Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
BAIKAN


__ADS_3

HAPPY READING.....


Bulan masih merebahkan tubuhnya dibawah selimut, hari ini weekand waktunya bagi Bulan untuk hibernasi dan merefreshkan otaknya. Sepertinya ia tidak ada jadwal apapun hari ini jadi, ia segera memejamkan matanya kembali. Weekend seperti ini memang waktu yang pas untuk tidur.


Baru sekitar sepuh menit Bulan tertidur, deringan telfon di bawah bantalnya membangunnkan tidur cantiknya. Tanpa melihat siapa yang menelepon Bulan segera mengangkatnya,


“Halo?”


'Hai cantik'jawab seseorang disebarang sana.


Tunggu. Ini suara laki-laki dan ini juga bukan suara Bintang. Seketika Bulan langung terduduk sambil melihat layar ponselnya, nomor tidak dikena?


‘Kaget ya’


“Ini siapa ya?” tanya Bulan.


‘Secepat itu lo lupanya, gue Alif’


Bulan semakin melebarkan matanya ia masih mengingat betul suara genit ini.


"Oh..iya, gue matiin ya! lo ganggu gue soalnya" ucap Bulan cepat.


‘Eittt, tunggu bentar. Tempat minum lo yang edisi terbatas masih ada sama gue. Gue anterin kerumah lo sekarang ya’


Bulan teringat kemarin saat Bintang menariknya tempat menimnya sempat terjatuh.


“Ambil aja gapapa”


‘Gue nggak enak, lagian tempat minumnya juga karakter cewe’


“Buat pacar lo aja”


‘Gue jomblo’


“Buat adek lo”


“Gue anak tunggal”


“Pokoknya jangan kerumah gue! Tempat minumnya lo mau kasih eksiapa terserah mama lo, pembantu lo, sepupu lo, atau janda samping rumah lo juga boleh”


teriak Bulan sudah tidak sabar ingin mengakhiri sambungan telponnya.


‘Dari mana lo tau samping rumah gue ada jan—‘


Bulan mematikan telponnya secara sepihak lalu merebahkan tubuhnya dan melanjutkan tidurnya kembali. Tapi, darimana cowo itu dapat nomor telponenya? Bodoamat lah yang penting sekarang ia sudah bisa tertidur dengan tenang.


*****


Hari Minggu dimanfaatkan oleh Bintang untuk mencuci mobil, seperti sekarang ia tengah sangat sibuk membasuh mobil kesayangannya. Biasanya ia akan mengajak Bulan tapi karena Bintang malas membangunkan gadis itu karena, Bintang yakin gadis itu, kini tengah tertidur nyenyak di kamarnya.


Tiba-tiba mobil sport putih berhenti didepan gerbang rumanya, keluarlah seorang cowo dengan pakaian yang sangat casual menurut Bintang. Tapi, sepertinya ia kenal dengan cowo itu.


Bintang menghampiri cowo didepan gerbang rumahnya, ia hanya menghampiri tidak berniat membukakan gerbang. Awalnya ia mau membukakan gerbang tapi, setelah melihat siapa yang datang Bintang mengurungkan niatnya. Kenapa cowo ini ke rumahnya? Ia rasa ia tidak begitu akrab dengan cowok yang jadi revalnya kemarin dan sempat menghebohkan sekolahannya.


“Lo pasti anak pembantunya Bulan kan?”


“Kenalin gue Alif, temannya Bulan”


“Tolong panggilin Bulannya dong”


Sedari tadi cowok itu terus menerus memberinya pertanya dan juga memerinahnya hingga Bintang tidak sempat membalasnya.


‘Anak pembantunya Bulan? Cowok setampan gue dibilang anak pembantunya Bulan. Dia bahkan nggak kenal sama gue? Padahal gue semept jadi rivalnya. Batin Bintang.


“Ada keperluan apa ya?” Tanya Bintang dengan nada tak suka.


“Saya mau mengembalikan tempat minumnya Bulan”


“Mana?”


Bintang langsung mengambil tempat minum itu dari celah gerbang rumahnya. “lo salah rumah, rumah Bulan disebelah gue. Dan gue bukan pemmbantunya Bulan”


“Aialan lo” Umpat Alif sambil menendang gerbang rumah Bintang.


“Eitss…gak kena” ejek Bintang semakin menjauh dari gerbang, “kenapa? Udah nggak ada alasan lagi kan lo buat ketemu Bulan?. udah sana pulang!” usir Bintang, meninggalkan Alif yang tengah menggedor-gedor gerbangnya.


Alif terus berteriak sambil mengumpati Bintang dengan nama-nama hewan akhirnya setelah puas cowok itu meninggalkan rumah Bintang dengan sendirinya.


******


Bintang menatap layar ponselnya, disana ada beberap foto Bulan dan Bintang dengan berbagai gaya yang narsis, Bintang masih sangat menyangi Bulan ia tidak tega jika meninggalkan Bulan begitu saja.


“Maafin gue lan, gue egois banget” kata Bintang sambil melihat foto Bulan yang ada di layar ponselnya.


Perasaan Baru kemarin ia mengatakan bosen dengan Bulan tapi Bintang sudah kangen saja. Ia sangat perindukan sabatnya itu, sepertinya hari ini adalah hari yang baik untu berbaikan.


 


Bintang : Lan, nanti ke bukit belakang ya, sambil lihat pohon pinus.

__ADS_1


 


Bintang : Sekarang bisa nggak lan?


 


 


Pintu kamar Bintang terbuka, Bintang langsung menutup roomchatnya dengan Bulan dan menyimpan ponselnya diatas nakas, disana berdiri seorang cowo yang tengah menatap Bintang dengan senyum menggoda juga kesal.


“Bang! ada yang nyariin lo di depan dia udah nunggu di ruang tamu”


“Siapa Mars?” tanya Bintang. Dia tidak merasa punya tamu hari ini.


“Mana gue tahu tapi, cantik sih orangnya meskipun masih cantik kak Bulan”


“Siapa sih? Vani?”


Mars hanya menaikkan bahunya, “Tapi tumben deh ada cewe yang nyari kak Bintang selain kak Bulan”


“Gini-gini gue juga terkenal tahu di sekolah”


“Bay the way selera lo pantas gue pertanya kan sih, ada yang kayak bidadari tapi milih yang modelan cabe berkedok malaikat”


Bintang hanya mengerutkan dahinya, tidak tahu maksud Mars itu apa.


Ternyata itu benar-benar Vani. Bintang langsung tersenyum kala melihat Vani tengah duduk manis di ruang tamunya. Beruntung mamanya hari ini sedang pergi arisan jika tidak ia yakin akan ada wawancara dadakan di sini.


“Sorry bin, gue gapapa kan mampir kerumah lo?” tanya Vani merasa tak enak.


“Nggak papa, sebelumnya lo kan juga pernah main ke sini”


Bintang duduk berhadapan dengan Vani, rasanya memang ada berpedaan antara Vani dan Bulan. Entah kenapa ia jadi membeda-bedakan keduanya. Mungkin saja karena ia hanya mempunyai dua teman cewe sekarang, terlebih Vani juga tergolong orang baru dihidupnya meskipun ia sudah mengenalnya sejak kecil tapi, tidak begitu dekat. Mungkin hal itu yang membuat oataknya tiba-tiba membeda-bedakan kedua cewe itu.


“Oh ya, ini gue mau balikin jaket jam tangan lo yang nggak sengaja gue rusakin kemarin. Udah gue perbaiki kok” Vani memberikan paper bag ke Bintang.


“Makasih ya, lo seharusnya nggak perlu repot-repot”


“Gapapa sih. Lagian gue yang teledor waktu itu niatnya cuma mau lihat model jam tangan lo eh nggak tahunya gue jatuh dan keinjak orang”


Pesona Vani memang berbeda dengan Bulan. Vani orangnya sangat ceria dan juga selalu memperhatikan penampilannya sedangkan Bulan ia selalu terlihat sederhana. Lagi-lagi secara tidak langsung Bintang membanding-banding kan mereka berdua lagi.


Pesona Vani juga tidak bisa di abaikan begitu saja, dan coeo seperti Bintang ini juga tidak bisa menolak pesona gadis seperti Vani. Meskipun Bulan lebih cantik tapi Vani sangat berbeda dengan nya, bahkan senyum merekapunsangat berbeda.


“Mau nonton sama gue nggak?” ajak Bintang secara tiba-tiba. Ia juga tidak tahu kenapa bisa mengatakan itu. “itung-itung sebagai ucapan terima kasih”


"Gue ganti baju dulu ya”


“Oke”


Saat menaiki tangga terakhir Bintang dihadang oleh Mars yang menatapnya sengit sambil menggeleng-gelengkan kepalanaya. “Lo bener-bener udah gila kayaknya” ucap Mars masih menatap kakaknya seperti tadi.


“Gue kenapa lagi sih Mars?”


“Gapapa kok. Lain kali kayaknya gue perlu kenalain cewe gue ke lo supaya lo bisa bedain mana yang pasaran sama mana yang berkelas”


“Apa sih lo gajelas banget” Bintang masih belum paham sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh adiknya.


Mars mendekatkan jaraknya dengan Bintang, ia membisikan sesuatu. “Nanti kalau lo udah sama cewek itu. Kak Bulan buat gue ya, titik” ucap Mars lalu berlalu pergi.


“Kenapa sih lo? Kalau Bulannya mau sama lo sih gue juga nggak masalah”


“Jangan nyesel lo bang”


“Nggak akan”


******


Setelah hampir setengah hari Bintang menghabiskan waktu bersama Vani seperti nonton, main ke timezone, makan bareng. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengunnjungi tempat terakhir yaitu, taman kota. Jalan bersama Vani memang mebuat Bintang merasakan hal yang berbeda juga menyenagkan tapi, ada sesuatu juga yang mengganjal dihati nya.


“Lo kayaknya menikmati hari ini banget ya Bin?” tabak Vani.


“Iya gue bener-bener menikmati hari ini”


“Gue pikir lo sama Bulan juga sering melakukan ini”


“Sering sih cuma beda. Bulan itu terlalu sempurna dalam segala hal percaya atau nggak sih dirumahnya juga ada timezone jadi, gue sama Bulan selalu melakukannya permainan di rumah.”


Vani tersenyum memandang Bintang, jujur saja dia sebagai cewe juga berdebar sih jika berdekatan dengan Bintang. Aneh saja gitu padahal sebelumnya ia tidak pernah kepikiran untuk menyukai cowo secepat ini.


“Lo tau nggak sih van, gue kan sama Bulan itu suka pergi ke bukit belakang kompleks kadang gue sama Bulan betah banget ngedem disana samapi nggak inget waktu dan suatu hari oma tiba-tiba ngebeli semua lahan disana dan lebih ngerubah hutan pinus itu menjadi tempat yang lebih nyaman buat gue sama Bulan main”


“Oh ya? gue baru tahu kalau pepohonan pinus disana itu milik keluarga Bulan”


“Gue juga baru tahu akhir-akhir ini sih”


“Oh ya bin, jam tangan lo yang gue rusakin kemarin itu edisi terbatas dari GUCCI ya?” tanya Vani sedikit penasaran.


“Ya?”tanya Bintang kaget. “Gue nggak tahu sih, itu di kasih sama Bulan pas ulang tahun gue kemarin. Gak heran juga sih kalau dia ngado itu orang mobil gue juga omanya Bulan yang ngasih”

__ADS_1


“Kayanya semua tentang lo itu pasti ada hubungannya sama Bulan ya?” tebak Vani.


Bintang merebahkan punggungnya di senderan kursi taman, “Sadar nggak sadar tebakan lo emang bener sih Van. Kebanyakan barang-barang gue yang mahal emang dari dia”


“Dibelanjain sama Bulan semua?”


“Nggak gitu juga sih, cuma setiap minggu keluara gue selalu dapat vocer belanja di mall milik keluarga Bulan. Namanya juga rezeki masak harus ditolak?”


Vani terus menyimak semua cerita tentang Bulan dan Bintang jujur sedarir tadi ia muak karena inikan waktunya Vani dengan Bintang bukan Bulan dan Bintang. Sepertinya sampai kapanpun Vani tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Bulan.


Mengingat-ngingat tentang masa-masa Bintang dengan Bulan ia seperti melupakan suatu hal, seuatu hal cukup penting. Tapi apa ya?, Batin Bintang.


“Udah sore Bin, pulang yuk!” ajak Vani.


“Oke”


Bintang merebahkan tubuhnya diatas kasur kamar, setelah mengentarkan Vani pulang entah kenapa rasa capeknya mulai kerasa sekarang. Bintang mengambil ponselnya yang ia tinggal karena kelupaan. Ketika membuka ponselnya disana ada beberapa chat dan telfon dari Bulan.


Bulan : Bin dimana?


Bulan : Gue udah di bukit.


Bulan : Lo kemana Bintang?


Bulan : Lo sibuk ya sekarang?


Bulan : Gue tunggu.


Bintang segera megambil kunci mobilnya dan pergi menuju bukit belakang kompleks. Hari sudah mulai gelap dan sepertinya Bulan sudah menunggunya cukup lama.


Sesampainya di bukit Bulan langsung memarkirkan mobilnya dan berlari secepat mungkin.


******


Bulan tengah duduk disalah satu pondok yang ada dihutan ini, ia duduk diteras pondok sambil sesekali menatap awan yang mulai berwarna orangye dan beberapa burung yang kembali ke sangkarnya. Dia sudah sangat lama menunggu Bintang tapi, cowo itu sepertinya lupa dengan janjinya.


Gue emang udah nggk penting banget ya buat Bintang? Secepat itu kah?


Bulan melihat pergelangan tangnnya ini sudah jam lima lebih, sebentar lagi gelap. hutan akan sangat menyeramkan saat gelap dan Bulan takut akan hal itu. Setelah cukup lama berpikir apakah Bulan harus pulang atau tidak? Tapi bagaimana jika Bintang nanti datang kesini? Bagaimana jika Bintang marah karena Bulan tidak datang menemuinya?


Matahari kurang sejengkal lagi akan tenggelam dan Bulan masih di hutan ini sendirian menunggu Bintang.


Bulan melangkahkan kakinya melihat kedua pohon pinus yang menurutnya sangat spesial. Dulu Bulan dan Bintang menanam pohon ini bersamaan sebagi simbol persahabtan, Bulan masih ingat dulu saat ia menanam pohon ini tingginya hanya sekitar satu meter dan sekarang pohon ini sudah menjulang sanggat tinggi.


Mereka menanam pohon itu besejajarang sebagai symbol bahwa mereka akan terus bersama-sama. Bulan mendekati pohon pinus yang terdapat ukiran nama Bintang di batangnya, di menyentuh setiap ukiran huruf disana.


Tiba-tiba saja air mata Bulan keluar, Bulan tampak terkejut melihat air mata yang melintasi pipinya. Bulan segera mengusap air mata yang tiba-tiba keluar itu.


“Gue cengeng banget sih! Ini air mata juga tiba-tiba keluar nggak lucu” ucap Bulan sambil menyeka air matanya yang terus keluar.


“Gue se--ngebosenin itu kah sampe lo udah nggak mau temenan sama gue lagi?”


Bulan membalikkan badannya ia berniat untuk pulang kerumah, dia sudah tidak mau menunggu Bintang lagi.


‘sorry bin, gue pulang dulu’ batin Bulan.


Setelah mengucapkan itu Bulan segera berlari secepat mungkin dan terus memandang kedepan ia tidak mau memandang kemanapun lagi karena suasana hutan yang menurutnya sangat menyeramkan sekarang.


Bulan memperlambat larinya saat melihat seorang cowo yang tengah berlari juga, cowo yang sudah membuatnya menunggu hampir setengah hari ini bahkan Bulan rela mengorbankan jadwalnya untuk menonton film kartun kesukaannya. Bulan berhenti, membuat cowo itu memperlambat langkahnya.


“Bulan” ucap Bintang, ia melangkahkan kakinya mendekati Bulan.


Bulan tidak bergeming sama sekali pandangnnya lurus sambil menatap Bintang.


“Gue tahu gue salah, seharusnya gue nggak bersikap seperti ini lan. Gue egois banget. Gue ninggalin lo saat gue mendapatkan sesuatu yang baru dan gue mengabaikan lo. Tapi, tetep aja gue ngerasa ada sesuatu dihidup gue yang hilang” setelah mengatakan itu Bintang mengehentikan langkahnya.


Bulan masih sama dia tidak bergeming sama sekali pandangan matanya pun masaih sama.


“Gue kangen sama lo lan”


Bulan masih menatap Bintang dengan datar kemudian, dia mengembangkan senyumnya lalu merentangkan kedua tanganya.


Bintang tahu itu, ia pun segera berlari kecil mendekati Bulan dan menyambar Bulan dengan pelukannya. Dulu mereka sering melakukan hal ini jika sudah lam tidak bertemu karena acara keluaraga mereka.


“Gue juga kangen sama lo bin” ucap Bulan sambil mencengkeram erat pelukannya.


“Maksih Bulan, samapi sejauh ini lo masih tetep sahabat gue yang terbaik”


“Besok temenin gue ya!” pinta Bulan, melepas pelukannya.


“Kemana?”


Bulan berjalan pelan meninggalkan Bintang yang masih terdiam ditempatnya tadi, “Ke Turki”


“Mau ngapin?”


Bulan menghentikan langkahnya, berbalik, menatap Bintang yang masih diam disana, "Jadi mau ikut nggak?"


“Oke, besok gue temenin” putus Bintang.

__ADS_1


__ADS_2