sebelum itu Bintang menarik tubuh Bulan menjauh dari tembok.


“Nggak ada apa-apa lan!”


“Kalau nggak ada apa-apa kenapa gue nggak boleh ngedengerin?”


Bulan melepaskan genggaman itu, merubah ekspresinya menjadi datar seperti biasanya, dia menatap Bintang dengan ekspresi itu. “Separah itu ya bin?"


Bintang terdiam lalu menunduk, dia tidak berani menatap Bulan.


Bulan langsung berlari keluar dari kamar hotel itu, yang diikuti Bintang yang tengah berusaha mengejarnya. Bahkan para pelayang disana dibuat keheranan dengan tingkah mereka.


Mereka berdua memutuskan kembali ke Ankara menggunakan pesawat kelas menengah. Sedari tadi Bulan hanya terdiam. Menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut yang sudah disediakan di dalam pesawat.


“Binn”


“Kenapa?”


“Gue nggak tau harus bilang ke mama atau nggak tapi, yang jelas kalau gue bilang ke mama, mereka pasti cerai bin!” ucap Bulan dibalik selimutnya.


Bintang membuka selimut yang menutupi wajah Bulan, disana Bulan tengah menangis sesenggukan.


“Kalau lo nggak mau mereka cerai lo boleh kok menutupi semuanya tapi, nggak ada yang bisa menjamin kalau hal yang selamanya ditutup tutupi nggak bisa kebongkar” setelah mengatakan itu Bintang menutup selimut itu seperti semula.


“Lo tau bin” ucap Bintang lirih dibawah silimutnya.


“Apa?”


“Mama itu orang yang sibuk, melebihi papa. Tapi, mama selalu menjadi istri yang baik dan mama yang baik buat papa dan aku, bahkan mama selalu bangun sebelum papa bangun dan pulang sebelum papa pulang. Papa juga selalu menyempatkan mengantar jemput aku, aku pikir itu agar mama nggak capek meskipun sudah ada supir atau, bentuk kasih sayang untuk mama dan aku. Aku pikir papa mencintai aku dan mama tapi sekarang, aku nggak yakin apakah papa benar-benar mencintai kita”


Bintang menggengam lebut tangan Bulan, mengusap ngusap punggung tanggannya, “Gue nggak tau siapa orang yang cinta sama lo tapi, yang jelas gue cinta sama lo, Bulan”


Bulan melepaskan selimut yang masih melilit tubuhnya, ia meretangkan tangannya lalu memeluk Bintang.


Bintang menyambut pelukan itu, dia mengusap usap punggung Bulan membuat Bulan semakin nyaman berada di pelukan Bintang.


“Bin”


“Hmm?”


“Gue boleh tanya nggak?”


“Tanya aja”


“Maksutnya lo cinta sama gue, cinta yang seperti apa?”


Bintang terdiam sejenak, dia berusaha melepaskan pelukannya dari Bulan. Namun, sebelum itu Bulan semakin mengeratkan peluakannya, “Jawab dulu!”


“Lo itu satu-satunya sahabat cewe yang gue punya lan dan gue selalu nyaman kalau deket sama lo.”


Bulan melepas pelukan mereka, menyeka sisa sisa air mata dipipinya.


“Jadi sahabat itu bebas lan, nggak ngekang, bertengkar, posesif, dan yang terpenting sahabat itu nggak bisa putus.”


Bulan mengangguk ngangguk mengiyakan, apa sih kenapa dia jadi baper gini. “Lo pasti dapat kata-kata itu dari twiter kan? Gak usah sok ngehibur gue deh!” setelah mengatakan itu Bulan melepas sabuk pengamannya berniat ingin berpindah tempat duduk.


“Lan..mau kemana?”

__ADS_1


“Gue butuh waktu sendiri dulu bin!”


Bintang menunduk, dia mengatakan itu dengan sangat santai. Biasanya dia juga sering mengatakan seperti itu kepda banyak gadis tapi sekarang. Kenapa rasanya sesak dan menyiksa batinnya.


__ADS_2